
* Fahri
Seorang pemuda energik dan cerdas. Kemampuan bersosialisasi yang cukup baik membuat Ia sukses menjabat sebagai ketua di beberapa organisasi intra maupun ekstra kampus.
Memiliki wajah yang cukup tampan dengan postur tubuh yang ideal, tak pelak membuat Ia banyak di dekati banyak wanita Khususnya mahasiswi di kampus tersebut.
Akhir-akhir ini terlihat sibuk. Seperti hari ini, pagi-pagi Ia sudah berada di kampus. Ia harus meng_koordinir panitia acara penyambutan para calon kader baru Hippelwana, yang hendak mendaftar tes SPMB.
Beberapa rekannya yang telah diputus menjadi panitia yang akan meng_handle giat hari ini, nampak telah lebih dulu menunggu di stand sekretariat.
Ia sedang diskusi ringan bersama Husnul, wakilnya di perhimpunan itu, terkait rencana rapat persiapan aksi damai yang akan mereka adakan di kantor DPRD Bombana, Minggu depan. Tiba-tiba netranya menangkap se_sosok gadis muda cantik dengan outfit casual berwarna kuning lembut, masuk ke dalam stand dimana mereka berada.
Gadis itu bersama tiga orang rekannya. Tersenyum manis ke semua yang ada di tempat itu sebelum akhirnya duduk bergabung dengan kumpulan camaba lainnya.
Sesekali gadis itu terlihat berbicara dengan salah satu teman lelaki yang datang bersamanya, yang menurutnya memiliki ketampanan yang bisa bersaing dengannya. Pede amat.
Mendadak pemandangan tersebut membuat nya tidak focus..
"Jadi gimana, Bang, rapatnya fix besok mal... ?" Husnul yang mulai sadar dengan situasi terkini, memilih tidak melanjutkan pertanyaan.
Melihat lawan bicara malah fokus ke tempat lain, membuatnya ikut melempar pandangan ke arah yang sama. Ia seketika mafhum. Ternyata ada vocal point di depan sana. Sedikit menarik sudut bibir dan tersenyum miring.
"Woyy, Ghadul bashar! Jaga mata!" Husnul berteriak berusaha mengembalikan kesadarannya.
Ia terkesiap dengan pekikkan rekannya itu. Buru-buru mengalihkan pandangan dan kembali fokus kearah husnul yang kini sedang tergelak di sana.
"Kayaknya bakal jadi kader favorit nih. Liat aja tuh, yang lain juga pada ngelirik kesana." Imbuh pemuda itu sembari menunjuk dengan dagu ke arah gadis berbaju kuning itu.
Ia mengitarkan netranya, dan benar saja, ternyata beberapa mata ikut mencuri pandang ke arah gadis yang dimaksud.
Entah kenapa ada sedikit rasa tidak senang dihatinya menyadari hal itu.
"Shit! Apa lagi ini?" gumamnya mengumpat.
Mendadak Ia tak bisa menahan diri untuk tidak mendekat. Ia pun memberi titah pada Husnul untuk memberi Info lebih lanjut pada seluruh anggota hippelwana.
"Ok, Nul! Fix, tolong konfirmasi waktu juga tempat rapatnya ke "anak- anak". gue ke tempat Dian dulu." tanpa menunggu jawaban dari rekannya itu, Ia pun beranjak ke sisi kanan stand. Meninggalkan Husnul bersama wajah bengong plus bingungnya.
"Gimana, Yan, udah dapat semua formulirnya?"
tanya nya sekedar basa basi, sebab tujuan yang sesungguhnya adalah agar Ia bisa menilik gadis itu lebih dekat.
"Kak, minta formulirnya empat lembar!" cowok yang bersama gadis itu datang menghadap meminta formulir.
Dengan gerakan gesit dan lincah Dian mengitung kertas itu sebanyak empat lembar lalu memberikannya pada pemuda tersebut.
Tidak ingin menyia-nyiakan peluang besar di depan mata, Ia dengan refleks bertanya, tanpa sadar ada Dian rekannya, yang seketika melampirkan wajah penuh tanda tanya.
"Dek, itu yang baju kuning, teman kamu?Kabaena mana?" Ia memegang ujung hidungnya. Berlagak bertanya sok akrab.
"Iya, Bang! dari Kabaena selatan."
"Namanya?"
"Fathin Althaf Annisa"
"Namanya cantik kayak orangnya." gumamnya dalam hati. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum misterius.
"Ok! thanks. Silahkan lanjut!" Ia mencoba mengalihkan perhatian Dian si sekum dengan memberi atensi kepada Husnul untuk meng-handle anak-anak ke Rektorat.
Ia teringat harus ke ruangan Kaprodi untuk mengurus nilainya.
Ketika hendak keluar, Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak singgah berbasa-basi di mana Fathin berada. Ia kemudian tahu gadis itu lupa membawa uang pendaftaran.
Terbersit ide ingin membantu tapi tidak di depan ketiga rekannya. Ia pun berjalan keluar menuju ruang Kaprodi . Mengurus beberapa nilai matkul yang belum terkumpul semua sekaligus melakukan penawaran SKS untuk semester ini.
Setelah menyelesaikan semua Ia memutuskan untuk makan dulu. Terburu-buru ke kampus pagi tadi membuatnya lupa sarapan. Berjalan dengan gagah ke kantin kampus yang terletak di bagian belakang gedung Lab. Mipa.
Suasana kantin di pagi hari seperti biasa, riuh ramai oleh suara gaduh mulut lapar para mahasiswa yang notabene anak-anak kost yang serba praktis. Sibuk mengurus sarapan pagi di kamar kost tidak masuklah dalam kamus mereka.
Netranya berkeliling mencari tempat duduk yang masih tersisa. Bersyukur Ia masih dapat satu meja yang kosong di bagian sudut. Berjalan ke arah sana setelah sebelumnya memesan gado-gado special plus teh hangat.
Ia duduk seraya melirik penanda waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 09.00.
"Pantes aja udah kayak singa laper smua. Udah jam segini ternyata." gumamnya dengan suara uang masih bisa terdengar kebtelinganya sendiri.
Mendadak ingatannya kembali pada gadis berbaju kuning di stand tadi. Sedikit memutar otak, mencari siapa yang bisa di ajak jadi partner kali ini. Ia teringat Dian si sekum. Gadis cantik nan lincah yang selalu jadi solusi tiap permasalahan yang dihadapinya selama ini.
Ia pun mengeluarkan ponsel dari saku kemeja dan mulai mendial nomor Dian. Menunggu panggilan tersambung sembari mengetuk-ngetuk meja.
" Assalaamu'alaikum, Bang?" suara di seberang terdengar menyahut.
"*Yan, bisa minta tolong, nggak?" ucapnya tak sabar. To the point.
"Ck, jawab dulu kali salamnya!" Dian berdecak di sana.
"Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh, Ibu sekum yang terhormat! Tuh, udah. Lengkap ama baret-baretnya." godanya tersenyum simpul. Terdengar gadis itu tergelak di sana.
"Ehm, Yan, kamu sekarang bawa uang cukup nggak*?"
"berapa?"
"......." Ia menyebut nominal yang dibutuhkan Fathin.
"Iya ada. Kenapa emang?siapa yang butuh?"
"Hmm Itu, kamu tolong kasi ke itu, anak camaba yang pake baju kuning tadi. Yang itu, siapa tadi namanya, hmm Fathin, iya, Fathin!" Ia belum menyelesaikan ucapannya sebab Dian seketika menyela,
"Untuk?" Dian bertanya misterius.
"Itu, temennya tadi bilang dia lupa bawa uang pendaftaran. Kamu kasi dulu biar dia bisa barengan daftar ama yang lain." ucapnya sedikit keki sebab todongan Dian barusan.
"Aku ganti ntar, anaknya masih disitu kan?" sahutnya lagi.
"Iyah, ada! ya udah, Aku kasi dia skarang!" Dian akhirnya menyahut datar. Ia bisa merasakan intonasi suara rekannya itu.
"Ok! thanks bu' Sekum!" Mencoba menggoda untuk mencairkan suara kaku Dian.
"Sama-sama, Pak Ketua!" Ia lega sebab Gadis itu terdengar terkekeh kecil.
"Ok, aku tutup yah, Ibu Cawaka BEM?" ucapnya lagi-lagi menggoda.
"Ahahaha. Baiklah yang ini aku aminin pokoknya. Words are prayers alias stiap ucapan itu adalah do'a." Ia tergelak sembari mengangguk maklum. Gadis itu memang selalu bisa memberi jawaban telak.
"Udah ya, aku tutup dulu. Keburu pergi ntar anaknya."
Percakapanpun terputus setelah keduanya saling berbalas salam.
__ADS_1
Sambil menunggu pesanannya Ia mengingat kembali apa yang barusan dilakukannya.
"Apa ini nggak berlebihan? kenalan aja blum!"
Ia tersenyum sendiri menggelengkan kepala.
"Wah wah .. dapat mainan baru nih kayaknya. Gue liat dari tadi senyum-senyum sendiri?"
Ia menoleh dan mendapati rekannya Herdin, mahasiswa cerdas asal Raha, kabupaten Muna. Aktif di berbagai organisasi dan sedang menjabat sebagai ketua BEM FKIP.
Ia terkekeh sambil berdiri mengulurkan tangan, menyalami tangan herdin dan berakhir dengan mengadu kepalan tangan. Tos ala laki, fist bump.
"Udah pesan?"
"Udah udah!"
"Gimana kabar, Bro?" Herdin bertanya semangat.
"Fine, fine! oh ya, gimana seminar kemarin Din? Sorry Gue nggak sempet hadir, ada sedikit masalah di daerah." tayanya memulai perbincangan.
"It's OK! semuanya lancar. Alhamdulillah banyak yang hadir."
Keduanya masih asyik membahas persiapan tekhnis Ospek tahun ini saat makanan mereka datang. Karna sudah lapar keduanya langsung menyantap makanan masing-masing sambil sesekali berbincang serius.
"Btw, gimana progress kedepannya nih, nggak ada planning maju nanti?.
"Kami udah fix di Raker HMM (Himpunan Mahasiswa Muna) kemaren. Tahun ini Bang La Ode Ali tekhnik yang akan di usung maju di Pemilu nanti"
"Kosong dua nya?"
"Untuk sementara yang lagi di gadang-gadang, anak Bahasa Inggris yang kemaren abis Student Exchange di Canada"
"Ck, ck.. Paket klop. Yang satu "menyihir" dengan multi talentanya, satunya lagi jago manuver." Ia berdecak kagum sambil menggeleng. Dalam hati ber_yes riang sebab sesuai prediksinya.
"Hahaha... I agree" Herdin tergelak sembari mengacungkan dua jempolnya.
Sukuisme dalam pemilu kampus adalah hal yang tak bisa di bantah. Dan mahasiswa Muna adalah klan terbesar yang hampir setiap tahun memenangkan polling suara terbanyak dalam pemilihan ketua BEM Universitas.
Kali ini Iya yakin, pasangan tersebut berpeluang besar menang dalam perhelatan akbar pesta demokrasi mendatang.
Perbincangan keduanya berakhir bersamaan habisnya makanan mereka. Herdin masih sempat mencandainya sebelum mereka berpisah.
"Btw, bagi- bagi dong kalau ada mainan baru." ucap Herdin terkekeh .
"Sialan, mau Lu kemanain tuh si Sisca?" gelaknya seraya meninju pelan lengan rekannya itu.
"Udah nggak jaman, Bro pacaran ala Romeo and Juliet. Apalagi sampe bucin edan kayak Laila-majnun. Not My type. Gue penganut prinsip cari_koleksi_seleksi nanti kalau udah dapet yang pas, baru deh resepsi." Lagi-lagi Ia tergelak mendengar ocehan Herdin yang Ia rasa semacam ajaran sesat dari sekte playboy.
Akhirnya mereka berpisah setelah keduanya bersalaman dengan Tos ala laki andalan.
*****
*Fathin
Ketiga sahabatnya kini telah berbaur di tengah kerumunan mahasiswa juga camaba di depan gedung rektorat di depan sana. Merasa gerah sebab sedari tadi berada di dalam stand yang agak sempit, Ia akhirnya memutuskan keluar berniat mencari tempat duduk di mana Ia bisa mendapat angin segar.
Ia mendapati beberapa bangku taman yang berjejer di bawah rindang pohon Akasia yang teduh.
Ia terlihat duduk di sebuah bangku panjang tepat di depan stand sambil menulis sesuatu di buku diarynya. Sahabat paling setia baginya setelah Mitha, Azhar dan Akram.
" Ck, ck, ck.. Gila! Kamu detil banget, Fat! Kamu bisa jadi ahli documentasi nih kalau kayak gini!" puji Mitha sambil berdecak .
Ia terkekeh kecil waktu itu.
"Kamu bisa aja. Biasa aja kali. Banyak kok orang yang suka nulis kisahnya di diary!"
"Tapi ini beda, Fath. Ini nih perfect, complit ama visual tiap momentnya. Ini kalau di baca ama Sutradara, bisa-bisa dijadiin film documenter nih!" Mitha menatap takjub padanya.
"Too Much!" jawabnya terkekeh.
Ia tersentak dari lamunannya saat seseorang memanggil dari belakang punggungnya. Sontak Ia berbalik dan menilik asal suara. Ia mendapati wajah cantik senior cewek yang membagi-bagikan formulir di dalam sekret tadi. Gadis tersebut berjalan kearahnya bersama senyum manisnya.
"Fathin, yah?" senior itu bertanya ramah.
"Iya, Kak, benar! ada yang bisa saya bantu, Kak?" sahutnya bertanya.
"Oh yah, kenalin Aku, Dian!" Ia mengangguk keki.
"Kamu katanya lupa bawa uang pendaftaran yah?" Dian bertanya hati-hati.
Mendadak hatinya diliputi malu sekaligus tanda tanya. Darimana senior itu tahu tentang Ia yang lupa membawa uang. Tapi Ia akhirnya menyahut terbata.
"I- iya kak. Itu, ehm, tadi saya buru-buru, Kak. Jadinya lupa masukkin dompet ke tas." jawabnya malu-malu.
"Oh gitu, iya nggak pa pa, nih, kamu pake ini aja dulu. Kamu daftar hari ini. Sayang kan waktunya, udah datang baru cancel daftarnya!" perintah Dian padanya sembari menyodorkan sebuah amplop putih kearahnya.
"Ng_nggak apa-pa kok, Kak! nggak usah. Besok aja Saya daftarnya. Kakak juga pasti butuh uang itu." Ia mencoba beralasan untuk menutupi perasaan malu dan kekinya.
"Dek, kita semua disini adalah satu kesatuan. Satu keluarga. Di sini kita semua sama-sama jauh dari orang tua dan keluarga. Jadi sudah sepatutnya kita saling membantu. Kamu nggak boleh sungkan. Sampaikan kalau ada masalah dan butuh pendapat. Nanti kita diskusikan bersama dengan kawan-kawan disini. OK?" Dian mengelus bahunya berusaha meyakinkan dirinya.
Ia terpana. Terharu. Maniknya mulai berkaca- kaca. Ia merasa bersyukur sebab serasa memiliki keluarga di tempat baru ini. Penuturan Dian barusan membuatnya memahami satu hal bahwa dimanapun berada, kita akan selalu menemukan orang-orang baik. Kebersamaan yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa tetap kompak walau dalam perbedaan.
"Trimakasih banyak, Kak!"
"Iya, sama-sama. Nih!" sahut Dian sembari menyodorkan amplop yang sedari tadi di pegangnya. Dengan masih malu-malu, Ia pun menerima pemberian tersebut.
"Ini akadnya saya pinjam dulu yah, Kak, InsyaAllah secepatnya saya balikin." Ia menyeka bulir bening yang menetes di pipi.
"Iyah. Kalau gitu kamu nyusul gih ke Rektorat, Bang Husnul masih disana, kok!" Imbuh Dian menyemangatinya.
"Baik, Kak! Saya ke sana skarang!" Izinnya sambil memasukkan kembali buku diary ke dalam tas dan beranjak. Berjalan penuh semangat menuju gedung rektorat setelah menyalami Dian.
Dian tersenyum mengangguk dan Beranjak kembali ke dalam stand.
Ia berjalan sambil mengitarkan netranya mencari keberadaan ketiga sahabatnya, Tiba- tiba pandangannya menemukan sosok Zahrah sedang duduk di bundaran di depan sana bersama beberapa rekan mahasiswanya.
"Kak Zahrah!" panggilnya mendekat.
"Eh, Fathin. Sini, Dek! gimana, udah kelar?"
"Blum, Kak. Ini lagi nyari Mitha sama Azhar, kakak liat?" tanyanya tersenyum.
"Nggak tuh. Coba di -, eh itu mereka!" seru Zahrah seraya menunjuk ke arah teras gedung tersebut.
"Oh iyah, kalau gitu saya kesana dulu, Kak! mari semua, Kak" pamitnya pada semua yang ada disitu.
Ia berjalan menghampiri ketiga sahabatnya yang sedang berbincang serius dengan seorang bakal MABA.
__ADS_1
"Hei semua, udah kelar? temenin dong ke dalem! formulirnya udah aku isi tadi pas kalian jalan." Sumringah Ia menyapa lebih dulu.
Mitha mengernyit kearahnya seakan meminta penjelasan.
Ia langsung menarik tangan sahabatnya itu dan membawanya sedikit menjauh.
"Aku udah dapet uang nya buat daftar!" bisiknya pelan.
"Who's from?" tanya Mitha ikut berbisik.
Ia pun mulai bercerita tentang Dian yang tiba-tiba datang memberinya amplop dan menyuruhnya mendaftar bersamaan dengan yang lain.
"Loh, kok Kak Dian bisa tau kalau kamu lagi nggak bawa uang?"
"Aku juga heran tadi, apa Azhar ya yang ngomong ke Kak Dian?" tanya nya balik.
"Ntar kita tanya ke dia. Sekarang mending kita stor cepat berkas-berkas kita ke dalam. Yang lain masih ada yang belum, kok! Masih ada Bang Husnul juga di dalem. ayo!!" ajak mita sambil menarik tangannya.
Mereka pun masuk membawa semua berkas formulir pendaftaran dan menyerahkan pada Bang Husnul untuk kemudian di stor ke loket pendaftaran.
Sejam berlalu. Mereka ber empat kini kembali berkumpul di depan gedung rektorat. Urusan pendaftaran selesai.
Azhar lalu mengajak kembali ke sekretariat untuk mendengar arahan selanjutnya dari para senior-senior hippelwana.
"Kita skalian pamit!" ujar Azhar menegaskan.
Pukul 11.15. Seorang senior lainnya kembali memberi instruksi agar malam nanti kembali terkumpul di sekretariat hippelwana yang beralamat di jalan
"Ok, jangan lupa yah adik-adik. Ntar malem di tunggu kehadirannya di sekretariat yang di jalan ....... Ada sedikit pembakalan untuk Adik-adik menghadapi tes SPMB nanti." teriak salah satu senior itu.
"Siap, Kak!" kembali semua camaba berteriak lantang menyahuti.
"Abis ini kita kemana?" Mitha bertanya sambil melihat jam tangannya.
"Udah mau dzuhur nih. Kita ke kamar kalian gimana sambil nunggu waktu shalat?" tanyanya ke arah Azhar dan Akram
"Ide Bagus. Kamu pulang sore kan?" sahut Akram bertanya kearahnya.
"Iya. Aku udah pamit tadi ke Ibu Bos kalau Aku pulang sore."
"Aman sudah kalau gitu! " Azhar menyahutinya sambil terkekeh.
mereka ber empat kini sedang berjalan keluar dari area kampus, lewat gerbang satu menuju kamar kos milik Azhar dan Akram di lorong Bintang.
"Ahhhh, lelahnya! padahal baru jalan segitu doang." rebahkan Ia tubuhnya di atas springbed empuk di kamar itu.
"Jadi laper nih!" Sahut Mitha.
"Kita Patungan yuk, beli nasi bungkusnya!" ajak Mitha.
"Nggak usah. Tenang, kali ini sebagai tuan rumah yang baik Aku yang akan traktir!" Azhar menjawap sok diplomatis.
"Waow! Kamu abis menang taruhan? prasaan gajiannya masih lama deh!" seloroh Mitha.
"Biasa, ada donatur baru." Akram mulai bocor.
"Siapa, siapa?? yang mana?" cecar Mitha si Miss keppo.
Azhar pura- pura tidak perduli dengan ocehan ketiganya. Lebih memilih keluar cepat dari dalam kamar. Berjalan hendak membeli makan siang untuk mereka berempat.
Mitha tidak berhenti mencecar Akram dengan pertanyaan absurdnya seperti biasa.
"Kamu nggak boleh gitu dong, Ram, cepat kasi tau ke kita, siapa sang donatur yang bernasib naas itu?" seloroh Mitha dramatis
"Masih cewek, Janda, Tante - tante galir atau bencong?"
"Cantikkan mana sama kita berdua?"
"Benner-benner ya kalian berdua, kita ga' rela ya kalau sampe kalian ternoda gara- gara tu para donatur. Kita semua kan ber empat udah comit buat menjaga kesucian kita buat jodoh kita masing- masing!" ucapnya dengan mimik lucu.
Kedua sahabatnya serempak tertawa terbahak-bahak bersamaan dengan itu pintu terbuka dan Azhar masuk sambil bersalam.
"Wa'alaikumsalaam!" jawab mereka kompak.
Merekapun makan bersama sambil sesekali saling lempar jokes receh seperti biasa. Dan kali ini yang jadi korbannya adalah Azhar.
"Kita lihat aja nanti, apakah para donatur jadi-jadian itu bisa mengganti posisi kita, Mhit di hati dua super hero kita ini !" ledeknya.
"Yapp ! Alright !!
Azhar dan arkam hanya terkekeh mendengarnya.
Mereka masih asyik ngalor ngidul saa tiba- tiba terdengar Azan dzuhur berkumandang. Ia dan ketiga sahabatnya pun segera bergegas beberes. Membersihkan sisa makanan di lantai dan gantian berwudhu.
Sejurus kemudian mereka berempat telah tenggelam khusyuk dalam ibadah shalat dzuhur berjamaah. Ia dan Mitha memang tak pernah lupa membawa mukena dalam tas sebagai persiapan jika kapan-kapan lagi tidak dirumah.
"Kalian istrahat aja. Kita berdua mau Nyupir ( Nyuci piring) sama Nyuba (nyuci baju). Tuh baju kotor kalian udah numpuk. Terakhir nyuci paling sebulan yang lalu kayaknya nih" Intruksinya kepada duo sahabat laki itu, sesaat seusai shalat.
"Biar cepet, kita ngerjainnya sama-sama!" ujar Akram.
"Ya udah deh, kalau kalian mau juga!"
Jadilah mereka berempat mencuci bersama.Seperti biasa jika sudah berhubungan dengan air, maka kejahilan Akram pasti mendadak kambuh.
Di awali dengan percikan air hingga lama-lama semua jadi basah kuyup sebab aksi saling siram sembari tertawa lepas seraya melompat-lompat seperti anak kecil.
Setelah semuanya beres, mereka pun kembali ke kamar dan terlelap setelah acara curhat- curhatan.
Sore setelah Ashar barulah mereka berpisah.
"Sorry yah, kalian pulang naik angkot dulu hari ini. Motor Akram masih di bengkel dan punyaku lagi di pinjam Abang yang di seblah kamar!" ucap Azhar saat keduanya hendak naik angkot.
"Ok, no problem!" sahutkeduanya hampir bersamaan.
Azhar lalu membayar ongkos angkot pada sopir.
"Hati-hati, Bang! " Pesan Azhar ke sopir angkot itu.
"Ok, siip!"
" bye..."
" bye..."
Nexttt>>
__ADS_1