
Di malam harinya saat Ayu mulai tertidur Dimas mencoba melihat wajah Ayu.
Hatinya sangat sakit karena yang tidur bersama dirinya bukanlah seutuhnya diri Ayu hanya raganya saja namun, sukmanya bukanlah dirinya.
Rasa bersalah muncul kembali di benak Dimas.
‘Andai saja dulu aku mempercayai ucapanmu mungkin semua tidak akan seperti ini Ayu,' batin Dimas.
Dimas yang memandangi langit-langit rumahnya sembari berbaring di tempat tidurnya. Matanya masih saja terjaga memikirkan bagaimana ia dapat mengeluarkan Ayu dari lukisan itu dan juga menolong Ayu sebelum waktunya terlambat.
Malam mulai semakin larut mata Dimas yang mulai semakin berat kini mulai terpejam.
Di tidurnya Dimas bermimpi tentang Ayu kembali, namun kali ini Ayu tidak sendirian Dimas melihat di mimpinya Ayu seperti di jaga oleh wanita bergaun merah di belakangnya.
Wanita itu selalu ada di belakang Ayu membuat Ayu tidak bisa pergi ke mana-mana di tambah lagi Dimas tidak dapat mendekati Ayu.
***
Keesokan harinya Dimas yang sedang berpura-pura untuk pergi bekerja. Dimas dan Ayu mulai masuk ke mobilnya.
Dimas pun mulai menemani Ayu ke kantornya.
Di tengah perjalanan Ayu berbincang-bincang kepada Dimas.
“Hari ini seperti aku pulang agak telat Mas?” ucap Ayu.
“Ada apa sayang?” tanya Dimas.
“Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan selama Sinta pergi,” ucap Ayu.
“Ya sudah tidak apa-apa sayang.”
“Oh ya Mas, nanti biar pak Joko saja yang menjemputku ?Mas,” celetuk Ayu.
“Ya sudah jika begitu nanti Mas akan memberitahukan pak Joko, nanti kamu telepon Mas saja ya sayang.”
Tidak lama kemudian mereka berdua telah sampai di perkiraan kantor Ayu.
Ayu yang keluar dari mobil Dimas menuju kantornya sementara Dimas yang meninggalkan kantor Ayu menuju kantornya.
Sesampainya Dimas di kantornya Ia menelepon pak Joko.
“Hallo Pak Joko.”
“Iya Tuan Dimas.”
“Bisa antarkan Bapak Baskoro ke kantor saya sekarang juga!” perintah Dimas.
“Iya Tuan, saya segera mengantarkan bapak Baskoro.”
Telepon di matikan oleh Dimas, sedangkan pak Joko segera pergi mengantar Baskoro ke tempat Dimas.
Di tengah perjalanan pak Joko menanyakan sebenarnya ada sesuatu apa yang mereka sembunyikan.
__ADS_1
Akhirnya Baskoro menceritakan semua kepada pak Joko. Pak Joko tidak habis pikir ternyata semua misteri yang ada selama ini bersumber dari lukisan tua itu.
“Apa kematian, bi Inem ada sangkut pautnya dengan lukisan itu juga,” ucap pak Joko.
“Bisa saja iya Pak Joko, karena di dalam lukisan itu tersimpan arwah jahat yang tidak segan-segan menyelakai orang-orang membuatnya mengganggu niat jahatnya.”
Tidak lama kemudian Baskoro sampai di kantor Dimas. Baskoro pun dengan segera keluar dari mobil lalu menuju ke dalam kantor Dimas.
Di dalam kantornya ternyata Dimas sudah menunggu Baskoro sejak dari tadi.
Mereka berdua pun tidak membuang-buang waktu langsung bergegas masuk ke dalam mobil menuju alamat rumah Bayu.
Dimas mulai menjalankan mobilnya menuju alamat yang di berikan oleh ayahnya.
Di tengah perjalanan di tiba-tiba teringat oleh almarhum Sinta. Dimas mulai menceritakan semua yang ia tahu kepada Baskoro.
“Oya Pak, Dimas baru mengingat sesuatu kejadian. Saat itu almarhum Sinta temannya Ayu ingin bertemu dengan Dimas menanyakan sesuatu. Tapi anehnya Sinta melarang Dimas untuk memberitahukan Ayu. Sampai Akhirnya Dimas iyakan dan kita sepakat bertemu di restoran. Di sana Dimas menunggu Sinta tidak kunjung datang lalu terakhir mendengar kabar bahwa Sinta kecelakaan besok harinya dia meninggal.”
“Apakah kematian Sinta ada kaitannya dengan semua misteri ini,” tanya Dimas.
Baskoro tidak menjawab iya memejamkan matanya mencoba melihat melalui mata batinnya semua korban kejahatan yang di lakukan oleh Wanita bergaun merah.
“Kematian Sinta ada kaitannya dengan semua ini, Sinta yang mungkin saat itu telah mencurigai siapa Ayu sebenarnya ingin menanyakan kepada dirimu, namun arwah jahat itu lebih mengetahui terlebih dahulu niat dari Sinta lalu membunuhnya,” sahut Baskoro dengan mata yang tertutup.
Sontak saja Dimas mendengar itu membuatnya menjadi tambah kaget dan khawatir akan keadaan lalu.
“Lalu bi Inem pun korbannya juga Pak?” Dimas yang antusias.
“Iya, bi Inem korbannya karena selalu memperingati Ayu untuk berhati-hati pada lukisan tua itu dan sempat menyuruh Ayu untuk membuangnya.”
“Dia menginginkan hidup kembali dengan cara menyeret sukma Ayu masuk ke dalam lukisan, dengan cara itu dia bisa memakai raga Ayu untuk selamanya. Jika kita berdua tidak berhasil mengembalikan sukma Ayu ke dalam tubuhnya sebelum ulang tahunnya maka—,” Baskoro terhenti mengambil nafas panjang.
“Maka kenapa Pak?”
“Ayu tidak akan bisa kembali karena Ayu sudah mengiyakan untuk ikut bersamanya. Jadi sebelum tanggal 13 juni kita harus dapat menyelamatkan Ayu. Wanita bergaun merah itu mencoba membayar kematiannya dengan kelahiran jiwa yang baru,” tegaskan Baskoro.
Mendengar hal itu Dimas semakin merasa takut ia berharap Ayu istrinya bisa ia selamatkan sebelum waktunya terlambat.
“Kita harus menyelamatkan Ayu Pak,” ucap Dimas yang mempercepat laju mobilnya.
“Iya Dimas, kita harus bisa menyelamatkan Ayu,” sahut Baskoro.
Berapa jam kemudian Dimas bersama Baskoro telah memasuki desa kuringkit.
“Kita sudah memasuki desa kuringkit Pak,” ucap Dimas yang melihat tulisan selamat memasuki Desa kuringkit.
“Alhamdulillah Dimas kita tinggal mencari gang kenanga,” sahut Baskoro.
Dimas mulai memperlambat laju mobilnya mencari jalan kenanga.
Sesekali Dimas bertanya kepada penduduk desa setempat.
“Bagaimana Dimas,”
__ADS_1
“Kata ibu tadi lurus saja Pak nanti ada simpang tiga, ambil jalan ke kanan di situ jalan kenanga,” Dimas yang menjelaskan.
“Baiklah kita harus cepat Dimas sebelum Ayu pulang, ini sudah jam 12 siang,” ucap Baskoro yang memberi tahu Dimas.
“Iya Pak,” sahut Dimas mempercepat laju mobilnya.
Dimas mengikuti arahan ibu yang ia tanya di warung tadi sampai akhirnya Dimas menemui simpang tiga ia pun mengambil jalur kanan.
Setelah itu Dimas dan Baskoro mulai mencari gang melati no. 66 rumah Bayu kuncoro.
Dimas bersama Baskoro belum juga menemukan gang melati akhirnya ia menanyakan kembali kepada penduduk setempat.
“Apa kata mereka Dimas?”
“Lurus saja Pak, satu kilo lagi baru kita menemukan gang melati,” sahut Dimas.
Dimas menjalankan mobilnya kembali mengikuti ucapan penduduk setempat.
Sampai akhirnya Dimas sudah bertemu dengan gang melati, namun ia mereka belum juga menemukan rumah Pak kuncoro.
Dimas pun menjalankan mobilnya sampai mentok jalan gang ujung barulah ia bertemu rumah no 66.
Terlihat rumah yang tampak sederhana namun seperti sangat usang tidak terurus.
Daun-daun kering yang berjatuhan di halaman rumah itu tidak pernah di bersihkan. Terlihat juga cat rumah yang sudah mulai mengelupas di dinding rumah itu.
Dimas yang memarkirkan mobilnya di halaman rumah Bayu.
Segera ia keluar bersama Baskoro menuju rumah Bayu.
“Assalam’mualaikum, permisi,” ucap Dimas mengetuk rumah Bayu.
Bayu yang mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya pun segera membukannya.
Dimas yang melihat seorang laki-laki paru baya membawa tongkat memakai kaki palsu serta rambut yang hampir memutih semua menanyakan tentang kedatangan mereka berdua.
“Kalian siapa, dan mau apa?” sahut Bayu dengan ketus.
“Permisi om Bayu, saya anak dari bapak Gunawan teman om Bayu sewaktu SMA dulu,” Dimas yang menjelaskan kepada Bayu.
Bayu terdiam mencoba mengingat-ingat dan akhirnya Bayu pun teringat.
“Oh iya Dimas, ada apa dulu kamu masih kecil sekali, kamu pasti lupa sama,” sahut Bayu.
“Ayo Silahkan masuk,” sahut Bayu yang ramah kepada mereka berdua.
“Iya om terima kasih,”
Dimas beserta Baskoro pun masuk ke rumah Bayu Kuncoro.
Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih.
__ADS_1