
Sementara di tempat lain Dimas dan Ayu telah sampai terlebih dulu di rumah mereka berdua tengah bersantai di ruang tengah.
“Bi ....” teriak Ayu memanggil bi Inem.
“Iya Non, ada yang bisa Bibi bantu?” tanya bi Inem.
“Tolong buatkan Mas Dimas susu hangat Bi, dan saya air putih hangat,” pinta Ayu kepada bi Inem.
“Baik Non,” ucap bi Inem bergegas ke dapur membuatkan pesanan dari Ayu.
Sambil menunggu Bi Inem membuatkan minuman Ayu dan Dimas pun berbincang-bincang.
“Bagaimana pekerjaan mu Mas?” tanya Ayu.
“Berjalan dengan lancar sayang, oh iya aku membawakan oleh-oleh untukmu pasti kamu suka,” ucap Dimas sambil mengambil oleh-oleh yang berada di samping tasnya.
Ayu yang mendapatkan oleh-oleh dari suaminya segera membukanya dan ternyata sebuah tas yang cantik dengan ukiran yang khas.
“Bagus sekali Mas tas ini,” tutur Ayu dengan wajah yang sangat bahagia.
“Kamu menyukainya sayang ?”
“Iya Mas, aku sangat menyukainya.”
Tidak lama kemudian bi Inem datang membawa dua buah gelas minuman yang di pesan oleh Ayu.
“Ini minumnya Tuan dan Nyonya,” ucap Bi inem yang menyodorkan minuman ke Ayu dan Dimas.
“Terima kasih Bi,” sahut serentak Ayu dan Dimas.
“Sama-sama Tuan dan Nyonya,” ucap Bi Inem dan meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
“Oya sayang kau baik-baik saja kan setelah aku tidak ada sehari,” Dimas yang mengkhawatirkan Ayu.
“Iya Mas aku baik-baik saja, hanya saja kemarin aku membawa Sinta ingin melihat rumah baru kita dan lukisan Wanita itu karena ceritaku membuat Sinta sangat penasaran dengan lukisan Wanita itu. Tapi anehnya di saat Sinta melihat lukisan itu dia memperingati aku harus berhati-hati lalu anehnya lagi malamnya Sinta bermimpi menyeramkan dengan lukisan itu dan memperingatkan aku kembali,” Ayu yang menjelaskan kejadian kemarin yang ia lakukan kepada Suaminya.
“Mungkin Sinta hanya berhalusinasi saja,” sahut Dimas dengan singkat sambil menyeruput susu panasnya.
Dimas adalah seseorang yang tidak percaya dengan hal mistik apa lagi makhluk yang tidak kasat mata menurutnya itu terjadi karena halusinasi, Dimas lebih menilai sesuatu dari rasio atau pemikirannya.
“Mas aku ingin ke kamar sebentar hari ini rasanya aku lelah sekali.”
“Iya sayang, aku pun ingin mandi terlebih dahulu.”
Mereka berdua bergegas pergi dari ruang tengah.
Ayu yang telah sampai di kamarnya merebahkan tubuhnya sebentar di atas kasur yang empuk sambil memandangi lukisan Wanita bergaun merah itu, Ayu masih sedikit meragukan ucapan Sinta tentang lukisan itu.
“Apakah benar yang di katakan Sinta tentang lukisan itu,” gumam Ayu sambil fokus memperhatikan lukisan itu.
Saat Ayu tengah memperhatikan lukisan itu lebih dalam hal aneh pun mulai terjadi kepadanya.
Tubuhnya tidak bisa bergerak, pandangannya kosong dan hanya fokus kepada lukisan lalu Ayu mulai tidak sadarkan diri, di situ Ayu merakan seakan berada di ruangan yang gelap namun masih terlihat cahaya sama-sama.
‘Di mana aku, Mas Dimas ....’ gumam Ayu, lalu ia berteriak memanggil suaminya.
Ayu menyelusuri ruangan yang tidak ada siapa-siapa di sana. Dengan sekuat tenaga Ayu berteriak-teriak meminta tolong ia berharap ada seseorang yang mendengarnya lalu menolongnya namun semua itu hannyalah sia-sia.
__ADS_1
Di ruangan itu tidak ada orang sama sekali walau ia terus berjalan menyelusuri ruangan itu tanpa ujung.
“Sebenarnya di mana aku, siapa saja tolong aku!” teriak Ayu kembali meminta pertolongan.
“Percuma kau teriak, ikutlah denganku,” terdengar suara wanita namun tidak ada wujudnya.
“Siapa kau?” tanya Ayu yang penasaran.
Terlihat samar-samar seorang Wanita bergaun merah dengan memegang setangkai mawar merah berdiri tepat di hadapan Ayu.
“Kau Wanita di lukisan itu!” celetuk Ayu yang di buatnya kaget.
“Ikutlah dengan ku,” ajak Wanita itu.
“Aku tidak mau ikut denganmu sebenarnya kau siapa?”
“Baiklah aku akan memaksamu untuk ikut denganku,” paksa Wanita bergaun merah itu memegang pergelangan tangan Ayu.
Wanita bergaun merah itu mencengkeram pergelangan tangan Ayu menariknya untuk ikut dengannya.
Sontak saja Ayu memberontak tidak mau ikut dengan wanita itu.
“Lepaskan aku, lepaskan,” ucap Ayu sambil berusaha melepas pegangan dari Wanita itu.
Mendengar teriakan Ayu dari kamar Dimas pun langsung bergegas keluar dari kamar mandi dan menuju kamar.
Saat sampai di kamarnya terlihat Ayu yang sedang tidur berteriak-teriak histeris.
“Sayang bangun, bangun sayang,” ucap Dimas mengerakkan tubuh Ayu.
“Kau bermimpi buruk sayang?” tanya Dimas.
“Entahlah Mas ini ternyata hanya mimpi namun seperti nyata.”
“Apa yang kamu mimpikan?”
“Wanita di lukisan itu ingin membawaku,” tutur Ayu mengingat mimpinya yang menyeramkan.
“Sudahlah sebaiknya kau minum air putih ini lalu mandi setelah itu kita makan malam,” Dimas yang berusaha menenangkan Ayu.
“Mas apakah lukisan ini dapat hidup, apakah ucapan Sinta itu benar?” tanya Ayu yang mulai khawatir.
“Sayang itu hanya mimpi coba lihat lukisan ini tidak ada apa-apa,” Dimas yang berdiri memegang lukisan itu berusaha meyakinkan kepada Ayu bahwa tidak apa-apa di lukisan itu.
Ayu mulai terdiam memikirkan kejadian yang tadi ia alami seperti nyata.
“Sudahlah sayang sebaiknya kamu mandi, malam ini aku ingin mengajakmu makan di luar,” Dimas yang berusaha menenangkan Ayu kembali.
“Iya Mas, mungkin benar apa katamu tadi itu aku hanya bermimpi karena memikirkan ucapan Sinta tentang lukisan itu,” sahut Ayu yang mencoba berpikir positif.
“Ya sudah aku mandi dulu Mas,” Ayu yang bergegas pergi menuju kamar mandi.
Tidak lama kemudian Ayu telah selesai mandi.
Hari pun mulai menjelang malam Dimas yang ingin mengajak Ayu makan malam menepati janjinya.
“Kau terlihat cantik malam ini Sayang,” puji Dimas yang terkesima melihat Ayu yang keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Ayu hanya tersenyum malu mendengar pujian dari Dimas dan mulai melupakan mimpi aneh yang baru ia alami.
Mereka berdua pun pergi menuju mobil, sesampainya di dekat pintu mobil Dimas membukakan pintu mobil untuk Ayu.
“Silahkan masuk nyonya Dimas,” celetuk Dimas yang membuat Ayu tersipu malu kembali.
Dimas mulai masuk ke dalam mobil menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
“Mas, kamu mau bawa aku makan malam di mana?” tanya Ayu yang penasaran.
“Pokoknya di restoran yang paling romantis untuk kita berdua.”
Mereka berdua pun asyik berbincang-bincang di dalam mobil.
Namun di dalam perjalanan menuju restoran kejadian aneh pun terjadi kepada Ayu.
Saat itu di kala Ayu asyik berbincang dengan suaminya tanpa tidak ia sadari melihat sosok Wanita bergaun merah melalui spion mobil yang berada di dalam, Wanita itu sedang duduk di belakang sambil mantap Wajah Ayu.
Sontak Ayu kaget melihat Wanita bergaun merah itu dengan wajah yang berlumuran darah karena rasa takut Ayu pun menundukkan wajahnya dan memejamkan matanya. Hal ini pun di lihat oleh Dimas.
“Ada apa sayang, seperti kamu sedang ketakutan,” ucap Dimas sambil memegang setir.
“Wanita di lukisan itu Mas dia duduk di belakang,” sahut Ayu.
Dimas yang penasaran menoleh ke belakang namun tidak ada siapa pun yang duduk di sana.
“Tidak ada siap-siapa sayang, coba kau lihat.”
Dimas yang mencoba meyakinkan Ayu tidak ada siapa-siapa di bangku belakang mobil, Ayu yang mendengar ucapan Dimas mencoba membuka matanya dan melihat kembali di spion dalam mobil.
Benar saja tidak ada apa-apa di sana, Ayu meyakinkan kembali yang ia lihat mencoba menoleh ke bangku belakang dan benar saja tidak ada siapa-siapa di sana.
Dimas yang tidak mempercaya hal-hal tidak kasat mata pun mencoba menenangkan Ayu kembali.
“Seperti kau letih Sayang, apa kita pulang saja agar kau dapat beristirahat biar suruh Bi Inem membuat masakan untuk makan malam kita.”
“Tidak Mas, aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit lelah kita lanjutkan makan malam kita yang romantis tidak apa-apa,” Ayu mencoba meyakinkan suaminya dia baik-baik saja.
“Apakah benar kau baik-baik saja Sayang.”
“Iya Mas, aku baik-baik saja,” sahut Ayu dengan tersenyum.
“Baiklah jika begitu kita lanjutkan makan malam kita.”
Mereka berdua pun telah sampai di restoran yang, Dimas memanggil pelayan restoran untuk memesan beberapa makan. Sambil menunggu pesanan Dimas dan Ayu memulai obrolan santai mereka.
Sampai akhirnya pesanan datang dan mereka berdua menikmati makan malam romantis mereka berdua.
“Terima kasih Mas, sudah membawaku makan malam yang romantis ini,” ucap Ayu kepada suaminya.
“Iya Sayang, aku benar-benar sayang kepadamu dan tidak mau kehilanganmu,” Dimas yang memegang tangan Ayu mengutarakan isi hatinya.
“Aku tidak akan meninggalkanmu Mas, akan selalu bersamamu” Ayu yang membalas ucapan Dimas sambil tersenyum.
Setelah selesai makan malam, Dimas dan Ayu mulai bergegas pergi dari restoran itu menuju rumah mereka.
Bersambung gengs.
__ADS_1