
Ayu yang masuk ke dalam rumah duduk kembali di ruang tamu. Bi Inem pun mendatangi Ayu dan kembali menanyakan tentang lukisan yang telah Ayu buang.
“Bagaimana Non, sudah dibuang lukisannya?” tanya bi Inem.
“Sudah Bi, tadi barusan waktu aku buang ada pemulung yang meminta lukisan itu,” kata Ayu menceritakan kepada bi Inem.
“Syukurlah kalau begitu semoga tidak ada kejadian yang aneh lagi di rumah ini, Non dan Tuan bisa hidup dengan tenang dan bahagia.”
“Aamiin, terima kasih Bi.”
“Ya sudah Non Bibi pamit mau membersihkan kamar mandi di belakang,” bi Inem meninggalkan Ayu.
“Iya Bi Silahkan.”
Mereka mengira dengan membuang lukisan itu semua masalah selesai padahal masalah sebenarnya baru saja di mulai.
Bi Inem berjalan santai menuju kamar mandi belakang, tidak lupa ia juga membawa alat serta pembersih lantai untuk membersihkan kamar mandi.
Tanpa perasaan ragu atau apa pun bi Inem melangkah masuk ke dalam kamar mandi, secara tiba-tiba sesuatu mendorong bi Inem dari belakang hingga membuatnya terjerembap membuat kepala bi Inem membentur ujung bak kamar mandi, kerasnya benturan mengakibatkan ujung bak yang terbuat dari keramik itu pecah.
Begitu pula dengan kondisi bi Inem, kening dan kepalanya berdarah bahkan darah itu keluar menyeruak di lantai. Hal itu membuat bi Inem lemas seketika walau masih sadarkan diri.
Dengan nafas yang tersengal bi Inem berusaha mengeluarkan suaranya untuk berteriak meminta tolong. Namun, karena lemas bi Inem hanya bisa mengeluarkan sedikit suara yang sempat bergema di kamar mandi.
Samar-samar ia melihat ada seorang wanita memakai gaun merah dengan wajah penuh darah berdiri di depan pintu. Sosok wanita itu perlahan mendekat dengan tatapan mata melotot seakan dia sedang dilanda amarah, sosok melesat cepat seperti angin mendatangi bi Inem, dia mengucapkan sesuatu kepada Bi Inem.
“Kau harus mati! Kau sudah mencampuri urusanku!” ucap Wanita bergaun merah itu dengan lantang.
Seketika mata bi Inem terbelalak mendengar ucapan dari suara berat dan serak penuh intimidasi itu, bi Inem berusaha berdoa semampunya walau mulutnya seperti sudah kaku.
Saat bi Inem mencoba berdoa sosok wanita itu terkekeh tertawa.
Di sisi lain, Ayu merasakan perasaan tidak enak ia memutuskan beranjak dari sofa lalu berjalan menuju kamar mandi untuk melihat bi Inem.
Saat sampai di depan kamar mandi Ayu tersentak karena melihat bi Inem sudah dengan kondisi terbaring di lantai serta bersimbah darah.
“Astagfirullah Bi Inem!" pekik Ayu kaget
.
__ADS_1
“Ya Allah Bibi kenapa?” sambungnya dengan tangan gemetar.
Dengan sangat panik Ayu pergi ke kamarnya mengambil HP untuk menghubungi suaminya.
“Halo Mas, cepat pulang Mas! bi inem Mas,” celetuk Ayu yang panik.
“Ada apa dengan bi Inem, sayang?” sahut Dimas yang bingung.
“Bi Inem pingsan di lantai ada banyak darah, Ayo mas pulang!” ucapnya dengan sesenggukan.
“Ya sudah. Aku akan telepon ambulance dan pulang sekarang,” ucap Dimas sambil menutup teleponnya.
Setelah telepon ditutup Ayu bergegas untuk memanggil pak Joko, sopir pribadi mereka yang tengah duduk santai di teras rumah. Namun, saat Ayu ingin keluar dan menutup pintu kamar, Ayu terkejut saat melihat lukisan yang tadi mereka buang telah terpasang rapi di dinding kamarnya.
“Lukisan itu ? Kenapa bisa lukisan itu bisa berada di kamarku lagi?” ucap Ayu sambil kembali masuk ke dalam kamar.
Ayu menurunkan kembali lukisan itu dan melemparkannya ke dinding sembari berteriak.
Ayu meremas rambut dengan kedua tangannya sambil berteriak histeris. Ayu kembali mengambil lukisan itu dan menghempaskan berulang kali ke dinding.
Hal itu rupanya sia-sia, lukisan itu begitu kokoh aksi Ayu itu seperti tidak ada artinya. Lukisan itu tetap utuh tanpa goresan sedikit pun.
“Ada apa Non?” ucap pak Joko dengan panik.
Kedatangan pak Joko memecah kehisterisan Ayu hingga ia ingat dengan keadaan bi Inem yang masih terbaring di kamar mandi.
“Bi Inem!” Ayu teringat bi Inem.
“Kenapa dengan bi Inem Non?” tanya pak Joko.
“Pak Joko bantu saya angkat bi Inem,” Ayu berlari keluar kamar disusul oleh Joko.
Ayu dengan cepat berlari menuju kamar mandi, hingga Joko terkejut melihat keadaan bi Inem.
“Astagfirullah. bi Inem!” ucapnya sambil menghampiri bi Inem.
“Non ini kenapa kok bi Inem sampai begini?” tanyanya lagi.
“Saya juga tidak tahu Pak, saat saya datang bi Inem sudah begini,” Ayu tak kuasa menahan air matanya.
__ADS_1
“Ayo kita angkat Non,” ucap pak Joko sembari membangunkan tubuh bi Inem.
Dengan perlahan Ayu dan pak Joko mengangkat tubuh bi Inem dan membaringkannya ke sofa.
“Pak Joko sebaiknya ganti baju dulu,” perintah Ayu yang melihat baju pak Joko penuh darah dari bi Inem.
“Nanti saja Non, saya akan telepon ambulance,” pak Joko bergegas merogoh sakunya untuk mengambil HP.
“Tidak perlu Pak, mas Dimas sudah menghubungi ambulance mungkin sebentar lagi sampai,” Ayu menahan pak Joko.
Selang beberapa saat ngiungan mobil ambulance menggema dari kejauhan, Ayu bergegas keluar rumah dan membuka pagar agar mobil ambulance tidak perlu menunggu.
Mobil ambulance memasuki halaman rumah Ayu, dengan cepat para petugas masuk ke dalam rumah dan mengangkat tubuh bi Inem, saat di angkat pun darahnya menetes di lantai.
Ayu ikut masuk ke dalam mobil ambulance sedangkan pak Joko menunggu Dimas tiba di rumah.
Sepanjang jalan Ayu memegangi tangan bi Inem saat para petugas memberi pertolongan pertama.
“Tangan bi Inem dingin dan pucat,” gumam Ayu.
Ayu sedikit curiga melihat reaksi para petugas yang tiba-tiba menghela nafas panjang.
“Kalian kenapa berhenti? Kalian nggak lihat bibi saya sedang sekarat!” bentak Ayu.
“Maafkan kami Bu,” sahutnya.
“Maaf? Apa maksud kalian? Jangan bilang-” ucapan Ayu terhenti menyadari bi Inem tidak bernafas lagi.
“Bi! Bi! Inem.” Ayu menangis histeris.
Wajah yang pucat pasi semakin membuat Ayu menangis, ia tidak menyangka bi Inem akan pergi dengan keadaan seperti itu, rasa penyesalan mendalam di rasakan Ayu ia menyalahkan dirinya yang tidak langsung menghampiri bi Inem saat membersihkan kamar mandi.
Ayu menghubungi Dimas untuk memberi kabar jika bi Inem sudah tiada, mendengar hal itu Dimas terduduk lemas mengingat bi Inem sudah ia anggap seperti keluarga sendiri.
Jenazah bi Inem di bersihkan, luka sobekan di kepalanya pun sudah di jahit lalu di antar kembali ke rumah Ayu. Di sana semua keluarga sudah berkumpul menyambut kedatangan bi Inem untuk yang terakhir kalinya, Ayu juga menghubungi keluarga bi Inem.
Isak tangis mengiringi kedatangan mobil ambulance jenazah Bi Inem di turunkan lalu di mandikan.
Ayu terus menangis hingga matanya sembab, Ayu juga meminta maaf kepada keluarga bi Inem atas kejadian yang menimpa bi Inem. Hingga bi Inem di makamkan Ayu masih terus menyalahkan dirinya.
__ADS_1
Bersambung dulu gengs.