
Enam bulan telah berlalu tepat hari ini usia kandungan Ayu memasuki tujuh bulan.
Di hari ini Ayu berserta keluarga Dimas mengadakan tujuh bulanan di rumah Ayu.
Dari mulai sungkeman, di lanjutkan kembali dengan siraman, pecah telur, memutus janur, brojolan, pecah kelapa, ganti busana, dan terakhir jual cendol atau rujak.
Acara berlangsung dengan lancar dan meriah.
Terlihat wajah kebagian yang menyelimuti Ayu beserta keluarga, orang tua Ayu pun menghadiri acara tujuh bulanan ini. Sampai dengan selesai.
Beberapa hari telah berlalu Baskoro pun berpamitan kepada Ayu, Dimas beserta orang tua Dimas.
Ayu yang tidak mengantarkan Ayahnya ke bandar melepas kepergiannya di rumah.
“Pak apa sebaiknya pulangnya nanti saja, tunggu sampai Ayu lahiran?” pinta Ayu.
“Bapak sih maunya begitu Nduk, tapi kebun karet Bapak di sana bagaimana? Siapa yang mengurusnya kalau Bapak tidak memantau?” Baskoro yang menjelaskan.
“Ya sudah Ayu tidak bisa berkata-kata lagi Pak,” sahut Ayu yang sedih.
“Jangan sedih ya Nduk, walaupun Bapak jauh, tap doa Bapak senantiasa mengiri setiap langkah kakimu, Nduk,” ujar Baskoro.
“Ya sudah Pak hati-hati di jalan,” sahut Ayu melepas kepergian Baskoro.
Baskoro pun pergi ke mobil beserta Dimas. Dimas yang mengantarkan Baskoro pergi ke bandara.
***
Dua bulan telah berlalu tiba saatnya usia kandungan Ayu telah memasuki ke sembilan bulan. Di mana hari-hari yang di tunggu oleh mereka kehadiran buah hati yang telah di nanti.
Di malam itu sekitar jam sembilan malam di saat Dimas dan Ayu tengah tidur bersama.
Ayu terbangun merasakan kontraksi hebat di perutnya.
Ayu pun membangunkan suaminya.
“Mas, bangun perutku sangat sakit,” sahut Ayu menyeringai kesakitan.
“Sepeti kamu mengalami kontraksi sayang, ayo kita ke rumah sakit,” ujar Dimas yang panik.
Dimas mulai mengendong Ayu bergegas masuk ke dalam mobil.
Dimas menaruh Ayu duduk di sampingnya, sementara Dimas sendiri mulai menjalankan mobil menuju rumah sakit.
Di tengah perjalanan Ayu yang mengeluh kesakitan kepada Dimas.
“Sakit sekali Mas,” ucap Ayu kesakitan memeras baju Dimas di sampingnya.
“Sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit,” Sahut Dimas yang panik.
“Apa masih lama Mas, rasanya aku tidak sanggup lagi menahan rasa sakit ini,” tutur Ayu yang menyeringai kesakitan sambil meremas baju Dimas di sampingnya.
Beberapa menit kemudian, Dimas telah sampai di rumah sakit.
Lalu Dimas mengendong Ayu, para petugas medis segera mendatangi Dimas membawakan rajang pasien.
Dimas menaruh tubuh Ayu di atas ranjang rumah sakit dan para petus medis berserta Dimas mendorong ranjang medis itu ke ruangan bersalin.
Sesampainya mereka di ruangan bersalin Dimas menemani Ayu di saat dirinya ingin melahirkan.
“Sakit Dok,” celetuk Ayu menahan kesakitan.
“Sabar Bu, ayu ini baru masuk pembukaan ke tujuh, tiga pembukaan lagi,” ucap Dokter.
Ayu memegang tangan Dimas sembari meremas. Dimas yang dengan lembut mencium kening Ayu dan mengusap-usap perut Ayu.
Selang beberapa menit Ayu sudah memasuki pembukaan ke sepuluh, Dokter pun memberikan aba-aba kepada Ayu.
“Sudah mulai terlihat, Ayo Bu Ayu tarik nafas, lalu dorong,” perintah Dokter.
Ayu pun melaksanakankah ucapan Dokter sambil berteriak meremas tangan Dimas Ayu pun mendorong sekuat tenaga.
Terdengarlah tangisan bayi perempuan yang cantik mewarnai kebahagiaan mereka berdua.
Bayi perempuan yang sudah di bersihkan oleh Dokter pun di letakan di atas badan Ayu. Barulah setelah itu di berikan kepada Dimas untuk diazankan oleh Dimas.
Dimas memberikan nama anaknya Olivia. Tepatnya jam 00.00 di malam jumat keliwon Olivia lahir.
__ADS_1
Terlihat air mata kebahagiaan di wajah Dimas beserta Ayu.
Tidak lupa Dimas pun memberi tahukan orang tuanya tentang kabar bahagia ini.
Dimas keluar ruangan lalu menelepon orang tuanya.
“Hallo Bu, Ayu sudah melahirkan Bu, anak Dimas perempuan,” Dimas yang memberitahukan kabar bahagia itu kepada ibunya.
“Alhamdulillah, akhirnya ibu punya cucu perempuan,” sahut Ratih yang sangat bahagia.
“Ya sudah Bu, Dimas ingin menemani Ayu terlebih dahulu,” sahut Dimas.
“Iya Nak, ibu dan Ayah akan segera ke sana melihat cucu ibu yang cantik,” ucap Ratih.
Dimas mulai memetikan teleponnya lalu kembali ke ruangan Ayu, di sana terlihat Ayu sedang memberikan Asi kepada Olivia.
Dimas menghampiri Ayu dan duduk di sampingnya.
Kini kebahagiaan keluarga mereka sudah lengkap dengan lahirnya Olivia.
Beberapa hari kemudian Ayu yang telah pulang dari rumah sakit mengendong Olivia mengantarkan Dimas sampai ke teras.
“Sayang, Mas berangkat kerja dulu ya, baik-baik di rumah,” ucap Dimas mengecup kening Ayu.
“Olivia sayang Ayah berangkat kerja dulu, baik-baik ya bersama bunda di rumah,” sambung Dimas.
“Iya Mas hati-hati,” ucap Ayu mencium tangan Dimas.
“Bi Ijah titip Ayu dan Olivia ya di rumah,” pesan Dimas
“Baik tuan jangan khawatir,” ucap Bi Ijah.
Dimas pun masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Ayu berserta anaknya di rumah, lalu ia menjalankan mobilnya menuju kantor.
Rasa cemas dan takut Dimas sekarang terbayar oleh hadirnya Olivia tidak ada hal mistik yang menghantui keluarga Dimas beserta Ayu walaupun mereka berdua telah mengetahui bahwa lukisan tua itu telah muncul kembali.
Selama setahun belakangan ini kehidupan Dimas beserta Ayu kembali damai di tambah lagi lahirnya anak pertama mereka.
Seperti nama yang Dimas berikan kepada anaknya Olivia yang berarti kedamaian.
***
Hari ini tepatnya di minggu pagi Dimas beserta Ayu ingin mengajak Olivia bermain di taman bermain.
“Ayah, Bunda hari ini kan hari minggu Ayah dan Bunda sudah janji sama Via untuk bermain di taman,” ucap Via yang menagih janji ayah berserta bundanya.
“Iya Via sayang, tunggu sebentar Ya, Ayah dan Bunda sedang bersiap-siap,” celetuk Dimas.
“Horee....” teriak Via yang sangat gembira.
Mereka bertiga pun masuk ke mobil dan mengajak Olivia ke taman bermain yang tidak begitu jauh dari rumah mereka.
Sesampainya di taman bermain Dimas beserta Ayu menemani Olivia yang tengah bermain ayunan.
Olivia yang di pangku Ayu duduk di atas ayunan serta Dimas yang mendorong mereka dari belakang.
Raut bahagia kembali muncul di wajah Olivia yang tertawa lepas.
Setelah selesai bermain ayunan Dimas menemani kembali Olivia bermain perosotan.
“Via sayang Ayah tinggal sebentar membeli minuman ya, Via sama bunda dulu di sini, jangan bermain jauh-jauh,” ucap Dimas memperingati Olivia.
Dimas bergegas pergi ke warung untuk membeli minuman. Sementara Via bersama Ayu sedang bermain ayunan kembali.
Dari kejauhan terdengar seseorang yang memanggil Ayu.
“Ayu,” panggil seorang laki-laki.
“Firman, bagaimana kabarnya?” tanya Ayu.
“Alhamdulillah baik Yu, lama kita tidak jumpa. Ini kenalin Yu istriku Tika,” ucap Firman yang memperkenalkan istrinya kepada Ayu.
Terlihat di samping Firman seorang wanita yang sedang hamil besar.
“Ayu,” sahut Ayu memperkenalkan dirinya.
“Tika,” balas istri Firman bersalaman dengan Ayu.
__ADS_1
“Selamat ya Firman sebentar lagi akan menjadi Ayah,” celetuk Ayu.
“Iya Yu, alhamdulillah. Oh ya kamu ke sini dengan siapa?” Tanya Firman.
“Bersama mas Dimas, itu orangnya sudah kembali,” sahut Ayu menunjuk Dimas yang menghampiri dirinya.
Mereka pun saling menyapa sampai Dimas menanyakan keberadaan Olivia yang tidak ada di tempat bermainnya.
“Sayang Via mana?” tanya Dimas.
Ayu yang melihat Olivia tidak ada pun menjadi sangat panik.
Firman yang mengetahui mereka mencari Olivia pun membantu untuk mencari Olivia secara bersama-sama.
“Olivia! Olivi! Olivia,” teriak mereka bertiga memanggil Olivia.
Mereka bertiga mencari-cari Olivia.
Sampai setengah jam terlah berlalu Olivia belum juga di temukan.
Hingga Ayu melihat bando Olivia terjatuh di dekat pohon besar yang di kawasan taman bermain.
Ayu mendekati pohon besar itu terlihat di balik pohon besar itu Olivia sedang duduk memeluk lututnya sambil menunduk memejamkan matanya seperti orang yang sedang ketakutan.
Ayu menghampiri Olivia dan menegurnya.
“Via ada apa Nak, ini Bunda sayang,” tegur Ayu mengerakkan pundak Via.
Via pun membuka matannya melihat ke arah Ayu, lalu memeluknya.
“Bunda!” teriak Via yang memeluk Ayu sambil menangis.
Ayu pun berteriak kepada Dimas bahwa Via telah ia temukan, Dimas berserta Firman segera mendatangi Via.
“Ada dengan Via sayang, sepeti orang yang ketakutan?” tanya Dimas.
“Entahlah Mas, aku menemukan dirinya sudah seperti ini,” jelaskan Ayu.
Dimas memberikan Via minum agar dirinya menjadi tenang setelah itu ia membujuk Via untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi.
“Via sayang, sini coba bicara sama Ayah apa yang terjadi dengan Via?” bujuk Dimas.
“Iya sayang, coba cerita dengan Ayah dan Bunda apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Ayu.
Olivia pun mulai menceritakan kejadian yang ia alami.
“Tadi waktu Bunda sedang mengobrol dengan teman Bunda, ada yang memanggil Via dari kejauhan. Lalu Via menoleh suara yang memanggil Via ternyata dari balik pohon besar ini Bun, Yah. Di balik pohon besar ini ada tante yang memakai baju merah lalu di memegang setangkai bunga mawar,” cerita Via yang terpotong.
“Lalu Nak? Bagaimana” celetuk Dimas yang sangat penasaran.
“Lalu tante itu melambaikan tangannya menyuruh Via ke tempatnya, sesudah Via mendatangi tante berbaju merah itu, tante itu berubah sangat menyeramkan Bun, Yah. Wajahnya penuh luka yang terbuka dan banyak darah Via takut terus tante itu mengajak Via ikut bersamanya Via tidak mau sampai akhirnya bunda menemukan Via,” Olivia yang bercerita kepada mereka semua.
Dimas beserta Ayu sangat terkejut mendengar cerita dari Olivia.
“Apakah Dia datang kembali Mas?” tanya Ayu.
The end
Terima kasih buat pembaca setia Misteri Lukisan Tua, semoga cerita ini dapat menghibur kalian semua. Jika ada suatu kesalahan di dalam novel ini mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kesempurnaan hannyalah milik Allah.
Nanti akan ada lanjutan kembali novel Misteri Lukisan Tua. Tunggu kehadirannya terima kasih sudah menjadi pembaca setia cerita ini
hai gengs misteri lukisan tua sudah ada season 2 loh.
Dengan Judul : Kembalinya Si Gaun Merah.
__ADS_1