MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
# Episode 9. Ospek 1.


__ADS_3

* Akram


Pagi ini tidak seperti biasanya Ia dan Azhar bangun lebih awal. Hari ini adalah yang begitu spesial. Ya, ospek akan dimulai hari ini, yang akan dibuka langsung oleh Bapak Rektor UnHalu, Prof. Dr. Umar Hanan S. sos. M. si.


Jelas mereka wajib hadir lebih awal sebagai perwujudan sikap disiplin dan semangat baru menyambut sebuah status baru yang membanggakan,


"Mahasiswa".


Tapi bukan sebab perkara itu Ia sudah bangun di jam yang bahkan ayam pun belum turun dari peraduannya. Melainkan karna ketidaksengajaan yang menyiksa. Bagaimana tidak, malam tadi kediaman mereka kedatangan duo Mak rempong, Fathin dan Mitha, yang praktis membuat tidur mereka bak prajurit yang sedang berjaga di perbatasan.


Setiap sejam sekali mereka terpaksa terbangun akibat aksi nyeleneh salah satu personil duo Mak tempong, Fathin, yang menyetel alarm dengan ritme waktu tiap sejam sekali berdering.


Jangan tanya soal volume suara deringan alarm tersebut. Selain sukses membuat Ia, Azhar dan Mitha uring_uringan semalaman, juga berhasil tembus di kostan sebelah. Terbukti dengan adanya pesan singkat dari salah satu penghuninya, yang masuk di handphone miliknya. Menanyakan siapa yang menyetel alarm beruntun yang bunyinya bak sirine emergency.


"Astaga, ini jam berapa, sih, Ram? Tuh alarm matiin dulu, ah!" Azhar yang belum sepenuhnya sadar bahwa mereka tidak hanya berdua tapi berempat, beberapa kali memberi Instruksi untuk mematikan alarm semalaman sembari menimbun telinganya dengan bantal.


Hingga pada kali keempat Ia terbangun, tepatnya sesaat sebelum adzan shubuh, dou Mak rempong itu benar-benar tidak memberinya peluang untuk terlelap kembali seperti sebelumnya. Padahal Ia masih sangat mengantuk.


"Eh, eh, mau ngapain? Ayo bangun! Nggak boleh tidur lagi. Udah mau shubuh, nih!" Mitha dengan sigap dan sekuat tenaga menarik tangannya agar Ia bangun duduk.


"Please, Mhit, bentar aja, lagian ini masih stengah jam lagi shubuhnya!" Sahutnya memelas dengan mata yang masih mengatup rapat.


"Kita tuh butuh stamina ok buat ngedepin para senior ntar. Nih kita udah bad mood duluan sebelum ke arena gegara ngantuk berat. Lagian kalian kenapa sih, nyetel alarmnya segitu mepetnya, blum lagi volumenya ampe tembus ke kostannya Bang Nathan di seblah!" Ia mencoba protes berharap di beri extra time.


"Ck, ya udah. Jangan salahin kita yah kalau kalian berdua telat ntar!" Meski berujung omelan tapi bersyukur, pada akhirnya keduanya mengalah memilih membiarkan Ia dan Azhar kembali terlelap dalam pelukan shubuh.


Tepat pukul 04.40 Mitha kembali memaksanya bangun. Ia membuka matanya bersamaan terdengar adzan shubuh dari mesjid terdekat.


Meski masih mengantuk, Ia tetap berusaha bangkit dan beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu. Ia berpapasan dengan Azhar yang baru keluar juga dari sana dengan mata berat akibat kantuk yang tertahan.


"Ck..ck, kalau selama ospek nanti kita gini trus, bisa-bisa kita kena anemia gara-gara kurang tidur!" Ia berdecak kearah Azhar sembari menggeleng tak habis pikir dengan kegilaan dua sahabat mereka.


Azhar hanya terkekeh kecil mendengarnya dan langsung beranjak menggunakan baju gamis dan songkok sambil menunggunya hendak ke masjid, untuk berjamaah menunaikan shalat shubuh.


Tak berselang lama Ia pun menyusul yang lain yang masih setia menunggunya. Mereka berempat pun berangkat ke masjid terdekat untuk shalat shubuh berjamaah.


Dalam perjalanan pulang, Mitha sempat menggoda mereka berdua,


"Kalian pasti kalau cuma berdua paling shalat shubuhnya ngikutin jadwal bangunnya kalian kan? Pasti shalat shubuhnya udah masuk waktu dhuha palingan, iya khan? Ngaku, ayo ngaku!" Ia berpaling ke arah Azhar yang memalingkan wajah sambil menahan tawa.


Ia yang dasarnya tidak pernah bisa menahan tawa langsung terbahak lalu seperti biasa melampirkan smirk menyebalkannya sebab apa yang di ucapkan Mitha mutlak benar adanya.


"Eh, jangan tertawa, nggak lucu tau! Fhat, cepet jelasin ke mereka gimana nasib orang yang suka lalai dalam shalat. Biar mereka tobat!"


"Ehemm, kalian pasti hafal kan Qur'an Surah Al_Maa'un? Di situ dijelasin kalau orang yang suka lalai dalam shalatnya tuh termasuk golongan orang - orang yang mendustakan agama, munafik!" Jelas Fathin sambil melihat mereka bergantian.


"Lalai di sini bukan cuma ninggalin shalat, tapi nggak focus ama bacaan, nunda-nunda waktunya semau gue atau shalat bolong-bolong itu semua tuh udah masuk juga dalam pengertian lalai di sini!" Tambah Fathin lebih serius membuatnya meringis malu.


"Dan konsekuensi dari pelanggaran ini adalah kita bakal di celupin dalam neraka selama 1 hukub atau 80 tahun akhirat. Bukan tahun dunia, lho! Tapi akhirat. Sehari di sana setara 1000 tahun di sini. Tuh, udah bisa bayangin kan lamanya kayak gimana?"


Mitha menyeringai di sertai ekspresi menyeramkam yang dibuat-buat membuat Ia dan Azhar ingin tertawa walau sebenarnya keduanya merasa horor mendengar penuturan Mitha barusan.


"Pokonya mulai sekarang setiap malam kalian harus pasang alarm jam empat. Biar shalat shubuhnya nggak telat lagi!" Fathin akhirnya menyahut tegas.


"Siap Komandan!!" Keduanya berucap sembari memberi hormat. Membuat keempatnya tertawa bersama.


Saking asyiknya Ia dan ketiga sahabatnya berbincang serius tentang shalat, tanpa terasa mereka sudah sampai di depan kamar kostnya.


"Udah ah, ayo kita berkemas. Kita sarapan dulu. Aku sama Fathin udah bikin sarapan tadi. Baju-baju kita juga udah Mitha setrika!" Titah fathin kemudian memberi instruksi.


Merekapun masuk ke dalam hendak sarapan dan bersiap-siap.


__ __ __


* Fathin


Ia yang memang takut dihukum saat ospek nanti akhirnya menyetujui ide briliant Mitha yang mengajaknya menginap di kamar kost Azhar dan akram selama masa ospek.


Ia begitu takut membayangkan jika sejarah hukuman gegara terlambat waktu SMP dulu kembali terulang. Ia berasumsi bahwa jika itu terjadi di kampus maka rasa malunya akan berlipat-lipat, sebab di saksikan oleh ribuan mata dewasa dari seluruh naba dan para senior .


Terlebih di sana pasti akan ada Bang Fahry yang kini mulai sering mengusik nya dengan debaran dada tak menentu tiap kali pandangan mereka bertemu. Atau sentuhan tangan refleks Bang Fahry yang selalu sukses menimbulkan gelenyar aneh di sekujur tubuhnya dan membuatnya meremang dalam sekejap.


Rasa was-was yang over load tersebut akhirnya membuat Ia mencetuskan Ide liarnya memasang alarm semalaman di ponsel miliknya dan Mitha yang praktis membuat seisi kamar uring-uringan setiap alarm tersebut menggema memecah kebisuan malam.


Bukan sekali dua kali Ia mendengar ketiganya terbangun bersama gerutuan masing-masing, tapi Ia acuh dengan pura-pura tidak mendengarnya sembari tertawa jahat dalam hati.

__ADS_1


"Hahahahaha!"


Hingga tiba waktu shubuh Ia pun membangunkan Azhar. Di lihatnya Mitha ikut membangunkan Akram yang masih begitu lelap dalam buaian mimpinya.


Setelah drama epic persiapan ke kampus dari bagi-bagi tugas antara merapikan tempat tidur, menyetrika seragam mereka semua, menyediakan sarapan lalu antrian mandi dan mengenakan seragam ospek, kini mereka telah berada di kampus, tepatnya di depan gedung Rektorat. Di antara ribuan mahasiswa baru lainnya dari berbagai fakuktas.


Berbaris rapi sesuai fakultas masing-masing. Menunggu kedatangan Pak Rektor yang akan membuka dengan resmi pelaksanaan ospek tahun ini.


Terlihat ratusan senior menggunakan satuan jas almamater berwarna kuning cerah berlogo kampus tersebut dari berbagai jurusan, berdiri juga dalam barisan rapi di sisi kiri.


Ia mengitarkan pandangannya mencoba mencari sosok yang mulai Intens mengisi fikirannya belakangan ini. Tiba-tiba netranya menangkap bayangan Bang Fahry di antara ratusan panitia berjaket kuning sedang berbincang ria dengan salah satu panitia cewek di sampingnya. Terlihat sangat akrab. Seketika hatinya mencelos melihat pemandangan itu.


"What? Hei, what happen with you, Fathin? Ya iya lah mereka akrab, secara mereka kan satu team, sebagai sesama panitia banyak hal yang bisa memungkinkan mereka berinteraksi satu sama lain. Lagian ngapain kamu kesal gitu, lihat dong style Bang Fahry tuh terlalu perfect untuk kamu yang nggak ada secuilpun dari dirimu yang bisa bikin bangga, sadar, Fathin! Sadar! Lupakan, lupakan, kamu kesini mau kuliah kan? bukan mau cari pacar. Lagian tidak menutup kemungkinan suatu saat Sherin pacarnya kembali kesini?"


Batinnya masih sibuk bermonolog ketika tiba-tiba terdengar Mc bersuara lewat microphon .


Ia pun kembali fokus ke depan, di mana Pak Rektor bersama jajarannya berdiri, menyampaikan beberapa patah kata sambutan sekaligus membuka dengan resmi agenda tahunan, ospek kali ini.


Setelah acara pembukaan semua berpencar dan kembali berkumpul di fakultas masing-masing untuk kemudian di bagi lagi sesuai jurusan.


Ia bersama Mitha sahabatnya berjalan menuju depan mushala FKIP, tempat berkumpulnya anak-anak maba untuk jurusan bahasa. Ya, mereka berada di jurusan yang sama sebab Mitha mengambil program study bahasa Indonesia. Sedangkan Azhar dan Akram berada di jurusan Ilmu pendidikan jurusan Penjaskes.


Saat sedang berjalan tiba-tiba simpulan tali sepatu kets nya terbuka. Ia dengan cepat menunduk memperbaikinya. Mitha yang berjalan beriringan dengannya tidak menyadari ketiadaan dirinya sebab sedang menyapa salah satu peserta ospek yang sedang bersamanya.


Suara keras dan mengintimidasi dari beberapa senior yang memberi arahan agar mereka mempercepat langkah membuat tangannya kian gemetar saat Ia berusaha mengikat tali sepatu miliknya.


Tiba-tiba sebuah suara yang sangat Ia kenal memanggil namanya dari belakang.


"Bang Fahry!" Batinnya.


Ia ingin segera berlari dari tempat itu tapi suara itu kian mendekat dan dalam sekejap ikut menunduk di depannya. Membuat Ia kian kesulitan mengikat sepatunya.


"Kamu kenapa? nggak apa pa kan?" Suara yang terasa begitu dekat di telinganya, seketika menghentikan gerakannya. Ia mengangkat wajahnya dan tatapan keduanya bertemu, mengunci untuk sekian detik.


Debaran dada yang menghentak saling berkejaran benar-benar menambah kelu di bibirnya. Sekuat hati Ia berusaha menentramkan jiwa dan raganya yang kian kaku menanti adegan selanjutnya. Dan, benar saja, Ia semakin tak sanggup mengembalikan kesadarannya kala tangan Bang Fahry meraih tali sepatunya dan mengikatnya dengan cekatan. Membuatnya buru-buru meraih tangannya sendiri.


"Nah, Udah, ayo buruan gabung ama yang lain. Udah pada berbaris kayaknya tuh!" Ucap Bang Fahry sembari berdiri dan meraih tangannya hendak membantunya berdiri.


Ia mencoba mengelak halus dengan buru-buru berdiri. Pasalnya kesadarannya sudah kembali dan betapa kagetnya Ia mendapati beberapa mata iseng para senior teman bang Fahry yang melihat ke arah mereka sembari geleng-geleng kepala disertai kekehan kecil.


"I_iya, makasih, bang! A_aku kesana dulu!" Ia tersenyum kaku, mengangguk malu ke arah Fahry dan sejurus kemudian berjalan sedikit berlari menuju halaman mushala dan sekejap menerobos ke dalam barisan maba dari prodi bahasa inggris.


Sepanjang hari Ia berdoa semoga tidak membuat kesalahan. Ia tidak mau menjadi bahan buliyan para senior itu, terlebih di sana ada Bang Fahry yang sedari awal sering melihat ke arahnya sembari sesekali tersenyum bila manik mereka bertemu. Membuatnya lebih banyak menunduk mencabuti rerumputan di depan lipatan kakinya .


Hingga menjelang sore barulah mereka di perbolehkan pulang. Beberapa arahan dan perintah wajib dari para panitia menjadi catatan penting baginya.


"Besok pukul 06.00 tepat semua sudah harus di tempat. Telat satu menit siap terima resiko. Tas nya di ganti pake kresek merah, trus sepatu sama kaos kakinya pake yang gado-gado. Satu kaki warna hitam, satunya lagi warna putih biar samaan ama warna seragamnya. Topinya diganti pake loyang kecil warna merah senada ama warna tasnya. Trus slempangnya buat dari karton tulis FKIP sama jurusannya. Ingat jaga kesehatan, jangan begadang dan besok on time! Wassalam'alaikum warahmatullah wabarakatuh!"


Seorang abang senior berteriak memberi arahan sesaat sebelum barisan dibubarkan.


__ ___ __


* Fahry


Sebagai "kosong satu" dari salah satu organisasi HiMA di kampus, Ia cukup sibuk akhir-akhir ini. Dari rapat bersama panitia ospek, koordinasi dengan anggota HMJ terutama pada divisi -divisi yang terlibat aktif selama masa ospek berlangsung. Belum lagi Ia harus menyiapkan materi yang akan di bawakannya pada hari kedua nanti.


Dalam hal ini Ia ingin tampil perfect di depan Fathin. Tidak ingin melakukan sedikitpun kesalahan membuatnya ekstra hard mencari point-point berbobot untuk materi "Fungsi Mahasiswa Dalam Tatanan Bernegara" yang akan dibawakannya nanti.


Pukul 06.00 Ia sudah tiba di kampus. Memarkir motor besarnya dan berjalan ke arah depan gedung rektorat dimana acara opening ceremony ospek tahun ini akan diadakan, bergabung bersama ratusan panitia ospek lainnya.


Ia mengitarkan pandangannya ke sisi kanan di mana ribuan mahasiswa baru peserta ospek sedang berbaris menunggu acara pembukaan dimulai. Netranya berkelana mencari Fathin, sosok yang mulai sering Ia rindukan. Sudah seminggu Ia tidak melihatnya sejak pertemuan mereka terakhir kali saat pendaftaran ulang minggu lalu.


Misi tersembunyinya membantu gadis cantik pemilik mata sendu itu akhirnya berhasil tanpa membuatnya malu. Ia sengaja meminta bantuan Husnul berpura-pura meminta semua berkas pendaftaran ulang milik Fathin dengan alasan akan membantunya agar Ia terbebas dari semua biaya masuk, SPP, almamater juga praktikum.


Terang saja gadis itu begitu semangat mendengar Ia akan di bebaskan dari pembayaran, membuatnya tanpa pikir panjang menyerahkan semua berkasnya kepada Husnul.


Ia pun menyerahkan uang senilai nominal yang tertera dalam kwitansi pembayaran biaya masuk kepada Husnul dan menyuruh menyetornya bersama berkas milik Fathin. Dan fix, misinya berhasil.


Ia masih sibuk mencari-cari sosok Fathin tiba-tiba Naila, rekan sesama panitia, datang menghampirinya dan menanyakan keberadaan Husnul. Perbincangan keduanya pun berlanjut saat Ia iseng menggoda Naila,


"Husnul nya blum ketemu Nai, prasaan waktu rapat terakhir kemaren kamu juga nanyain husnul?" Ia terkekeh kecil melihat rekannya itu seketika malu terlihat dari wajahnya yang memerah.


"Eeh, oh itu, A_aku cuma mau ngembaliin buku yang aku pinjam punya Bang husnul kemaren!" Naila tergagap menjawab.


"Oh, ditelfon kali orangnya, nomornya punya kan?" Ia melihat Naila hendak menjawab tapi urung sebab di saat yang sama terdengar suara microphon di depan memberi atensi agar semua berbaris rapi, pembukaan akan segera dimulai.

__ADS_1


Semua maba kini berpencar menuju fakultas masing. Ia sedang berjalan bersama Rasyid, ketua HMPS matematika ketika tiba-tiba netranya menangkap sosok Fathin sedang berjalan bersama Mitha sahabatnya. Tapi sejurus kemudian Ia melihat Fathin duduk berjongkok memegangi sepatunya. Ia sontak berlari kearah tersebut setelah berpisah dengan Rasyid di depan perpustakaan.


"Fathin!" panggilnya sembari berjalan cepat menghampiri gadis itu.


"Kamu kenapa? Nggak apa-apa kan?" Tanyanya sedikit khawatir. Maniknya langsung ikut melihat kebawah mencari tahu apa yang sedang di lakukannya. Ternyata ikatan tali sepatunya terbuka dan terlihat kesulitan mengikatnya.


Ia pun ikut berjongkok. Wajah cantik itu akhirnya terangkat dan seketika pandangan mata keduanya bertemu dan dalam beberapa hitungan Ia tak berniat mengakhiri adegan menyenangkan itu. Tapi Ia tersadar saat telinganya menangkap suara rekan-rekannya terkekeh menggodanya,


"Ada trailer film india woyy! Hahahaha!"


Ia terkekeh dalam hati. Tangannya bergerak meraih tali sepatu milik Fathin dan mengikatnya dengan cepat.


"Nah, Udah, ayo buruan gabung ama yang lain! Udah pada berbaris kayaknya tuh!" Ia berdiri dan hendak meraih tangan Fathin tapi gadis itu malah berdiri gugup sembari berucap terimakasih dan berlari masuk dalam barisan.


Seharian team panitia bekerja mengatur, memberi arahan juga materi kepada para peserta ospek. Beberapa kali Ia layangkan pandangannya pada gadis cantik pujaannya di depan sana. Setiap manik keduanya bertemu Ia pasti tersenyum bermaksud memberi semangat.


Sore hari saat rangkaian acara selesai, Ia kembali mencari-cari keberadaan Fathin. Akhirnya Ia menemukan Fathin di antara gerombolan maba yang sedang berjalan menuju parkiran. Tanpa aba-aba Ia melesat mengejar ke arah tersebut.


"Fhatin, Fhat, tunggu, hhaahhhh!" Ia pun mensejajarkan langkahnya denga gadis itu sembari mengatur nafasnya yang masih memburu akibat lari marathon barusan.


Dilihatnya Fathin berhenti dan menoleh kearahnya.


"I_ya, bang, ada apa? Kenapa lari-lari?"


"Lari ngejar kamu. Kamu cepet banget, sih tadi ngilangnya. Oh ya Itu, fhat, kamu pulang ma siapa? Aku antar yah?" Ia berlagak memijit hidungnya mencoba memecah kekakuan di antara mereka.


"Oh itu Bang, Aku sama mitha nggak pulang ke kamar dulu selama ospek. Takut telat!"


"Trus kalian nginap di mana?"


"Di kamar kost Azhar sama Akram, Bang!"


"Kok di situ? Emang kalian nggak punya teman cewek yang tinggal di skitaran kampus?" Tanyanya dengan nada menghakimi.


"Ada!"


"Trus?"


"Trus apanya?"


"Ya, trus kenapa nggak ama mereka aja kalian nginap?"


"Kita berdua nggak suka sahabatan ma cewek!" jawab fathin polos


"Kenapa?"


"Nggak suka aja, baperan, trus kapan-kapan sahabatannya broken gampang ngumbar aib temen!" Fathin berucap sambil menunduk.


"Iya tapi tetep aja Aku nggak suka kamu tidur sekamar ama mereka!" Ia menyeringai tak sadar Ia keceplosan .


"Kenapa? Kita sahabatan, InsyaAllah nggak akan ada apa-apa, kok!"


Wajah dengan mata sendu itu terangkat seakan hendak meyakinkannya. Tatapan manik sendu itu seketika menimbulkan gelenyar aneh di hatinya, membuat Ia Ingin menangkup wajah cantik bermata sendu itu dan,


"Aaarrrggghhh, ****, apa yang aku pikirkan?" Umpatnya membatin.


"Kalau gitu, aku antar kamu ke kostan Azhar aja. Kamu udah capek seharian, jangan jalan lagi ntar kamu nggak fit buat besok! Oh ya, Mitha sama yang lain mana, biasanya kalian barengan trus kayak truk gandeng?" Ia terkekeh kecil melihat Fathin nyengir lucu.


"Udah duluan semua tadi pas denger suara Abang manggil!" Fathin tampak tersenyum ramah.


"Astaga, apa lagi ni? debaran apa ini?" Batinnya tak henti merutuki hatinya yang kian tak terkendali.


Perjalanan pulang kali ini pun terasa singkat. Padahal Ia masih sangat ingin bersama dengan gadis itu.


Akhirnya keduanya pun sampai di depan kamar kos Azhar dan Akram. Ketiga temannya telah lebih dulu tiba.


"Ehemm, makasih, Bang! Hati-hati di jalan!" Seketika Hatinya menghangat mendengar fathin memberinya perhatian sedemikian rupa.


"Iya, sama-sama! Makasih juga yah untuk perhatiannya!"


"Bye!"


"Bye?"


__ __ __

__ADS_1


Next >>>



__ADS_2