Misteri Lukisan Tua

Misteri Lukisan Tua
Tragedi


__ADS_3

Keesokan paginya Ayu dan Dimas pergi ke kantor mereka masing-masing. Kali ini Ayu yang di antar oleh Dimas ke tempatnya bekerja.


“Ayo sayang nanti kamu telat loh,” ucap Dimas yang menarik tangan Ayu.


“Aduh ....” sahut Ayu yang kesakitan.


“Kenapa dengan pergelangan tanganmu kok bengkak dan memar?” tanya Dimas yang khawatir kepada Ayu.


“Entah Mas, aku pun tidak tahu tanganku sampai seperti ini,” sahut Ayu sambil berpikir apa yang ia lakukan sampai tangannya seperti itu.


“Ayo aku antar kamu ke Dokter terlebih dahulu,” ajak Dimas.


“Tidak usah Mas, mungkin hanya terkilir saja.”


“Pokoknya aku antar kamu ke Dokter, nanti aku yang telepon Pak Damar meminta ijin untuk mu sayang.”


Dimas pun mengambil telepon genggamnya lalu menelepon Pak Damar atasan dari Ayu, Pak Damar sendiri adalah teman dari ayahnya Dimas.


“Ayo sayang kita ke dokter,lagi pula Pak Damar sudah mengizinkanmu.”


Mereka berdua mulai bergegas masuk mobil dan pergi ke Dokter.


Di tengah perjalanan Ayu hanya terdiam saja, ia mencoba mengingat-ingat kembali hal apa yang ia lakukan hingga membuat pergelangan tangannya cedera.


Tiba-tiba Ayu teringat akan mimpinya bertemu dengan Wanita yang berada di lukisan itu, Wanita itu ingin membawanya lalu memegang pergelangan tangan Ayu menariknya secara paksa.


'Apakah gara-gara mimpi Wanita itu?' batin Ayu .


“Apakah benar yang di katakan Sinta, tapi kalau aku ceritakan kepada Mas Dimas pasti dia tidak percaya,” sambung Ayu bergumam.


“Sayang ... sayang ....” panggil Dimas


Dimas yang memanggil-manggil Ayu membuat lamunan Ayu terhenti.


“Eh iya Mas,” celetuk Ayu yang terkejut.


“Ada apa sayang, aku lihat dari tadi kau hanya terdiam saya. Apa yang kamu pikirkan?” tanya Dimas.


“Mmm ... tidak Mas, aku hanya berpikir kenapa aku bisa cedera itu saja.


“Ya sudah sebentar lagi kita sampai.”


Dimas dan Ayu pun akhirnya sampai ke rumah sakit terdekat.


“Bagaimana Dok, tangan istri saya apakah tidak apa-apa?” tanya Dimas yang Khawatir.

__ADS_1


“Tidak apa-apa Pak Dimas, tangan Bu Ayu hanya terkilir saya yang mengakibatkan lebam di pergelangan tangannya. Ini saya berikan resep obat dan salep, obatnya untuk menghilangkan rasa sakitnya dan salep untuk menghilangkan luka memarnya, Di minum 2 kali sehari dan di salepnya di oleskan 3 kali sehari,” ucap Dokter yang menjelaskan kepada Dimas cara pemakaian obat.


“Terima kasih Dok,” sahut Dimas.


Setelah selesai pergi mengantarkan Ayu ke Dokter, Dimas pergi kembali mengantarkan Ayu ke kantornya.


“Sayang apa tidak sebaiknya kamu pulang dan beristirahat saja agar cederamu cepat sembuh.” Dimas yang memberi saran kepada Ayu.


“Mas ini hanya cedera ringan saja, aku tidak enak dengan Pak Damar.”


Kring ... Kring .... Sura telepon genggam milik Ayu berbunyi.


Mendengar telepon genggamnya berbunyi Ayu pun membuka tas.


“Aduh ....” Ayu yang kesakitan dengan tangannya.


Melihat istrinya kesusahan membuka tasnya Dimas memarkirkan mobilnya di samping jalan.


“Sini aku yang buka,” celetuk Dimas mengambil tas dari tangan Ayu lalu mengambil telepon genggam milik Ayu.


Ternyata yang menelepon Ayu adalah Pak Damar yang menanyakan keadaan Ayu, kesempatan ini pun dipakai oleh Dimas yang meminta ijin kepada Pak Damar untuk Ayu tidak dapat masuk kerja hari ini.


“Mas aku tidak apa-apa.”


“Sudah sayang, lebih baik kamu beristirahat saja di rumah, lagi pula kalau tanganmu masih sakit tidak bisa bekerja dengan baik,” Dimas yang menasihati Ayu.


Sesampainya di rumah Dimas pun berpamitan kepada Ayu, untuk pergi ke kantornya.


“Sayang aku pergi dulu ke kantor,” ucap Dimas mencium kening istrinya.


“Iya Mas hati-hati,” sahut Ayu mencium tangan suaminya.


Dimas meninggalkan Ayu bergegas pergi ke kantor, Ayu yang melihat suaminya telah pergi ia pun masuk ke kamar untuk beristirahat.


Sesampainya di kamar Ayu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, sambil memandangi lukisan itu.


Saat Ayu memandangi lukisan Wanita bergaun merah dari paras Wanita yang cantik berubah menjadi menyeramkan wajah wanita itu berlumuran darah segar lalu wajahnya penuh dengan luka yang terlihat terkoyak sontak Ayu pun menjerit melihat sosok Wanita yang mengerikan itu.


Bi Inem yang mendengar teriakan Ayu dari dalam kamar pun menghampirinya.


“Ada apa Non,” ucap Bi Inem yang melihat Ayu berbaring menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Ayu yang mendengar suara Bi Inem membuka matanya, Raut ketakutan terlihat jelas di wajah Ayu.


“Lu-lukisan itu,” sahut Ayu yang terbata menunjuk lukisan Wanita yang menempel di dinding kamarnya.

__ADS_1


“Kenapa dengan lukisannya Non?” tanya Bi Inem yang kebingungan.


“Tadi wajah Wanita yang ada di lukisan itu berubah menjadi mengerikan Bi, wajahnya berlumuran darah segar serta banyak luka yang terkoyak di wajahnya,” Ayu yang menjelaskan kejadian yang ia alami kepada Bi Inem.


“Ternyata benar yang Bibi lihat waktu lalu Non,” sahut Bi Inem yang membenarkan cerita Ayu.


“Non masih ingat Bibi pernah cerita melihat wanita yang ada di lukisan itu berubah jadi menyeramkan,” sambung Bi Inem kembali.


“Iya Bi Ayu ingat, sebaiknya kita berbicaranya di ruang tamu saja Bi, aku takut melihat lukisan ini.”


Ayu mengajak Bi Inem keluar dari kamarnya pergi menuju ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu mereka berdua melanjutkan pembicaraan kembali mengenai lukisan itu.


“Apa sebaiknya Non buang saja lukisan itu, lukisan itu tampak sedikit aneh apa lagi lukisan itu sudah ada saat Non membeli rumah ini bukan, lagi pula Non tidak tahu asal-usul dari lukisan ini.


Menurut kakek Bibi yang juga paranormal di desa, lukisan adalah media ternyaman tempat tinggal bagi makhluk halus atau roh jahat.” Bi Inem yang menjelaskan kepada Ayu apa yang ia ketahui.


“Apakah itu benar Bi, jika seperti itu apa yang harus aku lakukan Bi. Apakah Bibi bisa menelepon kakek Bibi ?" tanya Ayu yang bingung dan takut.


“Sayang sekali Non, kakek Bibi sudah lama sekali meninggal, sebaiknya Non buang saja lukisan itu,” Bi Inem yang memberikan saran kepada Ayu.


“Jika memang begitu caranya baiklah Bi, lagi pula waktu itu aku pernah bermimpi seorang wanita yang memaksaku untuk pergi bersamanya hingga pergelangan tanganku seperti ini Bi,” Ayu yang memberitahu tangannya kepada Bi Inem.


“Ya Allah Non, rupanya Non cedera gara-gara Wanita di lukisan itu. Sebaiknya segera di buang Non sebelum Non Ayu terluka lebih parah lagi, kakek Bibi pernah bercerita makhluk halus dan roh jahat dapat mencelakakan penghuni rumah yang mereka tinggali, apa lagi kalau lukisan itu ada roh jahatnya akan lebih bahaya,” Bi Inem menjelaskan kembali kepada Ayu.


Mendengar penjelasan Bi Inem, tanpa pikir panjang Ayu pun pergi ke kamar melepas lukisan yang menempel di dinding kamarnya membawa keluar dan membuangnya.


Saat Ayu berada di luar membuang lukisan itu ada seorang pemulung menghampirinya.


“Non itu lukisan sebagus itu mau di buang?” tanya pemulung itu.


“Ia Pak kenapa?” tanya Ayu.


“Buat Bapak boleh Non, sayang di buang Non lukisan sebagus itu,” pinta pemulung itu kepada Ayu.


“Bapak mau? Nih ambil aja!” Ayu yang memberikan lukisan ditangannya kepada si pemulung.


Pemulung itu pun menerima lukisan di tangan Ayu dan di masukan ke gerobaknya dengan rasa senang lalu ia pun pergi meninggalkan Ayu dengan mendorong gerobaknya.


Ayu yang berpikir semua telah usai pun masuk ke dalam rumahnya kembali.


Selang beberapa menit nasib naas terjadi kepada pemulung itu saat ia telah meninggalkan rumah Ayu cukup jauh, seorang sopir pickup kehilangan keseimbangannya lalu menabrak pemulung yang sedang mendorong gerobaknya dari belakang.


Sontak saja pemulung itu tersungkur di jalan dan bersimbah darah segar mengalir di kepalanya. Nyawa pemulung itu pun tidak bisa di selamatkan dan meninggal di tempat.

__ADS_1


Bersambung dulu gengs.


__ADS_2