
* Fathin
Ia bingung dengan apa yang sedang terjadi. Entahlah, apakah Ia harus bahagia dan bersuka cita. Sebab asumsi negatif tentang keluarga berada yang biasanya begitu selektif dan teliti akan background seseorang, akhirnya terbantahkan dengan sambutan hangat dan wellcome yang diterimanya.
Ataukah mesti bersedih dan bermuram durja sebab itu tandanya tidak ada lagi alasan baginya untuk menolak titah si pemaksa itu.
Menyaksikan euforia yang tetiba hidup dalam rumah bak istana itu oleh sebab keputusan konyol bang Yusuf, praktis membuatnya kian tak berdaya.
Bahkan saat tangan-tangan tulus dan wajah-wajah penuh harap itu memintanya untuk menerima Yusuf dan membuatnya berubah menjadi pribadi yang lebih baik, Ia bahkan tak bisa menemukan padanan kata yang tepat untuk sekedar berucap "maaf, saya tak pantas untuk keluarga ini!"
"Mulai saat ini, rumah ini terbuka setiap saat untuk kamu, kapanpun kamu mau dateng, Fathin." Ucap mbak Tiana saat Ia meminta diri untuk pulang.
"Jangan kapok yah! Rumahnya emang brisik soalnya banyak bocah." Imbuh Mbak Meisya terkekeh.
"Sebenernya dia itu baik, cuman semenjak mama nggak ada, Yusuf jadi berubah masa bodoh dengan apapun. So, Mbak harap kamu bisa bantu dia berubah lebih baik lagi." Pinta mbak Citra saat Ia sedang menikmati hidangan yang di sajikan untuknya. Ia hanya tersenyum sebagai jawaban.
"Mbak yakin, dek Fathin pasti perempuan baik. Kamu cantik, penurut, sopan, lembut dan penyayang. Mbak bisa liat itu dari mata, wajah juga sikap kamu. Kalau boleh menebak, kamu pasti terpaksa kan ikutin maunya yusuf?" Ia jadi ikutan tebak-menebak kalau mbak Sarah itu seorang telepati, punya indra ke enam, psikolog atau apalah yang semacamnya.
Wanita berhijab rapi itu bisa dengan tepat memberi penilaian padanya. Cantik, penurut, bla bla bla. Kalau cantik, baik dan lain-lain itu relatif. Tapi kalau penurut? itu yang paling pas, menurutnya.
"Ya iyalah aku emang penurut, nih sekarang buktinya. Aku mau ajha nurut patuh perintah konyol si muka datar ini." Sungutnya membatin sembari melirik wajah cuek yang sedang serius mengemudi.
Kian dilema saat Ia pamit pulang pada orang yang dalam sekejab, Ia telah menaruh hormat padanya. Dengan penuh wibawa pak Wahyu berucap,
"Sudah begitu lama saya menunggu datangnya hari ini. Saya ingin ada seseorang yang bisa membuatnya berubah. Selama ini saya sudah cukup dibuat pusing dengan semua prilaku bebalnya. Semoga kamulah orang yang tepat untuk ini. Saya berharap banyak."
Bak sebuah beban berat yang di embankan di atas punggung lemahnya, Ia sampai tak mampu menjawab ya atau tidak.
Belum lagi berbagai macam permintaan polos anak-anak kecil menggemaskan itu.
"Aunty mau yah jadi temen boboknya uncle, Kiki kasian uncle kalau bobok sendirian terus nggak ada temennya."
"Aku bakal bilangin ke semua temen-temen aku kalau aku punya aunty yang cantik...... banget."
Si kembar Shafa Marwah malah sampai berjanji segala akan jadi anak yang baik, penurut dan tidak akan menyusahkan bila Ia mengabulkan permintaan keduanya.
Memikirkan semua yang baru saja dialaminya, otaknya seketika melakukan flashback. Seminggu yang lalu Ia masih begitu bahagia, menikmati tiap proses yang di alaminya.
Menjadi mahasiswa baru, lamaran kerja di kafe baru milik Bang Fadhil dianulir, perasaan campur aduk di moment perdana ospek, juga part keseruan kebersamaannya dengan tiga personil genk R-bink lainnya.
Hingga akhirnya Ia bertemu dengan Si pemaksa, yang kemudian membuyarkan semua mimpi indahnya menjadi sebuah mimpi buruk, membuatnya terjebak di sana dan tak berdaya untuk kembali ke alam sadarnya. Bak sebuah paradoks, aneh tapi nyata.
"Mikirin apa?" Suara berat yang tetiba menggema, seketika membuyarkan lamunannya. Ia baru sadar ternyata mobil sedang berhenti di lampu merah.
Ia mendesah pelan sebelum menjawab.
"Ng_ngngak ada!" Sedikit tergagap Ia menyahut sambil menggeleng. Wajahnya Ia palingkan ke kiri kaca mobil. Memperhatikan deretan mobil yang ikut berhenti.
"Kamu masih syok liat keluarga aku?" Yusuf terkekeh kecil lalu menatapnya intens yang kini ikut berpaling kembali menatap wajah tampan tersebut. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk meluahkan segala uneg-uneg yang sedari tadi membuatnya gundah gulana.
"Ck, bukan soal itu!" Ia berdecak pelan dan kembali memalingkan wajahnya ke depan sebab tak mampu menatap mata setajam elang milik bang Yusuf, yang serasa hendak menembus jantungnya.
"Kakak kenapa sih, main to the point aja kayak gitu tadi?" Lanjutnya. Kali ini wajahnya kian serius sedikit menekuk.
"Aku nggak suka basa-basi!" Sahut Yusuf ikut mengalihkan pandangannya ke depan sebab kendaraan di depan sudah mulai bergerak pelan.
"Iya, tapi kakak nggak bisa nganggap lelucon hal seurgent gini. Nikah tuh bukan main-main. Pernikahan itu sesuatu yang sakral. Kita harus beneran hati-hati memilih pasangan hidup, sebab kita nggak hanya akan barengan sehari doang, tapi seumur hidup." Jelasnya sedikit merefleksikan emosi yang sedang memenuhi rongga dadanya. Manik sendunya bahkan sampai berkaca-kaca.
"Kenapa? kamu punya masa lalu yang buruk? atau kelainan jiwa? atau penyakit menular?" Laki-laki ini memang tak pernah bisa diajak bicara serius. Ia sampai mendesis perlahan menghadapi sikap masa bodoh pria itu.
"Bukan itunya, Kak. Tapi a__"
"Bibit, bebet, bobot lagi? Come on! aku milih kamu karna aku udah cari tau semua tentang kamu."
"M_maksudnya?" Ia mengernyit tak mengerti.
__ADS_1
"Aku udah searching semua tentang kamu lewat teman kamu yang lucu itu. Aku suka anak nya cooperatif."
Ia langsung bisa menebak siapa yang dimaksud Bang Yusuf. Dalam hati Ia sedikit menyesali sikap Akram yang suka asal bocor tanpa filter dan konfirmasi.
"Kamu udah ketemu keluarga aku dan mereka semua nerima kamu dengan baik. apa lagi?"
"Kuliah? aku nggak akan larang kamu."
"Trus, orang tua kamu?abis wisuda aku bakal ke sana temuin mereka."
"Tapi aku nggak tau alasan kakak milih aku. Kakak tuh terlalu perfect, mau disorot dari sudut manapun, dan aku nggak__,"
"Kamu baik, sabar, lembut, penyayang, cerdas, cantik, sopan and the last but not least, keluarga aku suka sama kamu." Bang yusuf menyela ucapannya sebelum Ia menyelesaikan perkataannya.
"Itu karna mereka nggak tau aja gimana keadaan keluarga aku. Kita berdua tuh berbeda jauh dan ahh, kenapa sih kakak nggak bisa ngerti?" Wajah cantiknya kini berubah kian sendu.
Pria itu tiba-tiba menepikan kendaraannya di bahu jalan yang tidak terlalu ramai. Menatapnya sedikit tajam plus rahang yang nampak menegas.
"Kamu nggak tahu apapun soal keluarga aku. Jadi stop menilai mereka dengan standar pikiran negatif kamu itu, bisa?"
Ia menggigit bibirnya. Perasaan bersalah dan tidak enak hati tetiba menguasainya. Kedua tangannya saling meremasi berusaha menahan rasa takut yang seperti biasa seketika mendominasi.
Kubangan di kelopak mata yang sedari tadi Ia tahan, kini tak mampu lagi menggenang di sana. Tanpa bisa dihentikan air mata nya akhirnya lolos begitu saja.
"Ma_maafkan aku, Kak. A_aku nggak ada maksud kayak gitu. A_aku cuma nggak pengen Kakak nyesel nantinya. Hikss.. hikss.. hikss!" Ia tak bisa menahan isak tangisnya kini. Seakan hendak menumpahkan segala cemas dan ragu yang masih berserak di tiap sudut hatinya. Benar-benar mewakili rasa yang tak terdefinisi.
***
* Yusuf
Meski dirinya bebal dan tak pernah perduli dengan hal apapun, tapi Ia sangat sentimentil jika tentang sesuatu yang berhubungan dengan keluarganya.
Entah kenapa ucapan Fathin yang menilai keluarganya sedikit negatif, egonya tiba-tiba tersentil. Ia langsung menunjukkan ketidak respeckannya. Memberi jawaban yang menegas dan tatapan tajam ke wajah itu. Tapi sejurus kemudian Ia merasa bersalah saat gadis itu meminta maaf dan terisak.
Hatinya tersentak, tak tega melihat wajah sendu itu kian terisak. Tanpa permisi Ia pun meraih bahu gadis tersebut dan membawanya dalam pelukan. Menghidu wangi lembut rambut Fathin yang menembus kain hijab yang dikenakannya. Sekejap hatinya menghangat.
Fathin masih terisak di sana. Ia pun membiarkannya tanpa berniat melepas rengkuhannya. Membiarkan gadis itu menenangkan hati dengan tangisnya.
Dalam hati Ia tertawa, menyadari jika sedari tadi gadis tersebut tak menolak dirinya. Mungkin disebabkan terlalu larut dalam sedih hingga tak menyadari jika saat ini Ia sedang memeluknya. Definisi sesungguhnya dari istilah mengecap kesempatan dalam kesempitan.
"Masih mau di sini?" Tiba-tiba Ia tersadar kalau Fathin harus ke acara makrab.
"Ma_maaf, Kak, A_aku aku nggak __,"
"Udah tenang sekarang?" Ia menyela ucapan gadis tersebut untuk menghilangkan rasa kekinya.
"U_udah, sedikit!" Fathin tergagap sembari menyeka wajah dari sisa tangisnya. merapikan hijab dan posisi duduknya.
"Kok sedikit?"
"Padahal tadi aku udah bela-belain nahan kepala kamu hampir satu jam, masa tenangnya cuma dikit?"
"Apaan sih?" Gadis itu nampak tersipu. Menundukkan wajah ke kiri bersama semburat merah di pipinya.
"Atau mau sampe pagi biar tenangnya banyak?" Ia tersenyum simpul masih ingin menggoda gadis itu.
Tatapan matanya masih enggan untuk berpaling dari wajah bersemburat merah itu. Membuat Fathin kian dalam menunduk, menyembunyikan wajahnya yang tersipu.
"Jangan liatin!"
"Kenapa? siapa yang ngelarang?" Ia malah kian menambah ritme ketersipuan Fathin dengan menyandarkan sikunya di setang stir, menopang kepalanya yang sedang tersenyum simpul ke arah wajah yang kian dalam menunduk. Kali ini Ia benar-benar ingin menggoda gadis tersebut.
"Matanya jangan ke sini terus, dong! Malu ih!" Fathin menggelengkan kepalanya berulang sembari menutup wajah dengan Kedua telapak tangannya.
Ia kian gemas dan tak berniat mengakhiri scene menggelikan ini. Yeaah, jelas menggelikan baginya, sebab adegan seperti ini biasanya terjadi pada pasangan muda-mudi yang sedang di mabuk asmara. Bukan di usianya yang hampir menginjak kepala tiga.
__ADS_1
"Siapa suruh punya wajah cantik."
"Jangan gombal, nggak bakal mempan." Masih dengan kedua tangan yang menangkup wajahnya.
"Ya udah kalau nggak mempan mukanya jangan ditutup gitu dong!"
"Nggak mau!"
"Kalau nggak dibuka aku cium nih." Mendadak terbersit ide jahil mengerjai gadis itu.
"Hah, i_iya iya aku buka. Jangan..jangan cium! Jangan please! Bapak sama Ibu bakal sedih banget kalau aku embiei. Please jangan, Kak!" Sedikit histeris Fathin membuka kedua tangannya. Kali ini berganti tangannya dipakai melindungi pipi sebelah kanan. Wajahnya malah di palingkan ke sebelah kiri.
Pppfffftttt
Ia menahan tawa. Pemandangan lucu di depannya kini oleh sebab ekspresi ketakutan Fathin membuatnya kian tertantang untuk mengerjai gadis tesebut.
"Siapa bilang ciuman bisa bikin hamil?" Senyumnya kian melebar.
"Mi_mitha yang bilang."
"Dan kamu percaya?"
Fathin mengangguk ragu dan kaku sebagai jawaban.
"Payah!" Ia kembali menyandarkan punggung di sandaran jok mobil. Kembali memegang stir dan bersiap menghidupkan kendaraannya. Tapi belum lagi Ia memutar kunci kontak mesin itu, Fathin kembali berseru polos akibat rasa ingin tahu yang belum terselesaikan.
"Jadi, apa dong yang bisa bikin hamil?" Ia memutar wajah, kembali menatap mimik serius yang sedang menunggu jawaban darinya. Ia menyeringai tak pecaya. Sebegitu terpencil dan terbelakang kah kampung di mana Gadis ini dibesarkan? Sampai wacana yang sudah menjadi rahasia umum seperti ini tidak diketahuinya.
Ia kembali mendesis tertahan. Tapi sekali lagi otak abnormalnya kembali ke mode awal. Apalagi kalau bukan mengerjai Fathin. Tapi, niat tinggallah niat. Ia malah terjebak dengan keisengan yang dibuatnya sendiri.
"Kamu beneran pengen tau, hum?" Ia memajukan badannya ke arah Fathin. Perlahan wajahnya kian mendekati wajah yang ikut mundur hingga terdesak di sudut sandaran jok dimana Ia duduk. Netra gadis tersebut membulat sejenak lalu memicing was-was.
"Ka_kakak mau ngapain?" Gugup Fathin. Dengan gerakan cepat dan refleks tangan gadis itu menarik hand bag yang sedari berada di pangkuannya, menjadikannya pelindung dan penghalang di area dadanya. Manik sendunya kini berubah membeliak sempurna.
"Aku mau tunjukkin sesuatu. Kamu pengen tau kan, apa yang bisa bikin perempuan hamil?" Wajah keduanya kian tak berjarak. Saling menatap tanpa jeda. Saling meresapi hembusan nafas yang menerpa wajah masing-masing. Tenggelam dengan gejolak yang berbeda.
Seantero kepalanya mendadak membenak keinginan absurd yang tak semestinya. Sihir yang melekat pada bibir tipis yang kini nampak sedikit bervolume akibat polesan penuh lipstik itu, seketika membiusnya tanpa ampun.
Sedetik kemudian, sebelah jantungnya mendorong otak bejatnya untuk segera menyentuhkan diri, memberi sentuhan penuh exotis yang melambungkan rasa. Tapi sebelah jantungnya yang lain malah berbisik lembut,
"Hei, kamu tidak perlu terburu-buru. Dia calon istrimu, bukan kekasih gelapmu. Kamu hanya tinggal bersabar untuk waktu yang sebentar lagi, kelak kamu bisa melakukan bahkan hal yang lebih dari sekedar menyentuhkan diri."
Hatinya mendadak tersentak sadar. Dengan cepat berusaha membuang sejauh mungkin ilusi hati yang mencoba menipu otak warasnya. Benar-benar buncah gejolak yang hampir saja membinasakannya.
Ia menggeram dalam hati. Mengutuki iman lemahnya yang tak berdaya manahan godaan syetan yang terkutuk.
Tangannya terulur meraih berlembar-lembar tisyu di atas dashboard. Dengan lembut penuh kehati-hatian, Ia menyapukannya perlahan ke wajah yang nampak sedikit kusut akibat tangisnya sebelum ini. Bekas lelehan maskara di pipi belum sepenuhnya bersih meski Fathin sudah berusaha membersihkannya tadi.
"Kamu, __," Ia menjeda ucapannya.
"Mau kan menjaga wajah cantik ini hanya untukku? Hanya aku yang boleh menyentuh semua ini." Suaranya kian melembut. Kembali menelusuri tiap inci bahkan mili wajah sehalus kulit bayi itu dengan manik yang dibuat seteduh mungkin.
Semua yang wajah itu miliki benar-benar akumulasi bentuk dan rupa yang proporsional, hingga membentuk wajah ayu nan memesona.
"Sihir di wajah kamu ini terlalu membius sayang!" masih dengan posisi dan jarak yang teramat begitu dekat. Kelopak mata indah yang masih membola itu entah sudah berapa kali berkedip perlahan. Menambah level kecantikan gadis itu kian bertambah-tambah.
Gleekk..
Gadis itu terdengar menelan saliva. Menghembuskan nafas yang lega. Seakan hendak melepaskan sesak yang telah cukup lama mendesaki dadanya.
"K_kak, kita m_masih harus ke kampus lagi kan?" Patah-patah Fathin berucap, mencoba mengingatkannya akan tujuan mereka selanjutnya.
puuuuffffffhhhh...
Ia meniup wajah gugup dan tegang itu sebelum akhirnya kembali ke posisi duduk siap mengemudi.
__ADS_1
"Rileks... tegang banget sih!" Ia tergelak. Melakukan serangkaian tekhnis alat kemudi dan perlahan mobil bergerak. Menembus pelan di keramaian jalanan kota Kendari.
TBC>>>