Misteri Lukisan Tua

Misteri Lukisan Tua
Tragedi berdarah


__ADS_3

Baskoro dan Dimas telah keluar dari kantor mereka berdua menuju parkirkan mobil, sementara pak Joko di perintahkan Dimas untuk pulang dan menutup mulut di saat mengantarkan Baskoro ke kantor Dimas begitu pula dengan bi Ijah yang meminta pak Joko untuk tidak bicara apa-apa.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil, Dimas mulai menyalakan mesin mobil dengan segera menjalankan mobilnya ke rumah orang tuanya. 


Di tengah perjalanan Dimas mulai menceritakan awal mula ia dan Ayu tertarik dengan lukisan tua itu, sampai Ayu sering mengalami ke jadian yang tidak masuk nalar cerita kepadanya namun Dimas tidak percaya.


Kebohongan tentang penyakit Ayu pun telah di jelaskan oleh Dimas.


Di sini saat Baskoro tahu cerita sebenarnya ia sangat kesal kepada Dimas, Baskoro sangat marah kepada Dimas karena tidak percaya dengan ucapan Ayu.


Baskoro merasakan penderitaan anaknya saat itu.


“Andai kamu percaya dengan ucapan Ayu semua tidak akan seperti ini Dimas!” ucap Baskoro yang kesal dengan Dimas.


“Maafkan Dimas Pak, ini semua memang salah Dimas. Dimas hanya memikirkan sesuatu yang masuk akal saja. Dimas pun tidak mempercayai semua ucapan Ayu selama ini, maafkan Dimas, Pak!” sahut Dimas yang menyesal.


“Sudahlah semua sudah terlanjur percuma menyesali, sekarang kita harus mencari jalan keluarnya,” balas Baskoro yang menyikapi dengan bijaksana.


“Dimas menyesal Pak, maafkan Dimas gara-gara Dimas Ayu menderita seperti ini. Dimas tidak becus menjaga Ayu!” Dimas yang masih saja menyesali perbuatannya.


Melihat Dimas Baskoro merasa iba, ia mencoba menjadi Bapak yang bijaksana.


“Sudah Dimas, memang hal mistik itu tidak bisa selalu masuk logika kita, tapi mereka semua itu ada percaya atau tidak percaya mereka itu ada di sekitar kita,” Baskoro yang memberi nasehat Dimas.


“Iya Pak sekarang Dimas percaya hal itu,” sahutnya yang menyesal.


“Apa Ayu bisa kembali Pak?” tanya Dimas yang mulai khawatir.    


“Kita berserah diri dengan Yang Maha kuasa semoga saja ada jalan dari semua ini, Bapak bisa segera kita selamatkan sebelum semuanya terlambat. Bapak yakin yang baik akan mendapatkan pertolongan dari Yang Maha Kuasa.”


“Aamiin. Bapak tolong bantu Dimas,” pinta Dimas kepada Baskoro.


“Bapak akan selalu membantu orang-orang yang memang membutuhkan bantuan bapak walau pun nyawa taruhannya Bapak akan membantu Ayu keluar dari lukisan itu,” Baskoro yang menegaskan Dimas.


“Terima kasih Pak,” sahut Dimas yang merasa tidak nyaman kepada Baskoro atas perbuatannya.


Selang beberapa menit Baskoro dan Dimas tiba di depan rumah pak Gunawan Ayah dari Dimas.


Dimas mulai memarkirkan mobilnya di halaman rumah pak  Gunawan.


Setelah selesai memarkirkan mobilnya Dimas beserta Baskoro pun keluar dari mobil menuju rumah Gunawan.


“Assalam’mualaikum,” ucap Dimas sembari mengetok pintu rumah orang tuanya.


Ratih ibu Dimas yang mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya pun berjalan ke depan pintu utama.

__ADS_1


Ratih membukakan pintu melihat anaknya Dimas yang datang berserta mertuanya.


Mereka berdua pun di persilahkan masuk lalu duduk di ruang tamu.


Dimas mulai menanyakan keberadaan Ayahnya.


“Bu Ayah ada di rumah?” tanya Dimas.


“Ada Nak, kebetulan hari ini Ayahmu cuti dari pekerjaannya hendak istirahat di rumah,” sahut Ratih.


“Bu Dimas ingin berbicara kepada Ayah!” pinta Dimas.


“Ada apa Nak seperti penting sekali?” celetuk Ratih yang penasaran.


“Iya Bu ingin menanyakan tentang rumah yang Dimas beli.”


“Tunggu sebentar ibu panggilkan Ayahmu di kamar tadi ibu lihat, dia sedang beristirahat di kamarnya,” sahut Ratih.


Ratih berdiri dari tempat duduknya lalu ia berjalan menuju kamar.


Sesampainya di dalam kamar Ratih memberitahukan suaminya bahwa Dimas ingin bicara kepadanya.


“Pah, Dimas ke rumah katanya mau bicara dengan Papah.”


“Ada apa Bu, sepertinya ada hal penting?” tanya Gunawan.


Gunawan pun langsung bergegas keluar dari kamarnya.


Sesampainya Gunawan dan Ratih di ruang tamu, mereka berdua pun duduk berdekatan lalu menanyakan kepada Dimas.


“Ada apa Dimas? Seperti ada sesuatu yang sangat penting” tanya Gunawan


“Begini Yah, Dimas ingin mengetahui siapa pemilik rumah yang Dimas beli sekarang. Apakah Ayah dapat membantu Dimas?” 


“Ada apa dengan rumah itu apakah bermasalah?” tanya Gunawan.


“Tidak Yah, ceritanya sangat panjang. Nanti akan Dimas ceritakan jika semua masalah telah selesai.”


Gunawan dan Ratih pun tidak memaksa Dimas untuk menceritakan sesuatu apa yang terjadi.


Di sini Gunawan mulai menjelaskan siapa pemilik rumah itu sebenarnya.


“Dulu rumah itu pemiliknya adalah teman sekolah Ayah waktu SMA, namanya Bayu Kuncoro. Dia sangat pandai sekali melukis. Bayu sendiri adalah orang pekerja keras sampai akhirnya di umur dia yang 30 Bayu bisa mewujudkan impiannya menjadi pengusaha kayu sukses dia mengenal seorang wanita yang saat itu bekerja di perusahaannya bernama Mawar Sari. Mereka pun melanjutkan hubungan hingga ke jenjang pernikahan namun, nasib naas menimpa mereka berdua. Di saat ingin bulan madu Bayu berserta Mawar mengalami kecelakaan, akan tetapi nasib baik masih berpihak kepada Bayu tapi tidak dengan Mawar,” Gunawa yang menghentikan ceritanya mengambil nafas panjang.


“Lalu Yah, bagaimana keadaan Mawar istri om Bayu.”

__ADS_1


“Mawar meninggal di tempat dengan banyak luka serpihan kaca di tubuh apa lagi di wajahnya, sedangkan Bayu kaki kirinya mengalami patah dan remuk hingga mengharuskan Bayu mengamputasi kakinya. Kematian Mawar membuatnya sangat terpukul untuk mengenang Mawar Bayu sendiri melukis Mawar yang menggunakan gaun merah di pakai saat kecelakaan itu. Setelah Mawar pergi Bayu menjadi seseorang yang sangat tertutup hingga sempat depresi hingga usahanya Bangkrut. Rumah itu sudah lama di jual tapi tidak ada satu orang pun yang membelinya sampai akhirnya kamu yang membeli rumah itu.”


“Yah boleh Dimas tahu di mana om Bayu sekarang tinggal?” 


“Bayu sekarang tinggal di sebuah desa yang tidak begitu jauh dari kota, dia tinggal seorang diri di sana,” Gunawan mulai memberi tahukan keberadaan Bayu.


“Boleh Dimas minta alamat tinggal om Bayu sekarang Yah, Dimas ingin menemuinya ada sesuatu yang ingin Dimas tanyakan,” 


“Tunggu sebentar,” kata Gunawan.


Gunawan mengambil selembar kertas menuliskan alamat Bayu di sana, tertulis desa kurangkit jalan kenanga gang melati no 66.


“Ini Dimas, kamu bisa menemui om Bayu di alamat ini, bilang kepadanya kalau kamu anak dari pak Gunawan dia pasti mengenalnya.”


“Baik Yah, terima kasih untuk infonya. Dimas pamit pulang terlebih dahulu.”


Dimas yang bergegas pulang ia takut Ayu akan lebih cepat pulang dan mencurigai mereka berdua.


Baskoro dengan Dimas berpamitan kepada orang tua Dimas.


Mereka berdua bergegas pulang sebelum Ayu pulang dari tempat kerjanya.


Di tengah perjalanan Baskoro mulai memikirkan cerita yang Gunawan ceritakan tadi mengenai Bayu.


Baskoro mulai bisa mengambil sedikit kesimpulan dari cerita Gunawan.


“Apa arwah Mawar itu mengincar tubuh Ayu karena tanggal kematian Mawar sama dengan tanggal di mana Ayu di lahirkan, 13 Juni. Kematian Mawar akan di gantikan dengan lahirnya jiwa yang baru,” celetuk Baskoro dengan spontan.


“Apakah bisa, arwah tinggal di sebuah lukisan Pak?” tanya Dimas.


“Bisa saja apa lagi Mawar sendiri mati dengan mengenaskan akan membuat arwah menjadi arwah penasaran, namun Bapak tidak habis pikir mengapa Mawar ini mempunyai energi jahat yang sangat kuat sehingga dapat mencelakakan orang di sekitarnya. Lukisan tua itu masih menyimpan misteri yang belum terkuak, kita harus segera mencari Bayu untuk mengetahui apa yang sebenarnya.”


“Bagaimana jika besok kita berdua mencari keberadaan Bayu,” sambung Baskoro kembali.


“Baik Pak, selepas Ayu berangkat bekerja nanti Dimas akan memerintahkan pak Joko mengantar Bapak ke kantor Dimas. Kita bertemu di kantor Dimas saja Pak,” saran dari Dimas.


“Baiklah jika begitu semakin cepat akan semakin baik, sebelum ulang tahun Ayu tiba, kita harus dapat menyelesaikan misteri ini, kalau tidak bahaya Ayu akan tinggal di lukisan itu selamanya,” tutur Baskoro yang menjelaskan kepada Dimas.


“Tidak, Dimas tidak ingin hal itu terjadi, bagaimana caranya walau pun nyawa Dimas taruhannya Dimas harus bisa menyelamatkan Ayu.”


“Iya Dimas kita berdua harus dapat menyelamatkan Ayu, karena hanya kita harapan Ayu satu-satu, dan satu hal lagi yang perlu di ingat bersikaplah biasa kepada Ayu anggap saja semua ini tidak terjadi agar arwah jahat Mawar yang ada di tubuh Ayu tidak mengetahui rencana kita.” 


“Baik Pak, Dimas akan mengingat ucapan Bapak.”


Tidak terasa Dimas dan Baskoro sampai ke rumah sebelum Ayu datang, Dimas segera bergegas kembali ke kantornya. Agar Ayu tidak mencurigai dirinya dan juga Baskoro.    

__ADS_1


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih.


 


__ADS_2