
Dimalam harinya mereka semua sedang menikmati makan malam bersama. Sambil berbincang-bincang santai.
“Mas bulan depan kan ulang tahun aku, aku ingin di rayakan dengan mewah,” pinta Mawar yang berada di tubuh Ayu.
“Apa sebaiknya ulang tahunmu itu Nduk, memberi kepada anak yatim saja. Lagi pula doa mereka itu sangat berkah untukmu,” nasehat Baskoro.
“Pak ini kan setahun sekali, masa Ayu tidak boleh meminta perayaan yang istimewa, kepada mas Dimas,” sahutnya menentang.
“Iya sudah iya sayang nanti ulang tahunmu Mas akan bikin acara yang mewah,” sahut Dimas.
Setelah selesai makan malam lalu berbincang-bincang sesaat Ayu ingin masuk kamarnya untuk beristirahat.
“Mas, Pak. Ayu masuk kamar terlebih dahulu ya,” pamitnya.
“Iya sayang Mas menemani Bapak di ruang tamu dulu. Lagi pula mas belum mengantuk,” sahut Dimas.
Mawar yang berada di tubuh Ayu pun masuk ke kamar sementara Dimas dan Baskoro sedang di ruangan tamu berbincang-bincang.
Baskoro yang telah melihat Mawar yang masuk ke kamarnya.
Baskoro mengeluarkan selembar kertas yang telah dia tulis tadi siang untuk di baca oleh Dimas.
“Bacalah tulisan di kertas ini!” perintah Baskoro.
Dimas membaca kertas yang telah Baskoro tulis.
‘Dimas masukan satu pil obat tidur ini ke dalam minuman Mawar, usahakan Mawar meminum-minuman ini di jam 12 malam. Karena reaksi obat tidur ini akan membuat dirinya seketika tertidur, Bapak sengaja menulis perintah ini di kertas agar arwah Mawar tidak bisa mendengar percakapan kita,' batin Dimas yang membaca surat dari Baskoro.
Baskoro mengeluarkan obat tidur yang ia beli kemarin di kantong celananya.
“Ini obatnya, tunggu sampai dirinya benar-benar tertidur baru Dimas panggil Bapak,” Baskoro yang berbisik kepada Dimas.
Dimas pun menerima obat tidur dari Baskoro lalu mengantonginya.
Setelah itu mereka berdua pun mengobrol santai membicarakan hal yang lain agar Mawar tidak mencuriga.
***
Jam sudah mulai menunjukkan pukul 00.00 Dimas mulai menjalankan aksinya ia pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Mawar sedangkan Dimas sendiri membuat susu hangat agar Mawar tidak curiga kepadanya.
Dimas yang membuatkan teh hangat untuk Mawar tidak lupa memasukkan obat tidur itu ke dalam teh tersebut. Barulah setelah selesai Dimas membuat susu hangat untuk dirinya sendiri.
Dimas membawakan dua gelas minuman ke kamarnya, sesampainya di kamar Dimas meletakkan teh hangat berserta susu di atas meja.
“Sayang kamu belum tidur?” tanya Dimas yang melihat Mawar berbaring di atas kasur sambil bermain HP ayu.
“Belum Mas, ada apa?” tanya Mawar.
“Ini aku sengaja bikin kan teh hangat sepesial untuk istriku yang tercinta,” puji Dimas.
Mawar yang tersenyum mendengar ucapan Dimas.
Mawar mengambil teh hangat yang di sodorkah Dimas lalu meminumnya hingga habis.
__ADS_1
Tidak lama reaksi obat tidur itu berjalan Mawar terlihat mulai mengantuk sesekali ia menguap dan akhirnya tertidur.
Setelah Mawar benar-benar tidak sadarkan diri Dimas mulai memanggil Baskoro.
“Ayo Pak dia sudah tidak sadarkan diri,” ucap Dimas memanggil Baskoro.
“Bawa Mawar ke meja makan!” perintah Baskoro.
Dimas segera melaksanakan perintah Baskoro, membawa Mawar ke meja makan.
Dimas mengangkat tubuh Mawar lalu membawanya di meja makan.
“Letakan dia di sini,” perintah Baskoro kembali.
Dimas meletakan tubuh Ayu yang di pakai oleh Mawar ke sebuah kursi meja makan.
Setelah Mawar di letakan di kursi itu Baskoro mulai mengikat tubuh Ayu menggunakan tali lalu melilitkan tali itu ke kursi.
Hal ini bertujuan agar Mawar yang ada di tubuh Ayu tidak dapat mencelakai mereka berdua.
Di sini Baskoro juga meminta bantuan pak Joko dan bi Ijah.
Baskoro mengambil 3 buah lilin di kantong celananya lalu menyalakannya. Baskoro juga berpesan kepada Bi Ijah beserta pak Joko.
“Bi Ijah dan Pak Joko, ini ada tiga buah lilin yang akan saya nyalakan. Ketiga lilin ini adalah simbol dari nyawa kami bertiga, apa bila lilin ini mati tapi kami bertiga belum pulang makan kami bertiga akan selamanya di alam sana dan mati, tapi jika kami bertiga sudah kembali pulang tolong cepatlah tiup lilin itu, apa kalian berdua paham?” tanya Baskoro.
“Iya kami mengerti,” sahut serentak Bi Ijah dan Pak Joko
Setelah semua selesai barulah mereka berdua duduk di kursi meja makan saling berpegangan tangan antara Baskoro dan Dimas, sedang kan Mawar duduk terikat di samping Dimas.
“Kamu sudah siap Dimas?” tanya Baskoro.
“Iya Pak saya siap,” sahut Dimas.
Dimas mulai memejamkan matanya sementara Baskoro sedang membaca mantara.
Selang Dimas merasakan ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuhnya.
“Bukalah matamu sekarang Dimas!” perintah Baskoro.
Dimas membuka matanya alangkah terkejutnya dirinya Dimas merasakan berada di dalam mimpinya bertemu Ayu di sebuah ruangan yang sedikit cahaya di ruangan itu.
“Ini seperti mimpi,” celetuk Dimas.
“Inilah alam lain yang ada di lukisan tua itu,” ujar Baskoro.
“Sebaiknya kita segera mencari Ayu!” sambung Baskoro kembali.
Dimas beserta Baskoro menyelusuri ruangan yang tidak berujung itu.
Sampai beberapa menit mereka berdua mencari Ayu akhirnya melihat sama-samar seseorang dari kejauhan.
“Apakah itu Ayu Pak?” tanya Dimas.
__ADS_1
“Iya sepertinya.”
“Mari kita hampiri Pak!” ujar Dimas.
Baskoro beserta Dimas menghampiri seseorang itu dan benar saja itu adalah Ayu.
“Sayang!” panggil Dimas.
Ayu menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
“Mas Dimas!” ucap Ayu yang terkejut.
Dimas menghampiri Ayu lalu memeluk erat istrinya itu.
“Ini benar kamu Mas?” tanya Ayu yang tidak percaya bahwa Dimas akan menemukannya.
“Iya Sayang ini Mas, maafkan Mas sayang yang membuatmu menderita selama ini,” Dimas yang meneteskan air mata.
“Aku kira ini akhir hidupku Mas selamanya di tempat ini, tapi akhirnya kamu menemukanku,” ucap Ayu yang sangat bahagia bertemu dengan suaminya.
“Ayo cepat Dimas, sebelum keberadaan kita di ketahui oleh Mawar!” Baskoro yang memperingati.
Baskoro mulai menggandeng tangan Ayu dan pergi dari tempat itu tapi di tengah perjalanan menuju pintu keluar tangan Ayu tiba-tiba di tarik oleh Mawar
“Rupanya kalian semua di sini! Aku akan membunuh kalian berdua!” sahut Mawar yang marah.
“Lepaskan Ayu!” bentak Dimas.
“Tidak semudah itu Dimas,” sahut Mawar.
Mawar mulai menarik paksa tangan Ayu, namun Ayu masih berpegangan di tangan Baskoro.
Tarikan kuat Mawar membuat pegangan tangan Ayu ke tangan Baskoro terlepas, hingga gelang sakit milik Baskoro pun terlepas lalu jatuh.
Setelah Ayu berhasil di bawa kembali oleh Mawar. Mawar mulai menyerang Baskoro dan Dimas.
Karena Baskoro tidak ada pelindung di dirinya dengan mudah Mawar menyerang mereka berdua.
Mawar memukul dada Dimas beserta Baskoro.
Seketika pukulan yang sangat kuat membuat Dimas beserta Baskoro muntah darah di alam nyata.
Bi Ijah dan pak Joko yang melihat Dimas dan Baskoro memuntahkan darah segar dari mulutnya mulai panik
Bagaimana ini Joko apa mereka berdua baik-baik saja di sana?” tanya Bi Ijah.
Sementara lilin mereka bertiga mulai goyang dan hampir mati.
Pak Joko beserta bi Ijah berusaha menjaga api dari bertiga lilin itu agar tidak mati.
Mereka berdua menutupi ketiga api lilin itu dengan tangan mereka agar tidak mati hingga mereka bertiga selamat.
__ADS_1