
Dua hari kemudian Dimas pun pulang, ia di jemput di bandara oleh pak Joko. Sesampainya di rumah Dimas tidak melihat istrinya menyambut kehadirannya.
“Bi, Ayu di mana?”
Dimas yang baru masuk rumah sambil membawa kopernya.
“Non Ayu di dalam kamar tuan, jarang keluar kamar,” jawab bi Ijah membantu membawakan koper Dimas.
Dimas berjalan menuju kamar mereka, sesampainya di kamar terlihat Ayu yang meringkuk di atas tempat tidur dengan memeluk lututnya sambil berkata.
“Pergi! Pergi!,” ucapnya dengan menundukkan kepala.
Dimas yang melihat istrinya tampak beda tidak seperti dulu, sekarang Ayu lebih tidak mengurus dirinya.
Rambutnya berantakan raut wajahnya pucat dan kusam seperti tidak terurus.
Dimas menghampiri istrinya di atas tempat tidur, ia memanggil Ayu dan memegang wajahnya.
“Sayang aku pulang! Ada apa denganmu?”
Ucapan Dimas tidak di respon Ayu, ia hanya menoleh ke arah Dimas lalu menundukkan kepala kembali.
Terlihat botol obat yang telah habis berserakan di atas meja kamar.
Melihat Ayu tidak meresponnya Dimas pun memeluk Ayu dengan lembut dan mata yang berkaca-kaca.
“Sayang ada apa denganmu! Maafkan aku. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlebih dahulu jika bisnis ini gagal aku akan mengalami kerugian yang sangat besar dan bisa jadi perusahaanku akan di ambil alih karena aku sudah mendatangi perjanjian dengan pak Rehan,” Dimas yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Ayu tetap saja diam dengan tatapan mata yang kosong tidak menghiraukan ucapan Dimas.
Melihat kondisi istri memburuk Dimas pun segera membawa Ayu ke Dokter psikiater.
“Ayo sayang kita ke Dokter!
Dimas dan Ayu keluar dari kamar lalu menuju mobil mereka, setelah itu mereka berdua pun masuk ke dalam mobil.
Di tengah perjalanan menuju Dokter Dimas selalu saja membuka obrolan namun, lagi-lagi aku hanya dia sambil memandang jalan.
Rasa bingung dan bersalah yang Dimas rasakan sekarang tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Sampai akhirnya Dimas telah tiba di Dokter psikiater. Mereka berdua duduk menunggu nama Ayu di panggil.
“Bu Ayu silahkan masuk,” ucap salah satu perawat.
Dimas menggandeng tangan Ayu menemaninya masuk ke dalam ruangan Dokter.
Dokter mulai memeriksa keadaan Ayu serta memberi beberapa pertanyaan. Namun, saat Dokter bertanya Ayu hanya diam dengan tatapannya yang kosong hingga membuat Dimas semakin khawatir.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada istri saya?” tanya Dimas.
“Dari yang saya lihat, Istri Anda dalam fase depresi yang berat hingga terlihat seperti orang linglung bahkan tidak menyadari.
Ada rasa ketakutan yang besar terlihat dari tatapanya terhadap sesuatu saat saya menanyakan beberapa pertanyaan,” Dokter yang menjelaskan kepada Dimas.
__ADS_1
“Lalu apa yang harus saya lakukan agar istri saya sembuh Dok?” tanya Dimas yang sangat khawatir.
“Saran saya sebaiknya bu Ayu di rawat saja Pak, agar kondisinya dapat membaik.”
“Baiklah jika memang harus begitu, terima kasih Dok!” sahut Dimas sembari keluar dari ruangan Dokter.
Di menggandeng Ayu berjalan menuju mobil mereka hingga masuk ke dalam mobil.
Sebelum Dimas menjalankan mobilnya Ia menelepon orang tuanya untuk memberitahukan tentang kondisi Ayu saat ini.
“Hallo Bu.”
“Iya Nak, ada apa?”
“Ibu di mana sekarang?”
“Ibu sedang di rumah, ada apa Nak?”
“Dimas mau ke rumah sama Ayu Bu, ada yang ingin Dimas bicarakan sama ibu dan Ayah. Apa ayah sedang di kantor Bu?”
“Ayah dan ibu hari ini sedang berada di rumah Nak!”
“Baik Bu kalau begitu Dimas ke rumah ibu.”
“Iya Dimas hati-hati.”
“Baik Bu,”
Dimas mematikan teleponnya lalu menyalakan mobilnya pergi menuju rumah orang tuanya.
“Pergi! Jangan mengganggu aku!” teriak Ayu histeris.
“Sayang, sayang, kamu kenapa?” ucap Dimas yang memegang bahu Ayu.
Ayu tertunduk dengan rasa cemas dan takut, sementara Dimas berusaha menenangkan Ayu. Ia memeluk Ayu dengan lembut dan berusaha menenangkannya.
“Jangan takut Sayang aku di sini,” ucap Dimas dengan lembut.
Ayu mulai tenang kembali Dimas dengan lembut mengusap keringat Ayu di wajahnya. Setelah itu barulah Dimas melanjutkan perjalanannya kembali.
Beberapa menit kemudian Dimas telah sampai di rumah orang tuanya ia mulai menggandeng tangan Ayu menuju rumah ibunya.
“Bu! Bu! Bu!” panggil Dimas sembari mengetok pintu rumah.
Ibu Ratih membuka pintu lalu mempersilahkan anaknya untuk masuk.
“Masuk Nak.”
Dimas dan Ayu mulai masuk ke rumah ibunya mereka berdua duduk di ruang tamu.
“Ada apa dengan Ayu Dimas?” tanya pak Gunawan ayah dari Dimas.
“Dimas tidak tahu Yah, saat Dimas pulang dari keluar kota kondisi Ayu memang sudah sangat memperhatikan,” Dimas mulai menjelaskan kepada ayahnya.
__ADS_1
“Kamu sudah bawa Ayu ke Dokter Nak,?” tanya bu Ratih.
“Sudah Bu, barusan Dimas pulang dari Dokter.”
“Lalu apa kata Dokter?” pak Gunawan yang sangat ingin tahu.
“Dokter bilang Ayu depresi berat, harus di rawat agar ia tidak semakin parah Yah, jika di biarkan terus begini.”
Orang tua Dimas memperhatikan keadaan Ayu yang hanya terdiam dengan tatapan mata yang kosong.
“Kalau menurut Dokter seperti itu Dimas, sebaiknya Ayu di rawat saja kita cari rumah sakit jiwa yang terbaik untuknya agar Ayu cepat sembuh,” saran dari Ayah Dimas.
“Ini semua salah Dimas, jika saja Dimas tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan Dimas semua tidak akan seperti ini. Tapi apa daya Dimas sudah menandatangani perjanjian bisnis dengan pak Rehan,” sahut Dimas dengan raut wajah menyesal dan mata yang berkaca-kaca.
Melihat anaknya bersedih bu Ratih mendekati Dimas duduk di sampingnya.
“Yang sabar Nak, setiap pernikahan pasti ada ujiannya tersendiri, Ibu yakin kamu dapat menghadapi semua ini,” ucap sang ibu sambil mengusap-usap bahu Dimas.
Kesedihan Dimas semakin memecah ia memeluk ibunya meneteskan air mata yang mengenang di matanya.
“Dimas sayang sama Ayu Bu, kenapa harus Ayu Bu, kenapa beban rumah tangga Dimas yang seumur jagung ini begitu berat Bu? Kenapa Bu!” Dimas yang mengeluarkan kesedihan sambil memeluk ibu.
“Percaya dengan Ibu Nak, tidak ada masalah yang tanpa jalan keluarnya Dimas anak yang kuat Ibu yakin Dimas bisa menjalani ini semua. Jalani semua ujian ini dengan ikhlas Nak!” bu Ratih yang menguatkan mental anaknya.
Seketika Dimas melepaskan pelukannya dengan ibunya mengusap air matanya yang membasahi pipinya.
Dimas mulai berpikir tenang mulai mencari jalan keluarnya bersama keluarganya.
“Lalu apa yang harus Dimas katakan kepada orang tua Ayu Ayah dan Ibu! Mereka tidak akan terima Ayu seperti ini, Dimas suami yang gagal menjaga Ayu.”
“Sudahlah Dimas jangan menyalahkan dirimu sendiri terus menerus kita cari jalan keluar dari semua ini,” sahut ayah Dimas.
“Bagaimana jika sakit Ayu kita tutupi saja, kamu bicara dengan orang tua Ayu kalau Ayu mempunyai penyakit langka yang hanya bisa di sembuhkan di luar negeri,” saran ayah Gunawan.
Dimas terdiam mulai memikirkan saran dari Ayahnya.
“Baik Ayah kita rahasiakan penyakit Ayu dari semua orang nanti Dimas yang akan bicara dengan orang tua Ayu, dan juga pak Damar mengenai kondisi Ayu yang tidak dapat bekerja terlebih dahulu.”
“Ya sudah Bu, Ayah, Dimas pamit pulang kasihan Ayu dia harus istirahat,” Dimas berdiri bersalaman dengan kedua orang tuanya.
Orang tua Dimas mengantarkan anaknya sampai depan pintu, hati ibu Dimas sangat sedih melihat rumah tangga anaknya seperti itu.
Saat Dimas masuk mobil dan meninggalkan rumah orang tuanya ibu Dimas meneteskan air mata ia tidak mau terlihat sedih di depan anaknya, Gunawan yang melihat istrinya bersedih pun mencoba menenangkan.
“Sabar Bu, doakan saja semua ini akan baik-baik saja dan kembali dengan normal.”
Gunawan yang mencoba menguatkan istrinya mengusap-usap bahu sang istri.
“Ibu hanya sedih, karena sekarang dia di hadapkan oleh masalah seperti ini,” ucapnya terisak.
“Kita doakan saja semoga Dimas dan Ayu bisa melewati ini semua,” ucap Gunawan.
Ratih menghela nafas panjang agar sedihnya berkurang, mereka berdua pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya.
__ADS_1
Bersambung dulu gengs