
Ayu masuk ke sebuah ruangan yang gelap akan tetapi masih dapat melihat di sekelilingnya, di sudut ruangan Ayu melihat seorang Wanita bergaun merah ingin menghampiri dirinya ketika, Wanita itu ingin menghampiri dirinya Dimas datang menghilangkan lamunan Ayu.
“Sayang kamu tidak mandi?” tegur Dimas kepada Ayu.
“Eh iya Mas,” celetuk Ayu yang terkejut.
“Apa yang kamu lamunkan?” tanya Dimas kepada Ayu.
“Lukisan itu Mas, lukisan itu selalu menghantuiku Mas, beberapa kali aku melihat wanita di lukisan itu seperti nyata dan menyeramkan wajahnya penuh darah.
Dimas memandangi lukisan itu saat istrinya bercerita tentang dirinya yang selalu di hantui oleh wanita bergaun merah di lukisan itu. Di saat Dimas memandang wajah wanita bergaun merah di lukisan itu Dimas seperti terhipnotis kembali.
“Tidak ada apa-apa dengan lukisan itu, mungkin kamu hanya berhalusinasi saja Ayu,” ucap Dimas dengan wajah datar sambil memandangi lukisan itu.
“Mas, aku yakin aku tidak berhalusinasi lukisan itu seperti hidup Mas,” Ayu mencoba meyakinkan Dimas.
Namun, beberapa kali Ayu mencoba meyakinkan suaminya, tetap saja Dimas tidak menghiraukannya.
“Aku ingin lukisan ini jangan di pajang di kamar lagi Mas!” pinta Ayu dengan tegas.
“Aku cape mendengarmu ucapanmu Ayu. lukisan! lukisan! ini yang selalu kamu permasalahkan padahal tidak ada masalah dengan lukisan ini, mungkin saja kau yang bermasalah!” bentak Dimas dengan kesal.
“Mas ada apa dengan mu, kau tidak pernah berbicara seperti ini kepada,” ucap Ayu dengan wajah sedih.
“Ah sudahlah aku ingin pergi keluar dulu.”
Dimas yang pergi keluar meninggalkan Ayu yang sendirian di kamar. Kata-kata yang di lontarkan Dimas membuat hati Ayu menjadi sakit, di dalam kamar Ayu hanya menangis mengingat ucapan Dimas.
‘Ada apa denganmu Mas,' gumam Ayu meneteskan air mata.
‘Baiklah kalau begitu aku akan pindah lukisan ini ke gudang,’ gumam Ayu yang mengusap air matanya berdiri mengambil lukisan itu.
Saat lukisan itu berhasil ia ambil, Ayu pun dengan segera keluar dari kamar menuju gudang penyimpanan barang yang tidak terpakai.
Sesapainya di depan pintu gudang, Ayu mulai masuk ke dalam gudang segera mungkin agar Dimas tidak
mengetahuinya perbuatannya.
Ayu yang sudah berada di dalam gudang meletakkan lukisan itu di atas meja.
Setelah ia selesai menaruh lukisan itu Ayu keluar dari dalam gudang dan mengunci pintu gudang kembali.
Ayu mulai berjalan menuju kamarnya namun, saat Ayu langkah kaki langkah Ayu terhenti karena ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.
__ADS_1
“Non Ayu,” pak Joko yang mendatangi Ayu.
“Iya pak Joko ada apa?” Ayu yang bertanya kepada Pak Joko.
“Begini Non Ayu, ada yang mau bapak bicarakan sama Non Ayu. Kebetulan bibi Pak Joko yang dari desa itu datang dan ingin mencari pekerjaan di kota, kalau Non Ayu bersedia bibi Pak Joko boleh bekerja di sini.”
“Oh bisa Pak kebetulan saya lagi butuh pembantu selepas bi Inem pergi saya merasa sepi dan sedikit kewalahan mengurus rumah ini, mas Dimas tidak akan keberatan.”
“Terima kasih Non, nanti Bapak akan beri tahu bibi”
“Besok bibi Pak Joko bisa langsung bekerja di sini, dan tinggal rumah ini,” Ayu yang langsung menerima bibi pak Joko.
“Terima kasih Non, oh iya Non tadi habis dari mana?” tanya Pak Joko.
“Habis dari gudang Pak memindahkan lukisan yang di kamar saya itu Pak.”
“Oh lukisan itu, setiap menceritakan lukisan itu kok bapak merasa takut yah Non dan merinding,” pak Joko yang memegang tengkuknya.
“Ya sudah Pak tidak usah kita bahas lagi, oh iya nama bibi pak Joko siapa?” Ayu yang mengalihkan pembicaraan mengenai lukisan itu.
“Oh iya Bapak lupa memberitahu Non Ayu” namanya bi Ijah,” pak Joko yang menepuk jidatnya.
Saat mereka sedang asyik berbincang-bincang berdua Dimas pun datang.
“Kamu habis dari mana Mas?” tanya Ayu dengan nada sedikit kesal.
“Aku kan dari tadi duduk di teras sayang masa kamu tidak lihat,” sahut Dimas dengan lembut.
“Kamu aneh Mas, tadi kamu berbicara kasar ketika kamu datang bicaramu lemah lembut,” Ayu yang bingung dengan sikap suaminya.
“Mana mungkin aku berbicara kasar kepadamu sayang.”
Ayu bingung dengan sikap suaminya yang berubah dengan cepat, ia pun mengalihkan pembicaraan menjelaskan kepada Dimas tentang bibi Pak Joko dari desa ingin bekerja di tempat mereka.
Setelah mereka bertiga selesai berbincang-bincang. Ayu, Dimas kembali masuk ke dalam kamar untuk beristirahat karena malam sudah semakin larut.
Sesampainya di dalam kamar lagi-lagi Ayu di buat kaget oleh lukisan wanita bergaun merah yang berada kembali di posisinya.
‘Lukisan itu, kenapa bisa berada di kamar ini lagi,” gumam Ayu yang terkejut sambil memandangi lukisan itu.
“Ada apa sayang, sepertinya kamu terkejut dengan lukisan ini,” tegur Dimas memandang wajah istrinya.
“Eh tidak apa-apa Mas, mari kita tidur aku sudah mulai mengantuk,” Ayu yang berusaha menutupi kepada suaminya.
__ADS_1
Dimas dan Ayu mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidur mereka, Dimas yang memeluk Ayu mulai merasakan kantuk hingga memejamkan matanya sementara Ayu masih terjaga mengingat banyak hal yang aneh tentang lukisan itu yang tidak masuk nalarnya.
Sementara di sisi lain Sinta mulai di teror kembali oleh wanita bergaun merah karena Sinta yang telah memberikan saran kepada Ayu untuk membakar lukisan itu.
Saat Sinta berada di rumah ia merasakan lapar, dan berpikiran untuk membeli makanan di luar.
“Mau ke mana Nak?” tanya ibu Sinta yang sedang duduk di ruang tamu.
“Mau keluar sebentar Bu, cari makan.”
“Ya sudah kalau begitu.”
“Ibu mau Sinta belikan bakso?” tanya Sinta kepada ibunya.
“Tidak usah Nak, ibu masih kenyang kamu saja, pulang jangan larut malam ini sudah jam sembilan malam, Nak.”
“Iya Bu, Sinta segera pulang kok.”
Sinta mulai bergegas keluar rumah meninggalkan ibunya yang duduk sendirian di ruang tamu.
Sinta menuju garasi lalu mengeluarkan motornya dan mulai mengendarainya. Ia mulai mencari-cari makan yang ingin ia makan sampai akhirnya ia berhenti di sebuah warung makan dan memesan satu bungkus makan untuk dirinya.
“Pak nasi campur satu ikannya Ayam sama telur ya,” Sinta yang memesan makanan.
“Iya Mbak, ada tambahan lagi?” tanya pemilik warung.
“Udah Pak itu saja.”
Pesanan Sinta telah selesai di bungkus oleh si penjual dan memberikannya kepada Sinta.
Sinta yang telah mendapatkan makan pun segera pulang menuju rumahnya.
Di tengah perjalanan menuju rumahnya Sinta di kejutkan oleh seorang wanita bergaun merah yang melintas secara tiba-tiba di hadapannya hal itu membuat Sinta terkejut dan membanting setir ke kanan hingga menabrak trotoar jalan hingga Sinta terjatuh.
Beberapa warga yang melihat Sinta terjatuh pun mencoba untuk menolongnya. Terlihat Sinta mengalami luka-luka.
“Mbak mau saya antar ke rumah sakit enggak,” ucap salah satu pengendara motor yang menepi melihat Sinta terjatuh.
“Tidak usah Pak, saya mau pulang saja,” sahut Sinta menahan sakit.
“Apa sebaiknya saya antar pulang? Sepertinya luka Mbak lumayan parah.”
Sinta pun di antarkan pulang ke rumahnya oleh salah seorang pengendara motor.
__ADS_1
Bersambung gengs.