Misteri Lukisan Tua

Misteri Lukisan Tua
Mawar Yang Menggoda


__ADS_3

Malam mulai tiba. Ayu, Dimas beserta Baskoro sedang menyantap makan malam mereka.


Terlihat di tatapan mata Baskoro yang menatap Ayu dengan penuh kebencian.


Sesekali Ayu melihat tatapan Baskoro yang aneh kepadanya.


“Ada apa Pak? Sepertinya Bapak merasa sangat kesal!” tegur Ayu.


“Ah tidak Nduk, Bapak hanya merasa sedih saja dengan kepergian ibumu,” sahut Baskoro menutupi semuanya.


“Ya sudah Pak, ibu sekarang sudah tenang di sana,” ujar Ayu berpura-pura empati.


“Iya Nduk, ibu memang sudah tenang di sana, tapi Bapak yang tidak tenang di sini,” celetuk Baskoro.


“Loh Bapak kenapa?” 


“Tidak apa-apa Nduk, mungkin karena Bapak kangen dengan ibumu membuat hati Bapak tidak tenang,” jelaskan Baskoro kepada Ayu.


Setelah selesai makan Baskoro tidak ikut Ayu dan Dimas berkumpul di ruang tamu ia lebih memilih berdiam diri di dalam kamar.


Sebenarnya hal ini Baskoro lakukan untuk membuat Ayu tidak mencurigai dirinya karena sikapnya yang benci terhadap Mawar yang ada di diri Ayu.


Baskoro harus dan Dimas harus berpura-pura tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Hingga malam mulai larut mereka Berdua pun mulai masuk kamar.


Kali ini Mawar yang ada di tubuh Ayu ingin menggoda Dimas entah apa yang ada di benak Mawar saat ini sampai dirinya ingin menggoda Dimas.


Mawar mulai memakai pakaian tidur yang sangat tipis tanpa menggunakan pakaian dalam.


Dimas yang saat itu sedang duduk di meja kamar membuka laptopnya di goda oleh Mawar.


Mawar berdiri di belakang Dimas sambil meraba dada Dimas hingga ke bawah, ke tempat yang tidak seharusnya.


Dimas sebagai lelaki normal pasti akan tergoda dengan Mawar yang ia lihat memang bukanlah Mawar melainkan tubuh Ayu istrinya.


“Mas, akhir-akhir ini selepas aku sembuh dari sakit kamu sangat  sibuk sekali. Sampai lupa akan kewajibanmu,” Mawar yang menggoda Dimas melalui tubuh Ayu.     


“Kewajiban? Kewajiban apa?” tanya Dimas yang pura-pura tidak mengerti.


“Nafkah batinmu Mas, kamu melupakan itu,” sahut Ayu yang masih saja meelus-elus bagian bawah Dimas.


Godaan Ayu membaut nafsu Dimas memuncak hingga Dimas mulai berdiri dari tempat duduknya menjatuhkan Ayu ke kasur.


Saat Ayu telah di kasur Dimas mulai membuka bajunya ia ingin melancarkan aksinya,


Dimas yang sudah berada di atas tubuh Ayu pun mulai mencium leher Ayu, namun di saat Dimas mulai mencium tubuh Ayu ia baru tersadar bahwa yang di hadapannya bukanlah Ayu melainkan Mawar yang memakai tubuh Ayu. 


Dimas secara refleks menghentikan aksinya itu.


“Ada apa Mas?” tanya Ayu.


“Aku sangat lelah sayang tidak bisa melakukan itu,” sahut Dimas.


“Akan aku bantu Mas,” sahut Ayu yang ini membuka celana Dimas.


“Jangan aku tidak ingin,” ucap Dimas mendorong tubuh Ayu.


Sontak saja Mawar yang ada di tubuh Ayu menjadi kesal namun ia harus memendam kekesalan itu agar Dimas tidak tahu tentang dirinya.


“Ya sudah jika begitu,” Ayu yang membalikkan tubuhnya membelakangi Dimas.

__ADS_1


Dimas sempat tidak peduli dengan dirinya, namun sesaat Dimas teringat akan pesan bapak Baskoro.


“Ingat Dimas kamu harus bersikap biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa, agar Mawar yang di tubuh istrimu tidak curiga,” pesan Baskoro.


Mengingat pesan Baskoro membuat Dimas menjalankan dramanya kembali.


Ia mulai memeluk Ayu.


“Maafkan aku sayang, kali ini aku benar-benar tidak bisa. Jangan ngambek ya di lain waktu masih ada kesempatan,” bujuk Dimas.


Mawar yang berada di dalam tubuh Ayu merasa tidak kesal kembali kepada Dimas.


‘Baiklah Dimas, di lain waktu aku yang akan membunuhmu,' batin Mawar di tubuh Ayu.


“Maafkan aku Sayang,” sahut Dimas memohon.


“Iya Mas tidak apa-apa aku mengerti,” sahutnya.


“Sebaiknya kita tidur saja, lagi pula besok kamau dan aku bekerja,” tutur Dimas.


“Iya Mas,” sahutnya.


Mereka berdua pun akhirnya tidur dan tidak melakukan aksi brutal merek berdua.  


Untung saja Dimas yang secara cepat sadar kalau itu bukan istrinya membuat Mawar gagal menggoda Dimas.


*** 


Keesokan harinya Ayu berserta Dimas pergi bekerja, seperti biasa Dimas yang mengantar Ayu terlebih dahulu bekerja barulah dirinya pergi ke kantor.


Rumah mulai terasa sepi Baskoro yang berada di rumah di temani oleh bi Ijah yang berada di dapur.


Ingin masuk ke kamar Ayu kembali.


Ia mulai meraba dengan halus lukisan tua itu dengan jari jemarinya


‘Sabar ya Nduk, Bapak akan membantumu untuk keluar dari sana,' batin Baskoro.


‘Bapak tidak terima kau di perlakukan seperti ini oleh iblis itu,' sambung batin Baskoro yang kesal.


Baskoro yang telah mengeluarkan kerinduannya dengan putrinya pun kembali keluar dari kamar.


Ia mulai melihat jam, Baskoro yang memastikan Dimas sudah berada di kantornya saat itu.


‘Sepetinya Dimas sudah berada di kantor, aku ingin meneleponnya,' batin Baskoro.


Baskoro mengambil telepon judulnya di dalam kamarnya.


Setelah Baskoro berada di dalam kamarnya ia mulai mengambil telepon jadulnya yang berada di atas meja kamarnya.


Setelah itu barulah Baskoro menelepon Dimas.


“Hallo Dimas,”


“Iya Pak, ada apa?” 


“Apa kamu sudah berada di kantor?”


“Iya Pak, Dimas sudah berada di kantor ada apa Pak?”


“Baguslah jika begitu. Ada yang ingin bapak sampaikan.”

__ADS_1


“Apa itu Pak? Apa mengangeni Ayu?” tanya Dimas yang sangat penasaran.


“Dimas malam ini bertepatan dengan malam jumat keliwon, di mana gerbang pintu dunia lain itu dengan mudah terbuka dan kita bisa masuk.”


“Lalu Pak?” tanya kembali Dimas yang kurang mengerti tentang hal mistik.


“Jadi malam ini kita akan melaksanakan ritual untuk menjemput Ayu pulang ke raganya,” Baskoro yang menjelaskan kepada Dimas.


“Apa kamu telah siap Dimas,” tanya Baskoro yakinkan Dimas.


“Dimas selalu siap Pak, untuk menjemput Ayu. Dimas ingin semua masalah ini cepat berakhir,” harapan Dimas.


“Baiklah jika begitu Dimas, tepat di jam dua belas tengah malam, kita akan mulai ritual kita.”


“Terus bagaimana dengan Mawar yang ada diri Ayu saat ini Pak?” tanya Dimas kembali.


“sudahlah tenang saja, biar semua Bapak yang mengatur. semua ini,” ucap Baskoro.


“Baik Pak, Dimas percayakan semua ini kepada Bapak,” ujar Dimas.


Setelah menjelaskan kepada Dimas Baskoro pun menutup teleponnya.


Lalu masuk kamar kembali.


Di dalam kamar Baskoro mulai duduk bersila lalu berzikir mempersiapkan dirinya untuk ritual malam ini bersama Dimas.


Baskoro pun tidak lupa dengan shalat lima waktunya beserta shalat hajat untuk meminta kemudahan kepada Allah SWT.


 Zikir yang tidak putus Baskoro lakukan agar di lindungi dari kekuatan jahat yang selama ini berada di rumah Ayu.


Sesekali bi Ijah mengetuk kamar Baskoro untuk menyuruh dirinya makan siang. 


“Pak Baskoro, mari makan siang,” ujar Bi Ijah mengetuk kamar Baskoro.


“Iya Bi, nanti saja,” sahut Baskoro di dalam kamarnya.


 Baskoro yang sedang duduk bersila di atas sejadahnya dengan zikir yang tidak lepas.


Sampai sore hari tiba, Ayu beserta Dimas pun telah kembali pulang dari kamarnya.


Ayu yang lagi-lagi menanyakan orang tuanya kepada Bi Ijah karena sedari ia pulang Baskoro tidak ia lihat.


“Bi, bapak mana?” tanya Ayu kepada Bi Ijah.


“Bapak ada di kamarnya Non,” sahut Bi Ijah.


“Ya sudah Bi, biar saya saja.”


Ayu berjalan menuju pintu kamar Baskoro.


“Pak ini loh di bawakan Mas Dimas martabak, ayo kita makan bersama, Pak!” ajak Ayu.


“Ia Nduk, duluan saja sebentar lagi bapak keluar,” sahut Baskoro dari dalam kamar.


Tidak lama kemudian Baskoro pun keluar mendatangi Ayu beserta Dimas di ruang keluarga.


Baskoro mencoba tetap tenang agar Mawar di dalam tubuh Ayu tidak curiga kepadanya.


Baskoro berkumpul dengan mereka berdua sambil bercakap-cakap seperti tidak terjadi sesuatu.   


Bersambung

__ADS_1


    


__ADS_2