
“Ada maksud apa kalian datang jauh-jauh ke sini?” tanya Bayu.
“Begini om Bayu, Dimas membeli rumah om Bayu dan di rumah itu terdapat lukisan wanita bergaun merah, itu om Bayu yang melukisnya?” tanya Dimas.
“Iya itu om yang melukisnya Dimas,” ucap Bayu.
“Om bisa menjelaskan asal-usul lukisan yang om Buat itu?” pinta Dimas.
“Begini ceritanya Dimas,” Bayu yang mulai menceritakan asal- usul lukisan itu di buat.
Flashback
Lima puluh tahun yang lalu saat Bayu baru saja menikah dengan Mawar, Bayu ingin mengajak Mawar bulan madu ke bali.
“Ayo Sayang semua perlengkapan telah siap semua,” ucap Bayu menunggu Mawar sedang berdandan di meja riasnya.
“Iya Mas tunggu sebentar,” sahut Mawar yang masih sibuk berdandan.
Beberapa menit kemudian Mawar telah selesai berdandan ia memakai gaun berwarna merah dan membawa setangkai bunga Mawar, karena Mawar sangat suka sekali dengan bunga mawar merah.
Bayu menggandeng Mawar berjalan menuju mobil, Bayu saat itu menggunakan setelan Jas hitam dengan baju kemeja putih di dalamnya.
Mereka berdua ingin bulan madu ke bali sambil berfoto-foto di sana.
Mawar beserta Bayu masuk ke dalam mobil. Bayu pun mulai menjalankan mobilnya menuju bandara.
Ditegah perjalanan mereka sempat berbincang-bincang.
Merencanakan tentang bulan madu mereka berdua.
Saat tengah asyik mengobrol Bayu menanyakan kepada Mawar.
“Sayang ini jam berapa?” tanya Bayu kepada Mawar.
Mawar melihat jam tangan yang berada di tangan kirinya.
“Jam setengah tiga Mas,” sahut Mawar.
“Apa! Jam tiga sore pesawat kita akan terbang sayang,” ucap Bayu yang terkejut.
Bayu mulai menginjak pedal gasnya mempercepat laju mobilnya hingga mencapai kecepatan 120 kilometer perjam.
Mawar yang melihat suaminya mempercepat laju mobilnya mulai menegur Bayu.
“Mas apa tidak terlalu cepat membawa mobilnya! jika memang tidak sempat tidak usah di paksakan Mas!” tegur Mawar.
“Tidak sayang ini pesawat terakhir jika kita tidak cepat-cepat hari ini kita tidak bisa pergi ke bali,” sahut Bayu fokus mengemudi.
Mawar yang mulai khawatir mulai perpegangan di gagang pintu mobil.
Bayu yang sangat cepat membawa mobil pun menjadi oleng dan ingin menabarak truk yang ada di depannya.
Hingga Bayu mengarahkan setirnya ke sebelah kanan dan menabrak pembatas jalan.
Karena hantaman mobil yang terlalu kencang membuat kaca mobil di depan menjadi pecah dan berhamburan menancap wajah beserta tubuh Mawar. Mobil Bayu pun rusak berat di depannya.
__ADS_1
Sementara Bayu beserta Mawar tidak sadar diri.
Sampai para warga berkumpul ingin menolong Bayu beserta Mawar.
Di situlah Bayu mulai tersadar lalu ia memanggil-manggil Mawar yang belum sadarkan diri.
Namun tuhan berkata lain, Mawar meninggal di tempat sementara Bayu dapat di selamatkan.
Bayu di bawa ke rumah sakit terdekat, sementara Mawar pun di bawa ke ruang Jenazah.
Bayu menangis saat dirinya ingin di operasi karena tulang kakinya remuk dan patah mengharuskan untuk di amputasi.
“Dok istri saya Dok, selamatkan istri saya Dok!” pinta Bayu dengan menangis di bawa ke ruang operasi.
Dokter yang tidak ingin mental bayu semakin drop lalu mencoba menenangkan Bayu.
“Iya Pak, kami akan berusaha menyelamatkan istri bapak,” sahut Bayu.
Sampai akhirnya Bayu tiba di ruang operasi.
Operasi amputasi kaki Bayu berjalan lancar ia di pindahkan ke ruang rawat inap VIP.
Beberapa jam kemudian Bayu mulai tersadar, barulah ia di beritahukan oleh dokter bahwa Mawar telah tiada.
Bayu semakin histeris mendengar kabar duka itu ia ingin menemui istrinya di kamar jenazah, namun karena masih merasa sakit di bagian kakinya yang di amputasi Bayu tidak bisa berjalan.
Dokter dan para suster mencoba untuk menenangkan Bayu.
“Sudah Pak, ikhlaskan istri Bapak,” sahut Dokter.
“Tidak Dok Mawar harus tetap hidup, aku tidak mau Mawar pergi Dok, tidak mau!” sahut Bayu berlinang air mata.
Dokter dan para Suster pun meninggal Bayu di ruangan VIP nya.
***
Di malam harinya Bayu masih saja bersedih atas kematian Mawar, ia meratapi nasibnya di kamar rumah sakit sendirian.
Hingga ada petugas kebersihan yang masuk ke kamarnya. Melihat petus kebersihan yang sedang membersihkan lantai kamar ruangan Bayu.
Terbesit pikiran untuk mengambil darah Mawar di kamar jenazah.
“Pak saya bisa minta tolong?” panggil Bayu kepada petugas kebersihan yang sudah paruh baya.
“Iya, Mas ada apa ya?” tanya petugas kebersihan.
“Bapak bisa mengambilkan darah istri saya di ruang jenazah,” pinta Bayu.
“Darah? Saya tidak berani Mas. Jika ketahuan bisa bahaya,” ucap petugas kebersihan.
“Saya mohon Pak, bapak minta uang berapa saja akan saya kasih,” ujar Bayu yang menawarkan sejumlah uang yang banyak.
“Saya tidak berani Mas,”
Bayu memegang tangan bapak petus itu.
__ADS_1
“Pak saya mohon Pak, kalau Bapak tidak mau bantu saya ke kamar jenazah,” tutur Bayu ingin pergi ke kamar jenazah.
Melihat kondisi Bayu yang seperti dan memohon-mohon, Petugas kebersihan itu pun iba kepada Bayu.
“Baiklah, saya menolong Mas karena saya kasihan terhadap Mas. Bukan karena materi!” petugas kebersihan yang menegaskan kepada Bayu.
“Terima kasih Pak, terima kasih, namanya istri saya Mawar sari” ujar Bayu mengusap air matanya.
Petugas kebersihan itu pun keluar dari kamar Bayu lalu pergi ke ruang Jenazah.
Di ruang jenazah petugas kebersihan mulai mencari jenazah yang bernama Mawar sari. Setelah mencari beberapa menit akhirnya ia dapat jenazah yang bernama Mawar sari.
Petugas kebersihan itu pun mengeluarkan suntikan menancapkannya di leher Mawar lalu mulai menyedot darah Mawar.
Akhirnya ia mendapatkan darah Mawar walau hanya sedikit.
Petugas kebersihan itu pun keluar dari ruang jenazah secara mengendap-endap sampai akhirnya ia kembali ke kamar Bayu lagi.
“Ini saya sudah mengambil yang Mas perintahkan boleh saya pergi sekarang.”
“Tunggu Pak!”
Bayu mengambil tas yang ada di mejanya merogoh sejumlah uang yang cukup banyak.
“Ini buat Bapak,” sahut Bayu tersenyum memberikan sejumlah uang dari tangannya.
“Tidak usah Mas, saya ikhlas menolong Mas.
“Jangan Pak ambil, kasih untuk istri dan anak Bapak,” paksa Bayu.
“Ya sudah jika Mas memaksa uang ini saya ambil, boleh saya tahu sebenarnya untuk apa darah itu, Mas,” tanyanya yang bingung.
“Darah ini ingin saya simpan saja sebagai kenang-kenangan,” sahut Bayu yang berbohong.
Petugas kebersihan itu pun pergi meninggalkan Bayu, sementara Bayu menyimpan darah Mawar di tasnya.
Rasa bersalah di dirinya tidak bisa Bayu hilangkan.
‘Seandainya aku mendengarkan kata-katamu Mawar mungkin semua tidak akan berakhir seperti ini,” batin Bayu.
Malam mulai semakin larut mata Bayu pun mulai semakin berat, ia mulai mengantuk dan tertidur di dalam kesedihannya.
***
Sebulan telah berlalu Bayu sekarang sudah berada di rumahnya.
Rasa cinta dan sayang Bayu kepada Mawar membuatnya ingin melakukan hal aneh.
Ia mulai mengambil cat berserta kanvas untuk melukis Mawar istrinya menggunakan cat lukisan yang di campur dengan darah Mawar, setiap goresan demi goresan warna yang ia lukis dengan meneteskan air mata.
‘Maafkan aku Mawar, dengan ini aku akan selalu mengenangmu di lukisan ini,' batin Bayu.
Seminggu kemudian lukisan Mawar yang di buatnya dengan penuh cinta dan kasih pun telah selesai.
Lalu Bayu menuliskan tanggal berserta tahun tragedi kecelakaan yang membuat Mawar meninggal.
__ADS_1
Mawar, 13 juni 1966.
Bersambung dulu gengs.