
Beberapa hari selepas kepergian Dimas keluar kota kondisi Ayu semakin memburuk, ia jarang masuk kantor ditambah lagi Ayu mulai sering menyendiri di kamar terkadang ia juga sering berteriak-teriak histeris.
Di malam harinya bi Ijah yang mendengar teriakan Ayu yang histeris pun menghampirinya.
“Pergi! Jangan ganggu aku! Pergi!” teriak Ayu terdengar menggema di ruangan tersebut.
“Non Ayu ada apa!” panggil bi Ijah di balik pintu kamar.
Ayu tetap saja tidak memedulikan panggilan bi Ijah, ia masih berteriak menyuruh seseorang untuk pergi.
Bi Ijah dengan inisiatifnya membuka pintu kamar Ayu yang ternyata tidak di kunci oleh Ayu.
Pintu kamar Ayu terbuka bi Ijah pun segera menghampiri Ayu, terlihat Ayu yang duduk di atas ranjang sedang meringkuk sambil memeluk ke dua lututnya dengan ekspresi ketakutan. Bi Ijah yang melihat kondisi Ayu seperti itu pun segera menghampirinya.
“Non, ada apa?” tanya bi Ijah duduk di samping Ayu.
Ayu tidak menghiraukan ucapan bi Ijah, ia masih saja meringkuk dengan ekspresi ketakutan. Ucapan bi Ijah yang tidak di respon oleh Ayu mencoba menanyakan lagi.
“Non Ayu kenapa? Coba bicara sama Bibi?”
Dengan wajah takut dan tatapan kosong Ayu tidak merespon ucapan bi Ijah. Bi ijah yang bingung pun melihat di sekeliling kamar Ayu apa yang sebenarnya terjadi namun, bi Ijah tidak mendapatkan hal yang aneh hanya saja bi Ijah melihat di meja ada beberapa pil obat yang berserakan.
Melihat Ayu yang ketakutan bi Ijah memeluknya sampai akhirnya Ayu mulai mengantuk tidak sadarkan diri akibat reaksi obat yang ia minum, ayu pun tertidur bi Ijah menyelimutinya.
Setelah itu bi Ijah keluar kamar ingin mencari Joko.
Terlihat Joko duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi dan rokok.
Pak Joko menyeruput kopinya sambil berkata.
“Wenak tenan,” ucap Joko sambil menyeruput kopinya.
“Joko, di cari-cari malah di sini sekalinya.”
“Ada apa sih Bi kok kelihatannya sedang terburu-buru. Menggangguku sedang menikmati hidup saja!” sahut Joko dengan santainya.
Bi Ijah menghampiri Joko dan duduk di sampingnya.
“Kamu itu keadaan lagi genting malah santai di sini!” sahut bi Ijah yang kesal.
“Iya ada apa bi?” tanya Joko dengan lembut.
__ADS_1
“Itu loh, non Ayu makin lama kondisinya mentalnya semakin memburuk selepas tuan Dimas pergi keluar kota!”
“Memburuk bagaimana? bukannya non ayu lagi sakit.”
“Iya Joko, sepertinya mental non Ayu yang sakit, dia sering menyendiri di kamar ditambah lagi suka teriak-teriak histeris,” jelaskan bi Ijah.
“Apa lagi tadi waktu aku dengan non Ayu teriak, aku langsung masuk ke kamarnya terus aku tanya ada apa dia gak jawab apa lagi merespon, berulang-ulang kali aku tanya, tetap saja non Ayu diam ketakutan di tambah tatapan matanya yang kosong Joko,”
sambung bi Ijah.
“Ah, masa Bi?” Joko yang tidak percaya.
“Kamu itu dibilangin orang tua loh kok tidak percaya, aku ini serius, Joko!”
ucap bi Ijah yang di buat kesal.
“Iya aku percaya Bi, apa non Ayu
kesambet lukisan yang ada di kamarnya,” ucap Joko dengan ekspresi wajah mulai ketakutan.
“Ini lagi, kalau ngomong ngelantur, lukisan itu tidak ada apa-apa memang kamu pernah liat hantu di lukisan itu!”
“Tidak Sih Bi, hanya saja non Ayu pernah membakar lukisan itu tapi tidak ke bakar.”
“Terus kita harus bagaimana Bi, apa sebaiknya kabari Tuan Dimas tentang kondisi non Ayu,” saran Joko.
“Aku rencananya juga begitu mau menelepon tuan Dimas. Ya sudah tak tinggal dulu.”
Bi Ijah meninggalkan Joko pergi ke ruang tamu untuk menelepon Dimas dengan telepon rumah.
“Hallo Bi Ijah ada apa?”
“Hallo tuan Dimas, i-itu saya memberi tahukan kondisi non Ayu memburuk Tuan.”
“Memburuk seperti apa Bi Ayu sakit?”
“Entah tuan sekarang non Ayu suka menyendiri di kamar terkadang teriak-teriak histeris. Bibi jadi bingung harus berbuat apa?”
“Ya sudah Bi, besok lusa saya pulang, saya titip Ayu dulu Bi. Dan kalau ada apa-apa tolong kabari saya Bi!” Dimas yang mulai khawatir.
“Baik Tuan.”
__ADS_1
“Terima kasih Bi,” ucap Dimas sambil menutup teleponnya.
Malam semakin larut bi Ijah pun mulai kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Di pukul 02.00 dini hari Ayu mulai teriak histeris kembali, bi Ijah yang mendengar teriakan Ayu menghampirinya dan duduk di sampingnya.
“Ada apa Non?”
“O-obat Bi di meja!” perintah Ayu dengan takut.
Bi Ijah dengan sigap pun mengambilkan obat dan juga segelas air yang di perintahkan Ayu.
Ayu mulai menumpahkan beberapa pil obat yang berada di dalam botok ke telapak tangannya lalu langsung meminumnya.
“Non banyak sekali obatnya yang di minum?” tanya bi Ijah yang khwatir.
Ayu tidak memperdulikan bi Ijah reaksi obat mulai berjalan ia pun mulai tertidur kembali.
Kali ini Ayu mulai ketergantungan dengan obat penenang dam mulai meminum dengan dosis yang berlebihan.
Melihat Ayu yang mulai tertidur kembali bi Ijah menyelimutinya.
‘Kasihan sekali Non Ayu, semoga tuan Dimas cepat pulang,' bi Ijah.
Bi Ijah pun ke luar dari kamar Ayu kembali ke kamarnya.
Namun saat bi Ijah keluar dari kamar Ayu Joko sudah berdiri di depannya.
“Astagfirullah, Joko kamu bikin kaget aku saja!” celetuk bi Ijah dengan spontan.
“Bagaimana Bi, kondisi non Ayu?”
“Kasihan Joko, semoga tuan Dimas cepat pulang, kita tidak bisa berbuat apa-apa Joko,” bi Ijah yang berharap.
“Iya Bi, semoga tuan Dimas cepat pulang.”
“Ya sudah aku mau ke kamar lanjut tidur lagi,” sahut bi Ijah yang pergi meninggalkan Joko.
***
Keesokan harinya Ayu tidak keluar dari kamarnya kondisinya semakin memperhatikan ia dengan tatapan kosong serta pucat menyendok makanan yang di antarkan bi Ijah ke kamarnya.
__ADS_1
Terkadang ditanya pun oleh bi Ijah Ayu hanya menoleh tapi tidak bicara satu patah kata pun, ia lebih memilih diam dan tidur.
Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya 🙏 terimakasih