
Malam semakin larut jam telah menunjukkan pukul 00.00 Sinta dan Ayu telah tertidur dengan lelap, tapi tidak halnya dengan ki Krisno yang akan melakukan ritualnya untuk membersihkan arwah jahat di dalam lukisan yang ada di rumah Ayu.
Di kamar ritualnya yang khusus ki Krisno sedang duduk bersila ia juga telah mempersiapkan beberapa sajen untuk ritual yaitu, air rendaman bunga tujuh rupa di letakan di dalam gelas kaca, kopi pahit dan kopi pahit tidak lupa juga beberapa bilah rokok dan korek yang di letakan juga di dalam gelas kaca.
Ki Krisno mulai mengambil kemenyan untuk di taburkan di atas tungku yang berisi bara api, saat kemeyan itu terkena bara api muncullah asap tipis. Lalu di lanjutkan kembali dengan mantra yang di baca oleh ki Krisno.
“Sejatinya tempatmu bukanlah di sini maka pergilah dan kembali ke duniamu,” ki Krisno membaca mantra.
Ki Krisno memejamkan matanya saat ia membacakan matra, tenaga dalam yang di milik ki Krisno mulai ia gunakan untuk melawan arwah wanita bergaun merah itu.
Duarrr suara ledakan
Terdengar suara seperti ledakan yang menghantam gelas kaca yang berisi sajen seketiak gelas pun pecah. Serpihan gelas kaca tersebut terhambur lalu menancap ke wajah ki Krisno, salah satu mata ki Krisno tertancap serpihan kaca tersebut darah segar pun mengalir dari mata ki Krisno.
Raungan kesakitan menggema di kamar ritual ki Krisno, tidak hanya di wajah dan mata serpihan kaca itu menancap di leher ki Krisno.
Dari duduk yang tegap ki Krisno pun terbaring lemah darah-darah segar keluar dari wajah, mata dan lehernya.
Di saat ki Krisno telah sekarat wanita bergaun merah itu muncul di hadapannya dengan wajah penuh darah serta luka yang terkoyak.
Wanita bergaun merah itu mengucapkan sesuatu sebelum iya membunuh ki Krisno.
“Matilah kau, karena kau telah ikut campur urusanku!” ucap wanita bergaun merah dengan suara yang berat.
“Kau!” ki Krisno yang tidak dapat bersuara lagi.
Wanita bergaun merah membentangkan kedua tangannya untuk mencekik ki Krisno, tubuh ki Krisno pun kejang-kejang karena tidak dapat mengambil nafas.
Sampai akhirnya tubuh ki Krisno tidak dapat lagi bergerak wanita bergaun merah itu mulai melepaskan cekikannya di leher ki Krisno hingga pergi menghilang.
Sementara malam ini secara bersamaan Ayu dan Sinta di teror lewat mimpi mereka masing-masing.
Ayu yang kembali bermimpi di sebuah ruangan kosong bertemu dengan wanita bergaun merah tersebut.
“Kau wanita bergaun merah itu, bukannya ki Krisno telah melenyapkanmu,” ucap Ayu dalam mimpi.
“Tidak semudah itu Ayu, ikutlah denganku Ayu. Maka aku tidak akan mengganggumu kembali!” sahut dengan lantang wanita bergaun merah itu
“Tidak! Aku tidak mau!” ucap Ayu yang berlari di ruangan tanpa ujung itu.
Namun sekuat apa-apa pun Ayu berlari ia akan tetap kembali ke tempat wanita bergaun merah itu berada.
“Ikutlah denganku! kau akan tenang!” suara yang mencekam dari wanita bergaun merah itu.
“Ikutlah bersamaku Ayu,” kalimat yang terus diulang-ulang oleh wanita bergaun merah.
__ADS_1
“Aku tidak mau! Tidak mau!” teriak Ayu.
Mendengar Ayu yang berteriak-teriak Dimas pun membangunkan Ayu dari tidurnya.
“Sayang, bangun sayang,” Dimas yang mengerak-gerakan tubuh Ayu.
Ayu terbangun dari tidurnya terlihat raut wajah ketakutan serta keringat dingin pun membasahi wajah Ayu. sontak saja Ayu memeluk Dimas yang ada di sampingnya.
“Ada apa sayang?”
“Lu-lukisan itu Mas.”
Ayu yang ketakutan menunjuk lukisan yang ada di dinding kamarnya.
“Ada apa dengan lukisan itu!”
“Wanita di lukisan itu ingin mengajakku pergi Mas,” sahut Ayu yang tidak berani memandang lukisan itu.
Dimas memberikan Ayu segelas air putih agar ia tenang.
“Ini minum dulu airnya.”
Dimas yang memberikan segelas air putih kepada Ayu.
Selepas Ayu meminum segelas air putih yang di berikan Dimas ia mulai bercerita kembali tentang lukisan itu.
Dimas mulai menatap lukisan itu kembali, namun saat Dimas menatap lukisan itu ia lagi-lagi terhipnotis dengan lukisan itu, Dimas mulai berbicara dengan kasar namun hal tersebut tidak diketahui oleh Ayu.
“Aku capek membahas lukisan itu lagi, kemarin kamu baik-baik saja sekarang kamu ketakutan kembali. Bagaimanapun lukisan itu tetap harus berada di tempat semula di waktu membeli rumah ini!” ucap Dimas dengan tegas.
“Mas! coba percayalah denganku, Mas!” sahut Ayu yang meneteskan air mata.
“Sudahlah aku tidak mau ribut hanya gara-gara lukisan itu.”
Dimas pergi meninggalkan Ayu tidur.
Melihat Dimas yang tidak menghiraukannya Ayu kembali tidur dengan membelakangi Dimas sambil menangis.
Sementara disisi lain Sinta mengalami mimpi yang sama dengan Ayu. Sinta yang saat itu tengah tidur dengan nyenyak bermimpi di sebuah ruangan yang kosong dan gelap terlihat sosok wanita bergaun merah dengan muka penuh dengan darah dan luka yang terkoyak.
Wanita bergaun merah itu menghampiri Sinta dan berkata.
“Jangan ikut campur urusanku jika kau ingin selamat!” ucapnya dengan lantang.
“Bukannya ki Krisno sudah melenyapkanmu!” celetuk Sinta terkejut.
__ADS_1
“Tidak semudah itu dia bisa melenyapkanku!”
“Apa mau mu?”
“Jangan pernah ikut campur urusanku jika kau ingin selamat.”
“Ayu temanku, aku akan membantunya.”
“Rupanya kau ingin mati!”
Sinta yang tidak memperdulikan ucapan wanita bergaun merah itu membuat ia marah lalu menghampiri Sinta dan mencekiknya.
“To-tolong,” Sinta yang tidak dapat bersuara.
Namun nasib baik masih berpihak kepada Sinta. Ibunya yang mendengar dengan samar-samar teriakan Sinta mencoba menghampiri Sinta di kamarnya.
Saat ibu Sinta masuk ke kamar putrinya ia melihat Sinta yang sedang mengigau dengan sergap ibu Sinta membangunkan putrinya.
“Sin, bangun Nak!”
Ibu Sinta yang mengerak-gerakan tubuh anaknya agar terbagun.
Sinta yang terbangun dari mimpi buruknya menceritakan kepada ibunya.
“Ada apa Nak?” tanya ibu Sinta mengusap lembut kepala Sinta.
“Sinta mimpi buruk Bu, ada wanita bergaun merah dengan wajah yang menyeramkan ingin membunuh Sinta. Lalu Sinta di cekik oleh wanita itu Bu.”
Sinta yang menjelaskan kepada ibunya.
“Lain kali berdoalah terlebih dahulu sebelum tidur, mintalah perlindungan kepada Yang Maha Kuasa, Nak!” tutur ibu Sinta menasihati anaknya.
“Tapi mimpi itu seperti nyata Bu, Sinta takut Bu,” Sinta memeluk erat ibunya
“Tidak usah takut, Ibu ada di sini Sin” sahut lembut ibu Sinta yang menenangkan putrinya.
“Ibu temani Sinta tidur ya malam ini,” Sinta yang memohon.
“Iya Nak, Ibu akan menemani Sinta tidur malam ini.”
Sinta yang di temani tidur oleh ibunya, memeluk eret ibunya, dengan penuh kasih sayang ibu Sinta mengusap-usap lembut kepala anaknya.
Sinta yang merasakan lembut usapan ibunya mulai mengantuk lalu kembali tertidur dengan nyenyak.
__ADS_1