Misteri Lukisan Tua

Misteri Lukisan Tua
Kehadiran 'Dia' Di Rumah Sakit


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu Dimas yang sudah kembali dari luar kota menepati janjinya bertemu dengan Ayu.


Namun sebelum ia ingin bertemu dengan Ayu Dimas mendatangi Dokter Heri untuk menanyakan keadaan Ayu sebelumnya.


Dimas menunggu di luar pintu ruangan Dokter Heri sebelum dirinya di panggil untuk masuk.


Hingga tiba saatnya seorang perawat menyebut nama Dimas untuk masuk ke ruangan Dokter Heri.


“Pak Dimas silahkan masuk,” seorang perawat memanggil Dimas.


Dimas pun berdiri dari tempat duduknya masuk ke dalam ruangan Dokter Heri.


“Selamat siang Dok,” sapa Dimas.


“Selamat siang Pak Dimas,”


“Bagaimana keadaan istri saya Dok?”


“Keadaan ibu Ayu belum ada perubahan Pak Dimas, malah saya lihat perkembangan semakin menurun.”


“Lalu bagaimana Dok?”


“Setiap malam ibu Ayu sering mengamuk di tambah lagi ibu Ayu sulit untuk makan membuat kondisi badanya tambah drob,” Dokter Heri menjelaskan keadaan Ayu.


“Terus harus bagaimana Dok?!”


“Saya harap Pak Dimas bisa meluangkan waktu untuk menemani bu Ayu, karena dukungan seseorang keluarga mungkin dapat membuat ibu Ayu dapat kembali sembuh.”


“Baiklah Dok, memang saya sangat sibuk dengan pekerjaan saya jadi sayang hanya bisa sesekali menemui istri saya. Saya akan usahakan memberikan waktu untuk istri saya.


“Baiklah pak Dimas, memang pekerjaan itu sangat penting namun lebih penting lagi adalah keluarga yang kita cinta Pak Dimas,” nasehat dari Dokter Heri.


“Terima kasih Dok, saya pamit terlebih dahulu ingin bertemu istri saya,” ucap Dimas sambil bersalaman dengan Dokter.


Dimas pun meninggalkan ruangan Dokter Heri lalu pergi ke ruangan Ayu.


Sesampainya Dimas di ruangan Ayu. Dimas melihat Ayu yang tengah duduk di atas ranjang sambil menghadap ke luar jendela.


Badannya kini sedikit kurus, wajahnya pucat, tatapan matanya kosong membuat Dimas tambah miris dengan keadaan Ayu sekarang.


Dimas pun menghampiri Ayu lalu duduk di sampingnya.


“Sayang bagaimana keadaanmu mu?”


Sama seperti hari sebelumnya Ayu tidak merespons Dimas ia hanya berdiam Diri saja memandang ke luar jendela.


“Aku liat kamu sedikit kurus sayang, pasti kamu sedih ya, Mas jarang menjengukmu. Maafkan Mas sayang jarang ada waktu untukmu tapi sekarang kamu tidak usah sedih lagi, pekerjaan Mas sudah mulai sedikit selesai dan berjalan dengan lancar Mas janji akan sering menjenguk mu.”


“Oya, Mas bawakan makanan ke sukaanmu, kamu pasti lapar Mas suapin ya?”


Dimas membuka bungkusan yang ia bawa lalu menyuapi Ayu sambil mengajak Ayu mengobrol.


“Tadi sebelum Mas ke sini, Mas minta bi Ijah untuk membuatkan sup ayam kesukaanmu,” ucap Dimas sambil menyodorkan sesendok makanan ke mulut Ayu.


Ayu membuka mulutnya lalu memakannya.


“Pasti enak ya sayang, bi Ijah bilang kamu harus banyak makan biar nanti kamu cepat sehat,” sahut Dimas dengan lembut.


“Oya, bulan depan tanggal 13 juni ulang tahun kamu sayang. Kamu mau kado apa dari Mas nanti pasti Mas akan belikan untukmu.”


“Cepat sembuh ya, sayang biar nanti kita dapat merayakan ulang tahunmu bersama kembali seperti tahun lalu, kau sangat gembira sudah lama Mas tidak melihat senyuman kegembiraan mu lagi sayang.”


Kring ...suara telepon genggam milik Dimas.


Dimas merogoh kantong celananya mengeluarkan telepon genggam miliknya.


Terlihat nama yang memanggil bapak mertua.

__ADS_1


Dimas meletakan makan di atas meja lalu segera pergi keluar ruangan Ayu untuk mengangkat telepon dari bapak Ayu.


“Hallo Pak.”


“Hallo Nak Dimas bagaimana kabarnya?” tanya bapak Ayu.


“Alhamdulillah baik Pak. Bapak sama ibu bagaimana kabarnya di sana?” tanya Dimas.


“Alhamdilah ibu dan Bapak sehat Nak Dimas.”


“Bapak mau tanya Nak, bagaimana keadaan Ayu?”


“Ayu sedang istirahat Pak dan belum kunjung membaik, Dimas minta doa dari Bapak dan ibu agar Ayu cepat sembuh bisa segera pulang kembali.”


“Ya Allah nduk! nduk! miris hati Bapak mendengarnya, iya Nak Dimas Bapak dan ibu selalu mendoakan agar Ayu cepat sembuh kembali.”


“Terima kasih ya Pak.”


“Iya nak, kamu juga yang sabar ya menghadapi ujian ini.”


“Iya pak, Dimas akan sabar menghadapi segala ujian ini.”


Bapak Ayu pun mematikan teleponnya Dimas memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku celananya.


Ia pun kembali masuk ke ruangan Ayu duduk di samping Ayu.


“Sayang tadi bapak menelepon menanyakan kabarmu, maafkan Mas ya. Mas terpaksa berbohong kepada bapak akan penyakitmu Mas bilang sama bapak kalau kamu di rawat di luar negeri karena penyakit otak langka. Pasti kamu marah dengan Mas, tapi ada alasan lain mengapa Mas berbohong menutupi penyakitmu yang sebenarnya, Mas tidak mau bapak dan ibu nanti akan ke pikiran sayang dan mas tidak mau istri Mas di hujat orang-orang karena penyakit yang sebenarnya.”


Dimas menjelaskan kebohongannya selama ini kepada Ayu.


“Maafin Mas sayang, ini semua Mas lalukan karena Mas sangat menyayangimu.


Beberapa jam telah berlalu seorang suster pun menghampiri mereka berdua di ruangan Ayu.


“Maaf Pak jam besuk ibu Ayu sudah berakhir Pak, ibu Ayu harus istirahat sekarang Pak,” ucap perawat.


Suster pun pergi meninggalkan mereka berdua.


“Sayang Mas tinggal dulu, besok Mas akan ke sini lagi,” ucap Dimas mencium kening Ayu.


Dimas segera keluar dari ruangan Ayu ia berjalan keluar rumah sakit sampai akhirnya ia berada di parkirkan mobil. Dimas membuka pintu mobilnya lalu menjalankan mesin mobilnya menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah Dimas di sambut oleh bi Ijah di ruang tamu. Bi Ijah sangat ingin tahu sekali dengan perkembangan Ayu di rumah sakit.


“Bagaimana keadaan non Ayu, Tuan?” tanya Bi Ijah yang mengambil tempat makan yang di bawa Dimas.


“Entah lah Bi, kata Dokter belum ada perkembangan apa pun tentang kondisi Ayu, ia sekarang juga tidak terlalu ingin makan badannya mulai sedikit kurus,” sahut Dimas dengan sedih.


“Yang sabar Tuan Dimas, Bibi yakin Tuan dapat melewati ujian ini,” bi Ijah memberikan semangat untuk Dimas.


“Terima kasih Bi, Dokter juga menyarankan aku untuk lebih memberi perhatian kepada Ayu menyisihkan waktu luangku untuk menjenguknya,” celetuk Dimas.


“Iya Tuan, dukungan orang terkasih itu akan membuat non bisa cepat sembuh Tuan.”


“Ya sudah Bi, saya mau ke kamar dulu untuk beristirahat.”


“Silahkan Tuan. Bibi pun ingin melanjutkan pekerjaan Bibi terlebih dahulu.


Dimas pergi meninggalkan bi Ijah berjalan menuju kamarnya.


Dimas menghampiri meja kamarnya terlihat sebuah pigura foto yang berdiri, Dimas mengambil pigura tersebut lalu duduk di atas tempat tidurnya.


Ia melihat Ayu yang mengenakan gaun penganti berwarna putih tampak anggun dan sangat cantik sementara Dimas sedang memeluk Ayu dari belakang menggunakan setelan jas hitam.


‘Aku merindukanmu Ayu,' batin Dimas.


Air mata Dimas sontak saja terjatuh ketika ia meraba lembut pigura itu, mengingat kenangan-kenangan bersama Ayu.

__ADS_1


***


Di malam harinya bi Ijah telah menyiapkan makan malam di meja makan namun, sedari tadi Dimas tidak ada keluar dari kamar.


Bi Ijah berinisiatif mendatangi Dimas di kamarnya.


“Permisi Tuan,” bi Ijah memanggil Dimas di balik pintu kamarnya sambil mengetok-ngetok pintu.


“Iya Bi!” Pekik Dimas di dalam kamarnya.


“Makan makamnya sudah siap Tuan.”


“Iya Bi, sebentar lagi saya akan segera keluar.”


Mendengar ucapan Dimas bi Ijah pun pergi menuju dapur.


Selang beberapa menit Dimas keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju meja makan saat Dimas tengah duduk dan menyuap makanannya seketika terhenti ia teringat kembali tempat duduk yang sering di duduki Ayu menemaninya makan.


Kesedihan Dimas mulai muncul kembali saat itu.


‘Biasa kamu yang selalu menemaniku makan di meja ini, kini aku hanya makan sendiri sekarang,” gumam Dimas sembari memasukkan sendok berisi makan di mulutnya.


Beberapa menit berlalu Dimas telah selesai makan dan masuk kembali ke kamarnya.


Di sisi lain Ayu yang sedang termenung di tempat tidurnya melihat wanita bergaun merah kembali menerornya kali ini wanita bergaun merah tidak hanya meneror Ayu namun mulai melukai Ayu.


Wanita bergaun merah itu berada di samping ranjang tempat tidur Ayu. Spontan saja Ayu berteriak-teriak histeris.


Para suster dan Dokter pun mulai berdatangan untuk memberikan obat penenang.


Setelah Dokter Heri menyuntikan obat penenang Ayu pun di tidurkan kembali.


Namun anehnya Dokter melihat ada bercak darah yang menempel di belakang pakaian Ayu dan juga di pakaian lengan panjangnya.


Sontak saja Dokter menyuruh suster menggulung lengan baju Ayu, dan benar saja terdapat banyak luka goresan di tangan Ayu, belakang badan Ayu hingga ke perut Ayu.


Dokter pun sangat heran dengan luka-luka goresan yang memenuhi tubuh Ayu.


“Aneh sekali pasien ini, dengan cepat dia bisa melukai sekujur tubuhnya,” ucap Dokter kepada para suster yang juga melihat kejadian aneh itu.


“Benar Dok tadi siang luka-luka ini tidak ada Dok! Tapi di waktu pasien ini mengamuk beberapa menit luka-luka ini bermunculan, kuku tangan pasien juga tidak panjang Dok, lalu di ruangan ini juga tidak ada benda-benda yang tajam dari mana luka-luka di tubuh pasien ini Dok?”


“Besok kita cek kembali pasien apakah pasien mempunyai alergi? Jika memakai pakaian dengan bahan tertentu.” Dokter Heri yang menjelaskan.


“Baik Dok,”


Suster dan Dokter pun keluar dari kamar Ayu.


Malam mulai semakin larut rumah sakit terlihat sangat sepi, di saat ada salah satu suster yang ingin mengecek kembali keadaan Ayu pun melihat sesuatu.


Dari kejauhan ada seseorang wanita bergaun merah masuk ke ruangan Ayu.


Sontak saja suster yang melihat sosok wanita itu pun segera menghampirinya.


Suster itu pun masuk ke ruangan Ayu namun tidak melihat sosok wanita itu di sana, hingga ia memutuskan untuk melihat di kamar mandi yang berada di dalam ruang Ayu.


Pintu kamar mandi di buka namun sama saja suster itu tidak melihat apa-apa di sana.


Suster pun kembali ke tempat tidur Ayu terlihat jelas seorang wanita bergaun merah sedang berdiri di samping Ayu sambil memandangi Ayu.


Jantung suster itu berderak kencang ketika Wanita bergaun merah itu menoleh ke arahnya terlihat wajah wanita bergaun merah itu penuh dengan luka yang terkoyak serta darah-darah yang keluar dari wajah wanita itu.


Saat wanita itu mulai menyeringai ke suster itu mulutnya bersimbah darah segar di sertai matanya yang merah.


Suster itu terlihat begitu ketakutan dan bergegas lari keluar dari ruangan Ayu.


Bersambung dulu ya gengs.

__ADS_1


__ADS_2