
Sementara di dalam perjalanan Dimas masih sangat sedih ketika melihat kondisi Ayu seperti itu.
“Maafkan aku Sayang, semua ini salahku,” ucap Dimas memegang lembut wajah Ayu dengan tangan kirinya.
Ayu mulai merespon Dimas. Namun tidak bisa berkata apa-apa ia hanya meneteskan air mata yang mengenai tangan Dimas.
Hati Dimas semakin terpukul dengan semua ini, rumah tangga yang ia bayangkan akan bahagia malah menjadi seperti ini.
Sampai akhirnya Dimas tiba di rumah mereka, Ayu pun di gandeng Dimas saat berjalan menuju rumah.
Namun saat mereka berdua mulai masuk ke rumah ayu bersembunyi di belakang Dimas sambil memegang dengan erat lengan baju Dimas.
“Ada apa sayang, jangan takut! Ada aku di sini,” ucap Dimas.
Ayu mulai mengedorkan pegangannya. Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Saat masuk. bi Ijah datang menanyakan kondisi Ayu.
Dimas pun mulai menjelaskan semua kepada bi Ijah dan menyuruh bi Ijah untuk merahasiakan sakit Ayu.
Setelah berbincang dengan bi Ijah Dimas dan Ayu mulai masuk ke kamar untuk beristirahat, karena sedari ia pulang dari luar kota Dimas belum beristirahat.
Sesampainya di kamar Ayu langsung naik ke tempat tidurnya meringkuk membelakangi lukisan yang terpajang di dinding kamarnya.
Dimas pun menyusul Ayu di atas ranjang untuk beristirahat akan tetapi, di saat Dimas ingin memejamkan matanya telepon Ayu berdering mendengar telepon genggam Ayu berdering di atas meja kamar Dimas mulai berjalan mengambil dan mengangkatnya.
“Hallo Pak,” ucap Dimas.
“Bagaimana keadaanmu Nak Dimas?” tanya bapak Ayu.
“Alhamdulillah baik Pak.”
“Alhamdulillah kalau begitu Nak Dimas, bapak hanya rindu dengan Ayu, sudah lama sekali dia tidak menelepon bapak bagaimana keadaan Ayu, Nak Dimas?”
Dimas terdiam sesaat menghela nafas yang berat.
“Nak Dimas! Nak kok diam!” tegur bapak Ayu.
“Be-begini Pak, kondisi Ayu saat ini kurang baik,” Dimas yang gugup.
“Ada apa Nak Dimas? Kenapa dengan Ayu?” tanya bapak Ayu yang mulai khawatir.
“Ayu mempunyai penyakit otak yang terbilang sangat langka ia harus di rawat di luar negeri karena di sini para Dokter tidak bisa menanganinya,” ucap Dimas.
“Ya Allah Ayu, pantas saja kamu tidak menghubungi bapak Nduk,” sahut bapak dengan nada berat.
“Maafkan saya Pak, saya tidak memberi tahu Bapak selama ini saya takut Bapak khawatir.”
“Iya Nak Dimas, Bapak mengerti dan Bapak tidak menyangka semua bisa menjadi seperti ini dan harus Ayu yang mengalaminya.”
__ADS_1
“Dimas minta doanya Pak, agar Ayu cepat sembuh.”
“Ia Nak Dimas tentu saja, maafkan Bapak belum bisa ke sana ibu masih sering sakit-sakitan. Dan Bapak juga titip anak Bapak kepadamu tolong jaga baik-baik Ayu,” pesan dari bapak Ayu.
“Tentu saja Pak Dimas akan menjaga Ayu.”
“Ya sudah, Nak Dimas terima kasih.”
“Iya Pak,”
Dimas menutup teleponnya lalu kembali ke tempat tidurnya, ia memeluk istrinya yang sedang meringkuk terlihat Ayu seperti ketakutan saat itu. Namun, sampai saat ini Dimas sangat bingung sebenarnya apa yang membuat Ayu takut sampai-sampai ia seperti itu.
Setiap kali di tanya, Ayu hanya diam tidak bersuara sepatah kata pun. Hal ini membuat Dimas semakin bingung.
Dimas mulai merasakan kantuk ia pun memejamkan matanya hingga tertidur, sementara Ayu masih saja terjaga meringkuk di pelukan Dimas.
***
Hingga malam mulai tiba mereka berdua mulai keluar dari kamar mereka untuk makan malam, mereka berdua berjalan menuju meja makan.
Ayu menyuap makan dengan tatapan mata yang kosong hingga ada beberapa makan yang berantakan di pinggir mulut Ayu.
Dengan lembut dan sabar Dimas melap makan yang ada di area mulut Ayu. Ia juga mengambil sendok dari tangan Ayu lalu mulai menyuapinya.
Hingga semua makan telah habis di piring Ayu, Dimas kembali mengelap mulut Ayu dengan lembut.
Mereka berdua masuk kamar menuju tempat tidur mereka, Dimas dan Ayu mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dimas pun memeluk Ayu dan mengajak Ayu berbincang walau pun ucapan Dimas tidak di respon Ayu ia masih tetap mengajak istrinya berbincang.
“Sayang, jika nanti kau sembuh kita akan merencanakan bulan madu, aku akan mencoba menyisihkan waktuku untukmu sayang.”
“Dan aku berjanji apa pun yang terjadi kepadamu, aku akan tetap setia di sisi mu, jangan pernah tinggalkan aku sayang.
“Kamu pasti kangen dengan aku, di saat aku pergi keluar kota seminggu ini,” ucap Dimas memandang wajah istrinya.
“Jangan takut lagi, aku akan selalu melindungimu dan berusaha untuk kesembuhanmu.”
Ayu yang terpejam meneteskan air mata, sebenarnya ia mendengar semua ucapan Dimas akan tetapi bagaimana pun Ayu menjelaskan Dimas tidak akan percaya di tambah lagi ucapan Dokter yang membuat Dimas merasa yakin kalau istrinya mendekati gangguan kejiwaan.
Dimas yang melihat air mata Ayu jatuh di pelukannya pun mengusapnya dengan lembut.
“Jangan sedih sayang, kita pasti bisa melewati badai di pernikahan kita ini. Dan memiliki anak yang lucu seperti ayah dan ibunya.”
“Oh iya, besok aku mau mencarikan rumah sakit yang terbaik untukmu sayang, dan lagi aku akan ke tempat kerjamu untuk memberitahukan pak Damar kalau kau sedang sakit tidak dapat bekerja.”
“satu hal lagi, maafkan aku sayang, aku harus menyembunyikan penyakitmu kepada orang banyak bahkan keluargamu sendiri ini seku aku lakukan untuk dirimu sayang. Sekali lagi maafkan aku,” Dimas mencium lembut kening istrinya.
Setelah berbincang cukup lama dengan Ayu Dimas pun tertidur sambil memeluk Ayu.
__ADS_1
Mereka berdua mulai tertidur, hingga tengah malam Ayu yang terbangun lalu melihat wanita bergaun merah sedang berdiri di pojok kamarnya ingin mendekatinya sontak saja Ayu berteriak-teriak histeris kembali dengan mengucapkan kalimat yang sama.
“Pergi! Pergi! Jangan mengganggu aku,” teriak Ayu dengan brutal melempari benda yang ada di dekatnya ke pojok kan dinding.
Dimas dengan sergap memeluk Ayu. Namun, Ayu tetap berteriak histeris dan meronta-ronta Dimas yang kewalahan menangani Ayu memanggil bi Ijah untuk membatunya.
Bi Ijah pun datang lalu memasuk ke kamar mereka terlihat Ayu sedang meronta-ronta.
“Ada apa ini Tuan? Kenapa kondisi non Ayu semakin memburuk?” tanya bi Ijah yang panik.
“Nanti saja saya jelaskan, Bi minta tolong ambilkan botol obat non Ayu di atas meja Bi!” perintah Dimas.
“Baik Tuan,” sahut bi Ijah segera mengambil botol obat yang di perintahkan Dimas.
Setelah bi Ijah berhasil mendapatkan botol obat ia pun segera memberaikan kepada Dimas.
Sementara Dimas mulai mencoba membujuk Ayu untuk meminum obat penenang untuk dirinya.
Ayu pun meminum obat itu beberapa menit kemudian Ayu mulai lemas di pelukan Dimas. Dimas pun mulai menidurkan Ayu lalu menyelimutinya.
Namun di tangan Dimas terdapat beberapa cakaran dari kuku Ayu yang mengores lengannya. Dimas yang mengetahui itu meminta bi Ijah mengambilkan kotak P3K.
Bi Ijah telah mengambilkan kotak P3K lalu membatu Dimas mengobati lukanya.
“Tuan Dimas, sepertinya kondisi non Ayu semakin memburuk, Non Ayu sudah mulai melukai Tuan Dimas.”
“Iya Bi besok aku akan mencari rumah sakit yang terbaik untuk Ayu, semakin cepat akan semakin baik agar Ayu bisa sembuh dengan cepat,” sahut Dimas sambil menahan perih luka yang ada di lengannya.
“Iya Tuan, Bibi pun bingung apa yang sebenarnya terjadi dengan non Ayu.”
“Entahlah aku pun tidak mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan dan terjadi kepadanya,” ucap Dimas yang menoleh ke Ayu sedang tertidur.
“Terima kasih Bi, atas bantuannya. Jika Bi Ijah ingin melanjutkan tidur kembali silahkan,” Dimas mempersilahkan bi Ijah.
“Baik Tuan, jika ada apa-apa Tuan Dimas bisa memanggil Bibi.”
“Baik Bi, terima kasih.”
Bi Ijah meninggalkan Dimas, Ayu di kamar mereka bergegas melanjutkan tidurnya kembali.
Sementara itu Dimas yang melihat wajah istrinya mulai berkaca-kaca kembali, rasa tidak percaya istrinya bisa menjadi sangat memberontak sehingga tidak dapat ia kendalikan lagi.
Dengan lembut Dimas mencium keningnya istri sambil mengucapkan.
“Selamat tidur sayang.”
Setelah itu Dimas mulai memejamkan matanya lalu tertidur lelap.
__ADS_1
Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya 🙏 terimakasih