
Di malam harinya di sebuah desa yang ditinggali oleh orang tua Ayu terasa sangat sepi tidak terlihat aktivitas penduduk desa di sana terutama orang tua Ayu yang sudah tertidur dengan sangat lelap.
Di malam ini bapak Ayu bermimpi tentang Ayu anaknya. Mimpi ini sama dengan mimpi Dimas saat itu.
Bapak Ayu berada di sebuah ruangan yang gelap dengan sedikit cahaya yang menerangi ruangan itu.
Di ruangan itu tidak ada seseorang selain dirinya.
Bapak Ayu pun bingung ia mulai berjalan menyusuri ruangan yang tidak berujung itu.
Dari kejauhan terlihat seseorang sedang berdiri mirip seperti Ayu anaknya.
Bapak Ayu pun segera menghampiri seseorang itu lebih dekat lagi untuk memastikan apakah benar itu Ayu anaknya.
Setelah sampai ternyata benar itu Ayu, anaknya yang sedang kebingungan di ruangan itu sambil menangis.
“Kenapa kamu di sini Nduk! Mari kita pulang? Tempat ini tidak baik untukmu Nduk!” ajak bapak Ayu kepada Anaknya.
Ayu memeluk bapaknya dan menangis.
“Ayu tidak bisa pulang Pak! Tolong Ayu, Pak!” ucapnya meminta tolong kepada Bapaknya.
“Ayo sini sama bapak, mari kita pulang,” ucap bapak Ayu seraya menggandeng tangan Ayu.
Lagi-lagi sesosok bayangan mendekati Ayu dan menarik tangan Ayu.
Sesosok bayangan itu berubah menjadi wanita bergaun merah yang menarik tangan Ayu.
Bapak Ayu pun masih memegang tangan Ayu sebelum wanita bergaun merah itu datang.
“Siapa kamu? Mau apa kamu dengan anakku?” tanya Bapak Ayu dengan lantang.
“Dia sudah bersedia ikut denganku, jadi dia sekarang milikku!” sahut wanita bergaun merah dengan suara berat dan lantang.
“Tidak! Dia anakku aku yang berhak,” ucap bapak Ayu dengan marah.
“Ha-ha-ha, kau tidak bisa mengambil dia dariku,” sahut wanita bergaun merah menyerang bapak Ayu.
Bapak Ayu pun terluka di tangan kanannya sehingga genggamannya kepada Ayu pun terlepas.
Ayu dibawa pergi dengan cepat oleh wanita bergaun merah menghilang kembali di kegelapan malam.
“Ayu!” teriak bapak Ayu lalu terbangun.
Mendengar teriakan dari suaminya ibu Ayu pun terbangun.
“Ada apa to pak?” tanya istrinya.
“Itu Bu, tadi bapak bermimpi tentang Ayu, semoga mimpi ini bukan suatu tanda yang mengerikan Bu,” sahut bapak Ayu dengan cemas.
“Iya Pak, semoga saja itu hanya mimpi bunga tidur saja, kita berdoa saja semoga Ayu baik-baik saja di sana,” istrinya yang menenangkan.
“Tapi mimpi itu seperti nyata, aku takut mimpi ini menjadi pertanda buruk dengan Ayu, Bu. Besok lusa aku ingin ke tempat anak kita Bu.”
“Iya sudah Pak, kita ke sana lagi pula selepas Ayu menikah kita belum sempat menjenguknya.”
“Iya Bu, mari kita istirahat kembali.”
__ADS_1
Mereka berdua pun melanjutkan tidurnya kembali.
***
Baskoro adalah nama dari bapak Ayu, sedangkan istrinya bernama Lasmi.
Baskoro sendiri di kenal di desa sebagai para normal yang cukup baik, ramah, dan sering membantu orang-orang desa yang terkena hal mistik.
Namun sesuatu kejadian membuat Baskoro tidak ingin menjadi paranormal kembali.
Di waktu Ayu kecil, ia yang sering terkena gangguan mistik. Apa lagi jika Baskoro menolong orang yang terkena teluh. Maka teluh itu akan berpindah kepada Ayu. Dari situlah Baskoro menarik dirinya dari hal berbau mistik hingga sekarang.
Keesokan paginya Baskoro sedang duduk di depan teras sambil menyantap teh panas dan singkong goreng, sambil di temani oleh Lasmi istrinya.
Kehidupan yang tenang dan damai di desa membuat Baskoro enggan pergi dari desa apa lagi pindah ke kota.
Menurutnya kota itu bising tidak cocok untuknya yang menyukai ketenangan.
Di pagi itu Baskoro yang sedang menyantap singkong goreng bersama istrinya teringat akan mimpinya tadi malam.
“Bu, bapak masih teringat dengan mimpi tadi malam,” celetuk Baskoro sambil memakan singkong gorengnya.
“Sudahlah Pak, jangan terlalu dipikirkan. Semoga Ayu baik-baik saja di sana,” Lasmi yang mencoba menenangkan hati Baskoro yang gelisah.
“Coba Bu, tolong ambilkan HP bapak di meja kamar. Bapak mau menelepon Ayu dan juga mau memberikan kabar besok lusa bapak ingin menjenguknya.”
“Iya pak tunggu sebentar,” sahut Lasmi bergegas pergi mengambilkan telepon genggam.
Lasmi berjalan menuju kamarnya mengambilkan telepon genggam Baskoro. Setelah itu ia kembali lagi ke depan teras rumahnya untuk memberikan telepon itu kepada suaminya.
“Ini Pak teleponnya,”
Baskoro pun mulai mencari nama anaknya di dalam nomor kontak teleponnya.
Tut ... Tut ... Suara telepon tersambung.
“Halo Pak”
“Iya, hallo Nduk, gimana kabarmu di sana?”
“Baik Pak, apak dan ibu bagaimana kabarnya di sana?”
“Alhamdulillah Nduk baik, oya Nduk besok lusa bapak mau ke Jakarta. Mau ke rumahmu sudah lama bapak tidak bertemu denganmu Nduk, bapak sangat rindu.”
“Syukur kalau Bapak dan ibu baik-baik saja di sana. Wah Ayu sangat senang dengarnya pak nanti kalau Bapak sudah sampai bandara telepon Ayu ya Pak, biar Ayu yang jemput Bapak dan Ibu.”
“Ia Nduk, ya sudah Nduk kalau kamu mau pergi kerja. Hati-hati di jalan dan salam sama Dimas suamimu.”
“Njeh Pak.”
Baskoro menutup teleponnya lalu kembali berbincang kepada istrinya.
“Apa kata Ayu, Pak?” tanya Lasmi yang penasaran.
“Ayu sangat senang kita datang Bu, seperti tidak ada masalah apa-apa dengan dia. Tapi mimpi itu,” celetuk Baskoro.
“Sudah Pak jangan terlalu di ingat,” pungkas Lasmi.
__ADS_1
“Ya sudah Bu, bapak mau ke kebun karet dulu. Mumpung harinya panas,” sahut Baskoro yang bergegas pergi meninggalkan Lasmi.
Baskoro keseharian bekerja di perkebunan karetnya yang ia miliki terbilang cukup banyak.
Ada 20 hektar perkebunan karet yang ia miliki, dibantu oleh warga desa yang ikut bekerja dengannya.
Baskoro terbilang orang yang cukup mapan di desanya uang yang ia kumpulkan di waktu ia menjadi paranormal ia belikan perkebunan karet sampai akhirnya berkembang menjadi banyak.
Dengan hasil perkebunan karet itulah Baskoro dapat menyekolahkan Ayu hingga ke perguruan tinggi.
Sampai akhirnya Ayu bisa bekerja di perusahaan pak Damar barulah ia mengenal Dimas hingga akhirnya mereka berdua menikah.
Baskoro yang sedang mengumpulkan getah-getah karet di dalam wadah.
Baskoro merasa kesakitan di tangan sebelah kanannya.
‘Ada apa dengan tanganku, kok terasa sangat perih,' gumam Baskoro menggulung baju lengan panjangnya.
‘Luka apa ini? Seperti luka bekas cakaran?’ gumam Baskoro yang sedang mengingat-ingatnya.
Baskoro mengingat satu kejadian yang menyebabkan tangan kanannya terluka.
‘Mimpi itu,' sepertinya benar mimpi itu sebuah pertanda aku harus berhati-hati,' sambung batin Baskoro.
Baskoro tidak memperdulikan lagi mimpi itu ia kembali bekerja untuk mengumpulkan getah-getah karet yang sudah di berikan mereka cairan kimia untuk menjadikan padat getah-getah karet.
Hari mulai sore Baskoro mulai pulang ke rumahnya.
Baskoro duduk teras sambil menikmati teh panasnya.
Saat itu Lasmi sedang melihat luka Baskoro yang berada di tangan kanannya.
“Luka apa itu Pak?” Lasmi bertanya.
“Entahlah Bu, jika bapak ingat itu luka dari mimpi tadi malam?” sahut Baskoro.
“Memangnya bapak mimpi apa to tentang Ayu?” tanya Lasmi.
“Bapak bermimpi di sebuah ruangan tanpa ujung, di sana bapak melihat Ayu yang sedang berdiri dengan sedih. Bapak pun menghampirinya dan mengajaknya untuk pulang tapi, anehnya Ayu bilang tidak bisa pulang. Bapak menggandeng Ayu ingin mengajaknya pulang tiba-tiba ada wanita bergaun merah yang menerang bapak dan membawa Ayu pergi,” Baskoro yang menjelaskan kepada Istrinya apa tentang mimpi yang ia alami tadi malam.
Lasmi mendengar hal itu mulai mengobati luka yang ada di tangan Baskoro.
“Semoga tidak ada hal buruk Pak dengan anak kita Ayu!” sahut Lasmi sambil mengobati tangan Baskoro.
“Mari Pak kita makan, ibu sudah memasak sayur ke sukaan bapak,” ajak Lasmi.
“Pasti sangat enak ini masakan ibu,” puji Baskoro berjalan menuju meja makan.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah menuju meja makan yang sederhana dan menikmati hidangan sore hari yang telah disiapkan oleh Lasmi.
__ADS_1