
Dua bulan telah berlalu bisnis Dimas bersama pak Rehan pun telah sukses berjalan dengan lancar.
Dimas setelah pulang kerja ingin menyampaikan kabar gembira itu.
Dimas yang bergesa keluar dari kantornya ingin segera menjemput istrinya menyampaikan kabar bahagia itu.
Sesampainya Dimas di parkiran kantor Ayu, terlihat Ayu yang sedang berdiri menunggu dirinya.
Ayu yang melihat mobil Dimas telah datang pun masuk ke dalam mobilnya.
“Maaf sayang, kamu menunggu lama,” ucap Dimas.
“Tidak kok Mas, aku baru saja keluar dari kantor,” sahut Ayu.
Dimas pun menjalankan mobilnya meninggalkan kantor Ayu menuju rumah mereka.
Di tengah perjalanan Dimas memberitahukan kepada Ayu kabar bahagia ini.
“Sayang bisnisku dengan pak Rehan berjalan dengan lancar dan juga sukses.”
“Alhamdulillah Mas, aku sangat senang mendengarnya.”
“Aku juga sudah bicara dengan pak Rehan untuk meminta cuti selama satu minggu kedepan, dan rencananya besok aku akan memesan tiket pesawat untuk kita berlibur ke paris.”
Mendengar kabar bahagia itu Ayu sangat senang.
“Apakah itu benar, Mas?” tanya Ayu yang tidak percaya.
“Iya sayang ini sungguh-sungguh, besok kita akan pergi ke paris,” Dimas yang meyakinkan Ayu.
“Aku sangat senang mendengar kabar ini Mas, jika begitu aku akan menelepon pak Damar untuk meminta cuti,” sahut Ayu yang sangat bahagia.
“Iya sayang,”
Ayu mengambil telepon genggamnya dan menelepon pak Damar.
“Hallo pak Damar.”
“Ya Ibu Ayu ada apa?”
“Begini pak, saya boleh meminta cuti satu minggu untuk menemani mas Dimas, kebetulan mas Dimas meminta saya untuk menemaninya,” ujar Ayu yang enggan berbicara jujur kepada pak Damar.
“Oh itu, tentu saja boleh Bu Ayu. Apa sekalian bulan madu,” celetuk pak Damar yang memahami maksud Ayu.
“Seperti iya Pak,” sahut Ayu dengan malu.
“Oke Bu Ayu, saya paham betul, sukses bulan madunya di sana,” celetuk pak Damar.
“Emm... Iya Pak terima kasih,” ucap Ayu yang malu.
Ayu pun menutup telepon dari pak Damar.
__ADS_1
“Bagaimana sayang? Pak Damar mengizinkan?” tanya Dimas.
“Ia Mas pak Damar mengizinkan.”
Tidak terasa mereka sudah sampai di rumah.
Sesampainya di rumah Ayu beserta Dimas di sambut oleh bi Ijah.
“Baru pulang Tuan dan Nyonya,” ucap bi Ijag yang membukakan pintu untuk mereka.
“Iya Bi, oh iya besok saya dan mas Dimas tidak ada di rumah Bi selama satu minggu,” tutur Ayu.
“Mau ke mana non dan tuan, lama sekali satu minggu?” Bi Ijah yang bertanya.
“Kami berdua mau bulan madu Bi, agar rumah ini menjadi ramai karena ada anak keci,” celetuk Dimas.
“Mas,” tegur Ayu yang malu.
“Ohhh... Iya benar yang di katakan Tuan Dimas, nanti rumah ini akan rame oleh kehadiran anak,” sahut Bi Ijah yang terseyum.
“Ya sudah Bi, saya dengan mas Dimas mau menyiapkan baju beserta perlengkapan yang akan di bawa untuk besok,” ujar Ayu meninggalkan Bi Ijah masuk ke dalam kamarnya.
Ayu mulai mempersiapkan perlengkapan dirinya beserta Dimas yang akan di bawa nantinya. Dimas pun membantu Ayu menyusun isi koper yang akan mereka bawa.
Kebetulan Dimas sudah pernah mengurus paspor mereka berdua jadi tidak ada kendala lagi untuk mereka berlibur di luar negeri.
Tidak terasa malam sudah tiba, Ayu beserta Dimas masih saja sibuk di kamar menyelesaikan perlengkapan mereka yang akan di bawa dalam satu minggu.
Bi Ijah yang sedari tadi tidak melihat majikannya keluar dari kamar berinisiatif memanggilnya untuk makan malam.
“Iya Bi sebentar lagi saya keluar,” sahut Ayu.
Tidak lama kemudian mereka berdua keluar kamar dan makan malam bersama.
Kehidupan Ayu serta Dimas kini telah bahagia mereka tidak merasa takut kembali akan teror-teror yang pernah mereka alami dulu.
***
Keesokan harinya Dimas beserta Ayu berpamitan dengan Bi Ijah dan pak Joko.
“Bi kami pergi dulu, Bibi baik-baik di rumah, dan jika ada sesuatu jangan segan telepon aja saya atau mas Dimas,” pesan Ayu kepada Bi Ijah.
“Iya Non. Non dan Tuan hati-hati di jalan,” sahut Bi Ijah.
Mereka berdua masuk mobil di antar oleh pak Joko ke bandara.
Sesampainya di bandara Dimas dan Ayu tidak menunggu lama lagi mereka pun mulai berjalan untuk menaiki pesawat menuju paris.
Setelah cukup lama di dalam pesawat akhirnya mereka pun sampai di Paris.
Sesampainya di Paris Dimas segera mencari hotel berbintang lima yang ada di Paris.
__ADS_1
Dimas beserta Ayu yang telah dapat tempat untuk menginap pun segera masuk ke kamar hotelnya.
Di dalam kamar hotel berbintang Dimas beserta Ayu istri mengganti baju mereka dengan baju tidur, setelah itu mereka berdua pun duduk di bibir ranjang yang berukuran besar untuk bersantai sebentar.
Suasana di kamar hotel itu begitu romantis dengan lampu temaram. Hanya ada lilin aromaterapi terapi berukuran kecil yang menjadi sumber pencahayaan, menambah kesan romantis ala bulan madu pada umumnya.
Dimas menggeser duduknya, mendekati sang istri yang menunduk malu. Entah kenapa Ayu masih saja merasa malu pada suaminya meski keduanya sudah lama menjalani bahtera rumah tangga. Seperti saat ini, jantungnya tak henti-hentinya bertalu-talu dengan kencang di dalam sana.
Dimas meraih jemari lentik yang saling bertaut itu, membawanya ke dalam genggaman. Pria itu mengecup lembut jemari istrinya seraya tak melepaskan tatapannya pada manik wanita yang sangat di cintainya itu.
“Aku sangat mencintaimu,” ucapnya penuh kasih.
Sorot mata Dimas menunjukkan kesungguhan.
“Aku juga mencintaimu, Mas” balas Ayu seraya mengulas senyum tulus.
Keduanya saling menatap satu sama lain, tatapan keduanya seolah menyiratkan rasa yang tak bisa di ungkapkan. Hingga detik berikutnya entah siapa yang memulai, bibir keduanya saling bertemu. Saling menyesap, yang awalnya hanya ciuman ringan berubah menjadi ciuman yang menuntut. Dimas menekan tengkuk Ayu untuk memperdalam ciuman.
Tangan Dimas turun ke bawah, meraih dua bukit kembar milik sang istri. Meremas benda kenyal itu dengan lembut, sehingga membuat Ayu mendesah.
Dimas yang mendengar ******* yang keluar dari bibir istrinya menjadi lebih bersemangat.
Dengan sekali tarik tanpa melepaskan pagutan bibir, gaun tidur berwarna hitam yang di kenakan Ayu luruh ke lantai meninggalkan tubuh terawat itu. Dimas membaringkan tubuh Ayu ke ranjang yang empuk.
Ia melepaskan tautan bibir keduanya, menciumi leher jenjang sang istri dan meninggalkan jejak kemerahan di leher putih bersih milik Ayu.
Bibir Dimas semakin turun ke bawah, melahap salah satu bukit kenyal itu seperti bayi yang sedang kehausan sementara tangan kirinya aktif meremas bukit kembar lainnya.
Ayu semakin mendesah kala jemari Dimas berpindah menyentuh lembah segitiga miliknya yang sudah basah Ayu. Ia mengerang nikmat, kedua tangannya menarik rambut Dimas demi mengontrol napsu yang semakin naik, ia menginginkan lebih. Miliknya di bawah sana sudah berkedut minta di masuki.
“Sayang, a-aku sudah tidak ta-han.” Desah Ayu dengan napas yang tersengal-sengal.
Ia merasakan benteng pertahanannya akan jebol, ia sudah tidak tahan lagi.
Dan benar saja, ia berhasil melakukan pelepasan. Tubuhnya melengkung ke atas, tubuhnya bergetar.
Dimas yang melihatnya pun tersenyum puas, ia menatap Ayu yang sedang menikmati sisa-sisa orgasme.
“Aku akan memasukimu sekarang, sayang.” Bisiknya mesra.
Wanita yang ada di bawahnya hanya mengangguk pasrah. Ia pun sudah tidak tahan ingin merasakan yang lebih dari ini.
Dimas melepaskan seluruh pakaiannya, ia merangkak naik ke atas tubuh Ayu yang telentang dengan pasrah menunggunya. Dengan perlahan, ia memasuki inti tubuh istrinya. Kamar hotel berbintang itu di penuhi dengan ******* dan erangan kenikmatan.
Rasa lelah mereka membuat mereka tertidur dengan pulas.
***
Keesokan harinya Dimas mengajak Ayu berjalan-jalan di kota Paris, Ayu sangat senang sekali terlihat tawa beserta senyum bahagia terpapar di wajah Ayu.
Di malam harinya Dimas juga mengajak istrinya untuk makan malam romantis bersamanya satu minggu penuh mereka melewati hari-hari penuh kasih berdua.
__ADS_1
Sampai akhirnya liburan mereka telah usai Dimas dan Ayu pun kembali ke Jakarta.
Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja