Misteri Lukisan Tua

Misteri Lukisan Tua
Pergi Ke Dukun


__ADS_3

Sesampainya di rumah Ibu Sinta terkejut melihat anaknya yang luka-luka dan di antar oleh seseorang.


“Ya Allah Nak, kamu kenapa kok kamu luka-luka begini?” Ibu Sinta yang terkejut melihat Sinta datang dengan keadaan luka-luka.


“Ini Bu, tadi Mbaknya menabrak trotoar terus luka-luka.”


“Terima kasih Pak sudah mau nolongin anak saya.”


“Iya Bu sama-sama” ucap pengendara motor yang pergi meninggalkan mereka.


Sinta bersandar di sofa sambil meringis menahan rasa sakit.


“Sebentar Nak, Ibu ambilkan P3K terlebih dahulu untuk mengobati lukamu,” celetuk Ibu Sinta yang bergegas mengambil kotak P3K yang di simpan di lemari kaca.


Sesudah mengambil kotak P3K Ibu Sinta mulai mengobati dengkul Sinta yang terluka.


“Aduh Bu pelan-pelan!” Sinta yang meringis kesakitan.


“Iya Sin, kok bisa kamu menabrak trotoar?” tanya Ibu Sinta sambil mengobati dengkul Sinta.


“Tadi waktu Sinta mau pulang secara tiba-tiba ada seseorang Wanita menggunakan gaun merah melintas di depan Sinta, karena Sinta kaget jadi Sinta banting setik ke kanan Bu dan menabrak trotoar, tapi anehnya waktu Sinta terjatuh Wanita itu tidak ada Bu.”


“Sinta ... Sinta, lain kali kalau jalan berdoa terlebih dahulu minta keselamatan kepada Yang Maha Kuasa dan berhati-hati,” Ibu Sinta yang memberi nasehat kepada putri semata wayangnya.


“Iya Bu.”


“Ya sudah tadi jadi beli makan, ayo cepat di makan setelah itu nanti minum obat agar lukamu tidak terasa nyeri.”


Sinta melaksanakan perintah Ibunya, ia memakan makan yang ia beli tadi lalu meminum obat pereda nyeri agar Sinta dapat tidur dengan nyenyak malam ini.


***


Keesokan harinya Firman yang melihat Sinta berjalan menuju kantor menegurnya.


“Kamu kenapa Sin, kok luka-luka,” ucap Firman yang melihat dengkul dan siku Sinta yang luka


Sinta yang saat itu mengenakan rok pendek dan kemeja lengan pendek.


“Iya aku habis jatuh dari motor Firman.”


“Kok bisa kamu jatuh, kenapa?” celetuk Firman kaget mendengar ucapan Sinta.

__ADS_1


“Waktu aku mau beli makan, aku di kejutkan dengan sosok wanita bergaun merah melintas di hadapanku karena terkejut aku membanting setir menabrak trotoar jalan.”


“Ya ampun Sin, sebaiknya kamu beristirahat di rumah sembuhkan dulu lukamu itu,” Firman yang memberikan saran kepada Sinta.


“Masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan Firman, ya sudah yah aku masuk kantor dulu,” Sinta menutup percakapan dengan pergi meninggalkan Firman.


Di dalam ruangan kantor Sinta kembali di tanyakan oleh Ayu tentang luka-luka yang ada di tubuhnya. Sinta pun menjelaskan kejadian yang dia alami, sama halnya seperti Ayu yang menjelaskan kejadian aneh yang ia alami di kemarin saat membakar lukisan dan kejadian lukisan kembali ke kamarnya saat Ayu menaruhnya ke dalam gudang.


“Yu, apa sebaiknya kita pergi ke tempat paranormal saja untuk mencari tahu misteri apa di balik lukisan itu?” Sinta yang memberaikan saran kepada Ayu.


“Paranormal. Tidak apa-apa kita pergi ke sana Sin?” Ayu yang sedikit ragu dengan saran dari Sinta.


“Iya Yu, tidak ada salahnya kita mencoba siapa tahu kita menemukan jawabannya,” Sinta yang berusaha meyakinkan Ayu.


“Ya sudah Sin aku ikut saranmu saja.”


“Oke deh kalau begitu selepas pulang dari kantor kita pergi ke rumah Ki Krino, kamu ikut mobilku saja Yuk.


“Iya Sin lagi pula aku di antar Dimas tadi, oh iya Ki Kirsno kamu kenal dengan paranormal itu,” tanya Ayu kepada Sinta.


“Sebenarnya tidak mengenal banget sih Sin, hanya saja waktu dulu aku sering mengalami sakit-sakitan dan juga sering di ganggu makhluk halus, terus ibu membawaku ke tempat Ki Krisno aku di obati beliau lalu sembuh hingga sekarang,” Jelaskan Sinta kepada Ayu tentang Ki Krisno.


“Dan lagi beliau, para normal sakti di desanya loh Yu,” sambung Sinta kembali.


Perbincangan mereka berdua berakhir dan fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mereka juga telah sepakat selepas pulang kerja nanti akan pergi ke rumah Ki krisno.


Ayu mulai masuk ke dalam mobil Sinta, kali ini Ayu yang mengambil alih untuk mengemudikan mobil Sinta.


“Bentar yah sin aku mau menelepon Mas Dimas dulu, tidak usah di jemput,” Ayu mengambil ponselnya dan menelepon suaminya.


“Oh iya, aku juga Yu mau menelepon Ibu, agar tidak khawatir jika aku pulang telat,” celetuk Sinta yang memberi tahu Ibunya tidak bisa pulang lebih awal.


Ayu yang berbohong kepada Suaminya kalau ia tidak bisa pulang lebih cepat karena ada meeting mendadak, sementara Sinta juga berbohong kepada ibunya kalau iya juga tidak bisa pulang lebih awal karena ada meeting.


Selepas mereka memberitahu keluarga mereka masing-masing Ayu pun mulai menjalankan mobil Sinta pergi ke rumah Ki Krisno.


Di tengah perjalanan Ayu di buat kaget dengan sosok Wanita bergaun merah yang melintas secara tiba-tiba. Dengan sontak Ayu pun langsung menginjak rem seketika mobil pun terhenti.


Sinta yang kaget menanyakan kepada Ayu apa yang terjadi.


“Ada apa Yu?” tanya Sinta yang kaget.

__ADS_1


“Aku melihatnya Sin.”


“Siapa Yu?” tanya Sinta yang tidak melihat satu orang pun di jalan itu.


“Wanita bergaun merah di lukisan itu, dia tiba-tiba melintas di jalan.”


Mendengar ucapan Ayu Sinta mulai takut dan panik.


“Ayu, sebaiknya kita segera pergi ke rumah Ki Krisno!” cetus Sinta yang mulai panik.


Mendengar ucapan Sinta, Ayu mulai menjalankan mobilnya kembali dan pergi ke rumah Ki Krisno.


Beberapa menit kemudian Ayu menanyakan kepada Sinta jalan yang mereka tempuh ke rumah Ki Krisno apakah tidak salah.


“Sin ini benar jalannya,” celetuk Ayu yang sedari tadi tidak melihat rumah penduduk hanya hamparan pohon pinus di kiri, kanan jalan.


“Iya Yu, aku yakin ini jalannya dan masih ingat kok.”


“Tapi sedari tadi aku tidak melihat rumah penduduk Sin hanya pohon pinus saja sepanjang kita berjalan,” Ayu yang mulai ragu.


“Iya Yu ini jalannya benar, aku yakin,” Sinta yang meyakinkan Ayu.


“Ya sudah, kita masuk lebih dalam lagi siapa tahu di sana rumah Ki Krino.”


Mereka berdua mulai meyakini kembali kalau jalan yang mereka tempuh tidak salah.


Satu jam telah berlalu, Ayu dan Sinta akhirnya menemukan rumah Ki Krisno. Ayu langsung memarkirkan mobilnya di halaman rumah Ki Krisno. Setelah itu baru lah mereka berdua keluar dar mobil menuju rumah Ki Krino.


Sesampainya di depan pintu rumah Ki Krisno, Sinta mulai mengetuk pintu tersebut.


“Permisi Ki,” ucap Sinta dengan mengetuk rumah Ki Krisno.


Terdengar suara seseorang membuka pintu.


Ayu dan Sinta melihat seseorang lelaki paruh baya dengan pakaian serba hitam memakai ikat kepala hitam di tambah lagi kalung yang di pakai lelaki tua itu berbentuk taring hewan.


“Mau apa kalian datang ke rumahku?” tanya lelaki tua itu.


“Begini Ki kedatangan kami-“ ucapan Sinta yang di potong oleh Ki Krisno.


“Sebaiknya kalian berdua masuk ke dalam rumah saja, itu akan lebih aman!” ucap Ki Krisno yang memperhatikan di sekelingnya.

__ADS_1


Mereka berdua masuk ke rumah Ki Krisno. Sementara Ki Krisno menutup pintu rumahnya.


Bersambung dulu gengs.


__ADS_2