
“Pak! Mas Dimas!” teriak Ayu.
Ayu yang melihat kedua orang yang di sayanginya terluka karena pukulan dari Mawar.
Baskoro beserta Dimas serentak memegang dada mereka yang sakit.
Baskoro yang ingin membaca doa dari mulutnya namun seperti tidak dapat untuk membaca doa tersebut.
“Ha-ha-ha, kalian berdua akan mati!” sahut Mawar yang ingin mencekik mereka berdua.
Mawar mendekati mereka berdua lalu menceki mereka dengan satu tangan.
Baskoro yang di cekik Mawar dengan tangan kanannya sementara Dimas dengan tangan kirinya.
Rasa mustahil bagai mereka akan berhasil menyelamatkan Ayu.
Mereka berdua masing-masing memegang tangan Mawar untuk melepaskan diri dari cekikkan Mawar.
Namun Mawar sangat kuat di alamnya membuat Baskoro beserta Dimas tidak bisa berbuat apa-apa.
Sementara lilin mereka berdua mulai meredup.
Bi Ijah beserta pak Joko mulai panik berusaha untuk menjaga kedua lilin itu agar tidak mati.
“Joko lilin tuan Dimas beserta Baskoro ingin padam!” celetuk Bi Ijah menjaga kedua lilin itu dengan kedua tangannya.
“Kita harus menjaga lilin ini agar tidak apa-apa, nyawa mereka di tangan kita Bi,” ucap pak Joko.
Bi Ijah beserta pak Joko pun mulai berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Akhirnya pertolongan dari Tuhan pun datang.
Dari arah belakang ada seseorang wanita yang membawa balok kayu berukuran sedang memukul kepala Mawar.
Bruk.... suara pukulan itu.
Sontak saja Mawar melepas cekikikannya lalu terjatuh.
Dimas dan Ayu pun terkejut dengan sosok wanita itu.
“Sinta!” ucap serentak Dimas dan Ayu.
“Ayo cepat pergi dari sini biar aku yang menghadapi wanita jahat ini!” seru Sinta berada di belakang Mawar.
Dimas langsung menarik tangan Ayu yang ada di belakang Mawar, sementara Baskoro mengambil kembali gelangnya yang terjatuh di tanah.
Mereka bertiga mulai berlari mendekati sebuah cahaya, cahaya itu adalah pintu keluar mereka dari alam lain.
Ketika mereka bertiga ingin mendekati cahaya itu langkah Ayu terhenti sesaat.
__ADS_1
Ia menoleh ke belakang terlihat Sinta yang sedang bertarung dengan Mawar.
Mawar menancapkan kukunya yang panjang di perut Sinta.
Sontak saja membuat Ayu histeris.
“Sinta!” teriak Ayu.
Sinta dengan segala upaya dan tenaganya masih mampu menarik tangan Mawar untuk tidak mendekati mereka bertiga.
“Ayo cepat pergi!” seru Sinta menyuruh mereka segera pergi.
Dimas beserta Baskoro pun serentak menarik tangan Ayu lalu mereka bertiga masuk ke cahaya itu.
Bi Ijah dan pak Joko yang melihat mereka bertiga telah pulang ke raga mereka masing-masing pun segera meniup ketiga lilin itu.
“Alhamdulillah semuanya selamat,” sahut bi Ijah.
Sementara Dimas yang mulai membuka ikatan Ayu.
Ayu yang tidak terikat pun memeluk Dimas dengan tetesan air mata yang membasahi pipi Ayu.
“Terima kasih Mas dan Bapak telah menyelamatkan Ayu,” sahut Ayu yang masih berada di pelukan Dimas.
Baskoro pun mendatangi mereka berdua lalu memeluknya.
Baskoro yang menuju kamarnya mencari sesuatu di dalam tasnya pun akhirnya menemukannya.
Sebuah benang hitam, yang sudah pernah di ritualkan oleh Baskoro.
Baskoro bergegas menuju kamar Ayu.
Lukisan tua itu sudah di lepas Dimas dari dinding kamarnya segera ingin membawa ke tempat Bayu kuncoro.
“Tunggu sebentar Dimas!” ucap Baskoro menghentikan langkah Dimas yang ingin keluar dari kamarnya.
“Sebelum lukisan tua ini kamu Bawa, Bapak akan menyegel lukisan ini terlebih dahulu agar Mawar tidak bisa lagi pergi lagi dari dunianya.
Baskoro mulai melilitkan benang hitam itu ke lukisan tua itu lalu berkata.
“Tempatmu di sini, jangan pernah kembali lagi,” ujar Baskoro mengikat benang hitam itu.
Setelah selesai barulah Baskoro menyerahkan lukisan itu kepada Dimas lalu memberi pesan kepadanya.
“Dimas bawalah lukisan ini, jangan sampai matahari terbit lukisan itu harus ada di tangan bayu. Jika tidak semua akan sia-sia. lukisan ini akan kembali lagi ke rumah ini!” tegaskan Baskoro yang memberi perintah.
“Kenapa bisa seperti itu Pak?” tanya Dimas yang bingung.
“Karena dimensi lain hanya aktif di malam hari sampai dengan matahari terbit, jika lukisan ini kamu tidak berhasil menyerahkan sebelum matahari terbit maka lukisan itu akan kembali ke alam nyata di mana lukisan itu berasal, di situlah lukisan ini akan kembali. Lukisan itu berasal dari rumah ini maka secara otomatis akan kembali lagi ke rumah ini tepatnya di kamar kalian,” Baskoro yang menjelaskan panjang lebar agar Dimas mengerti.
__ADS_1
“Apa sekarang kamu mengerti Dimas?” tanya Baskoro.
“Iya Pak Dimas mengerti.”
“Cepat pergilah ini sudah jam 1 kamu harus segera!” perintah Baskoro.
“Hati-hati, Mas,” celetuk Melati.
Dimas segera bergegas membawa lukisan itu masuk ke dalam mobilnya ia pun menaruh lukisan itu di samping kursi mobilnya.
Mesin mobil mulai dinyalakan Dimas pun menjalankan mobilnya meninggalkan rumahnya pergi ke rumah Bayu untuk mengembalikan lukisan itu.
Doa dari Ayu, Baskoro, bi Ijah dan pak Joko pun tidak henti mendoakan di setiap langkah Dimas agar keluarga mereka semua kembali menjadi tenang dan damai.
Di tengah perjalanan Dimas mulai memacu mobilnya dengan sangat cepat berharap ia dapat segera mengembalikan lukisan yang membawa malapetaka itu di kehidupan keluarga kecil mereka.
‘Aku harus bisa membawa lukisan ini tepat waktu, agar aku bisa tenang hidup bersama keluarga kecilku,' gumam Dimas dengan fokus mengemudikan mobilnya.
Dua jam telah berlalu.
Awalnya tidak ada kendala saat itu Dimas mengemudikan mobilnya tanpa hambatan sedikit pun.
Dua jam telah berlalu hambatan mulai terjadi di saat Dimas sudah memasuki desa kuringkit di sanalah mobil Dimas mulai mogok.
Dimas mulai panik.
“Sial! Mobil ini mogok!” celetuk Dimas yang kesal.
Dimas keluar dari mobilnya lalu membuka kap mobilnya untuk memeriksa masalah apa yang terjadi.
Namun di saat telah dicek tidak ada kerusakan apa-apa yang membuat mobilnya menjadi mogok.
‘Bagaimana ini? Mobil ini pakai acara mogok segala! Mana tidak ada satu pun kendaraan yang lewat di desa ini. Aku harus bagaimana?’ gumam Dimas yang kesal.
Berulang kali menstater mobilnya namun tetap saja tidak mau hidup.
Dimas pun berulang-ulang kali mengecek mesin mobilnya akan tetapi tidak ada masalah.
Hingga sudah satu jam Dimas berdiri di luar mobil, rasa bingung takut yang ada di hatinya dan pikirannya saat ini.
‘Aku harus bagaimana!’ gumam Dimas yang mulai panik.
Dimas menoleh ke kanan lalu ke kiri berharap ada sebuah kendaraan yang lewat agar bisa meminta pertolongan.
Namun tidak ada satu pun di kendaraan yang melintas.
Ujan deras mulai mengguyur jalan di desa kuringkit jam pun sudah menunjukkan jam empat dini hari, namun mobil Dimas masih saja tidak mau hidup.
Tubuh Dimas yang basah kuyup di guyur oleh hujan yang deras saat itu tidak membuatnya tidak patah semangat Dimas yang masih saja mengecek mesin mobilnya berharap mobilnya dapat hidup.
__ADS_1