Misteri Lukisan Tua

Misteri Lukisan Tua
Pergi Bersamanya


__ADS_3

Keesokan harinya Ayu menelepon pak Gunawan meminta ijin bahwa dirinya tidak dapat masuk kerja hari ini.


Setelah Ayu di perbolehkan tidak masuk kerja hari ini ia di temani Baskoro beserta Dimas ingin pergi jiarah ke makam ibunya dan juga Sinta.


“Ayo pak!” ajak Ayu yang telah siap masuk ke dalam mobil.


“Iya Nduk, Bapak sudah siap,” tutur Baskoro.


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil pergi ke makam Lasmi barulah setelah itu di lanjutkan ke makam Sinta.


Jarak antara rumah Ayu dengan makan ibunya tidak terlalu jauh hanya memakan waktu satu jam sampai di tempat itu.


*** 


Satu jam kemudian Ayu telah tiba di pemakaman ibunya.


Ayu, Baskoro dan juga Dimas menggunakan pakaian serba hitam.


Dimas mulai memarkirkan mobilnya, mereka bertiga pun keluar dari dalam mobil berjalan menuju tempat peristirahatan terakhir Lasmi.


Ayu tiba di sebuah makam yang masih baru tertulis nama Lasminah.


Ayu mendekati makan Lasmi membacakan doa untuknya barulah Ia menaburkan bunga di makam Lasmi ibunya.


“Bu, maafin Ayu. Ayu belum sempat bertemu dengan ibu di hari pernikahan Ayu hingga ibu pergi untuk selamanya,” ucap Ayu yang menangis sedih.


Baskoro mendekati Ayu ia mencoba menenangkan Ayu yang sedang bersedih itu.


“Nduk, sudah ikhlaskan ibumu, dia sudah tenang di sana, ibumu akan sedih jika melihatmu bersedih,” tutur Baskoro.


Mendengar ucapan Baskoro Ayu mengusap air matanya dan berpamitan pulang kepada almarhum ibunya.


“Bu Ayu, bapak dan mas Dimas pamit pulang terlebih dahulu. Nanti Ayu akan kembali lagi di lain waktu bersama mas Dimas, semoga amal ibadah ibu di terima Allah dan mendapat tempat yang layak disisiNya untuk ibu Aamiin,” ucap Ayu.


Setelah selesai mereka pun berjalan menuju makam Sinta. Lasmi dan Sinta di kuburkan di tempat pemakaman yang sama.


Setelah beberapa menit berjalan Ayu bertemu dengan makam Sinta.


“Sin maafin aku, jika selama ini aku ada salah denganmu. Terima kasih kamu sudah membantuku di detik-detik terakhir, semoga amal kebaikanmu selama ini di terima Allah dan di beri tempat yang layak disisiNya  Aamiin,” doa Ayu kepada Sinta.


Setelah selesai berjiarah ke makam Lasmi dan Sinta.


Ayu menemani Baskoro ke bandara.


Kali ini karena tugas Baskoro telah selesai ia pun kembali pulang ke kampung tempat tinggalnya.


Di perjalanan menuju bandara mere sedang berbincang-bincang.

__ADS_1


“Pak kenapa tidak tinggal di Jakarta saja bersama Ayu dan mas Dimas,”  ucap Ayu yang duduk di kursi belakang mobil bersama bapaknya.


“Tidak Nduk, nanti tidak ada yang mengurus kebun karet bapak di sana Nduk,” sahut Baskoro.


“Bapak kan sudah tidak muda lagi, nanti kalau di sana siapa yang mengurus Bapak sedangkan ibu sudah tidak ada?” sahut Ayu yang memikirkan Bapaknya.


“Sudahlah tenang saja Bapak masih bisa mengurus diri Bapak sendiri,” sahut Baskoro dengan senyum.


“Iya loh Pak, benar yang di katakan Ayu lebih baik Bapak tinggal bersama kami saja. Nanti di sana siapa yang mengurus Bapak?” celetuk Dimas.


“Tidak usah Nak Dimas, tenang saja Bapak masih bisa mengurus diri Bapak sendiri,” ucap Baskoro.


Dua jam telah berlalu mereka pun telah sampai di bandar.


Ayu beserta Dimas keluar dari dalam mobil mengantarkan Baskoro ke dalam bandara.


Ayu memeluk Baskoro dengan erat.


“Hati-hati ya Pak, jaga diri Bapak baik-baik,” ucap Ayu memeluk Baskoro.


“Iya Nduk kamu juga baik-baik di sini sama suamimu. Jangan fokus kerja terus Bapak sudah rindu dengan kehadiran cucu di keluargamu,” sahut Baskoro.


“Iya Pak, Pak doakan saja semoga cepat isi” sahut Ayu dengan tersenyum.


Pesawat yang akan dinaiki Baskoro akan berangkat Ayu dan Dimas memeluk Baskoro.


***


Di malam harinya menjelang azan magrib Dimas mengajak Ayu untuk sholat berjamaah.


Di dalam sholatnya Dimas berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


‘Ya Allah terima kasih sudah menyelamatkan keluarga kecil hamba dari malapetaka ini, lindungilah keluarga hamba dari hal buruk dan berikanlah keturunan yang soleh berbakti kepada kedua orang tuanya Aamiin,” ucap Dimas menadahkan kedua tangannya untuk berdoa.  


Setelah selesai sholat Ayu pun mencium punggung tangan Dimas.


Sementara di sisi lain keadaan Bayu kuncoro sendiri sedang bersedih ia terus menerus memandangi tulisan Mawar.


Hingga di malam itu Bayu mengenakan Jas yang pernah ia gunakan untuk pergi bulan madu bersama Mawar. Lukisan Mawar di letakan di atas tempat tidur Bayu di atas lukisan itu terdapat gaun merah yang pernah Mawar kenakan di saat kecelakaan berdarah itu.


‘Sebentar lagi kita akan bersama Mawar,' gumam Bayu di depan cermin sambil melihat lukisan Mawar yang berada di kasurnya.


Setelah Bayu selesai bercermin ia pergi ke dapur membawa korek api dan satu buah botol yang di dalamnya terdapat cairan yang sangat mudah terbakar.


Bayu menyiramkan cairan itu ke segala ruangan yang ada di rumahnya, hingga terakhir Bayu masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu setelah itu membuang kunci itu.


Bayu mulai menyiram-nyiramkan kembali cairan yang mudah terbakar tadi. Di seluruh kamar hingga habis 

__ADS_1


Setelah itu Bayu naik ke atas tempat tidurnya membaringkan tubuhnya bersama lukisan Mawar.


“Kita akan bersama sekarang Mawar. Aku sudah tidak sanggup tanpa mu di dunia fana ini,” ucap Bayu.


Bayu mengeluarkan korek api di kantong celananya dengan membawa secarik kertas.


Bayu mulai mematik korek api setelah itu Bayu membakar secarik kertas yang ada di tangannya terlihat api yang telah nyala membakar secarik kertas yang di pegang Bayu.


Lalu Bayu membuangnya di lantai dengan tersenyum. Ternyata lantai itu terdapat cairan yang mudah terbakar yang di siramkan oleh Bayu.


Seketika api mulai membesar melahap semua yang ada di makar itu, tidak berselang lama rumah Bayu beserta isinya terlahap kobaran Api yang sangat besar.


Warga di gang itu mulai panik melihat kobaran api yang memakan rumah Bayu, segala upa oleh para warga di serta dengan para petugas kebakaran yang ingin memadamkan api itu.  


Untung saja jarak antara rumah Bayu dengan rumah para warga lumayan berjauhan sehingga belum sempat mengenai rumah warga yang lain.


1 jam telah berlalu Api yang melahap rumah Bayu benar-benar dapat dipadamkan sementara Bayu di selamatkan dalam keadaan kritis dengan luka bakar di sekujur tubuhnya.


Petugas ambulan secepatnya membawa Bayu ke rumah sakit terdekat namun karena luka bakar yang sangat parah di sekujur tubuh Bayu membuat dirinya tidak dapat bertahan  hingga akhirnya Bayu mengembuskan nafas terakhirnya di perjalanan menuju rumah sakit, para medis mencoba menolong namun tidak bisa, Bayu pergi ke hadapan ilahi.


Keesokan harinya ada seorang pemulung yang mencari-cari sesuatu di bongkahan rumah Bayu yang terbakar.


Pemulung itu pun menemukan sesuatu.


“Lukisan ini masih bagus dan utuh, sebaiknya aku bawa saja.”


Ucap pemulung itu yang memasukkan lukisan wanita bergaun merah ke gerobaknya.  


Setelah pemulung itu tidak menemukan apa-apa lagi di bekas bongkahan rumah Bayu ia pun menggoes gerobaknya keluar dari gang Melati.


Sampai di jalan kenanga pemulung itu di berhentikan sebuah mobil mewah.


Seorang lelaki paruh baya keluar dari mobilnya menghampiri pemulung itu.


“Pak ini lukisannya saya beli boleh?”


“Bo-boleh Pak,” sahut pemulung itu dengan kegirangan.


“Ini uang untuk Bapak,” ucap lelaki paru baya itu memberikan segepok uang kepada pemulung itu.


Bak mendapatkan durian runtuh pemulung itu sangat senang.


“Terima kasih Pak! Terima kasih Pak! Terima asih Pak,” sahut pemulung itu berulang-ulang sembari mencium tangan lelaki paruh baya itu.


Setelah mendapatkan lukisan itu ia pun masuk ke dalam mobilnya beserta lukisan yang baru ia beli dari pemulung.  


bersambung dulu gengs.

__ADS_1


__ADS_2