Misteri Lukisan Tua

Misteri Lukisan Tua
Kedatangan Orang Tua Ayu


__ADS_3

Kedatangan orang tua Ayu


Dua hari kemudian Baskoro dan juga istri mempersiapkan barang-barang yang ingin mereka bawa ke tempat Ayu anak mereka.


“Ayo Pak, ini taksinya sudah datang,” ucap Lasmi memanggil suaminya dari luar kamar.


“Iya Bu tunggu bapak mencari gelang pusaka bapak itu di mana ya.”


Lasmi membantu Baskoro mencari kan gelang pusaka yang ia pernah gunakan sewaktu menjadi paranormal dulu.


“Ini Pak gelangnya ibu dapat,” celetuk Lasmi yang mendapatkan gelang Baskoro di dalam lemari di tumpukan baju mereka.


Baskoro membuka gelangnya yang di bungkus kain kuning lalu memakainya.


Gelang batu liontin yang pernah ia dapatkan ketika ia sedang bertapa di hutan.


Gelang itu berfungsi untuk menghalau makhluk-makhluk jahat yang ingin berbuat jahat kepada dirinya.


Setelah selesai Baskoro memakai gelangnya ia pun berjalan keluar bersama dengan Lasmi, dengan membawa beberapa koper yang mereka telah siapkan.


Koper-koper mereka di letakan di bagasi yang terletak di belakang mobil taksi.


Setelah semua telah selesai barulah Baskoro dan Lasmi masuk ke mobil taksi lalu berangkat menuju bandara.


Di tengah perjalanan mereka berdua berbincang-bincang.


“Bapak sudah tidak sabar ingin bertemu Ayu, Bu” ucap Baskoro dengan penuh kerinduan kepada Ayu.


“Iya Pak, ibu pun. Sudah lama sekali kita tidak bertemu dengan Ayu anak semata wayang kita,” sahut Lasmi yang sangat gembira ingin bertemu dengan Ayu.


Dua jam telah berlalu mereka berdua pun tiba di bandara lalu mereka berdua memasuk ke dalam pesawat dan terbang menuju Jakarta.


***


Beberapa jam kemudian mereka berdua telah tiba di bandara Soekarno hatta.


Baskoro mengambil telepon genggamnya yang jadul lalu menelepon Ayu.


“Hallo Nduk, Bapak dan ibu sudah sampai di bandara.”


“Oh iya Pak, Ayu suruh pak Joko untuk jemput bapak soalnya mas Dimas dan Ayu masih bekerja Pak.”


“Iya Nduk, ndak apa-apa. Maaf Bapak sama ibu ngerepotin kamu Nduk.


“Enggak apa-apa kok Pak, Ayu malah senang Bapak dan ibu bisa datang ke tempat Ayu.”


“Iya Nduk, sudah tidak sabar Bapak sama ibu mau ketemu sama anak Bapak. Bapak dan ibu rindu kamu Nduk.”


“Iya Pak, Ayu pun rindu sama Bapak dan ibu.”


“Ya sudah dulu Nduk, Bapak tunggu di parkiran.”


Baskoro menutup teleponnya lalu berjalan keluar bandara menuju parkiran mobil.


Selang beberapa jam pak Joko telah tiba di bandara, dan menelepon orang tua Ayu untuk mengetahui keberadaan mereka.


Tidak lama kemudian pak Joko bertemu oleh kedua orang tua Ayu.


Pak Joko memasukkan koper-koper bawaan mereka di dalam bakasi mobil, setelah itu mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam mobil.


“Ayo Pak dan Bu, kita masuk,” ajak pak Joko kepada mereka berdua.

__ADS_1


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil. Selepas itu pak Joko menjalani mobilnya pergi meninggalkan bandara dan kembali ke rumah.


Di sore harinya orang tua Ayu telah tiba di rumah Ayu.


Saat Baskoro dan Lasmi keluar mobil mereka di sambut hangat oleh Ayu dan Dimas.


Pelukan hangat pun di rasakan oleh Lasmi dan Baskoro ketika Ayu memeluk mereka berdua.


Akan tetapi di saat Ayu memeluk Bapaknya yaitu Baskoro. Ia merasakan tubuhnya sangat panas.


Dengan cepat Ayu melepas pelukan Bapaknya.


“Kenapa tubuh Bapak terasa begitu panas,” celetuk Ayu secara spontan.


“Ada-ada aja kamu Nduk, mana ada tubuh Bapak ini panas,” ucap Baskoro yang tertawa.


“Ayo Pak dan Ibu mari masuk ke rumah,” ajak Dimas.


Ayu yang berjalan di samping Bapaknya melihat sesuatu di tangan kanan Bapaknya.


‘Rupanya gelang yang dia pakai memancarkan hawa panas di saat aku mendekatinya,” batin wanita bergaun merah yang ada di tubuh Ayu.


Mereka berempat pun duduk di ruang tamu sambil berbincang-bincang santai melepas rindu.


Sementara Ayu duduk di dekat Dimas, tidak berani duduk bersanding dengan Bapaknya karena gelang yang di pakai Bapaknya memancarkan energi panas untuk dirinya.


“Bapak, ibu mau minum apa?” tanya Ayu kepada mereka berdua.


“Teh hangat saja Nduk, kalau bapak mu biasanya kopi,” sahut Lasmi.


“Iya Bu, Ayu panggilkan bi Ijah terlebih dulu yah.”


Bi Ijah pun datang menghampiri Ayu di ruang tamu.


“Iya Non,” sahut bi Ijah.


“Tolong buatkan minuman bi, satu teh panas buat ibu, susu hangat buat mas Dimas, kopi manis buat Bapak dan satu lagi kopi pahit Bi,” ucap Ayu seraya menerangkan pesanan minumannya kepada bi Ijah.


“Baik non,” sahut bi Ijah yang pergi ke dapur meninggalkan mereka semua.


Mereka semua berbincang-bincang melepas rindu sesekali tawa terlihat dari wajah orang tua Ayu.


“Kapan kalian punya momongan ibu sudah tidak sabar ingin mengendong cucu ibu,” ucap Lasmi.


“Iya Bu, mungkin nanti mas Dimas dan Ayu masih sibuk memikirkan pekerjaan Bu,” pungkas Ayu.


“Nduk memikirkan pekerjaan memang wajib tapi, kalian berdua juga harus memikirkan keluarga kecil kalian,” sahut Lasmi yang memberi wejangan kepada Ayu dan Dimas.


“Iya Bu, rencananya nanti setelah bisnis Dimas gol, Dimas sudah mempersiapkan bulan madu kita berdua,” balas Dimas.


“Nah gitu to, ibu sudah rindu dengan kehadiran anak kecil di keluarga ini, ya kan Pak,” celetuk Lasmi.


“Iya Bu, bapak pun seperti itu merindukan kehadiran cucu di rumah ini,” sahut Baskoro.


Tidak lama setelah mereka berbincang-bincang bi ijah datang membawakan minuman pesanan Ayu.


“Ini non pesenannya,” bi Ijah yang menyodorkan beberapa minuman ke tempat masing-masing.


“Ini kopi pahitnya buat siapa Non?” tanya bi ijah.


“Buat saya Bi” sahut Ayu yang mengambil kopi pahitnya.

__ADS_1


“Ayo Pak, Bu di minum,” ucap Ayu mempersilahkan mereka semua meminum-minumannya.


Ayu meminum kopi pahit itu hanya beberapa kali tengak saja ia tidak merasakan rasa pahit di kopi itu, malah sebaliknya kopi itu terasa sangat manis bagi dirinya.


“Loh Nduk, gak pahit kopinya,” kata Baskoro.


“Tidak Pak, Ayu sudah biasa minum kopi pahit ini ya kan mas,” Ayu yang melirik tajam kepada Dimas.


“Eh, i-iya Pak, udah biasa Ayu minum kopi itu,” sahut Dimas dengan terpaksa.


“Apa lambung mu tidak sakit Nduk, kamu kan punya penyakit maag?” tanya Lasmi.


“I-itu sudah sembuh kok Bu,” balas Ayu.


Mereka bertiga mulai melihat keanehan di diri Ayu. Tapi mereka bertiga masih berpikir positif tentang Ayu.


“Bi Ijah,” panggil Ayu kembali.


“Iya Non.”


“Tolong nanti kamar nomor dua di rapikan ya Bi untuk bapak dan ibu istirahat,” pinta Ayu.


“Baik Non,” sahut bi Ijah yang pergi melaksanakan perintah Ayu.


Bi Ijah mulai merapikan kamar nomor dua untuk di tempati oleh orang tua Ayu.


Tidak lama kemudian bi Ijah telah selesai merapikan kamar nomor dua.


Ayu pun mempersilahkan orang tuanya untuk beristirahat di kamar itu.


Malam harinya selepas shalat magrib, Lasmi melantunkan ayat suci Al-Quran.


Suara lantunan ayat suci Al-Quran pun terdengar sampai kamar Ayu.


Sontak saja Ayu yang mendengarnya merakan tidak nyaman dan gelisah.


Ayu pun memilih untuk keluar rumah dan duduk di teras. Sementara menanyakan dirinya.


“Kamu mau ke mana sayang?” tanya Dimas.


“Mau cari angin sebentar,” balas Ayu.


Ayu pun mulai keluar kamar, menuju teras rumahnya dan duduk santai di sana.


‘Kurang ajar kehadiran mereka berdua menggangguku, seharusnya mereka berdua pergi dari rumah ini,' batin wanita bergaun merah di tubuh Ayu.


Ayu pun menunggu di teras rumahnya sampai Lasmi selesai membaca ayat suci Al-Quran itu.


Setelah selesai Lasmi membacakan ayat suci, Ayu mulai masuk kembali ke dalam rumah menuju kamar.


Namun di saat Ayu ingin masuk ke kamar bi Ijah memanggilnya untuk makan malam.


“Non Ayu, makan malamnya sudah siap,” sahut bi Ijah.


“Iya bi, saya panggil mas Dimas terlebih dahulu, Bibi tolong panggil bapak dan ibu untuk makan malam” pinta Ayu kepada bi Ijah.


Bi Ijah pun segera melaksanakan perintah Ayu, memanggil orang tuanya untuk makan malam.


Akhirnya mereka semua berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam bersama.


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya 🙏 terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2