
Keesokan paginya Ayu mulai melakukan aktivitasnya secara normal tanpa di ganggu kembali oleh wanita bergaun merah demikian juga dengan Sinta.
Ayu yang sedang menikmati sarapan paginya di hampir oleh Dimas suaminya.
“Selamat pagi sayang,” sapa Dimas mencium kening Ayu.
“Pagi Mas,” Ayu yang mengambilkan sepotong roti untuk Dimas.
“Kamu tampak bersemangat hari ini, di banding beberapa hari yang lalu selalu merasa ketakutan,” pungkas Dimas.
“Tidak sayang, lukisan itu tidak membuat aku ketakutan kembali,” sahut Ayu dengan tersenyum.
“Sukurlah jika begitu, lagi pula rasa takut tercipta di pikiran kita sendiri,” Dimas yang menjelaskan dengan rasio.
“Iya Mas, mulai sekarang aku akan menjalani hari-hariku dengan normal kembali dia tidak akan menggangguku lagi.”
“Dia? Dia siap sayang?” Dimas yang bingung.
“Eh, tidak apa-apa Mas,” Ayu yang mengalihkan pembicaraannya.
“Oya, sepertinya hari ini aku tidak bisa mengantarmu kerja sayang, banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini, dan bisa saja aku pulang terlambat.”
“Tidak apa-apa Mas, lagi pula ada pak Joko yang bisa mengantarkanku hari ini.”
Selang beberapa menit Dimas dan Ayu telah selesai menyantap sarapan baginya mereka berdua mulai pergi ke kantor mereka masing-masing.
Sementara Sinta telah sampai terlebih dahulu di kantor. Saat Sinta ingin masuk ke kantor iya bertemu dengan Firman kembali.
“Sin!” panggil Firman.
Sinta yang mendengar dirinya di panggil, ia pun menoleh ke belakang terlihat Firman menghampiri dirinya.
“Ada apa Firman?”
“Malam ini kamu ada acara tidak. Oya bagaimana dengan lukamu,” ajak Firman.
“Mmm ... Seperti tidak ada sih ada apa Firman. Lukaku sudah mulai membaik Firman.”
“Syukurlah jika begitu. Sin aku mau mengajak kamu makan malam denganku,” sahut Firman dengan lembut.
__ADS_1
“Baiklah, nanti malam jam berapa?”
“Jam delapan malam aku jemput ya, Sin!” ucap Firman tersenyum.
“Baiklah, jam delapan malam aku tunggu ya,” sahut Sinta tersenyum meninggalkan Firman.
Sinta masuk ke ruangannya ia duduk di meja kerja dan mulai menyalakan komputer yang ada di meja kerjanya.
Saat tengah asyik mengerjakan pekerjaannya Ayu pun menghampiri Sinta di meja kerjanya.
“Sin, bagaimana tadi malam kamu tidak di ganggu lagi wanita bergaun merah itu kan?”
“Tidak Ayu, tadi malam aku tidur dengan nyenyak.”
“Aku pun Iya Sin, tidak di teror kembali oleh wanita itu. Rupanya ki Krisno benar-benar sakti,” Ayu yang memuji kehebatan ki Krisno.
“Kan sudah aku bilang, ki Krisno paranormal yang benar-benar hebat kamu jangan meragukan kehebatannya,” Sinta yang percaya akan kehebatan ki Krisno.
“Oya Sin, malam ini Firman mau mengajakku makan malam,” Sinta yang bercerita kepada Ayu.
“Cie ... Cie, kamu harus berdandan cantik malam ini Sin. Biar Firman kelepek-kelepek sana kamu,” ejek Ayu kepada Sinta dengan tertawa.
“Apaan kamu Ayu, ikan kali kelepek-kelepek.”
***
Di malam harinya Sinta yang tengah bersiap-siap pergi dengan Firman Ia mulai duduk di bangku meja riasnya, memoles wajahnya dengan makeup yang natural.
Setelah selesai berdandan Sinta pun mulai mencocokkan baju yang ingin Ia kenakan, Sinta beberapa kali mencoba mengganti pakaian yang ia kenakan sampai akhirnya Sinta yang menemukan pakaian yang cocok untuknya.
Sinta keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Terlihat Ibunya yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu Sinta menghampiri ibunya dan duduk di sofa pun ruang tamu sambil menunggu Firman.
Ibu Sinta melihat putrinya yang tampak beda hari ini pun menegurnya.
“Mau ke Sin?” ibu Sinta yang sedang duduk di sampingnya.
“Mau jalan sama Firman Bu.”
“Pulangnya jalan malam-malam, Nak!” ibu Sinta yang memperingati.
__ADS_1
“Iya Bu.”
Tidak lama kemudian suara mesin mobil Firman yang terdengar oleh Sinta.
Firman mulai turun dari mobil, ingin mengajak Sinta jalan serta berpamitan dengan Ibunya.
“Bu, saya pergi dulu dengan Sinta,” Firman berpamitan.
“Iya Nak Firman hati-hati, pulangnya jangan terlalu malam ya, Nak,” tegur ibu Sinta.
“Baik Bu!” sahut Firman yang bersalaman dengan ibu Sinta.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan menuju restoran.
“Kamu begitu cantik malam ini Sin!” Firman yang memuji Sinta sambil mengemudikan mobilnya.
“Terima kasih Firman,” sahut Sinta yang tersipu malu.
Sesampainya di restoran Firman memesankan menu spesial yang ada di restoran itu untuk Sinta, mereka berdua pun mengobrol santai.
Beberapa jam telah berlalu pertemuan mereka berdua telah usai Firman mengantarkan Sinta pulang kembali ke rumahnya.
Di perjalanan menuju rumah Sinta, Firman mulai membuka obrolan dengan Sinta.
“Terima kasih ya Sin, sudah menemaniku malam ini.”
“Iya Firman, terima kasih juga sudah mau mengajakku makan malam ini.”
Firman telah sampai di depan rumah Sinta, Firman yang ikut keluar dalam mobil ingin berpamitan kepada ibu Sinta.
“Bu saya pamit dahulu,” Firman yang berpamitan sembari menyodorkan makan yang telah ia bungkus untuk ibu Sinta.
“Iya Nak Firman terima kasih. Hati-hati di jalan,” ucap ibu Sinta menerima bungkusan makan dari Firman.
Firman meninggalkan Sinta masuk ke dalam mobilnya bergegas untuk pulang.
Saat masuk ke dalam rumah raut wajah Sinta memerah serta tersipu hingga membuatnya lupa akan masalahnya dengan lukisan itu. Ibu Sinta yang melihat gelagat itu pun menegur Sinta.
“Senyum-senyum saja. Ayo sana masuk istirahat besok kan kerja,” ucap Ibu Sinta.
__ADS_1
“Iya Bu.”
Sinta berjalan menuju kamarnya, ia masuk ke kamar dan segera beristirahat.