MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
# Episode 13. Because I'm a Moslem


__ADS_3

* Fahry


Kecamuk di hatinya belum sepenuhnya hilang meski Ia sudah berusaha dengan meninggalkan kampus. Bermaksud menghindari Fathin, Si gadis bermata sendu yang telah sukses mengacaukan fikiran dan hatinya hari ini. Hatinya benar-benar menciut, mengingat rivalnya kali ini adalah Yusuf. Bak sebuah Paradoks, bukan hanya meragukan, tapi mustahil baginya untuk bisa memenangkan gadis tersebut.


Selain karna Yusuf nyaris perfect dari segala segi, meski dengan label anti mainstream dan bad behaviour, juga karena Ia tidak pe_de bersaing soal asmara dengan sosok Yusuf yang familiar dengan mental never give up itu. Menyadari hal ini praktis membuat level kekusutan hatinya kian berlipat. Ia pun kembali menetapkan hatinya, untuk sekedar meyakinkan perasaannya sendiri akan sebuah rasa yang akhir-akhir ini mulai sering memainkan alur fikir pun asanya.


"Aarrgghhh.. Kenapa harus Bang Yusuf? Trus ngapain juga meluknya kayak nggak pengen lepas gitu tadi? Bikin nggak focus aja!" Ia kembali menyeringai sembari bergumam penuh sesal.


Dddrrrtttt.. ddrrttt... ddrrrttt..


Ia terkesiap dalam sekejap mendengar ponsel miliknya yang sedang dicharger di lantai kamar kostnya itu, bergetar tanda ada panggilan masuk. Ia lalu bergegas meraihnya dan menerima panggilan tersebut setelah sebelumnya mencabut charger yang masih melekat pada ponsel itu.


"Hallo, Assaalaamu'alaikum, Fahry!"


Sebuah suara yang tidak asing namun sedikit meragukan dugaannya terdengar menyapa. Ada setitik rasa yang masih tersisa di dalam sana yang tiba-tiba menyeruak, mencoba mengusik kembali ingatan yang hampir melupakan.


"Iya, syp ya?" sahutnya datar. Tidak ingin berspekulasi meski Ia yakin mengenal suara lembut itu.


"Nggak mungkin, Sherin nggak pernah bersalam, dia kan non muslim!" Gumamnya membatin.


"Kamu beneran udah lupa? Ini aku, Sherin!" Hatinya tiba-tiba berdesir, rasa yang selama ini masih enggan untuk pergi dari hatinya, memaksanya untuk secepatnya meyakinkan pendengarannya barusan.


"Sherin? ini, k-kamu beneran Sherin?" Ia tergagap takjub.


"Iya! Aku.. Aku pengen ketemu, aku di Kendari sekarang. Aku tunggu kamu di Royals Coffe!" Suara Sherin bergetar di seberang. Membuatnya curiga akan adanya sesuatu yang sedang menimpa orang yang pernah mengisi hari-harinya itu.


"It's Ok, Aku ke situ sekarang!" Jawabnya berusaha menenangkan suara di seberang yg terdengar mulai terisak.


"Hikss..hikss!"


Tak butuh waktu lama Ia pun sudah siap OTW setelah sebelumnya memastikan Sherin baik-baik saja, sesaat sebelum sambungan telephone terputus.


Ia melajukan motor sport miliknya dengan kecepatan sedang. Berhubung suasana jalan yang mulai ramai sebab, malam ini adalah malam minggu. Malam dimana hampir semua muda-mudi akan menghabiskannya dengan jalan bersama orang terkasih.


The Royal's Coffe sudah terlihat di depan. Ia mulai memelankan laju kendaraannya dan sejurus kemudian memarkirkan motor kesayangannya. Dengan tergesa penuh tanda tanya, Ia berlari kecil masuk ke dalam kafe dan sejenak mengitarkan pandangannya liar mencari-cari seseorang. Tiba-tiba netranya menangkap se raut wajah cantik, wajah yang sejujurnya masih sangat Ia rindukan, terbungkus hijab rapi yang praktis membuatnya termangu bak tersihir bergeming.


"Sherin...!" Ia bergumam pelan masih berusaha meyakinkan sosok yang kini terlihat berdiri disana sembari menatapnya dengan manik bulat memesona yang mulai berkaca-kaca.


*Sherin


Seorang gadis cantik, cerdas dan memiliki sifat lembut dan penyayang meski sedikit bandel. Terlahir menjadi satu-satunya anak perempuan dari sebuah keluarga yang cukup berada membuatnya tumbuh menjadi gadis manja dan susah di atur. Lahir dan besar dalam keluarga Katholik taat, membuatnya kemudian harus mengubur dalam-dalam harapan besarnya ingin hidup bahagia bersama Fahry, kekasih hatinya. Sebab latar belakang keluarga yang berbeda, terutama perbedaan agama. Ya, Fahry adalah seorang muslim.


Fahry adalah satu-satunya cowok diantara puluhan cogan yang berusaha mendekatinya, yang bisa membuatnya takluk dan akhirnya jatuh cinta. Keduanya menjalin hubungan terlarang alias Back street sejak duduk di bangku sekolah dengan seragam putih abu-abu hingga mereka sama-sama kuliah di Kampus hijau, Unhalu.


Semua berjalan dengan baik tanpa ada hambatan. Ia begitu nyaman dan bahagia sebab Fahry begitu sangat mencintainya, begitupula sebaliknya. Ia bahkan sudah bertekad untuk berpindah keyakinan menjadi mualaf jika sekiranya itu benar-benar menjadi syarat mereka bisa bersama. Tapi, na,as! Sebuah kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya, saat Ia dan Fahry kembali dari makan malam di sebuah restoran favorit mereka, akhirnya berhasil membongkar hubungan terlarang tersebut.


Ayah nya yang notabene seorang pejabat tinggi di MaPolda Sultra, begitu berang saat mengetahui hubungan keduanya plus status Fahry. Ia praktis membuat keduanya terpaksa harus saling melepaskan. Ditambah sebulan kemudian Ayahnya dimutasi ke Bandung, fix menjadikan keduanya lambat laun kian menjadi asing satu sama lain. Ayah yang terkenal dengan kediktatorannya berusaha menutup semua akses yang memungkinkan keduanya untuk saling menyapa meski skedar lewat angin. Mengenaskan!

__ADS_1


Dua tahun dilaluinya, dengan segenap upayanya melupakan Fahry. Namun hasilnya nihil. Rasa itu, cinta itu, rindu itu malah kian besar dan menghianati semua usaha yang ia lakukan selama ini.


Hingga tiba masa di satu part dari episode hidupnya, Tuhan berkehendak memberinya hidayah, lewat perkenalannya dengan seorang dokter cantik yang menangani Steven kakaknya saat di rawat di rumah sakit akibat sakit thypus yang di deritanya. Yang belakangan Ia ketahui ternyata seorang muallaf.


Dari pertemuan yang intens, seringnya berdiskusi dan kebaikan demi kebaikan yang selalu di tampakkan oleh sang dokter cantik plus kisah perjuangan mempertahankan keyakinan baru si dokter yang mengharubiru, praktis mengikis sedikit demi sedikit keyakinannya tentang Tuhan yang Ia sembah selama ini. Dan di penghujung Ramadhan yang lalu Ia pun memantapkan hatinya. Ya,, Ia ingin menjadi seorang muslim.


Waktu berganti, Ia kian yakin dengan yang dijalaninya kini. Ia pun mulai belajar berhijab di luar pengetahuan keluarganya. Belajar shalat dan membaca ayat suci Al-qur'an. Tapi seperti kata pepatah, Sepandai-pandainya Tupai melompat, suatu saat akan jatuh juga. Kakak tertuanya tiba-tiba memergokinya saat shalat tahajjud tengah malam. Fix, bom waktu yang ditunggunya selama ini, meledak sudah. Ia pasrah. Apapun resikonya.


Malam itu juga Ia di sidang oleh seluruh keluarga. Ayah begitu murka. Dengan tatapan yang Ia rasa hendak meremukkan jantungnya, Ia dipaksa melepas keyakinannya. Awalnya Ia begitu takut dan berniat berpura-pura meng-iya kan semuanya, Tapi seolah ada sebuah suara lembut menenangkan di dalam sana yang berbisik memberi kekuatan,


"Jangan pernah takut. Allah akan bersamamu!"


Ia pun bersikeras tetap pada pendiriannya.


"Maafkan Sherin, Ayah, Bunda, Kakak! Keputusan Sherin udah bulat. Sherin ngerasain ketenangan batin setelah jadi muslim. Sherin rela di apain ajha sama Ayah sama semua, Sherin siap Ayah!" Ia menjawab dan tertunduk dalam.


Entah kekuatan apa yang telah memberinya keberanian untuk berucap seperti itu. Dan di menit berikutnya, bak slow motion, maniknya masih sempat menangkap bayangan Ayah yang berdiri menamparnya dengan begitu kerasnya. Seketika Ia limbung dan sedetik kemudian Ia merasakan telinganya berdenging bersama teriakan Bunda dan kedua kakaknya yang menyerukan namanya. Semuanya tiba-tiba gelap. Ia tak sadarkan diri.


Berhari-hari Ia di kurung di gudang belakang. Hanya Bik Asih, ART di rumah besar tersebut yang di perbolehkan menemuinya membawakan makanan untuknya. Bik Asih tidak pernah lama sebab sudah di instruksikan untuk tidak berlama-lama di dalam dengan ancaman pemecatan bila tidk diindahkan. Dari bik Asih lah Ia tahu bahwa setiap saat Bunda menangisinya.


Dengan segala keterbatasan yang ada Ia berusaha tetap menunaikan shalat. Beruntung Ia sempat membaca-baca bab thaharah tentang tayamum di buku kunci ibadah yang menjadi panduannya selama ini. Ia pun shalat dengan modal tayamum dan menggunakan kain gorden bekas yang ada di gudang tersebut untuk menutup auratnya. Tiap malam Ia bangun dan bermunajat mengharap pertolongan Allah SWT. Ia selalu mengingat pesan Dokter cantik kenalannya dengan mengutip sebuah potongan ayat suci Alqur'an yang belum berhasil dihafalnya tapi Ia mengingat dengan baik terjemah ayat tersebut,


"Carilah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat!"


Dan penantian akan pengabulan doa-doanya selama ini terjawab sudah kemarin. Ia masih khusyuk duduk bersimpuh di atas sehelai gorden yang di hamparkannya sebagai sajadah setelah shalat sunnah dhuha, tiba-tiba pintu gudang terbuka dan maniknya membulat melihat siapa yang datang. Kakak ke duanya, Steven masuk dengan matanya awas melihat ke belakang dan mengunci pintu secepat kilat.


"Kakak... hiks..hiks!" Ia tak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Sebab diantara kedua kakaknya, Steven adalah yang paling dekat dengannya dan lebih bisa memahami nya.


"Maafin Sherin, Kak! hiks..hiks..!" Ia kian terisak dan tanpa aba-aba Ia langsung berdiri memeluk kakaknya itu. Steven ikut menitikkan air mata melihat keadaannya yang sedikit berantakan.


"Dek, ayo, kita nggak punya banyak waktu. Kita harus gerak cepat. Ayah sama bunda lagi nggak ada di rumah. Mas Gio juga lagi ke Surabaya. Kakak akan bantuin kamu kabur dari sini. Untuk sementara kamu balik ke rumah nenek dulu di Kendari. Nanti kalau udah aman dan Ayah udah bisa nerima semuanya, Kakak akan jemput kamu pulang. Tolong kamu jangan banyak tanya dulu. Ikutin aja instruksi dari kakak!"


"Ayo, kamu ikut kakak sekarang! Kita ke bandara. Kakak udah pesanin tiket dan baju-baju kamu udah kakak ambil beberapa lembar di kamar kamu!" Steven berucap dengan nafas sedikit memburu. Menandakan kekhawatiran yang begitu besar.


"Tapi, Kak, kalau Ayah tau, ini bisa bahaya buat kakak. Aku nggak mau kakak ikut menerima hukuman atas apa yang aku buat!" Ia masih ragu dengan apa yang sedang terjadi kini. Steven benar-benar mengambil resiko besar dengan melakukan ini untuknya. Tapi desakan yang tiada henti dari kakak tercintanya itu akhirnya membuatnya tak bisa berpikir banyak lagi.


Keduanyapun langsung berlari keluar menuju motor besar yang sedang terparkir di depan rumah. Dalam sekejab, keduanya telah berada di atas motor yang kini berjalan dengan kecepatan tinggi membelah jalanan pagi menjelang siang, kota bandung.


"Ini, selama di sana kamu pakai kartu kakak dulu, ini isinya cukup banyak untuk kamu pakai nanti di sana. Kamu jaga diri yah! Kakak janji ini nggak akan lama. Kakak akan secepatnya jemput kamu. Nenek pasti akan mengerti semuanya!" Steven menyerahkan sebuah Debet Card di tangannya sesaat setelah mengurus semua urusan keberangkatannya di kasir. Matanya tak henti berkeliaran memastikan tidak ada orang yang mengenal mereka berdua.


Ia kembali memeluk Steven, kakak yang begitu di sayanginya itu, sebelum akhirnya mereka berpisah saat terdengar sebuah announcement bahwa pesawat yang akan di tumpanginya akan segera take off.


"Makasih, Kak untuk semuanya! Aku sayang sama kakak. Aku akan selalu doain kakak biar Allah slalu jagain kakak.Hiks..hiks..!" Ia kembali terisak sembari menenggelamkan kepalanya di dada kakak tercintanya.


"Iya, sama-sama, Dek! Ayo sekarang kamu masuk ke dalam, sebentar lagi pesawatnya take off. Hati-hati yah!" Steven melepas pelukannya dan menyeka bulir bening yang membasahi pipinya yang putih mulus.


Di dalam pesawat Ia tak henti berucap syukur kepada Allah SWT yang telah benar-benar menampakkan keajaibannya. Ia semakin yakin dan memantapkan hatinya untuk menjadi muslim yang taat.

__ADS_1


Setiba di Kendari siang tadi, Ia tidak langsung ke rumah nenek. Ia memutuskan menginap di sebuah hotel di bilangan by pass untuk beberapa hari sembari mempersiapkan mental baja untuk menghadapi apa yang akan di hadapinya esok. Ia belum siap menghadapi nenek dan yang lainnya di sini.


Setelah menimbang semuanya, Ia akhirnya memutuskan menghubungi Fahry, kekasih hati yang tak pernah sedikitpun luput dari ingatannya. Bagaimanapun Ia pasti membutuhkan pertolongan Fahry terkait masalahnya kali ini. Beruntung Steven sempat mengambilkan Ponsel miliknya dan Ia masih hafal luar kepala nomor ponsel Fahry.


Ada rasa rindu yang begitu membuncah saat pertama kali mendengar suara orang terkasihnya itu. Ia benar-benar tidak bisa menguasai dirinya. Ia menangis terisak menandakan Ia sangat tertekan kali ini.


Dan saat ini, Ia seperti bermimpi saat di hadapannya kini, sosok yang begitu dirindukannya selama bertahun-tahun, berdiri menatapnya tak bergeming. Maniknya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. Kubangan di kelopak mata yang sedari tadi bertahan di sana, akhirnya tak mampu lagi menetap di sana. Ia menangis tersedu dan tanpa di sadarinya bahwa kini Ia telah menjadi seorang muslim, yang ajarannya tidak membenarkan dua orang berlainan jenis saling bersentuhan seintim itu sebelum adanya ikatan yang menghalalkan mereka, Ia melangkah mendekat dan menenggelamkan dirinya di dada bidang yang berdiri terpaku kaku yang sedetik kemudian membalas pelukannya dengan begitu syahdunya.


Ia menumpahkan semua rasa sakit yang selama ini dirasakannya. Ia terisak lama di sana sampai membuat jaket denim yang dikenakan si lelaki ikut basah oleh airmatanya yang seakan tiada habisnya.


"Ehemmm, Sherin, kita duduk dulu ayo, nggak enak kita diliatin orang-orang daritadi!" Suara berat itu tiba-tiba menyadarannya akan satu kenyataan.


Ia sudah bukan Sherin dengan mode bebas seperti dulu. Ia kini adalah seorang muslim. Tidak seharusnya Ia lepas kontrol seperti ini. Ia tiba-tiba merasa malu akan dirinya sendiri. Keduanya pun duduk saling berhadapan di sebuah meja yang berada di bagian sudut kafe tersebut. Ia sengaja memilih tempat yang agak terlindungi dari pandangan bebas pengunjung yang lain.


"So-sorry Fahry, A-aku nggak bisa menguasai diri tadi. Aku blum terlalu terbiasa dengan ini!" Ucapnya terbata sembari menunjuk hijab yang sedang di kenakannya yang praktis membuat level kecantikannya naik bertingkat-tingkat.


Wajah di hadapannya masih terlihat bingung. Tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan dari wajah cantiknya. Membuat otaknya hard work mencari kalimat yang pas untuk memulai pembicaraan kali ini. Hingga di menit berikutnya suara berat itu mulai terdengar.


"Ka-kamu gimana kabarnya, Sher?" Hatinya kembali berdesir. Suara lembut itu tidak pernah berubah. Suara yang sangat Ia rindukan.


"A-aku baik Alhamdulillah!" Sahutnya lembut sambil tertunduk. Ia masih belum berani menatap wajah itu terlalu lama. Suasana mendadak kaku seakan ini pertemuan dan perkenalan yang pertama bagi keduanya.


"Orang tua sama keluarga kamu gimana kabarnya?" Fahry kembali memberi pertanyaan. Tapi kali ini hatinya mendadak mencelos. Ingatannya kembali mengharu mengingat saat ini Ia sungguh tidak sedang baik-baik saja.


"Sehat!"


"Alhamdulillah. Kamu nggak takut kita ber_ !"


"Aku lari dari rumah! Mereka nggak tahu aku di sini!" Ia memotong cepat pertanyaan yang hendak di lontarkan Fahry. Ia tidak sabar untuk tidak menjelaskan kondisinya saat ini.


"Allah telah memberi ku hidayah untuk kembali menyembahnya dengan benar. Tapi, semua keluarga nggak ada yang terima. Ayah malah mengurungku selama hampir dua minggu di gudang sebab Aku nggak mau ngelepas keyakinan baruku!" Terangnya mulai berkaca-kaca. Sekuat-kuatnya kini, Tapi Ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Ia sangat merindukan keluarganya. Ia sangat tidak terbiasa hidup sendiri terlebih jauh dari bunda seperti ini.


Ia kemudian menceritakan rentetan kronologis mengenai pelariannya tanpa terkecuali. Wajahnya begitu kusut dan lelah. Membuat wajah tampan di hadapannya kini ikut menitikkan air mata seakan ikut terbawa arus dengan kisah hidupnya.


"Kamu yang sabar, Aku akan selalu ada buat kamu. Kita akan melewati ini bersama. Kamu nggak akan sendiri!" Ia tergagap saat tangannya di raih dan di genggam erat, seakan hendak memberinya kekuatan.


Tak terasa malam kian larut. Keduanya seakan enggan untuk berpisah. Tapi lagi-lagi Ia harus sadar, Ia bukan Sherin yang dulu. Ia harus mulai belajar mengendalikan diri. Belajar menghormati dirinya sendiri sebab kini Ia adalah seorang muslimah.


"Tolong antarin Aku di Inn Hotel. Untuk sementara Aku akan tingga di hotel dulu. Aku belum berani ngehadapin nenek!" Ia akhirnya berucap lirih setelah Ia rasa puas mengeluarkan semua uneg-uneg di hatinya, termasuk mengakui rasa yang tidak pernah berubah untuk Fahry hingga saat ini yang di tanggapi dengan rasa yang sama dari kekasihnya itu. Itu sudah cukup menjadi kekuatan baginya.


"Ayo, Aku antarsekarang!"


Keduanyapun beranjak keluar dari kafe tersebut. Hatinya kini diliputi perasaan bahagia yang sejak lama Ia dambakan. Bahagia saat rasa yang kembali tersambut.


TBC....>>>


__ADS_1


__ADS_2