Misteri Lukisan Tua

Misteri Lukisan Tua
Diganggu


__ADS_3

Keesokan harinya Ayu mulai bekerja di antar oleh pak Joko sopir pribadi mereka.


Saat Ayu ke kantor berjalan menuju ruangannya ia diam di depan pintu lift menunggu pintu itu terbuka secara otomatis.


Pintu lift terbuka Ayu masuk ke dalam lift tersebut lalu memencet tombol no. 3A setelah itu aku menunggu pintu lift terbuka dengan otomatis.


Di dalam lift Ayu mulai merasakan hawa dingin di sekejur tubuhnya di tambah lagi tengkuk Ayu merasa merinding.


Ayu mencoba untuk tidak memperdulikan hal tersebut sampai akhirnya sosok wanita bergaun merah muncul di pojok lift.


Wanita bergaun merah itu sedikit demi sedikit mulai mendekati Ayu, Ayu yang ketakutan mencoba menekan tombol lift berulang kali.


“Pergi kamu! Pergi jangan mengganggu diriku lagi!” teriak Ayu kepada wanita bergaun merah.


Wanita bergaun merah itu tidak pergi malah semakin dekat dengan Ayu.


“Ikutlah bersamaku, aku membutuhkan dirimu!” ucap wanita bergaun merah.


“Aku tidak ingin ikut denganmu, aku mohon pergi dari hidupku,” teriak Ayu sambil menangis.


Tiba-tiba pintu lift terbuka dengan otomatis Ayu pun langsung berlari keluar lift menuju ruangannya.


Sesampainya di ruangan kerjanya Ayu terduduk di meja kerjanya dengan nafas yang cepat. Ia berusaha menenangkan dirinya meminum segelas air putih yang ada di meja kerjanya. Sinta yang melihat keadaan Ayu pura-pura tidak peduli.


Setelah Ayu merasa tenang kembali, ia menghampiri Sinta di meja kerja ingin bercerita dengan apa yang dia alami tadi.


“Sin, wanita bergaun merah itu menerorku kembali di dalam lift,” jelaskan Ayu kepada Sinta.


“Aku tidak ingin ikut campur masalah ini Yu!” ucap Sinta yang dingin kepada Ayu.


“Baiklah Sin. maafkan aku. Gara-gara aku kamu selalu diteror oleh sosok wanita bergaun merah itu,” sahut Ayu merasa bersalah.


“Sudahlah Sin, aku tidak ingin mendengar tentang wanita itu!”


Sikap Sinta berubah kepada Ayu, ia mulai dingin dengan Ayu dan tidak peduli lagi.


Ayu yang melihat temannya bersikap dingin kepadanya pun tidak melanjutkan ceritanya kembali.


Ia kembali ke meja kerja untuk melanjutkan pekerjaannya.


Saat Ayu mulai ingin mengetik keyboard komputernya terdapat beberapa kelopak bunga mawar kembali.


“Kelopak ini lagi,” batin Ayu.


Ayu mencoba tidak menghiraukan hal itu ia mencoba fokus untuk bekerja.


Namun hal yang tidak terduga pun mulai terjadi Ayu merasakan kakinya ada yang memegang.

__ADS_1


Ayu yang memberanikan dirinya melihat di bawah meja kakinya ternyata sebuah tangan berwarna putih pucat seperti mayat disertai kuku tangan yang panjang dan hitam menggenggam pergelangan kaki Ayu sontak saja Ayu berteriak lalu pingsan di meja kerjanya.


“Aaaaaaa,” teriak Ayu lalu tak sadarkan diri.


Para pegawai yang satu ruangan dengan Ayu pun terkejut mendengar teriakan Ayu.


Ayu diangkat oleh beberapa pegawai lalu diletakan di atas sofa, Sinta berinisiatif mengambil sesuatu di tasnya untuk menyadarkan Ayu, ia membuka tutup aroma terapi lalu mendekatkan di hidung Ayu.


Tidak lama Ayu mulai tersadar, Sinta pun bertanya kepada Ayu apa yang sebenarnya terjadi.


“Apa yang sebenarnya terjadi Yu?” tanya Sinta.


“Tidak apa-apa aku hanya kaget saja ada binatang yang menempel di kakiku,” ucap Ayu yang berbohong.


Ayu berbohong kepada Sinta, agak Sinta tidak merasa rakut dengan hal yang di alami Ayu. Dan sebenarnya Sinta pun tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.


“Apa kamu sudah baikkan Yu? Tanya Sinta.


“Iya Sin, seperti aku sudah mendingan terima kasih yah,”


“Apa sebaiknya kamu ijin saja Yu, aku lihat hari ini kamu terlihat pucat,” ucap Sinta menatap wajah Ayu.


“Iya aku kurang istirahat, sepertinya akan pulang lebih awal. Ke ruangan pak Damar untuk meminta ijin pulang lebih awal.”


“Iya Yu, jangan terlalu di paksakan.”


Beberapa menit kemudian Ayu mulai bergegas meninggalkan ruangan kerja pergi menuju ruangan pak Damar untuk meminta ijin.


“Iya silahkan masuk!” perintah pak Damar


“Ada apa Bu Ayu?”


“Begini pak Damar, boleh saya meminta ijin pulang lebih awal. Karena saya sedang tidak enak badan.”


“Oh, silahkan Bu Ayu, jika Bu Ayu merasakan kurang fit jangan di paksakan.”


“Terima kasih pak, oya desain baju yang kemarin sudah saja selesaikan pak ini kalau bapak mau lihat,” Ayu yang memberikan flashdisk ke pak Damar.


“Baik Bu, nanti akan saya buka gambarnya.”


“Terima kasih pak saya pamit terlebih dahulu.


“Iya Bu hati-hati di jalan, salam buat pak Dimas.”


Ayu pun keluar dari ruangan pak Damar, ia pun menelepon pak Joko untuk menjemputnya.


Selang beberapa menit Ayu menunggu pak Joko pun tiba, Ayu masuk ke dalam mobil pergi menuju rumahnya.

__ADS_1


Di tengah perjalanan pak Joko menanyakan kenapa Ayu pulang lebih awal.


“Tumben Non, hari ini pulang lebih awal?” tanya pak Joko.


“Iya Pak, saya lagi kurang enak badan.”


“Ooo begitu Non, sebaiknya Non Ayu beristirahat di rumah saja terlebih dahulu,” pak Joko yang memberikan saran.


“Iya Pak, rencananya juga begitu.”


Sesampainya di rumah Ayu langsung berjalan menuju kamarnya dan beristirahat, hingga Dimas datang.


“Sayang,” ucap Dimas sambil mengecup kening Ayu yang tengah berbaring di kasur.


“Mas sudah pulang,” Ayu membuka matanya karena sempat tertidur.


“Kamu kenapa sepertinya lemas sekali?” tanya Dimas.


“Nggak apa-apa Mas, aku cuma kelelahan aja,” sahut Ayu.


“Ya sudah kamu istirahat. Oh iya besok Mas akan dinas keluar kota buat meninjau proyek baru,” tutur Dimas.


“Ke luar kota? Berapa lama Mas?”


“Seminggu sayang. Kamu nggak apa-apa kan Mas tinggal?”


“Kalau itu memang harus aku nggak apa-apa Mas,” ucap Ayu.


“Ya sudah Mas mau siap-siapin barang-barang dulu,” ucap Dimas sambil mengambil sebuah koper kecil.


“Mas mandi aja dulu. Biar aku yang siapin,” Ayu bangkit dari kasurnya dan membuka lemari pakaian milik Dimas.


“Ya sudah kalau begitu.”


Dimas mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, sebenarnya Ayu merasa berat di tinggal oleh Dimas dalam keadaan seperti ini namun ia tidak ingin suaminya kehilangan kesempatan besar yang ada di depan mata.


Ayu memasukkan pakaian serta barang-barang keperluan Dimas dan menyusunnya dengan rapi di dalam koper setelahnya Ayu kembali berbaring dan beristirahat.


Keesokan harinya, Dimas pagi-pagi sekali sudah berpakaian rapi sambil membawa koper bersiap untuk pergi ke bandara dengan di antar oleh Joko.


“Kamu hati-hati ya Mas,” Ayu mencium punggung tangan Dimas.


“Iya sayang. Kamu baik-baik ya di rumah,” Dimas mengecup kening istrinya.


“Bi Ijah saya titip Ayu ya.”


“Baik Tuan.”

__ADS_1


Dimas menaiki mobil dan melaju menuju bandara meninggalkan Ayu yang masih menatapnya di depan pintu.


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya.


__ADS_2