
Keesokan paginya Sinta yang pergi ke kantor lebih awal ia ingin menceritakan kejadian tadi malam yang dia alami kepada Ayu. Sesampainya di kantor Sinta melihat Ayu belum ada di meja kerjanya kebetulan Ayu dan Sinta satu ruangan.
Melihat Ayu belum datang Sinta pun menunggunya di meja kerjanya. Selang beberapa menit Ayu pun tiba dan duduk di meja kerjanya.
Sinta yang melihat Ayu sudah datang menghampirinya.
“Ayu, aku mau cerita?” ujar Sinta dengan ekspresi muka yang serius.
“Ya sudah cerita aja sin,” sahut Ayu yang sibuk mengeluarkan laptopnya.
“Yu, aku serius ini,” Sinta yang mulai kesal akibat tidak dipedulikan oleh Ayu.
“Iya Sin, aku dengerin kok kamu mau cerita apa?”
Sinta pun mulai bercerita kepada Ayu.
“Begini waktu aku sudah sampai di rumah, aku bermimpi aneh.”
“Mimpi aneh apa Sin?” celetuk Ayu yang memotong pembicaraan Sinta.
“Sebentar aku belum selesai bercerita sudah kamu potong aja. Aku bermimpi Wanita yang ada di lukisan itu datang dengan Wajah bersimbah darah segar lalu Wanita itu mendekati aku dan berkata Jangan ikut campur,” Sinta yang menceritakan kejadian malam tadi yang di alami olehnya.
“Ah kamu Sin kebanyakan nonton film horor jadi ke bawa ke mimpi, mana ada lukisan yang bisa hidup. Itu hanya halusinasi mu aja, kebanyakan nonton film horor,” sahut Ayu yang tidak percaya.
“Ini serius yu, sepertinya kamu harus berhati-hati dengan lukisan itu Yu,” ucap Sinta yang memperingati Ayu.
“Udah ah Sin, lukisan itu tidak apa-apa dan itu hanya sebulah lukisan benda mati.”
Ayu yang tidak mempercayai ucapan Sinta ia tidak menghiraukan peringatan Sinta kepadanya.
Sinta yang melihat temannya tidak percaya dengan ucapannya terdiam lalu kembali ke meja kerja melanjutkan pekerjaan yang belum selesai ia kerjakan. Namun, Sinta merasakan bahwa lukisan itu sangat berbahaya.
‘Bagaimana cara agar Ayu percaya dengan ucapanku,' gumam Sinta dengan terdiam memandangi laptopnya yang berada di meja kerjanya.
Sinta masih saja memikirkan bagaimana cara agar Ayu percaya kepadanya lalu membuang lukisan itu, karena Ayu adalah temannya sedari kuliah hingga bekerja.
Tidak terasa jam pun menunjukkan pukul 13.00 waktu beristirahat. Ayu yang melihat Sinta berdiam saja tidak seperti biasanya mulai menghampari dan mulai mencoba mengajak Sinta keluar kantor untuk makan siang bersama.
“Sin, dari tadi aku perhatikan kamu diam saja enggak seperti biasanya! Kamu masih memikirkan kejadian malam itu?” tanya Ayu kepada sahabatnya yang tidak seperti biasanya.
“Eh Ayu, enggak kok bisa aja,” Sinta berusaha menutupi kegelisahannya.
“Sudah tidak perlu kamu pikirkan percaya kepadaku semua akan baik-baik saja,” celetuk Ayu yang tersenyum berusaha menenangkan sahabat karibnya itu.
“Aku hanya khawatir kepadamu,” jawab Sinta memandang wajah Ayu.
“Sudah ah, aku tidak apa-apa dan baik-baik saja lebih baik sekarang kamu ikut aku kita ke kantin, aku laper nih,” ajak Ayu kepada Sinta.
“Oke deh yuk kita ke kantin,” sahut Sinta yang mulai merasa tenang.
Mereka berdua pergi ke kanti yang letaknya di belakang kantor.
Sesampainya di sana Ayu dan Sinta pun mulai memesan makan siang sambil berbincang-bincang santai.
Saat mereka tengah asyik berbincang-bincang Firman datang menghampiri mereka berdua. Firman adalah kekasih dari Sinta, ia adalah salah satu manajer di perusahaan yang menaruh hati kepada Sinta.
“Kalian makan kok enggak ngajak-ngajak,” celetuk Firman.
“Habis kamu sibuk terus,” sahut Ayu.
“Iya tadi aku meeting sebentar sama pak bos yu,” sahut Firman sambil memesan makan untuknya.
__ADS_1
“Sin kok diam aja, kamu mau aku antar pulang?” Firman menawarkan diri kepada Sinta
“Iya dari tadi pagi tuh Sinta diam aja!” ucap Ayu yang memberitahukan kepada Firman.
“Kenapa Sin? Apa kamu lagi memikirkan aku,” celetuk Firman yang mengajak Sinta bercanda.
“Apaan sih firman, aku hanya lagi sedang memikirkan sesuatu saja,” jawab Sinta.
“Kamu masih memikirkan mimpimu itu Sin,” tanya Ayu.
“Enggak kok, Yuk.”
“Kalian ngomongin apa sih, Oh iya gimana tawaranku tadi?” tanya Firman kepada Sinta.
“Aku bawa mobil Firman.”
“Udah gampang, nanti mobilmu biar sopirku yang bawa, dan kamu aku antar pakai mobilku,” Firman menawarkan ajakannya kepada Sinta.
“Iya deh,” sahut Sinta
Mereka bertiga melanjutkan makan siang sembari berbincang-bincang.
Setelah selesai menghabiskan makan siang bersama. Ayu, Sinta, dan juga Firman kembali ke ruangan mereka masing-masing melanjutkan pekerjanya.
Pekerjaan berjalan dengan lancar hingga jam kerja pun telah berakhir.
“Yu kamu duluan, aku mau ke toilet dulu nanti kalau kamu ke temu Firman kamu bisa memberitahunya.”
“Oke deh, ya udah aku duluan yah Sin, hari ini Dimas pulang dan aku di jemput dia.”
Ayu mulai meninggal Sinta pergi dari ruangannya keluar kantor menuju parkiran mobil, Dimas yang sudah sedari tadi sedang menunggunya.
Di saat Ayu keluar dari kantor ia bertemu dengan Firman yang menanyakan keberadaan Sinta karena di kantin tadi mereka sudah janji untuk pulang bersama.
“Oh tadi dia bilang sama aku katanya dia mau ke toilet di suruh menunggu sebentar,” ucap Ayu yang memberitahukan Firman.
“Oh ya sudah kalau begitu, aku kira dia lupa dengan janjinya.”
“Ya sudah aku duluan yah Firman, suamiku sudah menunggu aku dari tadi.”
“Oke sip, terima kasih infonya.”
Ayu pun meninggalkan Firman bergegas menemui suaminya. Terlihat Dimas sedang duduk di dalam mobilnya sambil mendengarkan musik Ayu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
“Maaf yah sayang, lama yah menunggunya?” tanya Ayu.
“Enggak kok, kalau buat istriku apa saja akan aku lakukan apa lagi cuma menunggu,” Dimas yang mulai menggombal kepada Ayu.
“Aku tuh kangen sama kamu sayang, nanti kamu enggak akan meninggalkan aku keluar kota lagi kan?” tanya Ayu dengan sikap manjanya.
“Iya enggak kok pekerjaanku telah selesai yang di sana, yuk mari kita pulang.”
Dimas mulai menjalankan mobilnya menuju rumah mereka. Sementara Sinta yang sedang berada di kamar mandi di kejutkan oleh sesuatu yang mengerikan.
Sinta yang sedang mencuci mukanya di wastafel di kejutkan dengan sosok bayangan Wanita yang terlihat di cermin dengan samar-samar.
Karena ia penasaran dengan sosok bayangan wanita yang berada di cermin itu Sinta menoleh ke belakang .Namun, tidak ada satu orang pun di belakang Sinta, lalu Sinta mencoba melihat ke cermin itu kembali. Sosok bayangan wanita itu pun mulai terlihat jelas rasa takut mulai di rasakan oleh Sinta, ia mencoba menoleh ke belakang, lagi-lagi tidak ada siapa-siapa.
Sinta yang sangat ketakutan mulai berlari ingin keluar ia mencoba membuka pintu kamar mandi akan tetapi, pintu itu tidak bisa di buka seakan seperti terkunci.
Sinta yang mulai panik menggedor-gedor pintu kamar mandi Ia juga berteriak meminta tolong berharap ada yang membantunya tapi tidak ada satu pun yang mendengar teriakan Sinta.
__ADS_1
Karena tidak ada satu orang pun yang mendengar terikannya, akhirnya Sinta mencoba memberanikan diri, ia kembali menoleh ke belakang berharap Wanita bergaun merah itu tidak ada.
Ternyata malah sebaliknya sosok wanita bergaun merah masih ada di belakang Sinta.
Sinta mencoba memberanikan dirinya menanyakan siapa sebenarnya sosok Wanita bergaun merah yang selalu saja menerornya.
“Siapa kamu dan mengapa kamu menggangguku,” tanya Sinta kepada sosok wanita bergaun merah itu.
“Kau terlalu banyak ikut campur dan harus mati!” ancam sosok wanita itu lalu mendekati Sinta.
Sinta pun semakin histeris karena rasa takutnya ia mulai mencoba kembali mengedor dan berteriak pintu kamar mandi itu dengan sekuat tenaga.
“Tolong ... Tolong ...” teriak Sinta dengan histeris.
Sosok wanita bergaun merah itu mulai mendekati Sinta mengarahkan kedua tangannya ke depan seperti ingin mencekik Sinta.
Teriakan Sinta semakin histeris di kala wanita sudah sangat dekat dengan dirinya.
Ceklek (suara pintu terbuka)
Firma membuka pintu kamar mandi lalu masuk ke dalamnya, melihat sosok Firman di depannya, Sinta pun langsung memeluknya karena rasa takut kepada sosok wanita bergaun merah itu.
“Sin ada apa Sin?” tanya Firman yang kebingungan.
“Aku takut Firman, dia ingin membunuhku!”
“Dia siapa Sin, di sini tidak ada orang.”
“Dia yang datang tadi malam meneror ku dan sekarang ingin membunuhku.”
Ucap Sinta membuat Firman tambah bingung.
“Ayo sebaiknya kita keluar dari sini dan kamu tenangkan dirimu di mobilku, berceritalah pelan-pelan aku akan mendengarkannya apa yang sebenarnya terjadi.”
Firman mengajak Sinta keluar dari kamar mandi itu dan membawanya ke mobilnya untuk menangkan diri Sinta.
Sesampainya di dalam mobil Firman memberikan Sinta sebotol air putih.
“Nih minum biar kamu tenang Sin, aku antar kamu pulang mobilmu biar di bawa sama sopirku,” Firman yang menyodorkan sebotol air putih kepada Sinta.
Sinta membuka tutup botol itu lalu meminumnya.
“Terima kasih yah Firman kamu sudah menolongku.”
“Aku tadi di beri tahu oleh Ayu kamu sedang di kamar mandi, terus aku menunggu kamu, tapi kamu tidak kunjung datang lalu aku mendatangi kamu, terdengar teriakan kamu minta tolong, aku pun berlari dan membuka pintu kamar mandi terus menemukan kamu yang ketakutan sambil memeluk diriku,” Firman yang menjelaskan kepada Sinta.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” sambung Firman yang sangat penasaran.
“Jika aku menceritakan semuanya apakah kamu percaya kepadaku?” tanya Sinta.
“Aku percaya kepadamu Sin, sama halnya dengan hatiku yang memilih bersamamu,” celetuk Firman sembari menjalankan mobil menuju rumah Sinta.
Sinta pun mulai bercerita asal mula kejadian ia melihat lukisan wanita di kamar Ayu sampai dengan teror demi teror yang ia terima dari wanita bergaun merah.
Firman yang mendengarkan cerita Sinta berusaha untuk menenangkan Sinta.
“Sin, selama aku bersamamu aku akan melindungimu,” sahut Firman yang mencoba menenangkan Sinta.
“Terima kasih Firman.”
Mendengar ucapan dari Firman hati Sinta mulai sedikit tenang.
__ADS_1
Bersambung gengs.