
Keesokan paginya Dimas mulai bergegas pergi ke kantor Ayu. Dimas yang berpamitan kepada Ayu yang sedang duduk di ruang tamu.
“Sayang aku pergi dulu, untuk menemui pak Damar selepas itu aku akan mencarikan rumah sakit yang terbaik untukmu,” ucap Dimas mencium kening istrinya.
Setelah berpamitan, Dimas pergi meninggalkan Ayu di ruang tamu bersama bi Ijah.
Dimas mulai menjalankan mobilnya ke kantor. Beberapa menit kemudian Dimas telah tiba di parkirkan kantor Ayu.
Dimas keluar dari mobilnya menuju kantor Ayu di tengah perjalanan Sinta menegur Dimas.
“Dimas!” teriak Sinta memanggil Dimas.
“Eh kamu Sin! Bagaimana kabarnya,” sahut Dimas.
“Alhamdulillah baik Dimas, eh ngomong-ngomong aku sudah seminggu tidak melihat Ayu masuk kerja ada apa dengan dia? Apakah Ayu baik-baik saja Dimas?” tanya Sinta yang khawatir kepada sahabat baiknya.
“Kabar Ayu kurang baik Sin,” ucap Dimas sambil mengela nafas panjang.
“Ada apa dengan Ayu Dimas?” Sinta yang mulai panik dengan kondisi Ayu.
“Ayu mengalami penyakit otak yang terbilang cukup langka dan ia sudah berada di luar negeri untuk menjalankan pengobatannya,” ucap Dimas yang kembali berbohong.
“I-ini serius Dimas? Kamu tidak sedang bercanda kan Dimas?” tanya Sinta kembali meyakini ucapan Dimas tidak bohong.
“Aku serius Sinta!” Dimas yang menegaskan kepada Sinta.
“Ya Allah Yu, kenapa kamu seperti ini maafkan aku,” mata Sinta mulai berkaca-kaca.
“Maafkan aku Yu,” sambung Sinta kembali.
“Aku tahu kamu sedih Sin, apa lagi aku harus menerima semua ini,” Dimas mulai kembali dengan drama kebohongannya.
“Aku minta doanya saja Sin, agar Ayu cepat pulih dan bersama kita kembali.”
“Pasti Dimas, Ayu teman baikku aku pasti akan mendoakan kesembuhannya agar ia bisa berkumpul dengan kita kembali,” tutur Sinta dengan menangis.
“Ya sudah Sin, aku mau ke ruangan pak Damar dulu untuk memberi tahukan kabar ini.”
“Iya Dimas,” sahut Sinta sembari mengusap air matanya.
Dimas pun meninggalkan Sinta bergegas pergi ke ruangan pak Damar.
Sesampainya di ruangan pak Damar.
“Permisi Pak Damar,” ucap Dimas berdiri di balik pintu.
“Silahkan masuk!” sahut Damar.
Dimas pun masuk ke ruangan pak Damar.
“Eh, Pak Dimas silahkan duduk Pak!”
“Bagai mana kabarnya Pak Dimas? Sudah lama kita tidak bertemu.”
“Alhamdulillah baik Pak Damar,”
“Ada apa, tumben Pak Dimas datang ke kantor saya. Oh iya, kebetulan sekali saya mau menanyakan tentang bu Ayu.”
Dimas menjelaskan semua apa yang terjadi kepada Ayu, ia juga menutupi penyakit yang Ayu alami sebenarnya.
“Saya turut prihatin Pak Dimas dengan kondisi ibu Ayu, saya berharap ibu Ayu dapat segera sembuh. Saya bisa memaklumi kondisi Ayu sekarang saya memberikan kompensasi kepada bu Ayu, mengingat kerja bu Ayu di perusahaan saya sangat bagus,” ujar Pak Damar.
__ADS_1
“Terima kasih Pak atas doanya, semoga bu Ayu cepat sembuh dan bisa bekerja kembali di perusahaan ini,” ucap Dimas.
“Baik Pak saya pamit terlebih dahulu, masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.”
“Oh iya Pak Dimas silahkan.”
Dimas mulai keluar dari ruangan Pak Damar, ia kembali ke mobilnya dan ingin mencari rumah sakit yang terbaik untuk Ayu.
Setelah sekian banyak rumah sakit jiwa yang Dimas datangi akhirnya Dimas menemukan sebuah rumah sakit yang cocok untuk Ayu dengan fasilitas yang terbaik.
Dimas mulai mendaftarkan Ayu di rumah sakit itu dengan di tangani oleh Dokter Heri.
“Saya berharap istri saya di tangani Dokter Heri dapat segera sembuh,” Dimas yang berharap ke Dokter Heri.
“Iya Pak Dimas, saya akan semaksimal mungkin untuk kesembuhan bu Ayu, kapan rencananya bu Ayu akan di bawa ke sini?” tanya Dokter Heri.
“Selepas saya pulang dari rumah sakit ini saya akan membawa istri saya Dok.”
“Baiklah jika begitu Pak Dimas, semakin cepat bu Ayu di bawa ke sini akan semakin baik.”
“Iya Dok saya pamit terlebih dahulu, terima kasih Dok saya sangat berharap kepada Dokter Heri.”
Dimas pun mulai bergegas keluar dari ruangan Dokter Heri kembali pulang ke rumahnya untuk menjemput Ayu.
Sesampainya di rumah Dimas mulai memerintahkan bi Ijah untuk mengemas pakaian Ayu yang akan di bawa.
Beberapa jam kemudian bi Ijah telah selesai mengemas pakaian Ayu di bantu pak Joko memasukkan tas-tas yang berisi dengan pakaian Ayu masuk ke dalam bagasi mobil.
Setelah semua telah selesai barulah Dimas menggandeng Ayu masuk ke dalam mobil.
Raut wajah sedih bi Ijah dan pak Joko yang mengantarkan majikannya sampai depan pintu. Mereka tidak pernah menyangka Ayu akan seperti ini kondisinya.
“Ya Allah non Ayu, kok sampai jadi seperti ini,” gumam bi Ijah.
“Iya Joko, aku sangat sedih melihatnya walaupun aku baru beberapa minggu kerja di sini tapi non Ayu sangat baik dan menganggap kita semua keluarganya.”
“Iya Bi, keluarga ini sangat baik kepada kita. Kita doakan saja mereka berdua bisa melewati semua ini.”
“Aamiin, Joko,” celetuk bi Ijah dengan spontan.
Bi Ijah dan pak Joko pun melihat mobil yang di kendarai Dimas pergi meninggalkan rumahnya.
Di dalam perjalanan Dimas mulai membuka obrolan kembali dengan Ayu.
“Sayang hari ini, aku antar kamu ke rumah sakit ya agar kamu bisa cepat sembuh lalu kita akan berkumpul kembali membangun keluarga kecil kita,” ucap Dimas sambil menyetir mobilnya.
Ayu menoleh ke arah Dimas kali ini, Ayu mulai merepon ucapan Dimas.
“Aku tidak sakit!” sahut Ayu dengan nada marah sambil menatap Dimas.
Bruk ( suara mobil menabrak sesuatu)
Seketika Dimas menginjak rem dengan spontan.
“Apa tadi yang aku tabrak? Sepertinya seseorang wanita,” gumam Dimas.
“Tunggu sebentar di sini, aku ingin memeriksa keadaan sekitar terlebih dahulu,” perintah Dimas.
Dengan panik Dimas turun dari mobilnya untuk melihat kondisi wanita yang ia tabrak. Saat keluar mobil Dimas dibuat heran karena ia sangat yakin jika menabrak seorang wanita.
“Aneh. Jelas-jelas aku melihat wanita itu melintas dan aku menabraknya. Tapi, di sini sama sekali tidak ada apa-apa,” ucap Dimas yang terus memeriksa sekitar mobilnya.
__ADS_1
Saat Dimas tengah sibuk mencari keberadaan wanita yang ia tabarak, di dalam mobil wanita bergaun merah tiba-tiba muncul di samping Ayu, dengan cepat wanita bergaun merah itu memegang tangan Ayu menariknya.
“Ikut denganku!” paksa wanita bergaun merah.
Sontak saja Ayu mulai kembali berteriak histeris.
“Aku tidak mau! Pergi! Pergi!” teriak Ayu.
Teriakan Ayu pun terdengar oleh Dimas dengan sergap Dimas masuk ke dalam mobil kembali.
“Ada apa sayang? Tanya Dimas khawatir.
Ayu yang melihat Dimas di sampingnya pun langsung memeluknya dengan rasa takut.
“Jangan takut aku di sini,” sahut Dimas dengan lembut sambil mengusap kepala Ayu.
Setelah beberapa menit Ayu kembali tenang dan Dimas mulai melanjutkan perjalanannya.
Beberapa jam kemudian Dimas telah tiba di rumah sakit ia langsung menemui Dokter Heri.
“Selamat siang Dok, ini istri saya,” sahut Dimas yang masuk ke ruangan Dokter Heri.
Dokter Heri melihat wajah Ayu yang tampak pucat, ketakutan, dan linglung.”
“Baik Pak Dimas, saya akan semaksimal mungkin untuk membatu menyembuhkan ibu Ayu.”
“Terima kasih Dok, saya titip istri saya.”
Setelah itu Dimas mulai keluar dari ruangan Dokter Heri sementara Ayu mulai di tangani oleh perawat namun sebelum Dimas pulang ia berpamitan dengan Ayu.
“Aku pulang dulu sayang, cepat sembuh agar kita bisa berkumpul kembali,” ucap Dimas mencium kening Ayu.
Dengan spontan Ayu memegang erat tangan Dimas dan tidak ingin melepaskannya.
Para suster mulai memaksa Ayu untuk melepas pegangannya terhadap Dimas.
“Jangan khawatir Pak, kami akan menjaga ibu Ayu. Sebaiknya bapak segera pulang.”
Dengan berat hati Dimas mulai meninggalkan Ayu di rumah sakit itu.
‘Maafkan aku sayang, semua ini aku lakukan agar kamu bisa sembuh, dan kita bisa seperti dulu,’ batin Dimas.
Dimas pun mulai pergi dari rumah saat itu akan tetapi sebelum ia ingin menjalankan mobilnya Dimas memandang lebih lama gedung rumah sakit tempat Ayu dirawat.
Setelah cukup menurutnya Dimas pun mulai menjalankan mobilnya menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah Dimas hanya melamun duduk di ruang tamu sambil memikirkan keberadaan Ayu di rumah sakit.
Melihat Dimas seperti itu bi Ijah pun mulai mendekati Dimas, menguatkan Dimas dengan nasehat-nasehatnya.
“Yang sabar ya Tuan, saya tahu ini sangat berat untuk Tuan Dimas meninggalkan non Ayu di sana sendirian, tapi pikirkan kembali kalau non Ayu tidak secepatnya di rawat akan semakin parah,” nasehat bi Ijah.
“Iya Bi, benar apa yang Bibi ucap kan, semoga dengan cara ini Ayu dapat sembuh lebih cepat,” Dimas yang berharap.
Setelah berbicara cukup lama bi Ijah pun meninggalkan Dimas kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Tuan saya pamit ke belakang terlebih dahulu, masih untuk menyelesaikan pekerjaan saya,”
“Iya Bi silahkan.”
Kemelut pikiran Dimas membuat hari ini tidak dapat bekerja ia hanya berdiam diri saja di dalam kamar, rasa sepi di rumah itu ia rasakan ketika Ayu tidak ada.
__ADS_1
Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya 🙏 terimakasih