
Dimas mulai masuk ke dalam mobilnya ia mencoba menenangkan dirinya.
Ia duduk di kursi mobil sambil memegang kunci mobil yang tertancap di kontak mobil.
Dimas pun berdoa berserah diri kepada Yang Maha Kuasa.
‘Ya Allah bantulah hambamu ini dalam menghadapi semua masalah ini, engkau yang Maha kuasa, hamba berserah diri kepadamu, bismillah,' batin Dimas.
Dimas mencoba menstater mobilnya dan akhirnya mobil pun menyala.
‘Alhamdulillah,' gumam Dimas.
Mobil Dimas yang telah menyala tidak ia sia-siakan kesempatan ini Dimas mulai menjalankan mobilnya dengan cepat.
Satu jam kemudian akhirnya Dimas telah sampai tepat di halaman rumah Bayu.
Dimas mematikan mesin mobilnya lalu mengambil lukisan tua, Dimas berjalan menuju rumah Bayu sambil membawa lukisan tua itu.
“Assalamualaikum, om Bayu,” ucap Dimas sambil mengetuk pintu rumah Bayu.
Bayu yang mendengar ada orang mengetuk pintunya keluar dari kamarnya menuju pintu utama.
“Waalaikumsalam. Dimas ada apa pagi-pagi sekali ke sini?” Bayu terkejut melihat di yang basah kuyup.
“Ini Om, mau mengembalikan lukisan Om Bayu,” sahut Dimas.
“Ayo masuk terlebih dahulu, di luar hujan deras!” ajak Bayu.
Dimas pun masuk ke rumah Bayu sementara Ayu menelepon Dimas.
“Aduh Pak, ini bagaimana nomor mas Dimas tidak diangkat apakah mas Dimas telah berhasil?” sahut Ayu yang panik.
“Kita berdoa saja Nduk, semoga Dimas berhasil,” ujar Baskoro yang mencoba menenangkan Ayu.
“Iya Pak, semoga mas Dimas berhasil,” Ayu yang berharap.
Ternyata telepon Dimas berada di dalam mobil, ia tidak mengantonginya karena baju Dimas basah semua.
Dimas mulai mengobrol sebentar dengan Bayu.
“Bagaimana Dimas? Apa semua lancar lalu bagaimana kondisi istrimu?” tanya Bayu.
“Alhamdulillah Pak semua telah selesai,” sahut Dimas.
Tiba-tiba dada Dimas terasa sakit akibat pukulan Mawar membuat luka dalam bagi Dimas. Dimas pun memegang dadanya.
“Syukurlah jika begitu Dimas.”
“Ini Om lukisannya,” Dimas yang memberikan lukisan tua itu.
Bayu menyambut lukisan yang telah di berikan oleh Dimas.
__ADS_1
Air mata Bayu menetes di atas lukisan itu, Bayu yang sudah lama tidak melihat lukisan itu pun teringat akan almarhum istrinya Mawar.
“Maafkan aku Mawar,” celetuk Bayu sembari meraba lembut lukisan itu dengan jari jemarinya.
“Aku sangat merindukanmu,” sambung Bayu kembali.
Dimas berusaha menenangkan Bayu yang saat itu sedang bersedih.
“Sudahlah Om. Tante Mawar sudah tenang di sana Om jangan bersedih lagi ikhlaskan tante Mawar, Om,” Dimas yang memberikan dukungan untuk Bayu.
Setelah merasa telah cukup berbincang dengan Bayu.
Dimas berpamitan pulang.
“Om Dimas pamit pulang dulu,” ujar Dimas yang bersalaman kepada Bayu.
“Apa sebaiknya kamu ganti Baju terlebih dahulu Dimas! Baju yang kamu kenakan itu basah semua,” Bayu memperingati.
“Baiklah Om, Dimas pinjam baju Om terlebih dahulu,” sahut Dimas.
“Ambil ini Dimas, untukmu saja.”
Dimas mengganti bajunya yang basah karena hujan dengan baju yang di berikan oleh Bayu setelah itu barulah Dimas kembali pulang sementara di sisi lain semua orang mengkhawatirkan keadaan Dimas.
“Pak ini sudah Jam 6 pagi tapi belum ada kabar dengan mas Dimas? Apa dia baik-baik saja Pak?” Ayu yang cemas.
“Semoga saja Nduk, Dimas baik-baik saja,” harap Baskoro.
Tidak lama telepon genggam yang Ayu pegang pun berbunyi.
“Mas, kamu baik-baik saja!” seru Ayu.
“Iya sayang, Mas baik-baik saja. Semua telah usai sayang,” ucap Dimas.
“Alhamdulillah, Mas sekarang di mana?” tanya Ayu.
“Mas, masih di jalan arah mau pulang sayang.”
“Ya sudah jika begitu, hati-hati di jalan Mas,” sahut Ayu menutup teleponnya.
Ayu yang terlihat sudah tenang mendengar kamar dari Dimas membuatnya bisa bernafas dengan lega. Ia juga memberikan kabar baik ini ke Baskoro.
“Alhamdulillah pak, mas Dimas telah berhasil. Semua telah usai Pak,” sahut Ayu yang memeluk Baskoro.
“Oh iya Pak? Bapak kapan ke sini dan tidak bersama ibu?” tanya Ayu yang tidak mengetahui apa-apa.
Baskoro menghela nafas panjang barulah ia menjelaskan semua kepada Ayu cerita sebenarnya.
“Ibumu telah tiada, Nduk. Ia meninggal dengan sangat mengenaskan,” jelaskan Baskoro.
“Sinta temanmu tadi yang menolongmu di sana dia juga telah meninggal dengan tragis,” sambung Baskoro yang mengetahui tentang Sinta dari Dimas.
__ADS_1
Ayu yang mendengar cerita Baskoro tidak sampai hati ia menangis di pelukan Baskoro.
“Wanita bergaun merah itu sangat jahat, apa salah mereka semua sampai ia dengan hati mencelakai mereka semua.
Baskoro mencerita kembali tujuan dari Mawar.
“Wanita bergaun merah itu bernama Mawar sari, dia meninggal dalam kecelakaan bersama suaminya, tapi karena Bayu suami Mawar sayang mencintainya, Bayu pun melakukan hal yang tidak lazim di lakukan. Bayu yang pandai melukis, telah melukis Mawar dengan menggunakan darah Mawar sendiri sampai hal itu di manfaatkan oleh iblis jahat menyerupai Mawar. Iblis itu tidak suka jika ada orang yang mengetahui rencananya pasti akan di celakai olehnya,” Baskoro yang menjelaskan.
“Lalu Pak apa hubungannya dengan Ayu.”
“Iblis itu tidak hanya memanfaatkan darah Mawar. Dia juga memanfaatkan kematian Mawar. Karena tanggal dan bulan kematian Mawar sama dengan tanggal dan bulan kelahiranmu Iblis itu mengincar tubuhmu, sukmamu yang asli di kurang iblis itu ke dalam lukisan tua itu,” Baskoro yang menjelaskan kembali.
“Jika kami telat menyelamatkan mu, maka sukmamu tidak akan bisa kembali lagi dan iblis itu akan selamanya di dalam ragamu,” sambung kembali Baskoro.
Ayu mulai mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Baskoro seperti tidak percaya dirinya mengalami hal seperti ini.
“Bagaimana jika ia kembali lagi Pak?” tanya Ayu yang sangat khawatir.
“Dia tidak akan pernah kembali lagi jika bersama pemiliknya!” Baskoro yang menegaskan.
“Syukurlah jika begitu Pak,”
Jam sudah menunjukkan jam delapan pagi Dimas pun telah sampai di depan rumahnya.
Mendengar mobil Dimas yang telah tiba Ayu berlari mendatangi Dimas di teras rumahnya.
Dimas memeluk Ayu dengan rasa kerinduan yang sangat dalam, akhirnya keluarga kecil mereka dapat kembali lagi.
Ayu yang memeluk Dimas dengan erat seakan-akan tidak mau melepas Dimas dari pelukannya.
Baskoro, pak Joko, beserta bi Ijah yang melihat mereka berdua sangat bahagia dan terharu.
“Semua telah berakhir sayang,” ucap Dimas yang masih memeluk Ayu.
“Iya Mas, malapetaka di keluarga kecil kita telah usai,” sahut Ayu dengan tangisan bahagianya.
“Aku tidak ingin kehilanganmu kembali Ayu,” ucap Dimas menatap wajah Ayu.
“Aku pun Mas.”
“Kita akan membangun keluarga kecil kita dengan bahagia,” ucap Dimas dengan senyum.
“Ayo semua kita masuk ke dalam rumah,” tegur Baskoro.
Semua masuk ke dalam rumah Dimas mengajak semuanya untuk menikmati sarapan pagi.
Tawa lepas Ayu serta senyum bahagianya telah Dimas rasakan. Kini istri tercinta telah kembali untuk selamanya.
__ADS_1