Misteri Lukisan Tua

Misteri Lukisan Tua
Depresi


__ADS_3

Sinta telah sampai di depan rumah Ayu, Ia tidak lagi bicara hanya berdiam, dari dalam mobil Sinta melihat Ayu yang berjalan menuju rumah.


Sinta yang saat itu melihat Ayu pun merasa takut karna wanita bergaun merah tidak berhenti mengikuti Ayu di belakang.


Mobil pun mulai di jalankan oleh Sinta menuju rumahnya.


Di tengah perjalanan menuju rumahnya Sinta merasa bersalah dan kasihan kepada Ayu namun ia tidak bisa membatu Ayu.


'Maafkan aku Ayu, aku tidak bisa membantumu lagi,'batin Sinta.


Sinta mulai meneteskan air mata, ia sedih tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, karena ancaman dari wanita bergaun merah.


Ayu yang mulai masuk ke rumah di sapa oleh bi Ijah.


“Baru pulang Non?” sapa bi Ijah.


“Iya Bi,” sahut Ayu dengan lesu.


Ayu meninggalkan bi Ijah bergegas masuk ke kamarnya.


Terlihat Dimas yang memandangi lukisan itu dengan tatapan penuh takjub dalam hatinya terus memuji visual yang ada di lukisan itu, Dimas meraba setiap detail dari lukisan yang terlihat begitu nyata.


“Kau begitu indah dan cantik,” ucap Dimas seraya terus mengusap lembut lukisan itu.


Ayu yang tidak sengaja mendengar ucapan yang terlontar dari mulut suaminya itu pun kesal.


Ayu menghampiri lukisan itu mengambilnya dan ingin membanting.


Melihat hal yang di lakukan Ayu sontak saja Dimas ingin mengambil lukisan itu dari tangan Ayu.


Bruk ...suara benda yang terhempas menatap dinding.


Ayu di dorong oleh Dimas sampai ia terjatuh. Tapi bukannya menolong istrinya, Dimas malah segera menghampiri lukisan itu lalu memasangnya kembali.


“Untung saja lukisan ini tidak apa-apa.”


Dimas yang memasang kembali lukisan itu di dinding kamar.


“Mas! Kamu berubah Mas, gara-gara lukisan itu!” ucap Ayu menangis.


“Ada apa dengan mu Ayu! lukisan ini tidak ada masalah kenapa kamu sampai ingin merusaknya!” bentak Dimas yang kesal dengan tingkah laku Ayu.


“Lukisan itu menjadi mala petaka di keluarga kita Mas! bi Inem mungkin menjadi korban dari lukisan ini belum lagi dengan ki Krisno!” ucap Ayu dengan spontan.


“Ki Krisno? Siapa dia! Apa kau bermain di belakangku Ayu!” Bentak Dimas tambah kesal dengan ucapan Ayu.


“Tidak Mas, ki Krisno hanya seorang para normal yang aku minta tolong untuk melihat ada apa sebenarnya di lukisan ini, dan asal Mas tahu wanita bergaun merah di lukisan itu adalah arwah yang jahat!”

__ADS_1


“Ha-ha-ha, Ayu kau sudah gila! Kamu masih percaya dukun hari gini?!” Dimas menertawakan Ayu.


“Mas coba percaya dengan ucapanku kali ini saja, ki Krisno meninggal dengan cara mengenaskan akibat ulah wanita di lukisan itu, Mas!” Ayu menegaskan.


“Alah, aku tidak percaya dengan dukun itu. Ini sudah jaman modern Ayu masih saja kamu percaya dengan hal yang seperti itu!”


“Sudahlah aku pusing denganmu, selalu berkata aneh tentang lukisan ini,” sambung Dimas.


Dimas yang meninggalkan Ayu keluar dari kamar dan duduk di teras depan mencoba menenangkan hatinya yang sedang kesal.


Sementara Ayu yang menangis di dalam kamarnya sendirian. Ia bingung dengan semua orang yang di dekatnya, Sinta teman dekatnya tidak mau peduli lagi dengannya apa lagi membantunya. Sedangkan Dimas suaminya tidak pernah percaya dengan ucapannya.


Ayu yang larut dalam kesedihan dan rasa frustrasi yang dalam.


Pak Joko yang mendengar mereka berdua sedang bertengkar di kamar menghampiri bi Ijah di dapur.


“Bi ijah!” panggil pak Joko dengan suara lirih.


“Ada apa Joko?” bi Ijah yang tidak mengetahui apa-apa.


“Itu non Ayu dan tuan Dimas kenapa, tadi waktu aku lewat kamar mereka seperti sedang bertengkar?”


“Sudah Joko, jangan ikut campur urusan mereka kita di sini cuma pekerja,” bi Ijah menasihati Joko.


“Tidak aku hanya heran saja Bi, tidak biasanya tuan dan nyonya itu bertengkar seperti ini,” Joko terheran.


“Sudahlah, namanya juga rumah tangga pasti ada huru-hara di dalamnya. Kita jangan ikut campur urusan mereka, Joko!” bi Ijah menasihati Joko kembali.


Dimas merasa bersalah kepada istrinya yang sudah membentak Ayu.


Dimas melihat Ayu yang sedang berbaring di kasur sambil menangis. Melihat hal itu dengan rasa bersalah Dimas mendekati Ayu lalu memeluk dirinya.


“Maafkan aku sayang, sudah berkata kasar kepadamu,” Dimas membelai rambut Ayu dengan lembut.


“Iya Mas, aku juga minta maaf kepadamu,” sahut dengan lembut.


“Sudah jangan menangis lagi, besok kita ke psikiater,” ucap Dimas dengan lembut.


“Untuk apa, Mas?” tanya Ayu yang bingung.


“Memeriksa kejiwaanmu sayang,” ucapnya dengan lembut.


Ayu yang malas berdebat kembali dengan suaminya pun mengiyakan saran dari Dimas.


***


Pagi hari, Ayu dan Dimas menyantap sarapan mereka di meja makan, Dimas mengingatkan Ayu jika hari ini ia akan mengantarkan Ayu ke psikiater.

__ADS_1


“Ayu setelah sarapan kamu siap-siap kita akan ke psikiater,” ucap Dimas.


“Harus sepagi ini? Bagaimana jika nanti siang aja?” tawar Ayu.


“Makin cepat makin bagus sayang.”


Ayu menghela nafas dengan bola mata yang memutar menandakan sebenarnya ia tidak ingin. Namun, ia malas berdebat dengan suaminya.


Setelah selesai sarapan Dimas mulai mengajak Ayu dengan menarik tangannya.


“Ayo cepat sayang.”


“Iya tunggu sebentar Mas,” Ayu merapikan mengambil tasnya.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil menuju tempat psikiater, mobil melaju dengan kecepatan sedang butuh waktu 20 menit untuk sampai ke tujuan mereka. Di perjalanan Ayu hanya diam termangu sembari menatap jalan di balik kaca mobilnya.


Hingga merek sampai di tempat psikiater, Dimas terlebih dahulu mendaftarkan istrinya lalu duduk di kursi tunggu sambil menunggu giliran.


“Ibu Ayu silahkan masuk ke ruangan,” ucap salah satu perawat.


Ayu masuk ke ruangan sedangkan Dimas harus menunggu di luar.


Ayu duduk di hadapan dokter psikiater dengan hela nafas berat, karena ia kecewa suaminya menganggap dirinya sedang memiliki gangguan kejiwaan.


“Baik Ibu Ayu, bisa Anda ceritakan sedikit apa yang Anda rasakan, saya lihat Anda beberapa kali menghela nafas,” ucap dokter itu.


“Saya sedikit kecewa dengan suami saya karena dia menganggap saya punya gangguan kejiwaan,” ucap Ayu.


“Bisa di ceritakan bagaimana awalnya suami Anda bisa beranggapan seperti itu,” pintanya.


“Suami saya tidak percaya dengan ucapan saya Dok, di kamar kami ada sebuah lukisan tua. Awalnya saya sangat menyukai lukisan itu bahkan saya terus mengagungkannya. Tapi akhir-akhir ini saya merasa lukisan itu pembawa petaka bagi kehidupan saya.”


Ayu menjelaskan secara detail tentang kejadian-kejadian yang ia alami, bahkan tentang kematian bi Inem. Ayu begitu frustrasi dan tertekan hingga kelopak matanya tanpa henti menggenang. Ayu juga menceritakan jika sikap suaminya suka berubah-ubah.


Psikiater pun menarik kesimpulan dari masalah Ayu ini, Ayu pun di perbolehkan keluar ruangan dan selanjutnya Dimas yang di panggil.


Saat masuk ruangan Dimas bingung kenapa dirinya juga ikut di panggil.


“Maaf Dok, kenapa saya juga ikut di suruh masuk?” tanya Dimas.


“Ini mengenai istri anda, sebaiknya Anda memberi perhatian lebih karena saat ini istri Anda mengalami depresi, terlihat dari cara dia menjelaskan kepada saya. Mungkin saat di rumah ia merasa tertekan akan suatu hal hingga membuatnya menjadi over thinking terhadap suatu benda atau yang lainnya.”


“Ini ada obat penenang untuk ibu Ayu jangan melebihi dosis yang di anjurkan, dan satu hal lagi coba saja ajak istri anda untuk berlibur ke suatu tempat yang bisa menangkan pikirannya.”


“Baik Dok, saya akan mencobanya. Ini mungkin juga salah saya yang selalu sibuk dengan pekerjaan saya,” Dimas berdiri dan menyalami Dokter psikiater tersebut.


“Jangan terlalu keras kepadanya,” ucapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


Dimas keluar ruangan dan menyelesaikan administrasi lalu mengajak Ayu untuk pulang ke rumah.


Bersambung gengs


__ADS_2