
Keesokan sorenya selepas Dimas pulang dari kantornya Dimas langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Ayu, seperti biasa Dimas selalu membawakan buah-buahan kesukaan Ayu dan juga makanan yang Ayu gemari.
Mobil Dimas telah sampai di perkiraan rumah sakit, Dimas keluar dari mobilnya dengan membawa dua buah kantong keresek yang berisi buah dan makanan.
Dimas mulai berjalan menuju rumah sakit rasa senang terlihat di wajahnya dengan senyum yang tipis Dimas berjalan menuju ruangan Ayu.
‘Aku rindu dengan mu sayang,' batin Dimas.
Sesampainya di ruangan Ayu Dimas menghampiri istri yang selalu duduk di ranjangnya memandang langit biru di balik jendela.
“Sayang aku datang lagi, bagaimana keadaanmu hari ini?” tanya Dimas.
“Oh iya, aku membawakan makan dan buah-buahan kesukaanmu kamu pasti suka.”
Dimas mulai mengupas buah jeruk yang ia bawa dengan lembut menyuapi Ayu.
Saat Dimas sedang asyik mengajak Ayu berbincang-bincang pakaian lengan panjang Ayu tergulung ke atas.
Dimas mulai memegang tangan Ayu lalu menarik lengan pakaian Ayu ke atas. Alangkah terkejutnya ia melihat banyaknya goresan benda tajam di tangan Ayu.
Dengan sangat penasaran Dimas pun mengulangi hal yang sama untuk melihat di tangan kiri Ayu apa kah sama seperti yang ia lihat.
Ternyata sama Dimas mulai mengamati kembali sekujur tubuh istrinya ternya bayak sekali goresan luka di tubuh Ayu.
Dimas pun mulai khawatir dengan keadaan sekujur tubuh istrinya banyak goresan luka-luka.
“Ada apa dengan mu sayang? Mengapa tubuhmu banyak sekali luka goresan?” tanya Dimas kepada Ayu yang terdiam.
Ayu tidak merespon ucapan Dimas, dengan sangat khawatir Dimas mulai keluar dari kamar Ayu menuju ruangan Dokter Heri. Ia ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya tersebut.
Sesampainya di depan ruangan Dokter Heri kali ini Dimas tidak menunggu lama ia langsung di panggil di suruh masuk oleh suster.
Dimas duduk di kursi yang telah di sediakan di ruangan Dokter Heri.
Dengan penasaran Dimas langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada istrinya.
“Dokter sebenarnya apa yang terjadi dengan istri saya? Kenapa sekujur tubuhnya terdapat banyak luka goresan benda tajam?” tanya Dimas yang panik.
“Begini Pak Dimas, tadi malam ibu Ayu mengamuk kembali lalu saya dan beberapa suster menghampiri ibu Ayu dan saya menyuntikan obat penenang, tapi setelah Ibu tidak sadarkan diri ada banyak bercak darah di pakaian ibu Ayu. Saya menyuruh para suster untuk melihat ternyata yang seperti Bapak Dimas lihat banyak sekali luka goresan benda tajam di tubuh Ayu,” Dokter Heri mulai menjelaskan.
“Lalu Dok?” tanya Dimas yang penasaran.
“Padahal di ruangan ibu Ayu tidak ada benda tajam sama sekali dan suster pun menjaga kebersihan tubuh pasien kuku ibu Ayu selalu di rapikan oleh suster agar ia tidak melukai dirinya sendiri.”
__ADS_1
“Lalu apa yang sebenarnya terjadi kepada istri saya Dok?”
“Kami pun tadi pagi melakukan pemeriksaan ulang saya takut kalau ibu Ayu mempunya riwayat alergi dengan jenis pakaian berbahan tertentu. Namun hasilnya pemeriksaan kami negatif ibu Ayu tidak menderita alergi yang seperti saya ucapkan, dan yang membuat saya bingung luka di tubuh ibu Ayu itu muncul ketika malam di waktu sedang mengamuk selang beberapa menit saja kami datang. Jelas tidak akan mungkin seorang pasien dengan waktu secepat itu melukai tubuhnya sendiri.”
“Gejala luka goresan yang ada di tubuh ibu Ayu masih kami periksa secara mendetail Pak Dimas, saya harap Bapak Dimas dapat bersabar menunggu pemeriksaan dari saya.” Sambung Dokter.
“Baiklah jika begitu Dok, saya percayakan semua ini kepada Dokter. Saya ingin kembali ke ruangan istri saya terlebih dahulu Dok.”
Dimas yang keluar meninggalkan ruangan Dokter Heri kembali menuju kamar Ayu.
Sesampainya di kamar Ayu Dimas duduk kembali di samping Ayu.
“Kamu pasti sakit sayang dengan luka-luka sebanyak ini, andai bisa sebaiknya Mas saja yang menggantikan semua ini. Mas tidak kuasa melihatmu seperti ini hati Mas terasa sakit melihat orang yang Mas sayangi menderita seperti ini,” sahut Dimas sembari mengelus lembut kepala istrinya.
Beberapa jam kemudian jam besuk pun telah selesai Dimas berpamitan kepada Ayu untuk pulang.
“Sayang Mas pulang dulu, besok selepas pulang kerja Mas akan ke sini kembali.”
Dimas pun menunggalkan Ayu sendirian di ruangannya.
***
Di malam harinya saat suster dapat giliran berjaga di rumah sakit, seorang suster yang melihat wanita bergaun merah mencerita kepada suster yang lain.
“Terus bagaimana Na?” tanya salah satu suster.
“Karena aku sangat penasaran akhirnya aku masuk ke ruangan nyonya Ayu, awalnya aku masuk tidak apa-apa sampai aku cari di dalam mandi tidak ada apa-apa, lalu aku memutuskan untuk kembali ke tempat tidur nyonya Ayu untuk memeriksanya,” suster Ana mulai bercerita.
“Aku pun terkejut dengan sosok wanita bergaun merah itu berdiri persis di samping nyonya Ayu, dia menatap dan menyeringai ke arahku sontak saja aku terkejut dan bergegas keluar ruangan. Wajahnya sangat mengerikan sekali penuh luka yang terkoyak dan juga darah,” sambung Suster Ana.
“Mengerikan sekali ceritamu membuat bulu kudukku berdiri seketika Na,” celetuk salah seorang Suster.
“Sudahlah jangan bercerita yang seram lagi aku jadi takut, mana ini sudah jam dua belas malam,” sambung kembali salah satu suster itu.
Di ruangan VIP Ayu yang sedang tertidur di atas ranjangnya bermimpi di sebuah ruangan gelap. Di ruangan itu ia melihat kembali wanita bergaun merah di hadapannya sembari memegang pergelangan tangannya.
“Ikutlah denganku Ayu, maka kau tidak akan menderita kembali. Lagi pula tidak ada satu orang pun yang percaya dengan cerita bahkan membantumu!”
Kali ini Ayu tidak bisa pergi ke mana-mana karena pergelangan tangannya di pengang erat oleh wanita bergaun merah.
“Apa yang kau mau dari diriku!” sahut Ayu dengan menangis karena tidak bisa pergi.
“Nanti kau akan mengetahuinya, mari ikut bersamaku maka kau tidak akan aku teror lagi!” ucap wanita bergaun merah seakan-akan memberi
__ADS_1
kesempatan kepada Ayu.
“Baiklah aku akan ikut denganmu!” sahut Ayu dengan paras sedih.
“Ha-ha-ha, jika dari dulu kau seperti ini aku tidak akan menyakitimu!”
Ayu pun terbangun dari tidurnya dengan nafas yang tersengal-sengal keringat dingin membasahi wajahnya.
Kejadian aneh terjadi kembali kepada Ayu.
Ayu mulai membuka pakaian yang ia kenakan luka-luka goresan pun hilang seketika.
‘Luka-luka goresan ini telah hilang’ batin Ayu.
Aku pun mulai merasa membaik dan ia melanjutkan tidurnya sementara di sisi lain Dimas bermimpi tentang Ayu kembali.
Di tempat yang sama di sebuah ruangan yang gelap namun masih bisa ia melihat di sekitar ruangan itu.
Terlihat Ayu yang berdiri sendirian di ruangan yang gelap, Dimas menghampirinya dan ingin mengajaknya pulang.
“Sayang sedang apa kamu sendirian di sini mari kita pulang?” ajak Dimas.
Namun Ayu tidak bersuara sedikit pun ia berjalan di dalam kegelapan lalu menghilang seperti tertelan oleh kegelapan itu.
Dimas pun mencari istrinya dan memanggil-manggil namanya.
“Ayu! Ayu! Ayu!” teriak Dimas lalu terbangun dari mimpinya.
‘lagi-lagi aku bermimpi sama! Semoga saja ini hanya mimpi karena aku mungkin terlalu memikirkan Ayu,' gumam Dimas sembari berpikir positif.
Dimas berdiri dari tempat tidurnya mengambil segelas air putih yang terletak di atas meja kamarnya.
Setelah selesai ia meletakan gelas itu kembali di atas meja lalu mengambil bingkai foto kembali.
Dimas membelai dengan lembut bingkai foto yang terdapat foto Ayu dan dirinya.
Dimas mencium lembut bingkai foto itu sebelum ia melanjutkan tidurnya kembali.
‘Aku merindukanmu sayang’ gumam Dimas sambil mencium bingkai foto itu.
Setelah ia selesai Dimas meletakan kembali bingkai foto itu berjalan menuju tempat tidurnya.
Selang beberapa menit Dimas mulai tertidur dengan lelap.
__ADS_1
Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih.