Misteri Lukisan Tua

Misteri Lukisan Tua
Kabar Baik


__ADS_3

Keesokan harinya Dokter Heri ingin memeriksa Ayu di temani oleh dua orang suster, mereka bertiga pergi ke ruangan Ayu.


Dokter Heri menyapa Ayu yang sedang duduk di atas tempat tidurnya.


“Selamat pagi Bu Ayu.”


“Selamat pagi Dok,” sahut Ayu membalas sapaan Dokter Heri.


Dokter Heri terkejut dengan balasan Ayu, karena biasanya Ayu hanya terdiam di sertai tatapan mata yang kosong dan tidak pernah membalas salam dari Dokter Heri.


Dokter Heri melanjutkan pemeriksaan kejiwaan Ayu, ia menanyakan beberapa pertanyaan untuk di jawab oleh Ayu.


Semua pertanyaan Ayu tersebut jawab dengan lancar tanpa terbata sedikit pun.


“Bagaimana Dok, apa saya boleh pulang sekarang?” tanya Ayu.


“Ya Bu Ayu, ibu aku akan pulang lebih cepat jika pemeriksaan kami terbukti ibu Ayu telah sehat.”


“Sebentar ya Bu saya periksa luka-luka goresan yang ada di badan ibu Ayu terlebih dahulu.”


“Luka goresan di badan saya? Sepertinya tidak ada Dok!” Ayu mulai bingung.


Namun Dokter Heri tidak percaya begitu saja dengan ucapan Ayu. Dokter Heri menyuruh salah satu suster menggulung pakaian lengan panjang Ayu.


“Sus, coba gulung pakaian lengan panjang ibu Ayu!” perintah Dokter Heri.


“Baik Dok,” sahut suster itu melaksanakan perintah Dokter.


Alangkah terkejutnya dua suster yang melihat dan di tambah lagi Dokter Heri dengan fenomena aneh itu.


Luka-luka goresan di badan Ayu semua menghilang tanpa meninggalkan bekas sedikit pun, semua orang yang melihatnya begitu sangat terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa.


“Ini benar-benar sangat aneh! Seumur hidup saya menjadi Dokter tidak pernah punya pengalaman yang seperti ini,” sahut Dokter Heri dengan sangat bingung.


“Aneh kenapa Dok, saya sudah katakan tidak ada luka-luka goresan di badan saya Dokter!” pekik Ayu dengan senyum.


Namun Dokter Heri tidak ingin memperpanjang masalah ini, ia pun mengalihkan pembicaraannya.


“Ibu Ayu, setelah saya melakukan tes kejiwaan selama tiga hari ibu Ayu bisa langsung pulang ke rumah.”


“Terima kasih Dok, saya sudah rindu sekali dengan rumah.”


Setelah mereka selesai memeriksa Ayu Dokter dan para suster meninggalkan ruangan Ayu.


***


Sore harinya selepas Dimas pulang dari kantor Dimas berjalan menuju parkirkan mobil, di saat Dimas ingin masuk ke dalam mobil ia mendapat telepon dari Dokter Heri.


“Hallo selamat sore Pak Dimas.”


“Selamat sore Dok, ada apa ya? Apa kondisi Ayu memburuk Dok?” Dimas mulai cemas.


“Oh tidak Pak Dimas, saya mau memberi tahukan kabar baik untuk Pak Dimas.”

__ADS_1


“Kabar baik apa Dok? Apakah mengenai Ayu istri saya Dok?” Dimas yang sangat penasaran.


“Iya Pak Dimas, kondisi kejiwaan ibu Ayu sudah mulai membaik jika nanti selama tiga hari saya memeriksa kondisi ibu Ayu baik. Ibu Ayu di perbolehkan untuk pulang.”


“Alhamdulillah, apakah benar Dok?” sahut Dimas dengan ekspresi wajah yang sangat bahagia.”


“Iya Pak Dimas, hari ini ibu Ayu sudah banyak kemajuan, dan luka-luka goresan di tubuh ibu Ayu pun telah hilang.”


“Saya sangat senang mendengar kabar ini Dok sebentar lagi saya akan ke rumah sakit ingin melihat perkembangan istri saya Dok.”


“Iya Pak Dimas.”


“Terima kasih atas kabar baik ini Dokter Heri.”


“Sama-sama Pak Dimas, ini memang sudah kewajiban saya sebagai Dokter.”


Dokter Heri menutup teleponnya dengan segera Dimas masuk ke dalam mobil karena sudah tidak sabar untuk bertemu Ayu. Dimas menjalankan mobilnya meninggalkan parkirkan kantor.


Terlihat jelas raut wajah bahagia Dimas saat ia sedang menyetir mobil.


‘Terima kasih ya Allah, engkau telah mendengarkan doaku,' batin Dimas.


‘Kini aku dapat berkumpul kembali dengan keluarga kecilku,' gumam Dimas dengan senyum yang terpancar di bibirnya.


Satu jam kemudian Dimas telah sampai di rumah sakit, Dimas yang tidak sabar ingin bertemu Ayu dengan segera mempercepat langkah kakinya.


Senyum bahagia masih saja terlihat di wajah Dimas, beberapa kamar pasien ia lewati hingga akhirnya Dimas sampai ke kamar Ayu.


“Sayang!” panggil Dimas.


Ayu menoleh, mengalihkan perhatiannya dari menu makanan yang ada di hadapannya. Netra keduanya bertemu menyiratkan rasa rindu yang teramat dalam. Ayu tersenyum haru, dengan segera ia meletakkan makanannya ke atas meja dan segera berdiri menghampiri sang suami dengan senyum yang tercetak jelas di wajahnya.


Ayu menghambur ke dalam pelukan pria yang sangat di cintainya itu.


kemudian memasukkan kepala pada ceruk leher Dimas sambil menyesap aroma tubuh suaminya yang sudah begitu ia rindukan, gema suara penuh kerinduan mengalun lembut merasuk ke indra pendengaran Ayu.


"Aku sangat merindukanmu, sayang." ucap Dimas seraya mendaratkan kecupan lembut di pucuk kepala istrinya.


"Aku juga sangat merindukanmu, Mas,” balas lirih wanita itu di sela dekapan hangat yang ia rasakan.


Seperti kelopak bunga mawar yang bertebaran menyebarkan rasa penuh cinta yang begitu dalam, detak jantung yang saling menyatu dan bersahutan sebagai pertanda jika mereka saling memiliki kerinduan yang terpendam.


Mereka berdua berjalan menuju sofa yang telah di sediakan di kamar Ayu.


Mata Ayu berbinar namun lambat laun kelopak matanya menggenang, bulir bening menetes membasahi pipi Ayu.


Jemari Dimas mengusap air mata Ayu yang jatuh di pipinya dengan lembut.


“Bagaimana keadaanmu sayang?” tanya Dimas dengan senyum manis di bibirnya.


“Alhamdulillah baik Mas, tiga hari lagi jika aku telah selesai menjalankan tes kejiwaan maka aku akan segera pulang dan berkumpul bersamamu kembali.”


“Iya sayang, tadi Dokter Heri pun berbicara seperti itu kepadaku. Dan aku akan memberi tahukan kabar baik ini kepada Ayah, Ibu, bi Ijah dan juga orang tuamu sayang.”

__ADS_1


Mereka berdua saling berbincang melepas rindu satu sama lain, hingga jam besuk Dimas telah usai.


“Sayang. Mas pulang terlebih dahulu besok Mas akan ke sini kembali selepas pulang dari kantor,” Dimas mencium mesra kening Ayu.


“Iya Mas, hati-hati mengemudikan mobilnya jangan terlalu ngebut,” sahut Ayu melepas kepergian Dimas sambil mencium punggung tangan Dimas.


Dimas pun pergi meninggalkan Ayu di rumah sakit.


Saat di dalam mobil sebelum Dimas menjalankan mobilnya tidak lupa Dimas menelepon orang tuanya menyampaikan kabar baik tentang Ayu, ia juga memberitahukan kepada orang tua Ayu tentang kondisi Ayu yang mulai membaik.


Semua orang menyambut gembira kabar dari Dimas.


Dimas melanjutkan pejalannya menuju rumah. Sesampainya Di rumah Dimas di sambut hangat oleh bi Ijah di ruang tamu.


Dimas dan bi Ijah pun mulai mengobrol di ruang tamu.


“Bagaimana keadaan non Ayu tuan?” tanya bi Ijah yang berharap mendengar kabar baik dari Dimas.


“Ayu sudah mulai membaik Bi, dan tiga hari lagi dia di bolehkan untuk pulang ke rumah,” sahut Dimas sembari mengendurkan dasinya.


“Alhamdulillah, syukurlah jika begitu Tuan. Bibi sudah sangat rindu sekali dengan non Ayu,” bi Ijah yang senang mendengar kabar baik dari Dimas.


“Tentu saja Bi, semua orang merindukan Ayu kembali.”


“Baik Bi saya ingin pergi ke kamar dahulu untuk beristirahat,” Dimas yang pergi meninggalkan bi Ijah.


“Iya Tuan.”


Dimas pun mulai membuka pintu kamarnya lalu berjalan masuk menuju meja. Dimas mengambil pigura foto yang terletak di meja kamarnya.


‘’Sebentar lagi kita akan berkumpul sayang,' gumam Dimas.


‘Semoga ujian ini telah berakhir, dan kita akan hidup bahagia bersama anak kita kelak,' gumam Dimas meraba lembut foto Ayu.


Setelah selesai Dimas pun masuk kamar mandi yang ada di dalam kamarnya untuk membersihkan badannya.


Setelah selesai Dimas mulai merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk untuk melepas penat.


Sayup-sayup mata Dimas mulai terasa berat akan tetapi ketika Dimas ingin memejamkan matanya ia mendengar suara yang mirip dengan istrinya memanggil dirinya.


“Mas Dimas.”


Sontak saja Dimas terbangun kembali mencari asal suara itu. Dimas yang mencari suara itu di ruangan kamarnya tidak menemukan apa-apa.


‘Suara itu seperti Ayu sedang memanggil,' gumam Dimas.


‘Ah mungkin ini hanya halusinasiku saja karena sangat merindukannya. Tapi terdengar sepertinya,' gumam Dimas sambil berpikir.


‘Sudahlah sebaiknya aku beristirahat saja mungkin aku sangat lelah,' gumam Dimas kembali sembari menuju tempat tidurnya.


Dimas mulai menguap rasa lelah hari ini membuat Dimas cepat tertidur.


Bersambung dulu gengs Cerita akan semakin seru nih, mohon bantuannya ya dengan like, komentar dan vote 😁

__ADS_1


__ADS_2