
Ayu yang mengetahui ada seseorang yang mengintipnya di balik lubang kunci pintunya pun menegurnya.
“Siapa di sana?” tegur Ayu yang membuat Lasmi terkejut.
Lasmi membukan pintu dan mendatangi Ayu.
“Nduk kamu sedang berbicara dengan siapa?” tanya Lasmi.
“Eh, Ibu. Tidak dengan siapa-siapa Bu, ibu ada apa?”
“Ini loh, Ibu mau ngasih tahu pak gunawan orang tua Dimas mau pulang apa kamu tidak menemui mereka, meraka mencari kamu Nduk ingin pamitan.”
“Oh iya Bu, ini Ayu mau keluar. Ibu duluan saja Ayu menyusul,” sahutnya.
“Ya sudah, Ibu ke ruang tamu duluan ya Nduk,” sahut Lasmi.
Lasmi pun bergegas keluar meninggalkan Ayu di dalam kamar sendirian.
‘Aku tidak bisa tinggal diam, dia sudah mulai mencurigai aku. Ini akan sangat berbahaya untuk diriku,' batinnya.
Ayu mulai keluar dari kamarnya bergegas pergi ke ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, pak Gunawan beserta istrinya bu Ratih pamit untuk pulang karena sudah terlalu sore.
“Nak Ayu kami pulang terlebih dahulu,” ucap serentak ayah dan ibu Dimas.
“Iya Bu dan Ayah, terima kasih sudah datang ke rumah. Hati-hati di jalan,” sahut Ayu dengan pura-pura ramah.
Mereka pun pergi keluar rumah Ayu dan Dimas pergi ke mobil mereka yang terparkir di halaman Dimas.
Malam mulai tiba mereka semua mulai makan malam bersama di meja makan, sambil berbincang-bincang santai.
Setelah selesai makan malam, mereka semua melanjutkan mengobrol santai di ruang keluarga.
Sampai jam sudah menunjukkan 22.00 malam. Barulah mereka semua mulai mengantuk mengakhiri obrolan lalu kembali ke kamar masing-masing.
Di jam 00.00 malam wanita bergaun merah lepas darinya dari raga Ayu, di sini ia mencari celak untuk mulai melaksanakan aksinya kepada orang tua Ayu.
Di saat tengah malam Lasmi yang tertidur dengan suaminya, terbangun dari tidurnya karena haus dan ingin mengambil air minum di dapur.
Dengan setengah sadar karena masih mengantuk Lasmi mencoba bangun dari tempat tidurnya ia pun mulai membuka pintu kamar.
Namun di saat Lasmi berada di luar pintu kamarnys, wanita bergaun merah memang sedari tadi memantaunya dan langsung merasuki tubuh Lasmi, karena seseorang yang tingkat kesadarannya tidak penuh akan sangat mudah untuk di rasuki.
Setelah wanita bergaun merah itu sudah merasuki Lasmi. Lasmi mulai berjalan menuju dapur tanpa sadar.
Sesampainya di dapur Lasmi yang di rasuki wanita bergaun merah mencari-cari sebuah benda tajam.
Di saat Lasmi mencari keberadaan pisau, ia menyentuh benda-beda di sekitarnya yang menyebabkan bunyi.
Hal itu pun membangunkan bi Ijah di kamarnya, Bi Ijah yang penasaran pun keluar dari kamar ingin mengetahui hal apakah yang sebenarnya terjadi.
Setelah bi Ijah keluar dari kamar, ia sangat terkejut melihat Lasmi dari belakang memegang sebuah pisau yang berhasil ia dapatkan.
Pisau itu pun di tempelkan di leher Lasmi.
__ADS_1
“Jangaannnnn,” teriak bi Ijah yang terkejut melihat tragedi sangat mengerikan.
Lasmi menyayat lehernya dengan pisau dapur, darah segar keluar muncrat mengenai baju bi Ijah.
Seketika Lasmi tersungkur di lantai dengan badan yang kejang-kejang menahan rasa sakit.
Di saat itulah wanita bergaun merah keluar dari tubuh Lastri dan kembali ke tubuh Ayu.
Semua orang yang mendengar teriakan bi Ijah dengan cepat keluar dari kamar mereka termasuk Ayu, Dimas dan Baskoro.
Mereka semua berlari ke arah dapur dan kaget melihat Lasmi yang tidak bernyawa lagi dengan mati yang sangat mengerikan.
Luka sayatan di leher Lasmi mengaga mengeluarkan darah segar hingga lantai di dapur banyak sekali darah Lasmi.
Baskoro yang melihat istrinya meninggal dengan cara tragis memeluknya dengan erat berusaha menyadarkan istrinya.
“Bu! Bangun Bu, bagun!” teriak Baskoro menepuk-nepuk pipi Lasmi.
Wanita bergaun merah yang sekarang ada di tubuh Ayu pun pura-pura sangat sedih dan kaget melihat kejadian itu.
Nasib naas di alami oleh Lasmi seketika Lasmi tidak bernyawa lagi ketika Ayu, Dimas, dan Baskoro datang.
Dimas pun yang saat itu tidak tinggal diam ia segera memanggil ambulan namun di cegah oleh Baskoro.
“Ibu sudah tidak ada lagi,” ucap Baskoro menangis sambil memeluk istrinya.
Ayu pun berjalan menghampiri Lasmi dan menangis di dekat tubuh Lasmi.
Malam ini kabar duka menyelimuti rumah Ayu, para tetangga pun berdatang untuk membantu keluarga Ayu isak tangis menggema di rumah Ayu.
Selang beberapa menit setelah proses pemakaian kain kafan jenazah Lasmi mulai di sholatkan sebelum di makamkan.
Setelah satu persatu proses selesai barulah jenazah Lasmi di kebumikan di TPU yang tidak jauh di daerah rumah Ayu.
Isak tangis dari seluruh keluarga terdengar kembali ketika jenazah Lasmi masuk ke dalam liang lahat.
Tidak lama kemudian mereka semua telah selesai mengantarkan Lasmi ke tempat peristirahatannya terakhir.
Baskoro masih saja duduk di samping gundukan tanah kuburan Lasmi, Ayu berusaha menenangkan Baskoro.
“Ayo Pak kita pulang, ikhlaskan ibu Pak, agar ibu tenang di sana?” sahut Ayu yang mencoba menenangkan Baskoro.
“Secepat itu ibumu meninggalkan kita semua dengan cara yang tragis Nduk,” sahut Baskoro menghela nafas yang berat.
“Mungkin semua ini sudah di atur pak.”
“Ayo Pak kita pulang,” sambung Ayu kembali sambil mengelus-elus pundak bapaknya.
“Bapak masih belum bisa percaya ini semua Nduk, kematian ibu meninggalkan luka terdalam di hati bapak, belum lagi kematiannya yang tragis menyimpan suatu misteri terdalam,” sahut Baskoro.
menurut firasat Baskoro kematian Lasmi adalah kematian yang tidak wajar yang penuh misteri untuk ia temukan dan ungkapkan.
“Sudah Pak, tenangkan diri Bapak di rumah, mari kita pulang,” bujuk Ayu.
Baskoro pun mengiyakan bujukan Ayu untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Namun ia juga tidak tinggal diam.
‘Aku akan mengungkapkan kematianmu ini Lasmi,' benak Baskoro yang berjanji.
Baskoro bersama para penziarah yang lain pun masuk ke dalam mobil lalu pulang ke rumah Ayu.
Sesampainya di rumah Baskoro masih menyimpan luka dan kesedihan di tinggalkan oleh istrinya ia mencoba untuk tetap tenang berusaha orang lain tidak tahu tentang kesedihannya.
Namun tetap saja hal itu terlihat oleh Dimas dan Ayu.
Di saat Baskoro duduk sendirian di ruang tamu mengingat tentang Lasmi, Dimas berusaha untuk menghibur bapak mertuanya itu.
“Sedang apa Pak?” ucap Dimas yang mendatangi Baskoro.
“Eh, Nak Dimas,” Baskoro yang terkejut seketika lamunannya hilang.
“Mungkin sangat berat bagi Bapak melepaskan sosok ibu di mata Bapak.”
“Ia Nak Dimas, Bu Lasmi itu di mata Bapak seorang wanita yang tangguh, tidak pernah mengeluh walaupun ia menyimpan banyak beban, di tambah lagi dia orang yang sangat sabar terbukti dari bapak masih tidak punya apa-apa di kampung, Bu Lasmi selalu memberikan semangat bapak sampai akhirnya perekonomian kami mulai meningkat, di tambah lahirnya Ayu sampai kami mampu menyekolahkan Ayu ke jenjang yang lebih tinggi,” Baskoro yang menceritakan kisah hidupnya bersama Lasmi kepada Dimas.
“Iya Pak, Dimas pun sangat mengerti sekali kesedihan Bapak. Dimas pun begitu kepada Ayu dan akan menemani Ayu sampai tua nanti,” balas Dimas.
“Ia Nak Dimas, bapak percayakan kepadamu dan titipkan Ayu kepadamu,” sahut Baskoro dengan senyum.
“Semoga keluarga kecil kalian nanti dapat bahagia, dan kamu Dimas dapat menemani Ayu sampai ajal menjemput kalian,” sambung Baskoro memberikan doa dan harapan kepada Dimas.
“Iya Pak tentu saja, ini tugas Dimas sekarang membahagiakan Ayu” celetuk Dimas.
“Tapi—“ ucap Dimas yang terhenti mengingat sesuatu.
“Tapi kenapa Nak Dimas?” tanya Baskoro yang penasaran.
“Begini Pak, beberapa hari lalu Dimas pernah mimpi Ayu sendirian di sebuah ruangan, lalu Dimas ajak pulang terus Ayu bilang kepada Dimas kalau dia tidak bisa pulang,” ucap Dimas.
Baskoro pun terkejut dengan ucapan Dimas.
“Mimpi mu sama dengan mimpi Bapak, mangkanya karena Bapak bermimpi itu. Bapak langsung ke Jakarta hendak melihat keadaan Ayu,” celetuk Baskoro yang terkejut.
“Bapak beneran, mimpi kita berdua sama Dimas bermimpi itu tidak hanya satu kali Pak tapi beberapa kali. Apakah mimpi itu bisa menjadi sebuah petanda Pak?” tanya Dimas.
“Ya bisa Nak Dima, karena mimpi adalah alam bawah sadar kita sesuatu hal akan menjadi sebuah petanda apa bila kita bermimpi kejadian yang sama terus menerus, itu adalah petanda jangan di abaikan. Kita harus mencari apa maksud dalam mimpi Bapak dan Nak Dimas itu,” Baskoro yang memberikan wejangan.
Mereka berdua mengobrol santai di ruang tamu hingga Ayu datang mengalihkan pembicaraan mereka berdua tentang mimpi mereka yang sama.
__ADS_1