
Di malam harinya selepas ia selesai makan malam yang telah di siapkan bi Ijah.
Dimas mulai masuk kamar ingin melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
Dimas yang tengah duduk di kursi kamarnya membuka laptop yang terletak di atas meja kamarnya.
Saat Dimas tengah asyik mengetik key board dengan jari jemarinya terdengar liris suara wanita menangis.
Dimas menghentikan pekerjaannya ia mencoba mendengar kembali suara wanita yang sedang menangis.
Suara tangis wanita terdengar samar-samar. Dimas mulai mencari asal suara tangisan wanita itu.
Sampai akhirnya ia menemukan dari mana asalnya suara tangisan itu.
‘Lukisan itu,' gumam Dimas.
Dimas mulai menghampiri lukisan wanita bergaun merah di yang terpasang di dinding kamarnya.
Setelah Dimas mendekati lukisan itu, suara tangis wanita di dalam lukisan itu pun hilang seperti tidak terjadi apa-apa.
Dimas mulai bingung dengan hal-hal aneh yang ia alami hari ini, tapi Dimas masih berpikir positif dengan kejadian-kejadian aneh yang ia alami hari ini.
‘Ah mungkin ini hanya halusinasiku saja, karena hari ini aku sangat lelah,' gumam Dimas kembali melanjutkan pekerjaannya kembali.
Beberapa jam kemudian Dimas telah selesai mengerjakan pekerjaannya, rasa lelah bercampur kantuk ia rasakan saat itu.
Dimas mematikan layar laptopnya segera beristirahat, ia melangkahkan kakinya menuju tempat tidur. Di atas tempat tidur Dimas mulai mencari posisi yang nyaman untuknya.
Beberapa kali Dimas menguap menahan kantuk hingga ia tidak kuasa lagi sampai akhirnya Dimas terlelap.
Dimas bermimpi aneh kembali tentang Ayu.
Dimas merasakan di tempat yang sama saat ia bermimpi tentang Ayu di sebuah ruangan kosong dengan sedikit cahaya yang menerangi ruangan itu.
Dimas melihat Ayu berdiri di ruangan itu sendirian, lagi-lagi Dimas menghampiri Ayu ingin mengajaknya pulang.
“Sayang sedang apa kau di sendiri sendirian mari kita pulang?” ajak Dimas.
Kali ini Ayu membalas ucapan Dimas.
“Aku tidak bisa keluar dari tempat ini Mas, tolong Aku?” ucap Ayu yang membuat Dimas bingung.
Secara tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan Ayu lalu membawanya sontak saja Ayu berteriak sebelum Ayu hilang di tengah kegelapan.
“Tolong aku Mas!” teriak Ayu.
Dimas pun berlari mengejar Ayu namun semau hanya sia-sia Ayu seperti menghilang di tengah kegelapan.
“Ayu! Ayu! Ayu!” teriak Dimas memanggil-manggil Ayu.
Hingga akhirnya Dimas terbangun dari mimpinya.
‘Mimpi ini lagi, petanda apa ini,' gumam Dimas.
Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Dimas yang terbangun dari tempat tidurnya berjalan menuju kamar mandi, ia segera mengambil air wudhu.
Setelah selesai berwudhu Dimas mengelar sejadahnya melakukan shalat tahajud, selepas selesai shalat tahajud Dimas berdoa kepada Yang Maha Kuasa.
‘Ya Allah, lindungilah keluarga kecil hamba dari mara bahaya. Aamiin,” Dimas mengusap kedua telapak tangannya ke wajahnya.
Setelah hatinya mulai merasa tenang Dimas melanjutkan tidurnya kembali.
***
Tiga hari telah berlalu keadaan Ayu sudah semakin membaik Ayu di bolehkan pulang oleh Dokter Heri.
Hari ini Dimas menjemput istrinya selepas pulang dari kantornya di temani oleh pak Joko.
Dokter Heri telah menjelaskan pemeriksaan kejiwaan yang dia lakukan berjalan dengan lancar.
Dimas membawa semua pakaian Ayu yang sudah di rapikan di dalam tas, sebelum ia pergi meninggal rumah sakit Dimas berpamitan kepada Dokter Heri.
“Terima kasih Dok sudah merawat istri saya dengan baik, hingga sembuh.”
__ADS_1
“Sama-sama Pak Dimas, ini sudah kewajiban saya sebagai Dokter di rumah sakit ini merawat pasien dengan semaksimal mungkin.”
“Jangan lupa Pak Dimas, luangkan waktu untuk istri bapak!” nasehat dari Dokter.
“Iya Dok, saya akan ingat pesan Dokter.”
Dimas pergi menggandeng tangan Ayu, Pak Joko yang saat itu pun membantu membawakan tas-tas Ayu yang berisi baju dan segala perlengkapannya.
Sesampainya mereka bertiga di parkirkan mobil, pak Joko membuka bagasi mobil memasukkan semua tas Ayu ke dalamnya barulah mereka bertiga masuk ke dalam mobil.
Pak Joko menjalankan mobil keluar dari rumah sakit menuju rumah Dimas dan Ayu.
Di tengah perjalanan Dimas yang duduk di belakang bersama Ayu mulai membuka obrolan melepas kerinduan satu sama lain.
“Maafkan Mas sayang. Mas selalu sibuk dengan pekerjaanku hingga tidak ada waktu untukmu,” ucap Dimas merasa bersalah.
“Sudahlah Mas, tidak perlu menyesali semua yang sudah terjadi, lagi pula pekerjaanmu sangat penting lalu aku pun sudah sehat kembali Mas,” ucap Ayu yang tersenyum dengan lesung pipinya.
“Kamu adalah istriku yang terbaik Ayu, tidak salah aku memilihmu menjadi istriku,” puji Dimas kepada Ayu.
Mendengar pujian Dimas Ayu tersenyum bahagia, ia menyenderkan kepala di pundak Dimas.
Rasa damai dan bahagia telah Ayu rasakan kembali di dekat suaminya.
Tidak terasa mereka sudah sampai di halaman rumah, mereka di sambut oleh bi Ijah yang sedari tadi menunggu kehadiran Ayu dan Dimas.
Keharuan terjadi kembali di bi Ijah melepaskan pelukan rindunya kepada Ayu.
“Ya Allah, non sudah sembuh.”
Tetesan air mata jatuh di saat bi Ijah memeluk Ayu.
“Iya Bi, saya sudah sembuh,” sahut Ayu dengan mata yang berbinar-binar.
“Ayo masuk non Bibi sudah memasakan makanan kesukaan non, non Ayu pasti lapar!” ajak bi Ijah.
“Iya Bi, sudah lama sekali saya tidak makan masakan Bibi,” sahut Ayu bergegas ke meja makan.
Ayu dan Dimas duduk di meja makan menikmati sop ayam yang di buatkan bi Ijah.
“Mmmm, enak sekali sop ayam buatan bi Ijah sudah lama aku tidak menikmatinya,” ucap Ayu sambil menikmati makanannya.
“Iya sayang hari ini sepesial bi Ijah membuatkan sop nikmat ini untuk dirimu.”
Selang beberapa menit mereka berdua telah selesai menikmati makan yang di buatkan oleh bi Ijah.
Sementara Ayu mengajak Dimas untuk pergi ke ruang tengah menonton acara televisi hingga malam telah tiba Dimas dan Ayu pun mulai masuk ke kamar mereka.
Ayu mengganti bajunya dengan baju tidur yang sangat tipis di tambah lagi ia menghias dirinya di meja riasnya dengan makeup yang natural, setelah itu Ayu pun menyemprotkan parfum di tubuhnya.
Dimas yang melihat istrinya mulai menggodanya ia memeluk lembut istrinya dari belakang meraba lembut lekukan tubuh istrinya mencium aroma parfum yang membuat gejolak Dimas semakin memuncak.
“Sebentar Mas!”
Dimas tak kuasa menahan dirinya ia menarik lembut istrinya menuju tempat tidur mereka.
Ayu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Dimas yang tidak kuasa melihat tubuh istrinya secara samar-samar pun mulai beraksi.
Dimas mulai mencium lembut istrinya hembusan nafas Dimas di leher Ayu mulai Ayu rasan, Ayu mulai tidak kuasa tubuhnya pun menggeliat.
Bruk .. Sura benda jatuh
Sura benda jatuh mengagetkan mereka berdua Dimas segera beranjak dari tempat tidurnya mencari sesuatu benda yang terjatuh tadi.
Ternya lukisan wanita bergaun merah itu terjatuh dengan sendirinya.
Dimas yang melihat lukisan yang jatuh itu segera menghampirinya lalu memetakan kembali lukisan itu di posisi yang semula.
‘Ada apa dengan lukisan ini, tidak biasanya lukisan ini terjatuh,' batin Dimas.
Setelah selesai meletakan lukisan itu di posisinya Dimas mulai kembali ke tempat tidurnya.
Ayu yang penasaran menanyakan kepada Dimas apa yang terjatuh tadi.
“Apa yang terjatuh Mas?” tanya Ayu.
__ADS_1
“Lukisan wanita itu,” Dimas menunjuk lukisan yang ada dinding kamarnya.
“Sudah Mas biarkan saja, mari kita lanjutkan,” ajak Ayu.
Dimas yang merasa hatinya tidak tenang dan juga lelah menolak ajakan Ayu.
“Hari ini aku sangat lelah sayang, besok kita lanjutkan ya,” bujuk Dimas.
“Ya sudah,” sahut Ayu dengan kesal.
Tidak lama Dimas mulai tertidur Ayu yang kesal pun kembali tidur membelakangi Dimas.
Keesokan harinya Ayu sudah memulai rutinitasnya seperti biasanya.
Ayu yang pergi ke kantornya di antar oleh Dimas.
Di tengah perjalanan Dimas membuka percakapan.
“Sayang selepas pulang kerja nanti, ada yang ini aku berikan untukmu,” Dimas yang ingin memberikan Ayu kejutan.
“Apakah itu Mas?” tanya Ayu yang penasaran.
“Nanti kamu akan mengetahuinya selepas pulang dari kantor,” sahut Dimas yang merahasiakan dari Ayu.
Tidak terasa mereka telah sampai di parkirkan kantor Ayu.
Sebelum Ayu meninggalkan Dimas tidak lupa mencium tengkuk tangan Dimas, begitu halnya dengan Dimas, ia pun mencium lembut kening sang istri.
“Aku pergi dulu sayang,” ucap Dimas dengan lembut.
“Iya Mas, hati-hati di jalan,” sahut Ayu.
Dimas menjalankan mobilnya meninggalkan parkirkan menuju tempat kerjanya sementara Ayu yang melihat mobil suaminya telah pergi bergegas menuju kantornya.
Di saat ia berjalan menuju kantornya pak Damar memanggilnya lalu menanyakan kondisinya.
Pak Damar sangat senang melihat kondisi Ayu sekarang telah sembuh dan bisa bekerja seperti sedia kala.
“Saya pamit dulu Pak mau ke ruangan saya,” ucap Ayu kepada pak Damar.
“Oya, Bu Ayu silahkan,” sahut pak Damar.
Ayu berjalan meninggalkan pak Damar bergegas menuju ruangannya.
Di saat Ayu masuk ke ruangan kerjanya ia dengan cepat menghampiri Sinta lalu mengganggunya.
Sinta yang tengah sibuk dengan komputernya pun di kagetkan oleh Ayu.
“Eh Sin, sibuk amat?” pekik Ayu di samping Sinta.
Sinta menoleh ke sampingnya terlihat Ayu yang berdiri di dekatnya.
“Ayu! Kamu sudah sembuh,” celetuk Sinta dengan terkejut.
“Udah dong, bagaimana selama aku tidak ada?” tanya Ayu
“Kantor terasa sepi tidak ada kamu yu,” sahut Sinta dengan mata yang berbinar-binar.
“Maafin aku, ya Yu gara-gara aku menjauh dari kamu jadi seperti itu,” sahut Sinta merasa bersalah.
“Sudahlah Sin jangan di sedihkan, namanya juga sakit. Tidak ada satu orang pun yang ingin sakit Sin!” Ayu menghibur Sinta.
“Kamu benar Yu,” sahut Sinta.
“Eh ngomong-ngomong tumben nih kamu pakai parfum wangi bunga, biasanya kamu lebih cenderung aroma-aroma segar?”
“Iya aku ingin aroma parfum yang beda saja, habis aku bosan,” Ayu menjelaskan kepada Sinta.
“Sin Ayu ke meja kerjaku dulu ya, kerjaan sudah lama menumpuk.”
“Oke deh Yu, nanti kalau kamu butuh apa-apa langsung tanya aja sama aku.”
“Oke sip Sin.”
Setelah selesai mengobrol dengan Sinta Ayu pun kembali ke meja kerjanya untuk mengerjakan pekerjaan yang telah lama tertunda.
__ADS_1
bersambung dulu ya gengs.