Misteri Lukisan Tua

Misteri Lukisan Tua
Menguak Misteri


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu Baskoro belum melupakan kesedihan yang menimpa dirinya di tinggalkan oleh Lasmi.


Baskoro yang tidak sengaja masuk ke kamar Ayu dan Dimas, ia mulai mencurigai bahwa di rumah ini ada sebuah misteri yang tidak masuk nalar sehingga Baskoro ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Di siang itu Baskoro masuk ke dalam kamar Ayu yang saat itu Ayu dan Dimas sedang bekerja sehingga ia bisa secara leluasa mencari misteri yang membuat batin Baskoro tidak tenang. 


Baskoro mulai mengendap-endap masuk ke kamar Ayu, ia membuka pintu kamar yang kebetulan tidak di kunci oleh mereka berdua.


Baskoro mulai melihat-lihat keadaan sekitar yang ada di kamar Ayu.


Ia pun menemukan sebuah lukisan wanita bergaun merah yang terpasang di dinding kamar.


Baskoro mulai mendekati lukisan itu melihat secara detail lukisan itu, sampai ia terkejut dengan sebuah tulisan yang ada di bawah lukisan itu.


Mawar,13 juni 1966.


’13 juni! Tanggal ini sama dengan hari lahirnya Ayu yang akan di laksanakan bulan depan,' gumam Baskoro.


Baskoro mulai menyentuh dengan lembut lukisan itu lalu memejamkan matanya.


Di dalam mata batin Baskoro terlihat sebuah ruangan yang gelap dengan cahaya yang remang-remang di sanalah ia melihat sosok anaknya yang berdiri seorang diri di ruangan itu.


Dengan wajah yang bingung karena tidak dapat menemukan jalan pulang di ruangan gelap itu.


‘Ayu! Rupanya kamu di sana Nduk,' gumam Baskoro membuka matanya.


‘Ada apa ini semua,' ucap Baskoro yang tambah bingung dengan semua yang ia ketahui.


Lag-lagi Baskoro tidak puas dengan apa yang ia dapatkan, Baskoro mencari sesuatu hal lagi untuk mengungkapkan Misteri di balik semua ini.


Baskoro mulai mencari di lemari pakaian, laci di bawah meja sampai akhirnya di bawah tempat tidur Baskoro menemukan sebuah balok kayu berukuran sedang.


Baskoro mengambil balok kayu dari bawah tempat tidur Ayu, terlihat balok kayu itu dengan ujungnya terdapat bekas darah yang mengering.


Baskoro mulai menutup matanya lalu melihat sebuah kejadian dengan mata batinnya.


Terlihat Ayu yang tubuhnya di rasuki wanita bergaun merah itu membunuh kucing hitam secara tragis.


Kucing hitam yang sedang tertidur di balik korden itu di pukulnya dengan berutal menggunakan balok kayu. Sampai beberapa kali Ayu menghempaskan balok kayu itu ke kepala kucing hitam itu hingga tewas.


Melihat kejadian sadis Baskoro melepaskan balok kayu itu dari tangannya ia pun kembali memasukkan balok kayu ke bawah tempat tidur Ayu.


Baskoro mulai terdiam dan terduduk di bawah lantai.


Satu peristiwa lagi yang ia dapatkan secara tiba-tiba dari mata batinnya.


Peristiwa terbunuhnya istrinya, Baskoro melihat wanita bergaun merah itu keluar dari ragu Ayu lalu merasuki istrinya dengan tidak sadar istrinya Lasmi menuju dapur mencari pisau lalu menyayatkan ke lehernya yang di lihat oleh bi Ijah.


Sontak saja Baskoro langsung membuka matanya, air mata Baskoro tidak terasa menetes akhirnya ia tahu penyebab meninggalnya sang istri.


Rasa sedih bercampur kesal di hati Baskoro saat ini ia rasakan. 


Baskoro yang terdiam sambil terduduk di lantai kamar Ayu mulai mencari cara agar masalah ini cepat selesai, tidak ada lagi korban berjatuhan dan yang paling terpenting dirinya dapat menyelamatkan Ayu anaknya sebelum terlambat.

__ADS_1


Baskoro segera keluar dari kamar Ayu ia meminta pak Joko untuk mengantarkan dirinya ke kantor Dimas.


Baskoro merasa Dimas harus mengetahui semua yang terjadi dalam keluarganya.


Baskoro sudah berdiri di teras rumah, ia mendatangi pak Joko meminta dirinya di atar ke kantor Dimas.


“Pak Joko, sama boleh minta tolong?” tanya Baskoro.


“Iya Pak boleh, minta tolong apa ya?”


“Tolong antarkan saya ke kantor Dimas sekarang juga sebelum semuanya terlambat.”


“Ada apa sebenarnya Pak?” tanya Pak Joko yang sangat penasaran.


“Ceritanya panjang Pak, ayo Pak Joko cepat antarkan saya,” pinta Baskoro.


“Ba-baik Pak,” sahut pak Joko


Mereka berdua pun segera bergegas masuk ke dalam mobil pak Joko mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah dan pergi ke kantor Dimas.


Di tengah perjalanan Pak Joko yang sangat penasaran menanyakan apa yang sebenarnya terjadi namun, Baskoro enggan mencerita apa yang ia ketahui  kepada pak Joko.


Sampai akhirnya Baskoro tiba di kantor Dimas.


Baskoro pun keluar di temani Pak Joko ke ruangan Dimas, mereka berdua mulai masuk ke kantor Dimas.


Lalu memberitahukan sekretaris Dimas maksud kedatangan mereka berdua ingin bertemu dengan Dimas.  


Mereka berdua pun di suruh mengikuti sekretaris itu.


“Bapak-bapak tunggu sebentar ya, saya mau memberitahukan kepada Pak Dimas terlebih dahulu,” ucap sekretaris sembari masuk ke ruangan Dimas.


“Iya Mbak,” sahut Baskoro


“Permisi Pak,” ucap Rini sekretaris Dimas.


“Iya ada apa Rin?” tanya Dimas.


“Di luar ada satu orang tamu dia bilang mertua Bapak Dimas, ingin bertemu dengan Bapak,” Rini yang menjelaskan tujuan Baskoro datang ke kantor Dimas.


“Oh, persilahkan masuk Rin,” sahut Dimas.


“Baik Pak,” Rini yang bergegas ke luar dari ruangan Dimas.


Dimas yang berada di ruangannya pun bingung mengapa Baskoro ingin menemui dirinya.


 ‘Ada sesuatu apa yang membuat Pak Baskoro ingin menemui aku,' Batin Dimas. 


Sementara Rini yang berada di luar mempersilahkan Baskoro untuk masuk ke ruangan 


“Bapak Dimas, menyuruh Pak Baskoro untuk masuk ke ruangannya!” ujar Rini mempersilahkan Baskoro masuk.


“Baik Mbak, terima kasih,” sahut Baskoro lalu masuk ke ruangan Dimas.

__ADS_1


Sesampainya di ruangan Dimas, Baskoro di persilahkan duduk oleh Dimas. Dimas pun mulai menanyakan kepada Baskoro.


“Ada apa Pak kok tumben sekali ke kantor saya, kan bisa di rumah kalau ada yang ingin di bicarakan,” kata Dimas


“Jangan Nak Dimas, ini sesuatu yang sangat genting sekali mengenai Ayu,” ucap Baskoro dengan wajah yang serius.


Dimas pun mulai di buat sangat penasaran oleh Baskoro.


“Ayu! ada apa dengan Ayu, Pak?” tanya Dimas penasaran.


“Ayu yang selama ini bersamamu, itu sebenarnya buka Ayu!” 


Pernyataan Baskoro membuat Dimas tertawa dan bingung.


“Ha-ha-ha Bapak ada-ada saja kalau bukan Ayu siapa Pak?” tanya Dimas yang tersenyum.


“Sukma Ayu yang asli itu berada di lukisan yang ada di kamarmu dan ia terperangkap di sana tidak bisa keluar,” Baskoro mulai menjelaskan kepada Dimas dengan serius.


“Lalu yang di tubuh Ayu itu siapa Pak?” ucap Dimas yang belum percaya kepada Baskoro.


Baskoro pun mulai menceritakan dari kebiasaan Ayu yang aneh sampai penglihatan mata batin yang ia lihat.


“Dalam raga Ayu itu adalah arwah jahat yang berada di lukisan tua di kamarmu, dan kayu balok yang Bapak dapatkan di bawah tempat tidurmu, itu di gunakan olehnya untuk membunuh kucing hitam yang baru saja kau beli,”


Pernyataan Baskoro mulai membuat Dimas yakin, karena Dimas, bi Ijah, pak Joko bahkan Ayu tidak pernah bercerita mengenai matinya kucing hitam yang baru ia beli.


“Lalu Pak, saya harus bagaimana?” Dimas yang bingung harus berbuat apa.


“Kita harus mencari tahu asal usul lukisan tua itu, sebelum terlambat, bapak tidak bisa melihat misteri apa sebenarnya di balik lukisan itu karena Ayu berada di dalam lukisan itu.”


Dimas mulai terdiam ia mulai mengingat-ngingat kejadian aneh yang ia alami dengan lukisan tua itu di kala Ayu telah sembuh dari penyakitnya.


“Satu hal lagi yang perlu kamu ketahui Dimas, kematian Lasmi istriku di sebabkan arwah jahat yang berdiam di tubuh Ayu.”


Pernyataan Baskoro membuat Dimas tidak bisa berpikir dengan logika.


Dimas mulai mempercaya Baskoro karena hal-hal yang Baskoro liat itu ia alami dan rasakan.


“Lalu Pak bagaimana ini Pak?” tanya Dimas yang mulai panik.


“Kita harus secepatnya mencari pemilik lukisan tua itu karena dia adalah kunci dari semua misteri ini,”


Mendengar hal itu Dimas teringat dengan Ayahnya karena rumah itu di dapatkan sendiri oleh ayah Dimas.


“Begini saja Pak, Bapak ikut saya ke rumah orang tua Dimas karena, rumah itu Dimas dapatkan dari Ayah dan lukisan itu memang sudah ada di kala Dimas membelinya,” jelaskan Dimas kepada Baskoro.


“Baiklah jika begitu semakin cepat akan semakin baik, satu hal lagi. Rahasia ini hanya kita yang tahu bersikaplah seperti biasa kepada Ayu agar arwah jahat di dalam tubuh Ayu tidak mencurigai kita,” Baskoro memperingati Dimas.


“Baiklah Pak jika begitu, selepas pulang dari rumah Ayah bapak saya antar pulang langsung dan Pak Joko beserta Bi Ijah akan saya peringatkan tidak berbicara hal-hal mengenai Bapak mendatangi di ke kantor,” 


Dimas dan Baskoro pun telah sepakat untuk merahasiakan hal ini kepada Ayu. Mereka berdua berdiri dari tempat duduknya lalu bergegas pergi ke rumah orang tua Dimas untuk mencari tahu siapa pemilik lukisan tua itu yang menyimpan banyak misteri dan mala petaka di keluarga mereka. 


Bersambung dulu gengs.

__ADS_1


 


__ADS_2