
Keesokan harinya Ayu beserta Dimas telah selesai sarapan pagi mereka bergegas pergi ke kantor Ayu.
“Ayo sayang kamu sudah siap?” tanya Dimas.
“Sudah Mas,” ujar Ayu yang telah siap pergi.
Dimas pun menggandeng tangan Ayu menuju mobilnya, sesampainya di depan pintu mobil.
Dimas membukankan pintu mobil lalu mempersilahkan Ayu masuk, setelah Ayu masuk barulah dirinya masuk ke dalam mobil mengantarkan Ayu pergi ke kantornya.
Dimas mulai menyalakan mesin mobil, selepas itu barulah ia menjalankan mobilnya ke kantor Ayu.
Di tengah perjalanan Ayu terlihat berdiam diri saja, Dimas yang mengetahui istrinya berdiam diri menanyakan kepada Ayu.
“Ada apa sayang sepertinya sedari tadi aku lihat kamu diam saja, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Dimas dengan lembut.
“Terasa berat Mas, aku menyukai pekerjaan ini. Di tambah lagi di sana banyak kenang-kenangan diriku bersama Sinta,” sahut Ayu yang terlihat bersedih.
“Sudahkan nanti jika kamu sudah melahirkan, bisa saja kembali bekerja di kantor pak Damar, jika pak Damar masih membutuhkanmu,” sahut Dimas yang menghibur Ayu.
“Iya Mas,” sahut Ayu dengan senyum.
“Sudah ya sayang, jangan bersedih aku melakukan hal ini karena aku sangat mencintai dirimu dan buah hati kita,” ujar Dimas seraya mengelus-elus perut Ayu.
“Iya Mas aku mengeri, aku pun ingin menjadi istri yang baik dan juga ibu yang baik untuk buah hati kita kelak,” ucap Ayu.
Setelah mereka berbincang-bincang cukup lama di dalam mobil tidak terasa Dimas telah sampai di parkiran kantor Ayu.
“Mas tunggu di dalam mobil saya,” pinta Ayu.
“Apa tidak sebaiknya aku antar saja sayang sampai di depan ruangan pak Damar,” sahut Dimas.
“Tidak usah Mas, tidak apa-apa aku sendiri saja ke ruangan pak Damar,” Ayu yang menolak.
Dimas pun mengiyakan permintaan Ayu, ia menunggu di dalam mobil sedangkan Ayu keluar dari dalam mobil menuju ke ruangan pak Damar.
Beberapa menit Ayu berjalan akhirnya ia sampai di depan ruangan pak Damar.
“Permisi Pak Damar,” ucap Ayu seraya mengetuk pintu ruangan pak Damar.
“Iya silahkan masuk,” sahut pak Damar mendengar seseorang yang mengetuk pintu.
Ayu pun masuk ke dalam ruangan pak Damar.
__ADS_1
“Eh... Bu Ayu silahkan duduk,” pak Damar mempersilahkan Ayu duduk.
“Terima kasih Pak.”
“Kebetulan sekali ibu Ayu ke ruangan saya, sebenarnya saya mau menceritakan sesuatu tapi saya lupa terus,” sahut Pak Damar.
“Mau cerita apa Pak?” tanya Ayu.
“Begini saya mau mengajak ibu Ayu dan pak Dimas untuk makan malam di rumah saya sembari melihat lukisan yang baru saya beli, karena ibu Ayu kan sangat mengerti tentang seni lukis” ucap pak Damar memberitahukan niatnya.
“Kalau boleh saya tahu lukisan apa itu Pak, dan Bapak beli di mana?” tanya Ayu yang sangat penasaran.
“Tiga bulan yang lalu saya ke rumah orang tua saya yang berada di desa kuringkit, setelah saya pulang saya tidak sengaja melihat sebuah lukisan yang di bawa oleh pemulung di gerobaknya. Terus karena lukisan itu sangat bagus, indah dan cantik saya pun berhenti lalu menghampiri pemulung itu. Dan akhirnya saya membeli lukisan itu dan saya bawa pulang,” ujar pak Damar yang menjelaskan.
“Kalau boleh saya tahu lukisan itu bergambar apa?” Ayu yang mengulangi pertanyaan kembali.
“Seorang wanita bergaun merah yang sangat cantik serta anggun memegang setangkai bunga mawar merah. Lalu di bawah lukisan itu terdapat tulisan Mawar, 13 juni 1966 kalau tidak salah saya lihat,” pak Damar yang menjelaskan semuanya.
Mendengar lukisan tua itu kembali Ayu sangat terkejut dan takut ia pun segera memberitahukan niatnya datang ke ruangan pak Damar.
“Begini Pak, sebelum saya minta maaf terlebih kepada Bapak Damar kalau saya tidak bisa ke rumah Bapak. Karena saya sudah ada janji dengan Mas Damar. Dan satu hal lagi kedatangan saya ke ruangan Bapak Damar untuk memberitahukan bahwa saya tidak bekerja lagi di perusahaan ini, karena saya sedang hamil dan mas Damar tidak memperbolehkan saya untuk bekerja kembali,” sahut Ayu yang langsung memberitahukan niatnya.
“Sayang sekali ya Bu Ayu, padahal kinerja ibu Ayu di perusahaan ini sangat bagus sekali. Apa ibu Ayu sudah memikirkan matang-matang. Dan saya juga bisa memberi jabatan yang tinggi kepada ibu Ayu, karena perusahaan ini masih membutuhkan ibu Ayu,” pinta Pak Damar kepada Ayu.
“Maaf sekali lagi Pak, saya sudah memikirkan tindakan ini jauh-jauh hari dan saya tidak bisa bekerja di perusahaan Bapak lagi saya ingin fokus mengurus keluarga saya Pak, dan terima kasih banyak atas tawaran Bapak Damar.
“Terima kasih Pak atas pengertian Bapak. Saya mohon pamit terlebih dahulu, mas Dimas menunggu saya di dalam mobil,”
“Oh ya Bu Ayu silahkan, suatu saat nanti jika ibu Ayu ingin kembali bekerja di perusahaan ini lagi saya membuka selebar-lebarnya pintu perusahaan ini kepada Bu Ayu,” Damar yang menawarkan.
“Terima kasih tawarannya pak Damar, saya pamit terlebih dahulu,” ucap Ayu yang berjabat tangan dengan pak Damar.
Setelah selesai berbicara dengan pak Damar Ayu meninggalkan ruangan pak Damar lalu kembali ke mobil di mana Dimas sedang menunggu.
Setelah sampai di parkiran mobil Ayu pun masuk ke dalam mobil.
Dimas langsung menjalankan mobilnya menuju rumah.
Di tengah perjalanan Dimas menanyakan Ayu.
“Bagaimana sayang? Apa kata pak Damar mengenai kamu berhenti dari perusahaannya,” tanya Dimas.
“Sebenarnya pak Damar tidak ingin aku keluar dari perusahaannya. Dia menawarkan jabatan yang tinggi kepadaku dan menunggu kembali untuk bekerja di peruasannya tapi–,” ucapan Ayu terhenti sejenak ia mengela nafas yang panjang.
__ADS_1
“Tapi ada apa sayang?” Dimas yang khawatir.
“Tapi aku tidak mau kembali lagi di perusahaan bertemu pak Damar apa lagi ke rumahnya,” jelaskan Ayu dengan raut wajah yang takut.
“Ada apa sayang, coba ceritakan pelan-pelan kepadaku,” sahut Dimas yang sangat bingung di buat Ayu.
“Lukisan tua itu Mas, sekarang ada di tangan pak Damar dan kini lukisan itu berada di rumah Pak Damar. Tadi pak Damar ingin mengajakku untuk melihat lukisan tua itu di rumahnya tapi aku tolak Mas,” sahut Ayu yang sangat takut.
Dimas yang mendengar itu sangat terkejut.
“Mengapa lukisan itu bisa berada di tangan pak Damar ini tidak mungkin,” sahut Dimas.
“Aku pun tidak tahu Mas kenapa lukisan tua itu bisa berada di tangan pak Damar.
Tiba-tiba radio yang ada di mobil Dimas menyiarkan berita kejadian tiga bulan yang lalu.
“Seorang laki-laki tua yang bernama BY telah meninggal akibat tindakan bunuh dirinya ia membakar rumahnya yang berada di desa kuringkit jalan kenanga gang melati no 66. Menurut para saksi BY mengalami depresi berat hingga akhirnya mengambil tindakan bunuh diri. Pemerintah setempat ingin membangun kembali rumah BY untuk tempat panti jompo, demikian kabar ini saya sampaikan,” Dimas yang mematikan radio di dalam mobilnya.
“Ini tidak mungkin!” sahut Dimas yang gugup.
“Ada apa Mas?”
“Bayu kuncoro pemilik lukisan itu telah bunuh diri,” Dimas menjelaskan.
“Berarti benar lukisan itu sekarang ada di rumah Pak Damar?” sahut Ayu.”
“Bagaimana bisa pak Damar mendapatkan lukisan itu?”
“Menurut perkataan pak Damar di saat dia telah selesai mengunjungi orang tuanya di desa kuringkit secara tidak sengaja dia bertemu dengan pemulung yang membawa lukisan tua itu di gerobaknya. Lalu pak Damar membeli lukisan itu dan membawanya pulang.”
“Ini sayang mustahil sayang,” sahut Dimas yang gugup.
“Semoga saja tidak ada apa-apa lagi Mas, lagi pula aku sudah tidak bekerja lagi di perusahaan itu Mas?” tutur Ayu menenangkan situasi.
“Sudahlah jangan terlalu di pikirkan. lagi pula benar katamu, kamu sudah tidak bekerja di perusahaan pak Damar kembali. Dan jangan sekali-kali menginjak rumah pak Damar apa pun yang terjadi,” Dimas yang melarang Ayu.
“Iya Mas, semoga semua ini benar-benar sudah berakhir,” Ayu yang berharap.
Tidak terasa Dimas telah sampai rumah, Ayu pun kembali turun dari mobil Dimas.
Dimas pun mulai melanjutkan perjalanannya kembali ke kantornya.
Sepanjang jalan Dimas memikirkan kejadian yang mustahil itu, dan Dimas hanya bisa berharap lalu berdoa agar keluarga kecilnya terhindar dari kejadian malapetaka yang pernah menimpa Ayu saat itu.
__ADS_1
Tidak terasa Dimas telah sampai di kantornya. Dimas mulai masuk ke kantornya dan melanjutkan pekerjaannya mencoba melupakan tentang lukisan tua itu.