
Beberapa hari berlalu, Ayu masih merasa sangat kehilangan sosok Bi Inem, tidak ada lagi teman untuk berbagi cerita atau pun sekedar berbincang saat Ayu sendirian di rumah.
Saat pagi hari Ayu harus menyiapkan sarapan untuknya dan Dimas.
“Selamat pagi sayang,” ucap Dimas sembari duduk di meja makan.
“Selamat pagi Mas,” balas Ayu sambil menyiapkan sarapan.
“Kenapa sayang, aku lihat wajahmu sedih?” tanya Dimas.
“Iya Mas, aku masih tidak menyangka bi Inem akan pergi secepat ini meninggalkan kita.”
“Sudah sayang ikhlaskan bi Inem, semua sudah ketentuan yang maha pencipta.” Dimas yang mengusap bahu Ayu mencoba menenangkannya.
“Ayo kita sarapan dulu,” sambung Dimas mengajak Ayu untuk sarapan pagi bersama.
“Iya Mas,” sahut Ayu dengan senyum lesunya.
Mereka berdua menikmati santapan pagi berdua, Ayu pun mulai berusaha mengikhlaskan kepergian bi inem.
Setelah selesai sarapan Ayu dan Dimas berangkat ke kantor mereka masing-masing, kali ini Ayu diantar oleh Dimas. Mobil melaju menuju tempat kerja Ayu, hingga mereka sampai di depan kantor Ayu.
“Sayang aku pergi ke kantor,” ucap Dimas menyodorkan tangannya.
“Iya Mas, hati-hati jangan mengebut-ngebut,” sahut Ayu yang menasihati Dimas sambil mencium punggung tangan suaminya.
Dimas pergi meninggalkan Ayu, sementara Ayu mulai berjalan menuju kantornya. Sesampainya Ayu di meja kerjanya ia hanya duduk dan termenung Sinta yang melihat raut wajah Ayu yang bersedih pun menanyakan kepadanya.
“Tumben diam, ada apa? Biasanya kamu datang dengan ceria?” tanya Sinta yang menghampiri Ayu di meja kerjanya.
“Iya Sin, aku lagi sedih beberapa hari lalu bi Inem jatuh di kamar mandi kepalanya terbentur bak kamar mandi–” Ayu yang menghentikan ucapannya menghela nafas panjang.
“Terus bagaimana keadaan bi Inem?” tanya Sinta yang sangat khawatir.
“Bi Inem meninggal saat di perjalanan menuju rumah sakit Sin.”
“innalillahi wainna ilaihirojiun, aku turut berduka cita Ayu atas kepergian Bi inem. Kamu jangan sedih terus kasihan Bi Inem di sana ikhlaskan,” tutur Sinta
sambil memeluk sahabatnya.
“Terima kasih ya Sin, oh iya aku mau ngomong sesuatu sama kamu, kemarin waktu aku tidak masuk kerja aku bermimpi ada wanita yang menarik tanganku wajah Wanita itu sama dengan lukisan yang ada di kamarku tapi wajahnya lebih seram. Dan anehnya lagi saat aku terbangun pergelangan tanganku seperti lebam aku pun bercerita kepada almarhum bi Inem dan menyarankan untuk membuang lukisan itu setelah aku buang lukisan itu tiba-tiba ada kembali di kamarku Sin,” tutur Ayu yang menceritakan peristiwa aneh yang ia alami kepada Sinta.
__ADS_1
“Aku sudah memperingatimu Ayu, lukisan itu tidak baik untuk keluargamu sebaiknya kamu bakar saja lukisan itu,” Sinta yang memberi saran kepada Ayu.
“Iya benar apa yang kamu katakan Sin, baiklah selepas pulang kerja nanti aku akan membakar lukisan itu.”
Ayu menuruti saran dari Sinta untuk membakar lukisan yang menurutnya membawa hal-hal aneh.
Jam kerja telah berakhir Ayu pergi ke parkirkan mobil menunggu suaminya untuk menjemputnya tidak kunjung datang, Ayu berinisiatif untuk menelepon suaminya.
“Halo Mas, kamu di mana?” tanya ayu di dalam telepon.
“Masih di kantor sayang sepertinya aku tidak bisa menjemputmu karena masih ada meeting bersama client, nanti aku suruh pak Joko untuk menjemputmu sayang.”
“Iya Mas tidak apa-apa, oh ya pulang jangan terlalu malam ya, Mas.”
“Baik sayang, aku akan secepatnya menyelesaikan meeting bersama client agar tidak terlalu malam."
Tidak lama pak Joko, sopir pribadi Ayu dan Dimas datang menjemput, Ayu masuk ke dalam ingin pulang secepatnya melaksanakan ucapan dari Sinta.
Sesampainya di rumah Ayu bergegas ke kamarnya dan mengambil lukisan itu, sebelumnya ia sudah menyiapkan tong untuk membakar lukisan itu. Ayu membawa lukisan itu keluar rumah dan memasukkannya ke dalam tong sampah. Ayu menyiramkan sedikit bensin agar lebih cepat terbakar.
Melihat majikannya sedang melakukan sesuatu di depan rumah pak Joko pun menghampiri.
“Mau saya bakar Pak,” sahut Ayu.
“Dibakar? Kenapa Non, padahal lukisan ini sangat bagus,” Pak Joko memandangi lukisan tersebut.
“Nggak apa-apa Pak, memang sudah seharusnya lukisan ini dimusnahkan,” sahut Ayu sembari mematik korek api.
Berulang kali Ayu mencoba mematik korek apinya tapi selalu saja mati seperti ada yang meniupnya, hal ini membuat Ayu kesal. Namun ia harus tetap tenang sambil berdoa Ayu mematik sekali lagi korek api itu dan melemparnya ke lukisan tersebut.
Seketika api membesar dan membakar seluruh lukisan itu.
“Pergilah kamu dari hidupku!” ucapnya dalam hati.
Api berkobar memakan seluruh lukisan itu, hingga beberapa menit tidak ada tanda-tanda jika lukisan itu hancur.
Hingga Dimas tiba di rumah dan melihat istrinya sedang membakar sesuatu.
“Kamu ngapain sayang?” tanya Dimas.
“Mas sudah pulang, katanya masih meeting?”
__ADS_1
“Di cancel jadi mas pulang, apa yang kamu bakar?” tanya Dimas lagi.
“Lukisan yang ada di kamar kita,” sahut Ayu.
“Apa? kenapa kamu bakar?” Dimas bergegas menyalakan keran dan menarik selang yang ada di samping rumahnya.
Dimas menyemprotkan air ke arah lukisan itu hingga api mengecil dan berangsur padam.
“Apa yang kamu pikirkan sampai kamu membakar lukisan ini?” ucap Dimas dengan nada sedikit tinggi.
“Lukisan ini akan bikin malapetaka bagi kita Mas, lukisan ini aneh dan aku tidak mau melihat lukisan ini lagi,” sahut Ayu.
Tanpa berkata apa pun Dimas mengambil kembali lukisan itu dengan tangan kosong dan membawanya masuk kembali ke dalam rumah.
Ayu dan pak Joko dengan jelas melihat jika lukisan itu masih utuh tanpa ada kerusakan, bahkan pak Joko pun terheran.
“Non kenapa kok lukisannya masih utuh padahal apinya besar banget tadi,” tanya Joko.
“Entahlah Pak. Saya bahkan sudah pernah membuangnya tapi tiba-tiba lukisan itu terpasang dengan rapi lagi di kamar saya,” tutur Ayu.
“Jangan-jangan lukisan itu berhantu. Hiii ...,” Joko bergidik ngeri.
Ayu masuk ke dalam rumah dan menghampiri suaminya yang berada di dalam kamar. Terlihat Dimas tengah memajang kembali lukisan itu bahkan sempat memandanginya.
“Mas,Mas Dimas!” Ayu menepuk bahu Dimas.
“Ayu? loh kok aku sudah ada di kamar perasaan aku baru turun dari mobil,” ucap Dimas.
Ayu bingung menjawab pertanyaan Dimas, sedangkan beberapa menit lalu Dimas sempat membentaknya demi lukisan itu.
“Mungkin perasaan Mas saja, sudah sana mandi dulu,” ucap Ayu.
“Ya sudah Mas mandi dulu ya. Mungkin karena hari ini banyak kerjaan jadi kurang fokus,” tutur Dimas.
Dimas mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, Ayu heran dengan sikap suaminya itu seperti sedang dihipnotis.
“Apa yang sebenarnya terjadi? dan bagaimana bisa lukisan itu tidak terbakar,” gumam Ayu.
Ayu duduk di atas kasur sembari memandangi lukisan itu dan tanpa sadar Ayu seperti terbawa masuk ke dalam lukisan itu.
Bersambung dulu gengs
__ADS_1