
Keesokan harinya Dimas menyantap sarapan pagi di temani oleh Ayu.
“Oh iya sayang, hari Mas ada pertemuan dengan klen jadi harus berangkat lebih awal,” ucap Dimas yang terburu-buru menghabiskan makanannya.
“Ya sudah Mas, biar aku di atar oleh pak Joko,” sahut Ayu.
“Ya sudah kalau begitu sayang, Mas tinggal dulu,” sahut Dimas mengecup kening istrinya.
Dimas mulai bergegas pergi dari meja makan menuju mobilnya dengan tergesa-gesa.
Saat Dimas sudah keluar dari rumah ia lupa membawa kunci mobilnya.
‘Di mana aku taruh kunci mobil,' gumam Dimas sambil mengingat Dima ia letakan kunci mobil itu.
‘Oya di meja kamar aku letakan,' gumam Dimas teringat kunci mobil yang ia letakan.
Segera Dimas berjalan menuju kamarnya.
Ayu yang melihat Dimas dari meja makan pun menanyakan.
“Ada apa Mas?” pekik Ayu sembari menikmati sarapan paginya.
“Kunci mobil ku ketinggalan,” teriak Dimas menuju ke kamar.
Sesampainya di kamar Dimas melihat kunci mobilnya berada di atas meja kamarnya.
Dimas yang tergesa-gesa mengambil kunci mobilnya di atas meja hingga kunci itu terjatuh dari tangan Dimas lalu masuk ke bawah kasur.
‘Aduh! Pakai acara jatuh lagi,' gumam Dimas yang kesal sambil merogoh kunci yang terjatuh di bawah kasur.
Di saat Dimas merogoh di bawah kasur ia menemukan sesuatu benda selain kunci yang berhasil ia dapatkan.
Berupa balok kayu berukuran lumayan besar, di ujung balok kayu itu terdapat bekas darah yang mulai mengering, Dimas yang sangat heran mengapa balok kayu yang ada darahnya bisa terletak di bawah tempat tidurnya.
__ADS_1
Sesaat Dimas terdiam memikirkan mengapa sebuah balok ada di bawah tempat tidurnya. Dimas yang tidak kunjung keluar dari kamar pun di panggil Ayu dari luar kamar.
“Mas katanya mau bertemu klen nanti telat loh!” teriak Ayu dari balik pintu kamar.
Mendengar suara Ayu Dimas memasukkan kembali balok kayu itu ke tempat asalnya. Barulah dia menjawab ucapan istrinya.
“I-iya sayang,” sahut Dimas yang panik.
Dimas segera keluar dari kamarnya terlihat Ayu sudah berada di depan pintu.
“Mas, pulangnya jangan malam-malam,” pinta Ayu.
“Iya sayang, selesai bekerja Mas akan segera pulan.” Ucap Dimas yang pergi meninggalkan Ayu.
Dimas mulai masuk ke dalam mobil menyalakan mesinnya barulah ia pergi dari rumah menuju kantornya.
Sementara selang beberapa menit Dimas pergi Ayu pun pergi ke kantornya di temani oleh pak Joko.
Sesampainya di kantor Ayu mulai berjalan menuju ruang kerjanya terlihat Sinta yang tengah sibuk dengan berkas-bekas yang menumpuk di meja kerjanya.
Beberapa jam telah berlalu Sinta masih sangat sibuk dengan laporan-laporan yang harus ia selesaikan untuk di serahkan kepada pak Damar.
Sesekali Ayu menatap dari meja kerjanya Sinta yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Hingga Sinta sangat kewalahan, ia pun meminta Ayu untuk membantu pekerjaannya.
Sinta mulai mendatangi Ayu dengan beberapa laporan yang belum selesai dan beberapa berkas lainnya.
“Yu!” panggil Sinta yang berdiri di depannya.
“Ada apa Sin?” balas Ayu yang sedang memandangi komputernya.
“Kamu banyak pekerjaan tidak haru ini?” tanya Sinta.
__ADS_1
“Tidak sih Sin, paling sebentar lagi selesai,” sahut Ayu.
“Aku boleh meminta tolong?” tanya Sinta kembali?”
“Iya Sin tentu saja, apa itu?”
“Ini ada beberapa laporan dan juga berkas-berkas yang sudah aku susun, kamu bisa tidak menuliskan di kertas nama-nama perusahaan yang belum mentransfer ke perusahaan kita,” Sinta yang menjelaskan kepada Ayu.
“Oke deh Sin, tunggu sebentar ya.”
“Terima kasih ya Yu, dicatat ya Ayu soalnya mau aku ketik ulang lagi laporannya!” Sinta yang menegaskan ayu.
“Oke deh,” sahut Ayu.
Sinta yang tengah tenang pun kembali ke meja kerjanya.
Sementara Ayu mulai mencatat nama-nama perusahaan yang belum mentransfer.
Sesekali Sinta juga memperhatikan Ayu ketika ia sedang mencatat nama-nama perusahaan yang di minta Sinta.
Beberapa jam kemudian Ayu tengah selesai, Ayu berjalan menuju meja kerja Sinta untuk mengembalikan berkas dan laporan-laporan yang di berikan Sinta. Serta memberikan beberapa kertas HPS yang telah selesai ia tulis nama-nama perusahaan di kertas itu.
“Ini Sin semuanya sudah selesai?” Ayu yang menyodorkan catatannya kepada Sinta.
Sinta pun mulai mengambilnya catatan dari Ayu.
Sinta yang melihat catatan Ayu pun sangat terkejut lalu Sinta berkata sesuatu yang sangat menohok kepada Ayu.
“Kamu bukan Ayu!” sahut Sinta dengan tegas.
“Apa-apa Sin? Jangan bercanda deh, jelas-jelas aku Ayu. Lalu kalau bukan Ayu siapa?” sahut Ayu dengan santai.
“Aku sangat mengenal banget siapa Ayu, kita sekolah bareng sampai kerja di perusahaan ini juga bareng!” Sinta mulai curiga.
__ADS_1
“Iya Sin kita kan memang sekolah bareng, udah ah jangan bercanda jika aku bukan Ayu kamu ada buktinya, ada-ada aja kamu Sin,” sahut Ayu dengan tertawa.
“Tulisan mu beda dengan tulisan Ayu selama ini, dan Ayu selalu menulis menggunakan tangan kiri karena ia kidal!” ucap Sinta menatap tajam Ayu di hadapannya.