
Dua bulan telah berlalu di pagi itu Ayu dan Dimas sedang menikmati sarapan paginya sebelum mereka pergi ke kantor masing-masing.
Akan tetapi di saat sedang sarapan pagi Ayu tiba-tiba mengalami pusing dan mual, ia pun cepat berdiri dari tempat duduknya bergegas berlari ke kamar mandi.
Ayu mengeluarkan makan yang ada di perutnya, melihat istrinya terburu-buru ke kamar mandi Dimas menghampirinya.
“Sayang kamu tidak papa?” ucap Dimas sembari memijat pundak dan tengkuk Ayu.
“Tidak apa-apa mas, hanya saja kepalaku terasa berat dan perutku sedikit mual,” sahut Ayu yang lemas.
“Wajahmu terlihat pucat sayang, sebaiknya aku antar kamu ke dokter sekarang. Hari ini kamu tidak usah bekerja terlebih dahulu,” sahut Dimas yang khawatir kepada istrinya.
Ayu mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
Mereka berdua pun mulai bergegas pergi ke Dokter.
Di tengah perjalanan Ayu meminta izin kepada pak Damar bahwa dirinya tidak dapat masuk hari ini dikarenakan sakit.
Sesampai di rumah sakit Dimas dan Ayu menunggu panggilan.
Beberapa menit kemudian Suster pun memanggil mereka.
“Ibu Ayu Silahkan masuk,” ucap Suster.
Ayu berdiri dari tempat duduknya menuju ke ruangan Dokter.
“Silahkan duduk Bu Ayu apa keluhannya?” tanya Dokter.
Ayu menjelaskan keluhan yang ia alami, Dokter pun menyuruh Ayu tidur di ranjang pasien. Selepas itu Ayu di periksa kembali oleh Dokter.
Setelah selesai Dokter menanyakan suami Ayu.
“Apa ibu Ayu bersama suami ke sini?” tanya Dokter.
“Iya Dokter, suami saya menunggu di luar,” Ayu jelaskan.
“Suster tolong panggil suami ibu Ayu,” perintah Dokter.
“Baik Dok,” ucap suster bergegas keluar memanggil Dimas.
“Pak Dimas silahkan masuk,” ujar suster yang mempersilahkan Dimas masuk.
Dimas pun berdiri dari tempat duduknya menuju ruangan Dokter.
Setelah Dimas berada di ruangan Dokter ia di persilahkan duduk di samping Ayu.
“Apa istri saya baik-baik saja Dok?” tanya Dimas yang panik.
“Ibu Ayu sangat sehat tidak ada masalah,” sahut Dokter yang tersenyum.
“Lalu kenapa istri saya muntah-muntah dan pusing?” tanya Dimas yang bingung.
Ayu pun di buat bingung oleh pernyataan Dokter bahwa dirinya sehat.
“Begini ya Pak Dimas dan Ibu Ayu, itu semua hal yang wajar di masa kehamilan pertama,”
__ADS_1
“Apa Dok, istri saya hamil,” ucap Dimas yang terkejut.
“Iya Pak Dimas selamat, Anda akan menjadi seorang Ayah,” Dokter yang memberitahukan kabar bahagia.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah,” ucap Dimas yang bersyukur.
“Terima kasih Dok, sayang aku akan menjadi seorang Ayah,” sahut Dimas yang sangat bahagia.
Sebelum mereka pulang Dokter pun memberikan resep untuk mereka.
“Ini ada resep vitamin dan susu, nanti pak Dimas tebus di apotek depan,” ujar Dokter memberikan selembar kertas bertulisan resep.
Dimas beserta Ayu pun keluar dari ruangan Dokter lalu ke apotek menebus resep yang telah di berikan.
Setelah selesai mengambil resep Dokter Dimas menggandeng tangan Ayu menuju perkiraan mobil mereka.
Setelah sampai barulah mereka masuk ke dalam mobil menuju ke rumah.
Di tengah perjalanan Dimas yang sangat senang membuka obrolan.
“Sayang sebaiknya kamu tidak usah bekerja lagi, biar Mas saja yang bekerja untuk kalian,” pinta Dimas.
“Tapi Mas, aku menyukai pekerjaan itu,” Ayu yang mulai protes.
“Mas tidak mau kamu kecapean, lagi pula kamu sedang hamil muda sayang butuh istirahat yang cukup,” ucap Dimas menasihati Ayu.
“Baik Mas, kali ini aku akan menuruti kemauanmu,” sahut Ayu tersenyum memandangi Dimas.
“Aku ingin kamu dan anak kita sehat sayang, biar aku saja yang bekerja untuk kalian. karena aku kepala rumah tangga itu sudah kewajibanku,” tegaskan Dimas sembari mengelus perut Ayu dengan tangan kananya.
Dimas tersenyum mendengar ucapan Ayu tentang dirinya.
“Oh iya sayang, kapan kamu mau risgn dari tempat pak Damar, kalau bisa besok lebih bagus semakin cepat, sayang.”
“Iya Mas, besok aku akan ke kantor, bertemu dengan pak Damar barulah aku meminta risgn dari pekerjaan, Mas” ujar Ayu yang menjelaskan.
“Baiklah jika begitu, besok Mas akan antar kamu ke kantor sebelum Mas berangkat kerja,” ucap Dimas.
Tidak lama kemudian mereka berdua telah tiba di rumah mereka.
Dimas yang terburu-buru tidak masuk ke dalam rumah, ia hanya mengantarkan istrinya sampai di teras rumah lalu berpamitan pergi ke kantor.
Tidak lupa Dimas mencium kening istrinya beserta calon bayi yang ada di perut Ayu.
“Ayah kerja dulu ya Nak,” tutur Dimas mencium calon bayi yang ada di perut Ayu.
Setelah itu Dimas kembali ke mobilnya menuju kantor.
Ayu pun masuk ke dalam rumah, Bi Ijah yang melihat Ayu pun menanyakan sesuatu.
“Apa kata Dokter Non. Non baik-baik saja kan?” ucap Bi Ijah yang cemas.
“Alhamdullilah Bi. Saya baik-baik saja sebentar lagi rumah ini akan ramai dengan tangisan dan tawa bayi,” sahut Ayu dengan tersenyum.
Bi Ijah yang mengetahui maksud Ayu pun sangat gembira mendengarnya.
__ADS_1
“Alhamdulillah Non. Bibi ikut senang mendengar kabar bahagia ini,” sahut Bi Ijah.
“Ya sudah Bi, saya mau masuk ke kamar terlebih dahulu dari tadi kepala saya berat. Dan juga mau sekalian menelepon bapak memberitahukan kabar bahagia ini,” ujar Ayu yang berjalan meninggalkan Bi Ijah menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Ayu memberitahukan kabar bahagia ini kepada Baskoro bapaknya.
Baskoro yang mendengar kabar bahagia itu pun sangat senang serta sedih.
Baskoro teringat akan almarhum istrinya Lasmi.
‘Andai kamu di sini Lasmi mungkin kamu akan bahagia mendengar kabar ini,' gumam Baskoro ketika selesai menerima telepon dari Ayu.
Setelah selesai menelepon Baskoro Ayu pun kembali beristirahat, karena ia teringat saran dari Dimas untuk istirahat yang cukup.
Sementara Dimas yang telah berada di kantor berinisiatif untuk memberikan kabar bahagia ini kepada orang tuanya.
Dimas mengambil telepon genggamnya lalu menelepon ibunya.
“Hallo Bu.”
“Iya Nak, ada apa?” tanya Ratih.
“Ibu dan Ayah sebentar lagi akan jadi kakek dan nenek, Bu.”
“Apa Dimas? Apa Ayu hamil?” Ratih yang terkejut.
“Iya Bu, Ayu hamil sudah berjalan 1 minggu kata Dokter,” Dimas yang menjelaskan.
“Alhamdulillah, akhirnya ibu akan segera punya cucu. Nanti akan ibu sampaikan kabar bahagia ini ke ayahmu Dimas,” Ratih yang gembira mendengar kabar kehamilan Ayu.
“Ya sudah ya Bu, Dimas mau melanjutkan pekerjaan Dimas terlebih dahulu,”
“Iya Nak, baik-baik di sana dan kamu harus memberi perhatian penuh kepada istrimu,” Ratih yang memberi nasehat kepada Dimas.
“Iya Bu. itu pasti,” sahut Dimas sembari mematikan telepon genggamnya.
***
Di malam harinya Dimas beserta Ayu yang sedang bersantai di dalam kamar.
Mereka berdua sedang berada di atas kasur sambil merebahkan tubuh mereka.
“Anak Ayah Dimas, sehat-sehat ya di perut ibu,” ucap Dimas yang sedang mengelus-elus perut Ayu.
“Aku sangat bahagia sekali sayang, terima kasih ya sudah menjadi istri yang baik serta ibu yang baik untuk anak kita,” tutur Dimas yang mencium kening Ayu.
Malam pun mulai semakin larut Ayu dan Dimas sudah mulai mengantuk. Mereka berdua pun akhirnya tertidur, Dimas yang tertidur sembari memeluk Ayu.
Calon bayi yang hadir di keluarga Dimas serta Ayu menambah kebahagiaan untuk mereka berdua.
__ADS_1