
Bayu mengakhiri ceritanya membuat Dimas dan Baskoro sangat terkejut.
“Jadi lukisan itu terbuat dari darah tante Mawar!” ucap Dimas yang terkejut.
“Iya Dimas, begitulah ceritanya,” sahut Bayu.
“Pantas saja, lukisan itu di huni oleh arwah jahat,” tutur Baskoro.
Dimas beserta Baskoro pun mulai menceritakan peristiwa orang-orang yang meninggal akibat lukisan itu sampai akhirnya ia menceritakan Ayu istrinya yang terperangkap di dalam lukisan itu.
“Gara-gara om Ayu sekarang menjadi korbannya!” ucap Dimas yang sangat Marah.
“Om tidak bermaksud jahat Dimas, om sangat mencintai tante Mawar. Hanya dengan itu om dapat mengungkapkan cinta om kepada tante Mawar,” Bayu yang merasa bersalah.
“Om benar-benar sakit!” sahut Dimas dengan kesal.
Baskoro mulai menenangkan keadaan yang memanas.
“Sudahlah Dimas, setidaknya kita sudah tahu misteri lukisan tua itu, yang harus kita pikirkan bagaimana kita mengeluarkan Ayu,” ujar Baskoro.
“Satu-satunya cara ialah masuk ke dimensi lain,” celetuk Bayu dengan spontan.
“Benar apa katamu Bayu, kita harus masuk ke dimensi lain,” ujar Baskoro.
“Bagaimana caranya Pak?” tanya Dimas yang bingung.
“Bapak bisa mengajakmu masuk ke dimensi lain di mana Ayu terjebak!” ucap Baskoro.
“Jika Ayu sudah berhasil kita selamatkan, Bapak akan menyegel lukisan itu dan akan saya berikan kepadamu kembali Bayu agar Mawar dapat tenang bersamamu,” jelaskan Baskoro.
“Terima kasih Baskoro, maafkan aku gara-gara aku anakmu menjadi korban Mawar.”
“Bayu ingatlah dia bukan Mawar, tetapi iblis yang memanfaatkan fisik Mawar, Mawar sudah berada tenang di alamnya Bayu. Karena darah yang kau gunakan mengundang iblis itu datang lalu memanfaat media dan juga darah Mawar,” Baskoro menjelaskan.
Mendengar ucapan Baskoro Bayu pun tersadar menyesali perbuatannya.
“Aku harus membantu apa Baskoro?” tanya Bayu.
“Biar aku dan Dimas yang menyelesaikan semua ini, lebih baik kau berdoa saja agar kamu dapat menyelamatkan Ayu,” ujar Baskoro.
“Iya Baskoro, aku minta maaf sekali lagi gara-gara ulahku semua jadi seperti ini,” sahut Bayu yang menyesal.
Melihat Bayu yang menyesali perbuatannya Dimas pun memaafkan dirinya.
“Sudahlah om, maafin Dimas ya, sudah marah terhadap om,” ucap Dimas menghampiri Bayu lalu memeluknya.
Bayu pun membalas pelukan Dimas.
“Iya Dimas,” sahut Bayu.
“Dimas kita harus pulang sekarang. Ini sudah jam 2 siang perjalanan kita memakan waktu 3 jam agar dapat sampai rumah, semoga saja Ayu tidak pulang terlebih dahulu,” ucap Baskoro.
“Iya Pak. Om, Dimas dan bapak Baskoro pulang terlebih dahulu ya om. Sekali lagi Dimas minta maaf kepada Om,” sahut Dimas berpamitan kepada Bayu.
“Iya Dimas. Om tidak marah kepadamu, hati-hati kalian di jalan.”
__ADS_1
Mereka berdua pun berdiri dari tempat duduknya lalu bergegas menuju mobil.
Sedangkan Bayu mengambil tongkatnya mengantar mereka berdua sampai di depan teras rumahnya.
Dimas beserta Baskoro masuk ke dalam mobil. Dimas mulai menyalakan mesin mobilnya lalu menjalankan meninggalkan rumah Bayu.
Di tengah perjalanan Dimas dan Baskoro memulai obrolan mereka.
“Kita sudah tahu semuanya Dimas kebenarannya. Benar saja dugaanku bahwa kematian Mawar sama dengan tanggal lahir dari Ayu, jadi dia mengincar Ayu. Tubuh Ayu adalah tubuh yang pas yang selama ini Mawar cari dan incar,” ucap Baskoro.
“Jahat sekali tante Mawar kepada Ayu, Pak!” ucap Dimas yang kesal.
“Ingat Dimas dia bukan Mawar lagi, dia iblis yang menyerupai Mawar karena darah dari Mawar yang membuat iblis itu tertarik menyerupai Mawar,” Baskoro yang menjelaskan kembali kepada Dimas.
“Iya benar apa kata Bapak, kita harus secepatnya menyelamatkan Ayu,” sahut Dimas yang sangat antusias.
“Iya Dimas kita harus secepatnya menyelamatkan Ayu, oh ya nanti kalau ada apotek tolong berhenti sebentar ada yang mau Bapak beli.”
“Iya Pak? Bapak sakit mau beli obat?” tanya Dimas kepada Baskoro.
“Iya tapi obat ini bukan untuk ku,” sahut Baskoro dengan tersenyum penuh misteri.
Tidak lama kemudian Dimas menemukan apotek ia pun berhenti di depan apotek, sementara Baskoro mulai turun dari mobil Dimas menuju apotek itu.
“Mbak. ada obat tidur yang paling ampuh?” tanya Baskoro.
“Ada Pak tunggu sebentar?” sahut pelayan apotek itu mencari pesanan Baskoro.
Tidak lama kemudian pelayan apotek itu menghampiri Baskoro.
“Ini Pak obatnya, Bapak insomnia?” tanya petugas apotek itu.
“Baik Pak ini aturan pakainya Bapak minum satu biji pil ini dalam sehari jangan melebihi dosis ya Pak, jika Bapak sudah mulai bisa tidur jangan mengonsumsi lagi obat ini. Ingat pak satu hari satu biji pil ini tidak boleh lebih,” sahut pelayan apotek.
Pelayan apotek itu menjelaskan tata cara pemakaian dan juga memperingati pemakaian tidak boleh melebihi aturan pakai.
“Oh iya Mbak, kira-kira berapa jam reaksi obat tidur ini,” tanya Baskoro.
“Reaksinya 6 jam pak, setelah minum.”
“Iya Mbak, terima kasih,” sahut Baskoro yang memberikan uang pas dan juga segera bergegas masuk ke mobil Dimas.
Setelah itu Dimas mulai menjalankan mobilnya ia juga mempercepat laju mobilnya.
Jam sudah menunjukkan jam setengah lima, Baskoro memberitahukan Dimas.
“Dimas, jam sudah menunjukkan setengah lima semoga saja kita bisa sampai tepat waktu,” ujar Baskoro yang berharap.
“Iya Pak sahut Dimas,”
Tepat jam lima sore Dimas beserta Baskoro sampai di rumah.
Nasib baik berpihak kepada mereka berdua. Ayu yang saat itu belum berada di rumah.
Seampainya di rumah tidak lama kemudian telepon genggam milik Dimas berbunyi.
__ADS_1
“Hallo Mas.”
“Iya sayang.”
“Kamu sudah pulang?” tanya Ayu.
“Iya apa kamu mau aku jemput?” sahut Dimas.
“Iya Mas kebetulan pekerjaanku telah selesai jadi aku tidak pulang telat.”
“Baiklah tunggu ya sayang di sana, Mas akan segera menjemputmu.”
“Iya Mas hati-hati,” sahut Ayu.
Dimas bergegas masuk kembali ke dalam mobilnya dan segera menjemput Ayu.
Sesampainya di parkirkan kantor Ayu. Ayu yang sudah sedari tadi menunggu dirinya.
“Maaf sayang lama menunggunya.”
“Tidak juga kok Mas.”
“Ayo mari kita pulang,” ajak Dimas.
Ayu pun masuk ke dalam mobil Dimas.
Di tengah perjalanan Dimas mulai membuka percakapan.
“Bagaimana tadi pekerjaanmu sayang?” tanya Dimas.
“Berjalan dengan lancar Mas.”
“Syukurlah jika begitu. Mas sendiri kapan ada waktu untuk bulan madu kita?”
“Mungkin nanti sayang, pekerjaanku masih belum selesai. Jika sudah selesai nanti kita akan pergi,” sahut Dimas
“Ya sudah Mas, aku mengerti,” sahut Ayu.
Beberapa jam kemudian mereka telah sampai di rumah.
Ayu yang datang di sambut oleh Bi Ijah.
“Bi bapak di mana?” tanya Ayu yang sedari tadi tidak melihat Bapaknya.
“Ada Non di kamar sedang istirahat, mau Bibi panggilkan?” tanya Bi Ijah.
“Tidak usah Bi, biarkan saja Bapak istirahat, aku juga hari ini sangat lelah sekali, ingin beristirahat sejenak,” ucap Ayu yang pergi meninggalkan Bi Ijah masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Dimas tidak menemani Ayu di kamar. Dimas yang tengah santai di ruang tamu sambil memandangi telepon genggamnya.
“Mas aku duluan ke kamar, hari ini aku sangat lelah ingin istirahat sejenak,” ucap Ayu meninggalkan Dimas.
“Iya sayang.”
Ayu pun berjalan menuju kamarnya, sesampainya di kamar ia mulai merebahkan dirinya di atas kasur.
__ADS_1
‘Ternyata melelahkan sekali ya di tubuh manusia ini, setelah tanggal 13 juni aku akan abadi dalam tubuh manusia ini lalu akan aku singkirkan mereka semua dan aku akan hidup bersama Mas Bayu kembali,' batin Mawar yang ada di tubuh Ayu.
Tidak lama Ayu mulai mengantuk lalu tertidur.