
Di pagi harinya Sinta yang sudah berada terlebih dahulu di ruangan kantornya ketimbang Ayu.
Sinta mencoba melupakan mimpi buruknya tadi malam, mencoba fokus dalam pekerjaannya. Saat Sinta tengah fokus bekerja Ayu yang tiba-tiba datang menghampiri Sinta menceritakan mimpi buruk yang iya alami tadi malam.
“Sin aku, tadi malam mimpi buruk lagi. Wanita bergaun merah meneror ku,” Ayu yang duduk di samping meja kerja Sinta.
“Eh, kok mimpimu sama denganku Sin,” ucap Sinta yang terus menatap layar komputernya.
“Sin, Aku mau menemui ki Krisno kembali. Aku ingin menanyakan kenapa wanita bergaun merah itu mengganggu kita lagi.”
“Iya Ayu, sebaiknya kita menemui ki Krisno,” sahut Sinta yang menoleh ke arah Ayu.
Saat Sinta menoleh ke arah Ayu, ada hal yang membuat Sinta terkejut.
Ia melihat wanita bergaun merah itu di belakang Ayu, raut wajah Sinta berubah seketika menjadi pucat karena ketakutan.
Sinta pun mulai menundukkan wajahnya dan tidak berani menatap Ayu. Ayu yang melihat Sinta yang aneh pun menanyakan dirinya.
“Sin kamu kenapa, kok aneh?” tanya Ayu yang melihat gerak-gerik Sinta tidak seperti bisanya.
“En-enggak, ap-apa-apa Yu,” sahut Sinta yang gugup.
Sinta menyembunyikan sesuatu hal yang Ia lihat karena Sinta khawatir Ayu akan ketakutan.
“Ya sudah kalau begitu selepas pulang kerja nanti kita pergi ke rumah ki Krisno untuk menanyakan ini!” Ayu yang menegaskan ucapannya kembali.
“I-iya yu,” sahut Sinta menunduk.
Ayu pun mulai kembali ke meja kerjanya dan mulai melakukan pekerjaannya.
Sesekali Sinta melihat Ayu lalu kembali menunduk. Ayu pun merasa sikap Sinta ada yang aneh hari ini namun, di saat iya menanyakan kepada Sinta. Sinta tidak menjawabnya.
‘Ada apa yang dengan Sinta,’ Ayu bermonolog.
‘Ah mungkin hanya firasatku saja, semoga tidak terjadi sesuatu apa-apa,' sambung Ayu kembali.
Sepanjang jam kerja, Sinta tidak berani melihat Ayu lebih lama karena wanita bergaun merah masih selalu berada di belakang Ayu. Hingga jam kerja telah berakhir.
“Ayo Sin,” Ayu yang menarik tangan Sinta.
Mereka berdua masuk ke mobil Sinta. Sinta mulai menyalakan mesin mobilnya lalu menjalankannya menuju rumah ki Krisno.
__ADS_1
Hal aneh di lihat Sinta kembali saat ia sedang mengemudikan mobilnya Sinta melihat di kaca spion yang berada di dalam mobil di situlah ia melihat wanita bergaun merah sedang duduk di belakang.
Rasa takut yang Sinta rasakan membuatnya raut wajahnya pucat.
Ayu yang melihat gerak-gerik Sinta pun menoleh ke belakang namun Ayu tidak melihat apa-apa di tempat duduk yang berada di belakang.
“Ada apa Sin,” Ayu yang menoleh ke tempat duduk di belakang.
“Tidak ada apa-apa, Yu,” sahut Sinta.
Di dalam perjalanan Sinta hanya terdiam sambil menyetir sesekali menjawab ucapan Ayu dengan singkat.
Hingga akhirnya mereka berdua sampai di rumah ki Krisno.
Sinta mulai memarkirkan mobilnya di halaman rumah ki Krisno.
Setelah mobil terparkir Sinta mulai mematikan mesin mobil lalu keluar bersama Ayu menuju rumah ki Krisno.
“Asalammuaikum, ki Krisno,” ucap Ayu sembari mengetok pintu rumah ki Krisno.
Berkali-kali Ayi dan Sinta mengetok rumah ki Krisno tidak ada jawabannya hingga ada seseorang ibu-ibu dengan postur tubuh gemuk yang menghampiri mereka berdua menjelaskan kepada Ayu dan Sinta tentang ki Krisno.
“Mbak berdua ini cari siapa?” tanya ibu gemuk itu.
Sinta yang menjelaskan maksud kedatangannya ke rumah ki Krisno.
“Mbak Ayu dan Mbak Sinta tidak tahu, ki Krisno sudah meninggal tadi malam. Baru selesai di kubur tadi,” ibu itu menjelaskan.
“innalillahi wainna ilaihirojiun” sahut serentak Ayu dan Sinta.
Merek berdua sangat kaget mendengar meninggalnya ki Krisno.
“Apakah itu benar Bu, saya masih tidak percaya lusa kemarin saya sama teman saya baru saja ke rumah ki Krisno!”
Ayu yang masih tidak percaya dengan ucapan ibu itu.
“Iya Mbak, Ibu tidak berbohong soalnya suami Ibu sendiri yang memandikan jasad beliau!” ucap ibu itu yang menegaskan kepada Ayu dan Sinta.
“Apakah ki Krisno sakit Bu?” Sinta yang penasaran.
“Tidak Mbak Sinta, ki Krisno meninggal dengan tragis!” ucap ibu itu yang terhenti.
__ADS_1
“Tragis! Tragis kenapa Bu?”
Ayu yang dibuat sangat penasaran dengan ucapan ibu itu.
“Entah lah Ibu kurang tahu kronologinya seperti apa, tapi menurut kesaksian penduduk kampung di sini ada suara ledakan di rumah ki Krisno setelah itu ki Krisno berteriak saat penduduk kampung menghampiri ke rumahnya.
Ki Krisno sudah tidak bernyawa lagi sekujur tubuh, wajah, mata dan lehernya banyak serpihan kaca yang menancap di tambah lagi ada bekas cekikan di leher ki Krisno.”
Ibu itu yang menjelaskan dengan rinci kronologi kematian ki Krisno.
Ayu dan Sinta terdiam sesaat mendengar penjelasan ibu itu.
“Bu terima kasih ya, atas penjelasannya kami berdua pamit terlebih dahulu,” Ayu yang berpamitan.
“Iya Mbak sama-sama.”
Mereka berdua bergegas pergi meninggalkan ibu itu lalu masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Ayu dan Sinta terdiam merasakan ketakut dengan apa yang terjadi kepada ki Krisno akan terjadi kepada mereka nanti.
Mereka berdua mulai bingung tidak dapat mencari jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi. Apa lagi dengan Sinta yang sedari tadi melihat wanita bergaun merah itu di belakang Ayu.
Rasa takut Sinta membuat diri berpikir untuk tidak ikut campur kembali masalah Ayu, ia ingin dirinya tidak seperti ki Krisno dan ingin kembali tenang tanpa di teror.
Sementara Ayu yang sangat bingung dengan cara apa lagi yang harus ia lakukan agar tidak mengalami nasib yang sama dengan ki Krisno.
Saat mereka di perjalanan Ayu mulai membuka percakapan.
“Sin bagaimana ini, ki Krisno meninggal dengan cara yang mengenaskan apa yang harus kita perbuat?” tanya Ayu dengan bingung.
“Aku bingung Yu, aku tidak ingin ikut campur masalah ini lagi Yu! Aku cape, aku lelah dengan semua ini Yu!” sahut Sinta dengan tegas.
“Sin kamu temanku, ke mana lagi aku harus meminta tolong! Mas Dimas tidak pernah percaya dengan ceritaku, Sin!” Ayu yang menegaskan kepada Sinta.
“Maafkan aku Yu, aku ingin hidup normal Yu tidak seperti ini!”
“Sin! bantu aku! aku mohon bantu aku, Sin!” Ayu yang memohon kepada Sinta.
“Aku tidak bisa Yu!” tegaskan Sinta kembali.
Sepanjang jalan mereka berdua mulai berdebat, Ayu memohon kepada Sinta untuk membantunya. Namun, Sinta yang tengah di peringati oleh wanita bergaun merah itu lewat mimpinya tidak berani untuk membantu Ayu.
__ADS_1
Bagaimanakah nasib Ayu selanjutnya nantikan ceritanya.