Misteri Lukisan Tua

Misteri Lukisan Tua
Kucing Hitam


__ADS_3

Jam kerja kantor telah usai Ayu dan Sinta bersiap untuk segera pulang ke rumah masing-masing.


“Sin aku duluan ya!” ucap Ayu pergi keluar terlebih dahulu.


“Iya Yu,” sahut Sinta yang masih merapikan meja kerjanya.


Sesampainya Ayu di parkirkan mobil, ia tidak melihat keberadaan suaminya.


Sinta yang saat itu berada di pikiran mobil menawarkan tumpangan kepada Ayu.


“Yu, gak ikut aku aja!” Sinta menawarkan tumpangannya.


“Tidak usah Sin, mungkin sebentar lagi mas Dimas akan datang.”


“Ya sudah kalau begitu, aku duluan ya, Yu,” ucap Sinta meninggalkan Ayu. 


Kring ( suara telepon genggam milik Ayu berbunyi)


Ayu segera mengangkat telepon genggam miliknya ternyata Dimas.


“Hallo sayang.”


“Iya Mas, kamu belum pulang?” 


“Sepeti aku sedikit terlambat menjemputmu sayang, jadi aku menyuruh pak Joko untuk menjemputmu,” Dimas yang menjelas melalu telepon.


“Ya sudah Mas, apa Mas ada meeting lagi?” 


“Tidak sayang aku ingin memberikanmu sesuatu,” sahut Dimas ingin memberikan kejutan untuk Ayu.


“Apa itu Mas?” Ayu yang tampak penasaran.


“Nanti kau akan mengetahuinya di rumah, tunggu Mas di rumah ya.”


“Baik Mas,” telepon di tutup oleh Ayu. 


Tidak lama pak Joko datang menjemput Ayu.


“Maaf ya Non, menunggu lama.”


“Tidak Pak, baru saja pulang kok,” balas Ayu.


“Mari Non,” sahut pak Joko mengajak Ayu masuk ke dalam mobil.


Mereka berdua pergi meninggalkan kantor Ayu menuju rumah.


Sesampainya di rumah Ayu tidak langsung masuk ke dalam kamarnya ia ingin menunggu suaminya di ruang tamu.


Ayu yang duduk di sofa ruang tamu, sangat penasaran dengan kejutan yang akan di berikan oleh suaminya. Mulutnya terasa kering Ayu pun memanggil bi Ijah untuk membuatkan minuman.


“Bi!” pekik Ayu.


Bi Ijah menghampiri Ayu.


“Iya Non.”


“Tolong buatkan segelas susu hangat dan air putih hangat ya Bi,” pinta Ayu.

__ADS_1


“Baik Non,” sahut bi Ijah lalu segera pergi meninggalkan Ayu.


Tidak lama kemudian Dimas datang membawakan sesuatu untuk Ayu.


“Sudah lama menunggunya sayang.”


“Tidak Mas baru saja sampai apa itu Mas?” Ayu yang menunjuk tangan kanan Dimas yang menggenggam keranjang hewan.


Dimas meletakan keranjang hewan itu di lantai lalu membuka pintunya keluarlah seekor kucing berwarna hitam dengan bulu panjang lebat, bermata biru.


Ayu yang melihat itu pun terkejut.


“Liat sayang dia begitu mengemaskan bukan, Mas sudah mengabulkan keinginanmu memelihara kucing di rumah kita.


Ayu tersenyum bahagia, namun di saat kucing hitam itu ingin Ayu dekati.


Kucing itu terlihat marah, bulu panjangnya berdiri menandakan kucing itu tidak menyukainya di tambah lagi kucing itu menggeram marah kepada Ayu lalu kucing hitam itu berlari.


“Aneh tadi waktu aku bawa kucing itu begitu sangat jinak tapi kenapa sekarang iya sangat berubah menjadi agresif,” pungkas Dimas yang bingung.


“Tidak apa-apa Mas, mungkin saja kucing hitam itu butuh beradaptasi di rumah ini.”


Bi Ijah datang dengan membawa dua gelas minuman yang telah di pesan oleh Ayu, bi Ijah sendiri saat berjalan di ikuti kucing hitam itu ke tempat Ayu.


‘Kucing siapa ini, tapi kucing ini lucu,' gumam bi Ijah.


Sesampainya di tempat Ayu bi Ijah meletakan dua gelas minuman di atas meja sambil menyodorkan kepada Ayu dan Dimas.


Kucing hitam yang menatap Ayu lagi-lagi mengeluarkan suara mengeram menandakan iya marah dan tidak suka dengan Ayu.  


“Aneh kucing hitam ini, tadi kucing ini baik-baik saja kenapa kucing ini terlihat marah,” celetuk bi Ijah.


“Sudahlah mungkin kucing itu hanya butuh waktu beradaptasi saja kalian berdua tidak perlu cemas,” celetuk Ayu.


*** 


Di malam harinya Dimas dan Ayu menikmati hidangan makam malam yang di buatkan oleh bi Ijah, saat mereka berdua telah selesai makan malam telepon Ayu berbunyi.


Ayu segera mengangkat teleponnya yang berada di meja kamar ternyata orang tua Ayu yang telah lama tidak berbicara dengannya.


Bapak Ayu menanyakan kondisinya saat ini, Ayu menjawab bahwa sekarang kondisinya telah sehat mendengar suara dari anaknya sendiri. Orang tuanya telah menghilangkan kerinduan di batin kepada Ayu anak semata wayangnya.


Setelah selesai berbincang-bincang bapak Ayu mematikan telepon genggamnya. Sementara Ayu dan Dimas melanjutkan kembali bersantai di ruang tengah atau di ruang keluarga sambil menonton acara televisi.


Kucing hitam yang baru Dimas beli masih saja marah jika Ayu mendekatinya terkadang kucing itu bersembunyi di balik korden.


Malam mulai semakin larut berulang kali Dimas menguap menahan kantuk, Dimas mengajak istrinya untuk beristirahat di kamar. 


Sekarang keluarga Ayu mulai membaik tidak ada lagi teror si wanita bergaun merah yang mengganggu Ayu.


Ayu dan Dimas sudah berada di dalam kamar tidak perlu waktu lama untuk mereka tertidur.


Karena mereka berdua sudah tertidur dengan sangat pulas.


Tap ... Tap... ( Suara langkah kaki yang berjalan)


Terdengar suara langkah kaki berjalan mendekati kucing hitam itu.

__ADS_1


Kucing hitam yang sedang tidur di balik korden ruang tamu pun terbangun.


Bruk ( suara benda keras yang menghantam)


Bi Ijah yang saat itu keluar dari kamar dan ingin ke kamar mandi mendengar suara.


Lalu bi Ijah berjalan ke ruang tamu mencari suara apakah itu, setelah bi Ijah melihat di balik korden bi Ijah berteriak histeris


“Aaaaaa...!” teriak bi Ijah 


Teriakan bi Ijah membangunkan Ayu dan Dimas yang sedang tidur di kamarnya.


“Mas bi Ijah,” ucap Ayu membangunkan Dimas.


“Iya sayang. aku pun mendengarnya, mari kita keluar.”


Dimas dan Ayu bergegas keluar dari kamar mendatangi bi Ijah.


Sesampainya di ruang tamu mereka berdua melihat darah segar mengalir dari kepala kucing hitam itu tubuh kucing hitam itu tidak bernyawa lagi. Seperti ada yang memukul kepala kucing hitam itu dengan benda yang sangat keras.


Sontak saja Ayu menangis melihat kucing hitam yang baru di berikan oleh suaminya mati.


“Sudah sayang, jangan bersedih nanti Mas akan belikan yang baru untukmu,” Dimas yang menenangkan istrinya.


Setelah itu Dimas pun mengangkat tubuh kucing hitam itu lalu menguburnya di temani oleh pak Joko.


Sementara Ayu kembali ke kamarnya karena bersedih.


 Pak Joko sedang mengali lubang untuk mengubur kucing hitam tersebut di temani Dimas.


“Tuan aneh sekali, kucing ini mati seperti ada yang memukul kepalanya dengan benda yang sangat keras, dan saya tidak menemukan orang asing masuk ke dalam rumah ini Tuan,” pak Joko yang sangat bingung.


“Entahlah aku pun bingung banyak misteri dan keanehan di rumah ini, apa yang sebenarnya terjadi,” sahut Dimas.


Dimas dan pak Joko telah selesai menguburkan kucing hitam tersebut.


Setelah selesai Dimas mencuci tangan dan kakinya baru ia naik ke atas tempat tidur.


Terlihat Ayu yang sedang tertidur dengan pulas. Sementara Dimas masih saja terjaga ia tidak bisa tidur memikirkan kejadian aneh terhadap kucing hitam itu.


'Siapa yang membunuh kucing hitam itu’ batin Dimas.


Ayu yang terbangun melihat suaminya belum tidur pun menegurnya.


“Belum tidur Mas?” 


“Iya sayang, sebentar lagi Mas akan tidur.”


“Apa yang sedang kamu pikirkan Mas?” tanya Ayu.


“Eh, tidak ada sayang hanya belum mengantuk saja.”


“Ya sudah cepatlah tidur besok Mas bekerja,” perintah Ayu.


“Baik sayang,” sahut Dimas memejamkan matanya.


Dimas mulai tertidur begitu pulang dengan Ayu.

__ADS_1


Banyak misteri yang semakin rumit yang muncul di kehidupan mereka.


Simak terus cerita selanjutnya temukan clue untuk memecahkan misteri di dalam cerita ini.


__ADS_2