Misteri Lukisan Tua

Misteri Lukisan Tua
Daun Kelor


__ADS_3

Di minggu pagi yang cerah Ayu dan keluarga sedang menikmati sarapan paginya.


Terlihat raut bahagia terpancar di wajah orang tua Ayu.


“Nak Dimas bagaimana kabar orang tuamu,” tanya Baskoro.


“Alhamdulillah baik Pak, Dimas belum memberi tahu ayah dan ibu kalau bapak di sini. Mungkin selepas makan Dimas akan menelepon ayah dan ibu,” sahut Dimas.


“Iya Nak, tidak apa-apa bapak hanya ingin bertemu saja nanti jika ayah dan ibu Nak Dimas ada waktu,” balas Baskoro.


“Oh iya, bagaimana pekerjaanmu Nduk?” tanya Baskoro.


“Pekerjaan Ayu berjalan dengan lancar Pak, hanya saja lusa kemarin teman sekantor ada yang meninggal dunia akibat kecelakaan Pak,” ucap Ayu.


“Inailahi, Bapak turut berduka cita Nduk,” celetuk Baskoro.


Setelah mereka selesai menikmati sarapan pagi Dimas segera mengambil telepon genggamnya lalu menelepon kedua orang tuanya.


“Hallo Ayah?”


“Iya Dimas?


“Ayah dan ibu hari ini sibuk?”


“Tidak Nak, ada apa?”


“Bapak Baskoro beserta ibu Lasmi hari ini ingin bertemu Ayah dan Ibu,” sahut Dimas di telepon memberi tahu ibunya.


“Kapan mereka tiba di Jakarta Dimas?”


“Kemarin sore Yah,”


“Baiklah nanti siang Ayah dan ibu akan pergi ke rumahmu bertemu besan Ayah.”


“Oh Iya Yah, Dimas tunggu loh.”


“Iya Dimas.”

__ADS_1


Setelah selesai mengobrol Dimas pun menutup teleponnya, dan melanjutkan mengobrol di ruang keluarga.


Hari menjelang siang bi Ijah yang tengah sibuk memasak pun di bantu oleh Lasmi di dapur sementara Ayu sedang asyik mengobrol di ruang keluarga.


Kala itu Lasmi membawa kantong plastik hitam, bi Ijah yang penasaran dengan sesuatu yang di bawa Lasmi pun menanyakannya.


“Apa itu Bu?” tanya bi Ijah.


“Oh ini, kebetulan waktu ingin kemari Ibu lihat tumbuhan kelor sedang tumbuh begitu subur, karena melihatnya ibu petik dan ibu bawa ke sini untuk sayur,” jelaskan Lasmi dengan tersenyum membuka kantong plastik hitam.


“Bi Ijah pernah memakan sayur daun kelor?” tanya Lasmi kembali.


“Iya Bu sering dulu di kampung, Bibi sangat menyukai sayur itu Bu. Tapi karena di kota tanaman itu sangat susah di dapatkan jadi sekarang tidak pernah lagi.”


“Nah kebetulan sekali, ibu membawa tanaman kelor ini untuk di sayur jadi nanti Bibi bisa mencicipinya.”


“Dulu Ayu di waktu kecil sangat menyukai ini, walau pun waktu itu dia pernah menanyakan daun ini apa enak di jadikan sayur karena baunya yang has, tapi justru daun kelor di saat di masak tidak meninggalkan bau sama sekali malah terasa sangat nikmat,” sahut Lasmi menjelaskan kepada Bi Ijah serta mengingat masa kecil Ayu.


“Pasti Non Ayu suka, mengenang waktu ia masih kecil,” celetuk bi Ijah.


Beberapa menit telah berlalu Lasmi dan bi Ijah pun telah selesai masak lalu menghidangkan di meja makan.


Orang tua Ayu di sambut hangat oleh orang tua Dimas.


Mereka semua pergi ke meja makan untuk menikmati makan siang.


Setelah semua berkumpul di meja makan dengan makanan yang beragam Ayu mulai mengambil sayur daun kelor, Ayam goreng serta beberapa menu lainnya.


Semua orang yang di meja makan menyantap makanan dengan sangat lahap tidak halnya dengan Ayu.


Saat ia memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya tubuh Ayu langsung bereaksi.


Dengan segera Ayu berlari di ke kamar mandi memuntahkan semua yang ia makan.


Namun anehnya wanita bergaun merah yang berada di tubuh Ayu berkali-kali seperti ingin keluar namun tidak jadi karena wanita itu berusaha masuk kembali.


‘Kurang ajar mereka, sayur itu membuat energiku sangat terkuras dan ingin pergi dari tubuh ini,' batin wanita bergaun merah yang kesal.

__ADS_1


Wanita bergaun merah menstabilkan energi terlebih dahulu barulah ia kembali di meja makan.


Melihat istrinya tidak kunjung datang Dimas berinisiatif untuk menghampiri Ayu.


Dimas mulai mengetuk pintu kamar mandi Ayu dan menanyakan kepadanya.


“Sayang, apa kamu baik-baik saja?” tanya Dimas.


“Iya Mas, aku baik-baik saja hanya sedikit mual sahut Ayu dari dalam kamar mandi.”


Tidak lama kemudian Ayu keluar dari kamar mandi dengan wajah yang agak memucat.


“Wajah mu pucat sayang? Apa kamu sakit?” tanya Dimas yang khawatir kepada istrinya.


“Mungkin aku hanya masuk angin saja Mas, aku hanya butuh istirahat sebentar. Mas temani mereka makan terlebih dahulu ya, aku ingin ke kamar untuk beristirahat,” pinta Ayu.


“Baiklah sayang, apa kamu mau aku antar ke Dokter?” Dimas yang menawarkan.


“Tidak usah Mas, aku hanya butuh istirahat saja,” ucap Ayu keluar dari kamar mandi.


Ayu berpamitan kepada orang tuanya dan juga orang tua Dimas untuk beristirahat sejenak karena tubuhnya tidak begitu fit.


Mereka semua pun mengerti lalu mempersilahkan Ayu untuk beristirahat di kamarnya.


Sementara Ayu berjalan masuk ke dalam kamar, sesampainya di kamar Ayu merebahkan dirinya di tempat tidur.


Sementara orang tua Dimas dan juga orang tua Ayu sedang berbincang-bincang di ruang tamu hingga sore hari.


Di saat orang tua Dimas ingin berpamitan untuk pulang Ayu masih belum keluar dari kamar.


Lasmi pun berinisiatif ingin memberi tahukan Ayu jika orang tua Dimas ingin pulang.


Lasmi meninggalkan obrolan mereka pergi ke kamar Ayu di di saat Lasmi ingin mengetuk pintu ia mendengar jika Ayu sedang berbicara sesuatu.


“Ha-ha-ha kalian semua dasar bodoh. Dan dia akan selamanya berada di sini.


Ibu Ayu penasaran dengan apa yang di ucapkan Ayu, ia mencoba mengintip lewat lubang kunci pintu, samar terlihat Ayu berbicara menghadap ke lukisan itu.

__ADS_1


Bersambung dulu gengs


__ADS_2