Misteri Lukisan Tua

Misteri Lukisan Tua
Kelompak Bunga Mawar


__ADS_3

Sesampainya di rumah telepon genggam milik Dimas berbunyi, ia merogoh kantong celananya lalu mengambil handphone genggamnya.


“Hallo, pak Rehan!” sapa Dimas.


“Pak Dimas, bisa hari ini kita bertemu ada bisnis yang ingin saya bicarakan kalau bapak tidak sibuk.”


“Oh iya, pak Rehan tentu saja bisa.”


“Kalau begitu nanti saya tunggu di restoran Idaman, makam siang bersama sambil membicarakan kerja sama kita.”


“Apa pak kerja sama! Ba-baik saya akan ke sana segera!” sahut Dimas yang kaget tidak percaya.


“Iya kerja sama dengan perusahaan bapak, saya tertarik dan ingin kerja sama dengan perusahaan bapak.


Baiklah pak Dimas saya tunggu kedatangan bapak.


Dimas mematikan telepon genggamnya bersiap-siap menemui pak Rehan. Ayu yang mendengar percakapan mereka berdua menanyakan kepada Dimas.


“Siapa yang menelepon tadi, Mas?”


“Itu pak Rehan yang mempunya perusahaan garmen dengan brand ternama, seperti ingin bekerja sama dengan ku,” jelaskan Dimas.


“Ini kesempatanku sayang untuk mewujudkan impian membesarkan nama perusahaanku, jadi aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini,” sambung Dimas.


“Alhamdulillah jika begitu Mas, aku turut bahagia mendengarnya.”


“Sayang aku tinggal dulu sebentar, apa kamu tidak apa-apa? setelah selesai urusanku. Aku akan segera pulang.”


“Iya Mas, urus saja pekerjaanmu terlebih dahulu aku tidak apa-apa,” sahut Ayu dengan senyum lesungnya.


“Terima kasih sayang kamu istriku yang terbaik, nanti kalau kerja sama ini berhasil kita akan pergi keluar kota untuk bulan madu. Apakah kamu mau?” Dimas yang menjanjikan sesuatu kepada istrinya.


“Tentu saja sayang aku mau,” ayu yang memeluk Dimas.


Dimas mulai bergegas meninggalkan Ayu, tidak lupa juga ia mengecup kening Ayu dan berpamitan.


Setelah Dimas pergi Ayu mulai mencari kesibukan agar dirinya tidak terlalu memikirkan masalah tentang lukisan itu. Ia mengambil laptopnya yang berada di kamar lalu keluar kembali menuju ruang tamu.


Ayu yang masih takut dengan lukisan di kamarnya memutuskan melanjutkan pekerjaannya di ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu Ayu mulai membuka laptopnya dan menyelesaikan pekerjaannya untuk besok.


“Bi Ijah!” teriak Ayu.


“Iya Non, ada apa?” tanya bi Ijah yang menghampiri Ayu.


“Bi, tolong buatkan saya segelas teh hangat!” perintah Ayu.


“Baik Non.”


“Terima kasih Bi.”

__ADS_1


Bi ijah meninggalkan Ayu dan kembali ke dapur untuk membuatkan pesanan dari Ayu.


Sementara Ayu masih sibuk memandangi laptopnya.


Di saat Ayu tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya di meja ruang tamu. Secara tiba-tiba ada sekelopak bunga mawar yang jatuh entah dari mana asalnya, kelopak bunga mawar itu jatuh tepat di keybot laptop Ayu. Ayu yang tengah mengetik pun terhenti melihat kelopak bunga mawar itu.


‘Kelopak mawar? Dari mana datangnya,' batin Ayu sembari memperhatikan keadaan sekitar.


Tidak menemukan hal yang janggal Ayu mulai kembali melanjutkan pekerjaannya sampai bi Ijah datang membawa teh hangat pesanan dari Ayu.


“Ini Non teh hangatnya” bi Ijah yang menyodorkan secangkir teh hangat di meja.


“Terima kasih Bi,” sahut Ayu dengan tersenyum.


Bi Ijah mulai pergi meninggalkan Ayu kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


Ayu terlihat fokus mengerjakan pekerjaannya di laptop sesekali ia menyeruput teh buatan bi Ijah.


Namun saat Ayu meminum teh itu ia merasakan menelan sesuatu. Ayu memasukkan jari telunjuk dan jempol untuk merogoh sesuatu yang ada di mulutnya. sangat Ayu mengeluarkan benda dari mulutnya ia sangat terkejut.


Ayu mengeluarkan beberapa helai rambut yang panjang dari mulutnya secara perlahan-lahan sampai akhirnya Ayu memuntahkan seluruh isi perutnya.


Helaian rambut pun jatuh ke lantai beserta dengan muntahan Ayu.


Ayu sangat kaget ia berteriak memanggil bi Ijah.


“Bi Ijah! bi Ijah! bi Ijah,” teriak Ayu.


“Ada apa Non!”


“Bi itu rambut?” Ayu yang menunjuk ke lantai.


“Mana Non? Itu hanya muntahan Non Ayu saja!” bi Ijah yang melihat tidak ada helaian rambut di lantai.


“Tadi aku melihat helaian rambut yang aku buang di lantai bi!” Ayu yang bingung.


“Tidak ada Non, tunggu sebentar saya bersihkan dulu muntahan Non Ayu!”


“Benar bi aku tidak bohong saat aku meminum teh ini, seperti menelan sesuatu lalu aku mengambil dari mulut berupa helaian rambut dan aku memuntahkan semuanya.” Jelaskan Ayu.


“Mungkin Non terlalu lelah hari ini, tunggu sebentar ya Non Bibi ke belakang dulu mengambil lap!”


Bi Ijah yang meninggalkan Ayu di ruang tamu kembali ke dapur, sementara Ayu masih di buat bingung dengan hal yang ia alami tadi.


Beberapa menit kemudian bi Ijah datang dengan membawa lap.


“Sini Bi, biar saya yang membersihkannya sendiri!” Ayu yang mengambil lap dari tangan bi Ijah.


“Jangan Non, biar Bibi saja yang membersihkan lagi pula ini kan tugas Bibi. Non Ayu duduk saja."


“Jangan Bi, ini tidak sopan!” Ayu yang menegaskan meraih lap di tangan bi Ijah.

__ADS_1


Setelah Ayu selesai membersihkan muntahannya, ia mulai kembali ke kamar bi Ijah pun kembali ke dapur.


Ayu membawa laptopnya lalu menaruhnya di atas meja kamar, lalu Ayu berjalan menuju tempat tidurnya di atas tempat tidur terdapat banyak sekali kelopak bunga mawar.


‘Hah, kelopak bunga mawar lagi!” gumam Ayu terkejut.


Tak ... Tok ... ( Sura dari dalam lemari)


Ayu mendengar suara benda dari dalam lemari bajunya, Ayu mencoba mengumpulkan keberaniannya menghampiri asal suara benda itu berada.


Sesampainya di depan pintu lemari, Ayu mulai membuka pintu lemari dan mencari asal suara itu.


ia mulai menyingkarkan baju yang tergantung di dalam lemari hingga sebuah tangan dari balik baju itu menarik tangan Ayu.


“Ikutlah denganku!” ucap wanita bergaun merah yang meraih tangan Ayu.


“Tidak!”


Teriak Ayu berusaha sekuat tenaga melepaskan genggaman tangan wanita bergaun merah hingga Ayu terjatuh di lantai.


Bi Ijah yang mendengar teriakan Ayu pun menghampirinya di kamar.


“Ada apa Non,” celetuk bi ijah yang melihat Ayu terduduk di lantai dengan posisi menghadap ke lemari bajunya.


“I-itu Bi, di sana!”


Ayu yang ketakutan menunjuk lemari baju yang terbuka.


“Siapa Non?” bi Ijah yang menghampiri Ayu.


“Dia! wanita bergaun merah!” ucap Ayu.


Bi Ijah yang penasaran mencoba mencari sesuatu yang di ucapkan oleh Ayu namun, hasilnya bi Ijah tidak menemukan apa-apa.


“Tidak ada apa-apa Non,” bi Ijah bingung akan sikap Ayu.


“Coba Bi lih–‘’ucap Ayu yang terhenti setelah melihat kelopak bunga mawar tidak ada lagi di tempat tidur.


“Ada apa Non?” bi Ijah yang bingung sambil mengaruk kepalanya.


“Eh, tidak apa-apa Bi sepertinya aku butuh istirahat,” sahut Ayu yang mengalihkan ucapannya.


“Baik Non, Bi Ijah tinggal dulu”


Bi Ijah yang pergi meninggalkan Ayu bergegas pergi ke dapur. Sementara itu Ayu yang tambah tertekan dengan hal-hal yang ia alami pun mengambil obat penenang yang di beri oleh Dokter psikiater lalu meminumnya selang beberapa menit Ayu mulai terlelap tidak sadarkan diri di tempat tidurnya.


Misteri apakah yang sebenarnya terjadi? mengapa wanita bergaun merah selalu menyuruh Ayu ikut dengannya?


Dan apa maksud dengan perkataan “ Kematian akan di gantikan dengan lahirnya jiwa yang baru”.


Simak terus cerita ini, kalian akan menemukan jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2