
Beberapa jam kemudian Sinta mulai sadarkan diri, ia bingung sedang berada di mana yang Sinta ingat ada seseorang yang melintas jalan seperti Ayu secara tiba-tiba sebelum seseorang itu berubah menjadi wanita bergaun merah yang Sinta lihat.
Sinta melihat di samping kanannya ibunya sang sedang menunggu dirinya.
“I-ibu,” ucap Sinta dengan sangat lirih.
“Alhamdulillah kamu sudah sadar Nak,” ucap ibu Sinta yang bahagia melihat anaknya telah sadar.
“Sinta di mana Bu? Semua badan Sinta sakit Bu tidak bisa Sinta gerakan,” sahut Sinta menahan sakit di sekujur badannya.
“Kamu mengalami kecelakaan Nak dan sekarang di rumah sakit,” ibu Sinta menjelaskan.
“Kaki Sinta sakit sekali Bu.”
“Sabar ya Nah, tulang kaki Sinta mengalami patah,” sahut Ibu Sinta mencium pipi anaknya.
“Sinta meneteskan air mata mendengar kondisinya dari ibunya.”
Ibunya pun selalu memberikannya semangat.
“Jangan bersedih Nak, ibu yakin Sinta akan sembuh kembali seperti sedia kala, hanya perlu waktu saja ya sayang,” ibunya yang memberikan semangat untuk dirinya.
“Iya Bu,” sahut Sinta yang sedih.
“Ibu akan selalu menemanimu yang.”
“Terima kasih Bu.”
Malam semakin larut rumah sakit semakin sepi ibu Sinta yang tertidur di samping tempat tidur Sinta sambil menjaga anaknya.
Sementara Ayu sendiri sudah tidur di dalam kamar bersama Dimas.
Saat Ayu tertidur wanita bergaun merah keluar dari tubuh Ayu.
Sedangkan sukma Ayu yang sesungguhnya di kurung di sebuah tempat dari dunia lain.
Belum ada satu orang pun yang mengetahui di mana Ayu sesungguhnya.
Wanita bergaun merah keluar dari tubuh Ayu saat dirinya sedang tertidur lalu wanita itu pergi mendatangi Sinta di rumah sakit.
Karena Sintalah satu-satu yang mengetahui tentang misteri ini sehingga wanita bergaun merah ingin menyingkirkan Sinta untuk selamanya.
Terlihat Sinta sedang tertidur di rumah sakit begitu pula dengan ibunya yang tertidur di sampingnya.
Wanita bergaun merah mulai mendekati dirinya mengarahkan kedua tangannya untuk mencekik Sinta.
Sinta sempat membuka matanya saat itu ia melihat wanita bergaun merah dengan samar-samar. Perlahan tangan sosok wanita bergaun merah itu merogoh leher Sinta dengan kedua tangannya lalu Sinta merasakan tekanan yang kuat di lehernya sehingga membuatnya sulit bernafas. Semakin lama tekanan serta cekikannya semakin kuat.
Wajah Sinta memerah dengan netra yang melebar, kakinya kejang karena tidak bisa bernafas hingga akhirnya Sinta lemas dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Ibu Sinta sontak saja terbangun melihat kondisi Sinta ia berlari keluar memanggil suster.
“Sus tolong anak saya!” panggil ibu Sinta di tempat para suster yang sedang berjaga.
Suster pun berjalan ke ruangan Dokter sementara ibu Sinta telah kembali lagi ke kamar Sinta.
__ADS_1
Sesaat kemudian Dokter yang di temani oleh dua orang suster membatu memulihkan kembali detak jantung Sinta.
Berulang-ulang kali Dokter menekan dada Sinta sampai akhirnya mereka semua menyerah Sinta tidak dapat tertolong.
Kain sebagai selimut Sinta pun di pakai oleh suster untuk menutupi semua tubuhnya dari kaki hingga kepala.
Ibu Sinta menangis dengan histeris memeluk tubuh Sinta dan mengerakkannya berharap Sinta akan terbangun.
“Bangun Nak! Bangun! Jangan tinggalkan ibu sendiri Nak!” teriak ibu Sinta membangunkan Sinta sambil menangis histeris.
Namun takdir berkata lain Sinta kini pergi untuk selamanya.
Ambulan membawa jenazah Sinta pulang ke rumahnya sebelum besok jenazah Sinta di makamkan di samping kuburan ayahnya.
Wanita bergaun merah yang sudah berhasil melaksanakan misinya masuk ke dalam raga Ayu kembali.
***
Keesokan harinya, Dimas dan Ayu yang sedang bersiap-siap untuk pergi berkerja.
Kring ( suara telepon Ayu berbunyi)
“Hallo Bu, ada apa?” tanya Ayu.
“Sinta! Ayu,” ibu Sinta yang menangis.
“Ada apa dengan Sinta Bu?” tanya Ayu yang berpura kuatir.
“Dia sudah pergi untuk selamanya Nak Ayu.”
“Sinta kenapa Bu?”
“Baik Bu, nanti saya akan ke sana bersama mas Dimas.”
“Terima kasih Nak Ayu,” ibu Sinta menutup teleponnya.
Dimas yang selesai mandi mendatangi Ayu Di kamarnya.
“Siapa sayang? Kamu terlihat sedih?” tanya Dimas.
“Ibunya Sinta, Mas,” sahut Ayu.
“Ada apa dengan Sinta sampai ibunya menelepon mu sayang,” tanya Dimas
“Sinta kecelakaan mas kemarin sore, dan jam dua malam dia meninggal dunia,” sahut Ayu yang sedih.
“innalillahi wainna ilaihirojiun, aku tidak menyangka jika Sinta harus mengalami kejadian tragis ini. Semoga amal ibadahnya di terima di sisi Allah SWT aamiin” celetuk Dimas yang ikut bersedih.
Ayu dan Dimas bersiap-siap pergi ke rumah Sinta.
“Ayo sayang,” ujar Dimas mengajak istrinya masuk ke dalam mobil.
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan berjalan menuju rumah Sinta.
Sepanjang jalan Dimas terdiam tidak percaya dengan kematian Sinta yang begitu cepat.
__ADS_1
‘padahal tadi siang Sinta menelepon aku, ternyata ini alasan dia tidak datang untuk menemui aku,' batin Dimas.
‘Aku tidak percaya jika sampai seperti ini jadinya Sin,' batin Dimas.
Sepanjang jalan Dimas terdiam di lihat oleh Ayu, ia pun menugur suaminya.
“Mas apa yang kamu pikirkan? Sedari tadi aku melihat mu hanya terdiam saja!” tanya Ayu.
“Eh, ti-tidak, apa-apa sayang,” sahut Dimas yang terkejut.
Beberapa jam kemudian mereka telah sampai di rumah Sinta terlihat jenazah Sinta yang telah selesai di mandi dan di sholatkan.
Tinggal bersiap di kubur saja.
Ayu mendatangi ibu Sinta lalu mencoba menenangkannya.
“Sudah Bu, ikhlaskan Sinta kasihan nanti dia sana,” Ayu memeluk ibu Sinta.
“Iya Nak Ayu, sedang berusaha ikhlas dengan kepergian Sinta, tapi ibu tidak habis pikir secepat itu Sinta meninggalkan ibu sendirian sekarang.”
“Iya Bu Ayu mengerti, ibu yang tabah ya semoga amal ibadah Sinta di terima oleh Allah SWT, dan keluarga yang di tinggalkan dapat dapat dan ikhlas,” doa Ayu.
Setelah persiapan pemakaman telah selesai Sinta di masukan ke mobil ambulan untuk di makamkan di samping Ayahnya.
Jarak makan dengan rumah Sinta lumayan cukup jauh memakan waktu satu jam untuk sampai ke makan tempat ayah Sinta di makamkan.
Satu jam kemudian para sahabat, keluarga, tetangga menemani kepergian Sinta ke liang lahat.
Terlihat Ayu yang memakai kaca hitam kerudung hitam dan setelan berwarna hitam menangis di pelukan Dimas.
Namun terkadang jika Dimas lengah ia tersenyum dengan misterius.
‘akhirnya kau pergi juga, Sinta dan tidak ada yang mengetahui rahasia ini kembali dan aku bisa hidup abadi di tubuh wanita ini,' gumam wanita bergaun merah yang mendiami tubuh Ayu.
Proses pemakaman Sinta berjalan dengan lancar sampai akhirnya Ayu dan Dimas kembali melanjutkan pekerjaannya kembali.
“Mari sayang,” ajak Dimas masuk ke dalam mobil.
Ayu meninggalkan pemakaman Sinta.
Beberapa jam kemudian Ayu sampai di kantornya, Dimas pun berpamitan untuk pergi ke kantornya.
Ayu yang mulai berjalan menuju kantor di sapa oleh Firman.
“Ayu!” panggil Firman dari belakang.
Terlihat mata Dimas memerah karena menangisi kepergian Sinta.
“Sinta Yu, Sinta,” Firman yang tidak percaya Sinta pergi.
“Iya Firman, aku pun tidak percaya Sinta pergi begitu cepat meninggalkan kita,” Ayu yang berpura-pura simpatik.
“Ikhlaskan Sinta. Firman,” sahut Ayu mencoba menenangkan Firman.
“Iya Yu terima kasih,” sahut Firman yang pergi meninggalkan Ayu.
__ADS_1
Sedangkan Ayu pergi ke ruangan kerjanya, dengan santai ia tidak perlu takut rahasia terbongkar kembali karena yang mengetahui semua rahasia sudah telah tiada.