
"Aku Sedang belajar menulis dengan menggunakan tangan kanan Sin,” pungkas Ayu.
“Tidak mungkin Yu, sedangkan Dimas saja bilang kalau kamu sedang sakit di saat kamu tidak masuk. Lagi pulang tidak semudah itu merubah kebiasaan yang ada apa diri kita Yu. Kamu menulis dengan tangan kanan dengan baik dan rapi,” Sinta yang semakin curiga dengan Ayu.
Alasan-alasan Sinta tentang sikap Ayu, membuat dirinya yakin jika yang di hadapannya bukanlah sahabat aslinya dari wangi parfum bunga mawar yang di pakainya, sedangkan Ayu tidak suka dengan wangi-wangi bunga apalagi bunga mawar.
Serta tulisan yang sangat berbeda dengan tulisan Ayu yang sebelumnya, dan juga penggunaan tangan kanan yang di gunakan membuat Sinta tambah yakin kalau dia bukan Ayu karena Ayu yang sebenarnya tidak bisa memakai tangan kanannya untuk menulis Ayu itu kidal.
“Sebenarnya siapa kamu?” tanya Sinta kembali.
“Aku Ayu!” sahut Ayu yang menatap tajam Sinta dengan senyum misteriusnya.
Sinta sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi, Sinta mencoba menghindar dari Ayu dan ingin menelepon Dimas mencari tahu misteri apa di balik ini semua. Sinta mendapatkan nomor Dimas karena Ayu pernah meminjam HP nya saat itu ketika HP ayu ketinggalan di rumah.
Sinta pura-pura percaya kalau memang di hadapannya adalah Ayu yang sebenarnya.
“Iya aku percaya kok, tadi aku cuma bercanda. Oh ya aku mau keluar dulu cari makan udah waktunya jam istirahat kamu mau nitip tidak?” tanya Sinta yang sedang berpura-pura.
“Tidak Sin,” sahut Ayu dengan singkat.
Sinta pun pergi meninggalkan Ayu pergi keluar untuk menelepon Dimas.
Sinta yang sedang berjalan menuju keluar kantor.
‘Siapa yang di tubuh Ayu sebenarnya, apakah wanita bergaun merah! Jika ia di mana sukma Ayu yang sebenarnya?’ batin Sinta yang berpikir keras.
Sinta pun akhirnya telah keluar dari kantor segera Sinta merogoh telepon genggamnya yang ada dalam tasnya. Sinta yang mendapatkan telepon genggamnya itu dengan cepat menelepon Dimas. Ia ingin mengetahui misteri apa yang sebenarnya terjadi.
“Hallo Dimas?”
“Hallo, maaf ini siapa?” tanya Dimas yang tidak mengenal nomor baru meneleponnya.
“Ini aku Sinta, Dimas.”
“Oh Sinta! Iya ada apa Sin.”
“Selepas pulang kerja bisa kita bertemu di restoran idaman yang biasanya kita bertiga sering datangi,” ucap Sinta.
“Ada apa sebenarnya Sin, seperti ada sesuatu yang sangat penting?” tanya Dimas dengan penasaran.
“Nanti akan aku jelaskan setelah kita bertemu Dimas.”
“Baiklah Sin, selepas pulang kerja aku ke sana dengan Ayu!”
“Jangan Dimas! Tolong jangan bawa Ayu dulu ada hal penting yang ingin aku tanyakan dan tolong rahasiakan pertemuan kita ini aku mohon percaya kepadaku,” Sinta yang memohon kepada Dimas.
“Ia Sin, jika begitu selepas pulang kerja aku ke restoran idaman,” sahut Dimas.
“Terima kasih Dimas, baiklah sampai bertemu di restoran idaman nanti sore!” sahut Sinta mematikan telepon genggamnya.
Di balik pojok dinding kantor Ayu yang sedari tadi mengikutinya dan mendengar ucapan Sinta pun sangat kesal.
‘Kau sudah pernah ku peringatkan jangan ikut campur urusanku, tapi nyatanya kamu malah ingin memilih mati Sin,' batin Ayu.
Setelah memantau Sinta, Ayu pun bergegas ke ruangan kerjanya. Sementara Sinta berjalan keluar hendak mencari makan siang.
Beberapa jam telah berlalu pekerjaan pun telah usah Ayu dan Sinta pun berjalan ke luar kantor.
“Yu aku duluan ya,” sahut Sinta yang berjalan mendahului Ayu ke tempat parkir.
“Iya Sin hati-hati.”
__ADS_1
Selang beberapa menit Dimas menelepon Ayu, bahwa dirinya tidak dapat menjemput Ayu di karena kan pekerjaannya belum selesai.
Padahal semua itu hanya kebohongan Dimas karena, Dimas sudah berjanji kepada Sinta tidak memberitahukan Ayu tentang pertemuannya dengan Sinta.
Dimas menyuruh pak Joko untuk menggantikan dirinya menjeput Ayu.
Beberapa menit kemudian pak Joko telah sampai di tempat parkirkan kantor Ayu. Ayu pun masuk ke dalam mobil pulang ke rumah di antar pak Joko.
Sementara Dimas telah sampai di restoran idaman tempat mereka akan bertemu.
Dimas mulai mencari tempat duduk yang nyaman lalu memesan minuman di sana sambil menunggu Sinta.
Sinta yang sedang mengemudikan mobilnya saat itu terkejut dengan seseorang yang secara tiba-tiba melintas di depannya,
‘Ayu,' gumam Sinta dengan cepat menginjak rem mobilnya.
Seseorang yang ia lihat seperti Ayu secara tiba-tiba berubah menjadi wanita bergaun merah.
Hingga rem mobil yang ia injak berulang kali seperti tidak berfungsi.
Sinta mulai panik dan akhirnya ia membelokkan setirnya ke arah kanan menghantam pembatas jalan di sertai sebuah truk dari belakang menabrak Sinta, kecelakaan beruntun pun terjadi di tempat itu.
Warga yang melihat kejadian kecelakaan itu pun segera menelepon ambulan.
Beberapa menit kemudian sirene ambulan mulai terdengar, hingga tim petugas medis berdatangan mengeluarkan Sinta dari mobilnya.
Memakan waktu yang cukup lama untuk mengeluarkan Sinta dari mobilnya karena kakinya tergencet oleh bodi mobil.
Selang beberapa menit petugas medis dapat mengeluarkan Sinta, kaki Sinta terlihat patah ia pun tidak sadarkan diri.
“Awas! Minggir! minggir!” teriak petugas medis yang ingin memasukkan ke dalam ambulan.
Mobil ambulan melaju dengan cepat. Tidak perlu waktu lama Sinta telah sampai di rumah sakit terdekat ia segera di larikan ke UGD.
Sementara Dimas masih saja menunggu dengan sabar kedatangan Sinta.
‘Sudah jam enam sore, kok Sinta belum datang-datang juga,' gumam Dimas.
Lebih baik aku telepon Sinta.
Dimas mencoba menelepon Sinta berulang kali tapi tidak di angkat.
‘Tidak diangkat, baiklah aku akan tunggu satu jam lagi jika Sinta tidak muncul juga sebaiknya aku pulang saja, kasihan Ayu mungkin sudah menungguku di rumah sedari tadi,' gumam Dimas.
Satu jam telah berlalu Sinta pun tidak kunjung datang, Dimas yang mulai bosan menunggu Sinta memutuskan untuk pergi dari restoran lalu kembali pulang.
Dimas keluar dari restoran menuju mobilnya yang terparkir di samping, Dimas mulai memasuki mobil lalu menjalankannya meninggalkan restoran tersebut.
Di tengah perjalanan Dimas sangat bingung dengan sikap Sinta yang secara tiba-tiba meneleponnya ingin bertemu dengannya.
‘Sinta kenapa yah? Tadi dia meneleponku ingin bertemu dan membicarakan sesuatu tapi setelah di tunggu cukup lama dia malah tidak kunjung datang. Di telepon pun tidak diangkat, ada apa sebenarnya!” gumam Dimas yang bingung.
‘’Apa Sinta ingin mengerjai aku, tapi tidak mungkin, ah sudahlah sebaiknya aku cepat pulang saja,' gumam Dimas kembali sambil mengemudikan mobilnya.
Tidak lama kemudian Dimas telah sampai di rumahnya.
“Assalamualaikum” salam Dimas sambil mengetok pintu.
Ayu yang sedari tadi tengah menunggunya di ruang tamu pun mendengar suara Dimas, ia segera membukakan pintu Dimas sembari membalas salam Dimas.
“Malam pulangnya Mas?” tanya Ayu yang membawakan tas kerja Dimas.
__ADS_1
“Iya Sayang, maaf yah. Mas pulang telat hari ini,” sahut Dimas yang merasa bersalah berbohong kepada istrinya.
“Iya Mas tidak perlu di permasalahkan, aku mengerti Mas.”
“Makasih sayang,” Dimas yang dengan spontan mencium pipi Ayu.
“Mas sudah makan?” tanya Ayu.
“Kebetulan Mas belum makan sayang.”
“Mari kita makan, sengaja aku tidak makan menunggu Mas pulang.”
“Istriku yang satu ini paling pengertian dan baik,” puji Dimas kepada istrinya.
Wajah Ayu seketika berubah memerah dikala dirinya di puji oleh Dimas.
Mereka berdua pun menuju meja makan menikmati makan malam bersama.
Sementara keadaan Sinta sendiri yang belum sadarkan di ruangan UGD dan masih di tangani oleh Dokter, sebelum Sinta di bawa ke ruang operasi karena mengalami patah kaki.
Ibu Sinta yang menerima telepon dari pihak rumah sakit begitu sangat terkejut.
“Selamat malam Bu, maaf kami ingin memberitahukan bawa anak ibu yang bernama Sinta utari sedang di rawat di rumah sakit tunas bangsa karena mengalami kecelakaan,” sahut Suster yang menangani bagian informasi.
Ibu Sinta sangat terkejut ia tidak terdiam sesaat, tubuhnya bergetar mendengar kabar buruk tentang Sinta, kakinya mulai lemas jantungnya berdetak kencang.
Sontak saja ibu Sinta terduduk di sofa sambil memegang gagang telepon rumah.
Suster yang menelepon ibu Sinta sesekali memanggilnya.
“Ibu! Bu ?” panggil suster di telepon.
“I-iya sus terima kasih tentang kabarnya, saya akan pergi sekarang juga ke rumah sakit tunas bangsa.”
Telepon pun di matikan ibu Sinta pergi ke rumah sakit di temani oleh mobil taksi.
Sesampainya di rumah sakit ibu Sinta menuju ruang informasi menanyakan tentang pasien yang bernama Sinta.
“Pasien yang bernama Sinta sedang di ruang operasi karena kaki kanan pasien patah jadi ibu harap menunggu di luar dulu sampai dengan operasinya selesai.
Ibu Sinta duduk di bangku yang telah di sediakan di sana sambil berdoa untuk ke sembuh Sinta putri semata wayangnya.
Dua jam telah berlalu Sinta yang berada di ruang operasi pun telah keluar dan di masukan kembali ke ruangan pasien.
Ibu Sinta di panggil oleh suster bagian informasi.
“Permisi Bu, sekarang anak ibu sudah di ruang kamboja 1 ibu bisa mendatanginya di sana,” ucap suster itu.
“Terima kasih Sus,” balas ibu Sinta yang bergegas pergi ke ruangan kemboja 1.
Ibu Sinta berjalan menyelusuri rumah sakit sambil mencari ruangan kamboja 1, ruangan di mana Sinta di rawat.
Sesampainya di depan pintu kamboja 1, ibu Sinta mulai masuk dan melihat putrinya yang penuh perban luka jahitan.
Sinta yang terlihat masih belum sadarkan diri dengan hidung yang di pakaikan selang oksigen menambah kesedihan di raut wajah ibu Sinta.
Ibu Sinta berdiri di samping Sinta yang terbaring.
‘Ya Allah Nak, kenapa nasib mu begini. Ibu tidak mau kehilanganmu lagi Nak setelah kepergian ayahmu,' gumamnya dengan meneteskan Air mata melihat kondisi anaknya yang memperhatikan. Ibu Sinta menunggu Sinta sadar dengan penuh kesabaran di sampingnya.
__ADS_1