
Setelah mereka masuk ke dalam rumah ki Krisno. Ayu dan Sinta di ajak masuk ke dalam kamar tempat ki Krisno menjalankan ritualnya.
“Duduk!” Perintah ki Krisno kepada mereka berdua.
Ki Krisno mulai menaruhkan kemenyan di atas tunggu yang di dalamnya terdapat bara api sambil memejamkan matanya melihat sesuatu hal dengan mata batinnya.
“Apa maksud kedatangan kalian,” tanya ki Krisno.
“Begini Ki kedatangan kami berdua ke sini ingin menanyakan tentang lukisan yang ada di kamar saya Ki?” Ayu yang menjelaskan tujuan ia datang ke tempat ki Krisno.
“Wanita bergaun merah memegang setangkai mawar,” celetuk ki Krisno yang membuat Ayu dan Sinta kaget.
“Be-benar Ki,” terkejut Sinta
“Apa ada hubungannya wanita bergaun merah yang ada di kamar saya, meneror kami Ki? Ayu yang kembali bertanya kepada ki Krisno.
“Lukisan yang ada di kamarmu itu di tempati oleh arwah yang jahat,” tutur ki Krisno lalu terdiam.
“Siapakah Wanita bergaun merah itu Ki? Lalu apa hubungannya dengan saya dan Sinta sehingga kami selalu di teror?”
Ayu yang sangat penasaran dengan perkataan ki Krisno.
“Aku masih belum mengetahui tujuan Wanita bergaun merah itu meneror kalian, terutama kau,” ki Krisno yang menunjuk Ayu.
“Terus kami harus bagaimana Ki,?” Ayu yang mulai takut.
“Mata batinku mengatakan kematian akan tergantikan dengan lahirnya jiwa yang baru!” ucap ki Krisno dengan lantang.
“Apa maksudnya itu Ki?” Ayu yang bingung dengan ucapan ki Krisno.
“Kalian berdua tidak akan mengerti, sudahlah serahkan semua ini kepada ku, aku akan membereskan semuanya,” ki Krisno berbicara dengan sombong.
__ADS_1
“Baiklah Ki, kami percayakan kepada Ki Krisno, dan ini ada uang ucapan terima kasih kami karena, Ki sudah mau menolong kami,” Sinta yang menyodorkan amplop berwarna coklat kepada ki Krisno.
“Tenang saja semua akan beres di tangan Ki Krisno ha-ha-ha” ki Krisno mengambil amplop yang disodorkan oleh Sinta.
Setelah selesai Ayu dan Sinta berpamitan pulang.
“Terima kasih Ki, kami berdua pamit pulang lagi pula hari sudah mulai menjelang malam,” Ayu yang berpamitan dan bersalaman dengan ki Krisno.
Mereka berdua bergegas masuk ke mobil dan meninggalkan rumah ki Krisno, Ayu yang mulai menjalankan mobil Sinta.
Di tengah perjalanan mereka berdua berbincang-bincang.
“Sin semoga saja semua berjalan dengan lancar dan kehidupan kita tenang kembali,” ucap Ayu yang berharap.
“Iya Yu, sudah kamu tidak usah khawatir serahkan saja kepada ki Krisno dia akan membantu kita semaksimal mungkin.”
“Oh iya, apa tadi maksud dari ki Krisno yah, kok aku jadi penasaran. Kematian akan tergantikan dengan lahirnya jiwa yang baru,” Ayu yang terus berpikir ucapan ki Krisno.
“Iya apa ya maksudnya ucapan ki Krisno tadi, Ah sudahlah tidak perlu di pikirkan semoga malam ini kita bisa tidur dengan tenang tanpa diteror lagi.”
“Terima kasih ya Sinta tumpangannya,” Ayu yang mulai keluar dari mobil Sinta.
“Sip Yu, ya sudah ya aku pulang dulu nanti ibu khawatir dengan ku,” Sinta yang berpamitan pulang.
Sinta pun menjalankan mobilnya meninggalkan Ayu, sementara Ayu yang melihat Sinta sudah pergi mulai masuk ke dalam rumahnya.
“ Sudah pulang Non?” ucap bi Ijah pembantu baru Ayu.
“Iya Bi, oh iya ngomong-ngomong tuan Dimas ada di mana Bi, sedari tadi aku tidak melihatnya?” Ayu yang bertanya kepada bi Ijah.
“Oh tuan Dimas ada di kamarnya Non.”
__ADS_1
“Ya sudah Bi aku masuk ke kamar terlebih dahulu.”
“Silahkan Non.”
Ayu mulai masuk ke kamarnya melihat Dimas yang sedang merebahkan tubuhnya di kasur sambil menonton siaran berita yang ada di telepon genggamnya.
“Kamu sudah pulang sayang?
Bagaimana meeting tadi dikantor ?”
“Alhamdulillah, lancar Mas,” Ayu yang berbohong kepada Dimas.
Dimas yang menghampiri Ayu memeluk lembut istrinya dari belakang.
“Mas, aku belum mandi dan kotor,” Ayu yang mulai risih dengan pelukan Dimas.
Dimas pun melepaskan pelukan manjanya kepada Ayu mempersilahkan Ayu untuk membersihkan tubuhnya.
Sementara disisi lain Sinta telah sampai, di sambut hangat oleh ibunya yang sedang menunggu Sinta pulang duduk di sofa ruang tamu
“Pulangnya malam sekali, Nak?”
Sinta yang menghampiri ibunya duduk di samping ibunya.
“Iya Bu, meetingnya memang agak sedikit lama,” Sinta yang juga berbohong.
“Cepat mandi, setelah itu makan, Nak!” Perintah ibu Sinta dengan lembut.
“Setelah mandi Sinta ingin langsung tidur saja Bu, hari ini Sinta cape sekali,” eluh Sinta.
Sinta yang mengakhiri obrolan bersama ibunya mulai bergegas menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi Sinta pun mulai membaringkan tubuhnya di kasur mencari posisi paling nyaman untuknya tidur.
__ADS_1
Kali ini mereka berdua dapat tidur dengan nyenyak dan tenang tanpa ada gangguan oleh si wanita bergaun merah kembali.
Bersambung dulu gengs.