
*Fathin
Sang rembulan mulai menampakkan cahaya terangnya meski sedikit malu-malu. Malam perlahan beranjak. Berganti dini hari yang begitu lengang. Ribuan peserta makrab terlihat mulai berhamburan keluar dari stadion mini kampus. Tak terkecuali Ia bersama ketiga personil geng R_bink lainnya.
Temaram cahaya bulan yang menjadi penerang di sekeliling, membuat empat sahabat solid itu tak rela melewatkan suasana syahdu itu.
Berjalan menyusuri jalan beraspal kampus menuju gerbang tiga. Dengan langkah gontai sesantai mungkin sembari bergandengan tangan dengan posisi Ia dan Mitha di tengah.
Sengaja memilih arah gerbang tiga agar jarak yang di tempuh jauh sehingga mereka bisa berlama-lama di jalan. Sesekali Akram nampak berlagak seperti menendang sesuatu dengan gaya kocaknya demi memancing tawa dari yang lain. Tapi semuanya bergeming tak bereaksi.
"Ck, Kok pada diem sih, kayak lagi musuhan aja. Nggak seru, ah!" Sungut Akram tiba-tiba memecah keheningan yang tercipta.
"Iya, yah. Baru nyadar, ternyata dari tadi kita blum ada yang ngomong." Ucapnya menimpali seraya terkekeh kecil.
"Abis denger renungan tadi, gue jadi kangen masa-masa kita yang dulu. Masa-masa terindah dalam persahabatan kita yang pastinya nggak bakal keulang lagi." Kali ini Mitha yang bersuara lirih. Menjadikan suasana mendadak melankolis.
"Gue tuh tadi bener-bener sedih yang pengen nangis guling-guling diri tau nggak. Gue mendadak nggak pengen jadi orang dewasa. Dunia kita yang kemaren banyak banget nyisain kenangan yang nggak bisa dilupain." Mitha kembali menambah suasana kian haru.
Ia melirik Azhar yang sedari tadi mengangguk setuju tanpa suara. Entah siapa yang mulai, keempatnya kini nampak berkaca-kaca. Serentak menghentikan langkah dan saling menatap satu sama lain.
"Eh, jangan sedih dulu, ih, kita nostalgia dulu ayo!" Mitha seperti biasa, si tanggap sikon, buru-buru memutus rantai kebaperan mereka.
Mulailah satu persatu berselancar, membawa memori kembali ke beberapa tahun silam, saat pertama kali persahabatan mereka di mulai. Masa-masa kebersamaan penuh canda tawa. Kadang juga hadir masa penuh tangis haru. Pernah begitu saling menjengkeli satu sama lain pun saling begitu merindukan saat berhari-hari tak jumpa.
"Eh, gimana kalau masing-masing kita saling ngungkapin kesan pertama waktu pertama kali ketemu di blakang pagar skolah." Tambah Mitha dengan ide gesreknya. Ia tersenyum simpul bersama ingatannya yang seketika terlempar jauh ke masa tujuh tahun silam.
"Okey, why not! lady's first!" Akram menyahut penuh semangat. Cengengesan sembari menaik-turunkan alisnya.
"It's Ok! as usual, si wise word, Fathin yang duluan!" manik sendunya membulat tiba-tiba.
"Kok, Aku. Kamu lah duluan, kan idenya dari kamu. So, Ka__ " Ia tak melanjutkan ucapannya sebab keburu Mitha menyela lucu,
"No, no, no!. Mulai skarang pake gue elo. No aku aku, no kamu kamu!" Mitha menyela. Telunjuknya digerakkan ke kiri kanan.
"Ahahahahaha!"
"Apaan sih, ada-ada aja deh!" Ia terbahak. Akram juga. Sementara Azhar seperti biasa, tersenyum miring. No coment!
"Pokoknya ini the new rules di R_bink, so semua personil wajib taat tanpa terkecuali. Ya kan, Ram?" sekali lagi Ia terbahak.
"Ya udah deh, karna aturannya Ka_ eh maksudnya elo yang buat, jadi ka_ eh elo yang duluan!" Ia masih menahan tawa, terbata sebab belum terbiasa dengan kata "gue_elo" itu.
"Nah, gitu dong! okelah, kalau itu mau lo." Mitha tersenyum simpul.
"Kalau gue, waktu itu gue kira lo berdua itu cowok cupu di kelas. Gue mikir kalian pasti nggak punya teman. Soalnya heran aja, kok mau aja nolongin kita, peke acara nyuruh injek bahu segala lagi, gue sampe takut-takut soalnya baju lo berdua kelewat bersih, rapi, suci tanpa noda, padahal kita kan baru kenal." Mitha berucap dengan mimik lucu.
"Iya yah, padahal waktu itu sebenernya kos kaki lo tuh bikin gue pengen muntah tau nggak sih? Parah!" Ucap Akram dramatis membuat Mitha seketika terbahak dan tanpa ayal lagi, badan tegap Akram akhirnya jadi bulan-bulanan gebukkan Mitha seraya tertawa lepas.
"Iiihh, boong.. boong. Waktu itu hari Senin yah, jadi semuanya masih harum wangi semerbak."
Keempatnya kembali tergelak.
"Tapi, Gue cukup terkesan, Kok!. Soalnya udah ganteng-ganteng, baik lagi. Nggak sombong trus klop, two matchs. Yang satu gesrek, koplak, kadang nyebelin bla bla bla. Trus satu lagi cuek, datar juga bla bla bla." Tambahi Mitha sumringah.
Kali ini Azhar sudah mulai terbahak bersama. Semua mata lalu beralih padanya. Membuatnya maklum, kini gilirannya.
"Kalau Aku__, eh, iyah iyah, kalau gue," Lagi-lagi mitha berlagak menatapnya tajam. Ia kembali tersenyum lucu.
"Hmmm... apa yah?.Gue speechless! secara lo berdua punya banyak alasan untuk nggak nolongin kita waktu itu, udahlah kita nggak se_level, terutama gue, trus kita juga nggak saling kenal, blum lagi resiko telat beneran gegara ngurusin kita berdua biar bisa lolos masuk. Beneran salut dan bangga deh pokoknya bisa kenal lo berdua." Ucapnya berbinar sembari memberi dua jempol kearah dou sahabat laki itu.
"Kalau gue, ampe skarang masih nggak habis mikir aja. Body se_minimalis ini, tapi badan lo kok berat banget?. Gue ampe hampir kehabisan tenaga tau nggak sih pas mau berdiri waktu itu." Akram bertanya kocak ke arah Mitha yang sedari tadi sudah menyeringai, bak singa betina yang siap menerkam mangsanya.
"Itu berarti badan gue ideal. Kalau udah mini trus ringan kayak kapas, lo pasti curiga gue kena gizi buruk. Yee khaaaan?" Mitha menyahut tak mau kalah sembari menjulurkan lidah mengejek.
"Nah, skarang lo, Zhar. Gimana?" Akram akhirnya melempar giliran kepada Azhar yang sedari tadi blum bersuara sama skali. Hanya sesekali mengangguk, tersenyum dan tergelak saat ada yang lucu.
Azhar mendesah. Lalu berdecak pelan. Setelah itu diam lagi. Dan terakhir menatapnya seraya tersenyum.
"Gue mau bantu karna lo berdua cantik. Kalau jelek mana mau Gue buang-buang waktu. Trus Gue kasyan waktu itu ngeliat muka kalian yang pucat banget kayak mayat hidup saking takutnya." Ia ikut tersenyum mendengar penuturan Azhar.
"Aaaa..... thanks yah, Zhar. Lo udah jujur kalo kita berdua tuh emang cantik." Mitha seketika histeris lucu menangkup wajah sendiri bersama mimik puppy eyesnya.
Akram dan Azhar, jika sudah seperti itu, yang bisa mereka lakukan adalah angkat bahu bersama ekspresi jengahnya. Sementara Ia lagi-lagi tergelak seperti biasa.
Ia menatap intens wajah ketiga sahabatnya itu. Seketika perasaan rindu yang mendalam tiba-tiba menyeruak memenuhi seluruh ruang di hatinya. Kembali teringat akan wajah cuek si pemaksa yang dalam sekejap telah membuat dunianya berubah.
Bila keinginan Bang Yusuf adalah takdir baginya, maka sudah bisa dipastikan, hari sebahagia ini tidak akan pernah terulang lagi.
"Nggak nyangka yah, kita bisa barengan ampe skarang. Stelah semua yang udah kita lalui bersama, Aku cuman pengen bilang, trimakasih untuk persahabatan ini. Kalian nggak akan pernah bisa tergantikan." Ucapnya lirih bersama senyum bercampur tangis.
"Kita udah jadi mahasiswa. Mungkin kita kelewat nikmatin semuanya, ampe bikin kita baru nyadar, ternyata kita udah dewasa. Bukan lagi anak remaja labil kayak kemaren."
"Kita smua bakal barengan trus kan? kita nggak akan saling melupakan kan abis ini?" Mitha bertanya lirih. Mendadak hatinya mencelos dengan pertanyaan sahabatnya kali ini. Tapi Ia berusaha tersenyum. Mengangguk sedikit ragu.
"Ehm, itu tadi yang kita liat beneran, Fhat?" Azhar tiba-tiba bersuara sembari menatapnya sedikit tajam. Ekspresi yang menurutnya terasa bak di hujani ribuan peluru tanpa jeda dan Ia tidak bisa berkutik apalagi berkelit untuk menghindar.
Terlalu focus menata hati dan menguntai simpul rasa yang membingungkan, membuatnya lalai dari menyiapkan jawaban yang hendak diberikan bila ketiga sahabatnya itu bertanya.
Ia tercekat seketika. Dadanya berdebar ciut. Ia tahu betul, yang dimaksud Azhar adalah tentang pengakuan bang Yusuf akan hubungan mereka di depan ribuan mata di stadion mini tadi.
Ia gelagapan. Mendadak bingung juga kesulitan memilih kata yang tepat untuk memulai jawabannya. Tapi, apakah ini saat yang tepat untuk jujur tentang semuanya?.
Tentang paksaan Yusuf mengenalkan Ia pada keluarga besarnya. Tentang rencana Abang itu yang akan melamarnya setelah wisuda. Juga tentang kesediaannya menerima Yusuf dihadapan semua anggota keluarganya. Atau hal yang paling frontal, mengakui dengan jujur, tentang desiran indah yang kian sering menggelitik ulu hatinya saat bersitatap dengan wajah pemilik manik setajam elang itu?
Ia menggigit bibir. Dilema sembari menatap ragu tiga wajah di hadapannya bergantian. Seketika terfikir untuk mengelak dengan memberi alasan klise semacam,
__ADS_1
"Just kidding!"
atau,
"Cuma pengen seru-seruan aja!"
Tapi, kembali ragu. Apa ini adil untuk semua? Bukankah prinsip dasar persahabatan mereka adalah transparansi, yang mengharamkan mereka untuk menyimpan masalah sendiri, apapun itu?Dilema!
Hingga di dentang ke sekian, Ia akhirnya mengangguk lemah sebagai jawaban. Menunduk dalam tak berani menatap.
Mitha dan Akram saling melempar tatapan seakan saling berucap,
"Yang kita omongin tadi ternyata bener."
Keduanya tersenyum samar, misterius.
"Lo suka sama Abang itu?" Lagi-lagi pertanyaan Azhar telak mengenai sasaran.
Ia kian tak berani menatap netra ketiga sahabatnya itu. Mendadak lidahnya kelu. Bibirnya bergetar ingin berucap, Iya. Tapi Ia kembali ragu, terlebih sepertinya Azhar kurang respect dengan bang Yusuf.
"Ou em ji, Zhar! Lo gimana sih, siapa coba yang bisa nolak pesona seperfect Bang Yusuf. Udah guanteng, pinter, baik, calon dokter lagi and yang paling bikin klepek-klepek, horang kayya guysss! Uugh, gue aja kalau di tembak ama Abang itu, swearrr, nggak bakal gue tolak."
Ia bernafas lega sebab Mitha tiba-tiba bersepik-sepik lebay, lebih tepatnya pengalihan isu. Bak seorang Peri yang tiba-tiba menyelamatkannya dari semburan lahar panas dari si penyihir.
"Selamat!" Leganya membatin. Tapi ternyata sang Penyihir blum puas sebelum Ia benar-benar terkapar keok.
"Lo blum jawab, Fhat, lo beneran suka sama Abang itu?" Ia kembali menelan saliva, tegang. Satu-satunya dewa penolong yang tersisa adalah Akram. Tapi, sepertinya yang satu ini tak bisa di harapkan. Sekarang aja Akram malah melampirkan smirk andalan yang menyebalkan itu.
"Hedeeh.. Tamat gue!" Pasrahnya dalam hati.
"Ck, gue... stuju ama Mitha. Nggak bakal ada cewek yang bisa nolak aura membius Bang Yusuf. Bang Fadhil ajha kayaknya kalah." Akram tergelak sendiri sembari meninju pelan lengan Azhar yang sedari tadi belum membuang pandangan dari wajah tegangnya.
"Kalau menurut gue, lo terima aja lamarannya Abang itu, Fhat. Lebih aman, selamat, damai dan lo bakal hidup sejahtera. Hihihi!" Akram lagi-lagi terkikik sendiri.
"Dapetin cowok se unik Bang Yusuf itu nggak gampang, guys! Idola se_kampus dan yang paling penting, gue yakin Abang itu beneran suka dan sayang ama lo, Fhat!" Kali ini Ia berharap pembahasan ini selesai. Tapi ternyata tidak.
"Lo apa-apaan sih, Rham. Lo lupa tujuan kita kesini apa, hah?" Azhar tiba-tiba berucap dengan tatapan tajam ke arah Akram.
"Santai aja kali. lo kenapa sih, lagian kalau Fathin nikah, Bang Yusuf nggak akan nglarang Fathin kuliah, kok. Fathin juga nggak perlu susah-susah mikirin biaya kuliah. Kita juga masih bisa ketemu kapan aja. Nggak akan ada yang berubah." Ucap Akram masih dengan gaya santainya meski lawan bicaranya sudah mulai tersulut emosi.
"Eh, lo gila yah. Emang nikah itu gampang, lo nggak tau kan gimana perasaan Fathin? lo main nyuruh nyuruh aja terima lamaran Abang itu. Lagian tau dari mana lo Abang itu baik, hah? dia itu bad senior, preman kampus, dan semua penghuni kampus ini tau itu." Ucap Azhar berapi-api.
Ia dan Mitha mulai panik. Saling melempar lirikan, cemas.
"Don't judge a book by it's cover. Kita nggak bisa nilai sesuatu itu dari luarnya aja, Bro! Gue udah cari tau semua tentang Bang Yusuf ke Bang Nathan. Dan........ bla.. bla.. bla.."
Akram akhirnya bercerita panjang kali lebar kali tinggi tentang pria itu. Fakta baru dan mengejutkan dari si Pemaksa itu yang sukses Membuat Ia dan Azhar terlolong syahdu. Sementara Mitha sedari tadi mengangguk setuju penuh semangat. Ia kembali termangu.
"Mitha udah tau smuanya?" Tanyanya dalam hati. Keningnya mengernyit.
"Gue cuman pen dengar langsung dari mulut lo, Fhat. Gimana perasaan lo ke Abang itu yang sebenarnya. Just it!" Azhar belum selesai dengan harapan anehnya itu. Ia yang sedang bengong mendadak dibuat gagap gempita untuk kesekian kalinya. Tapi Ia harus menghentikan semua ini kan? dan caranya adalah jujur tentang semuanya.
"Hedeewwhh.. intro nya berbelit-belit. Biar lo yakin, gue tanya, lo kalau liat bang Yusuf suka blushing tiba-tiba nggak? trus hati lo berdesir-desir indah, dada lo suka berdebar-debar nggak karuan, keringat dingin, tangan dingin. lo suka kangen...... banget pengen ketemu, tapi pas depan orangnya nggak brani natap mukanya. lo ngrasain nggak?" Ia menatap curiga ke arah Mitha yang nampak meringis kaku.
"Hehehehe... No! jangan curiga, itu Gue pernah baca, ciri-ciri cewek lagi jatuh cinta." Lagi-lagi Mitha cengengesan di sana membuat Ia dan duo laki lainnya mengendik jengah.
"Lo rasa nggak?" Mitha menaik-turunkan alisnya menggoda.
Blussshhhhh..
Semburat merah itu lagi-lagi menerpa pipinya yang putih bersinar.
"Nggak usah jawab. Gue udah tau jawabannya. Ayo pulang. Kita ngomongin lagi ini nanti." Azhar akhirnya menyahut datar sembari berjalan mendahului.
Ketiganya seketika saling melempar tatapan misterius, penuh tanda tanya.
"What's happen??" Akram masih sempat berbisik.
Ia dan Mitha hanya mengendik pertanda tak tahu.
***
Shubuh yang tenang dan syahdu kembali menyapa semesta. Mendendang setiap jiwa dengan syair-syair kauniyahnya juga ayat-ayat kauliyah_Nya, bahwa pahala dua rakaatnya lebih baik daripada dunia beserta isinya.
Ia terbangun saat lamat-lamat telinganya mendengar suara Adzan berkumandang dari masjid terdekat.
Perlahan mengerjap berniat mengusir kantuk yang masih betah bergelayut manja di pelupuk mata.
Sedikit merenggangkan badan dan kembali mengerjap intens. Sejenak melirik Mitha yang masih betah memejam meski tubuhnya sudah berkali-kali menggeliat.
Ia memilih beranjak dari pembaringan setelah takzim melafal do'a selepas tidur. Berjalan menuju kamar mandi. Melakukan beberapa ritual wajib pasca rehat panjangnya, termasuk berwudhu.
Kebiasaan menjaga shalat membuatnya lupa jika saat ini Ia sedang berhadas.
"Mhit, bangun! udah shubuh nih. Kamu nggak shalat?" Ia menggoyangkan tubuh Mitha pelan.
"Humm? udah adzan yah?" Suara khas bangun tidur Mitha menyahuti, lagi-lagi masih dengan mata mengatup sempurna.
"Barusan. Tuh, yang lain udah pada ke masjid. Ayo cepetan bangun. Kamu nggak mau kan kehilangan kesempatan ketemu Bang Raihan di gerbang masjid?"
Iming-iming bertemu si Abang sholeh idola se_kostan itu sepertinya bukan ide buruk. Berhasil sempurna malah, sebab sahabatnya itu langsung membuka mata lebar, terduduk dan melompat dalam satu gerakan gesit. Membuatnya tergelak dan melempar Mitha dengan bantal.
"Kamu tuh yah, giliran denger nama Bang Raihan ajha, langsung lompat. Dari tadi denger suara Adzan manggil shalat, masih merem aja tuh mata nggak mau kebuka."
"Hehehe... sorry, Khilap, Beb!" Seru Mitha cengengesan. Sekejap hilang di sebalik pintu kamar mandi.
__ADS_1
Ia hendak meraih mukena yang tergantung di belakang pintu, tapi mendadak Ia teringat akan hadiah mukena dari Yusuf. Masih utuh tersimpan dalam papper bag berlogo nama muslim store tempat Ia dan Yusuf belanja sebelumnya.
"Astaga, lupa!. Gue kan blum "suci", blum boleh shalat." Gumamnya sembari merapikan kembali isi papper bag tersebut. Tapi rasa penasaran tiba-tiba menderanya. Ingin melihat lebih jelas kesemua hadiah itu, atau mungkin mencobanya, sekedar memastikan sizenya, pas atau tidak.
Perlahan Ia mengeluarkan mukena tersebut. Berdiri di depan cermin. Memakai rok dan kerudung bermotif elegant tapi tetap cozy untuk gadis sepertinya. Merapikan bagian lingkar wajahnya. Mematut lagi. Berputar dan akhirnya tersenyum malu-malu. Ia sampai tak sadar jika Mitha sudah keluar dari kamar mandi dan sedang melampirkan senyum simpul berhias godaan.
"Ehem..ehem, yang lagi nyobain pilihan calon suami. Si Abang udah tau aja size nya si Eneng. Tuh, pas banget." Seru Mitha menggoda.
Ia terlonjak kaget. Buru-buru berbalik dan mendapati sahabatnya di sana bersama copy_an smirk menyebalkan Akram.
"Ya ampun, Mhit, lo ngagetin gue banget tau nggak sih! Astaga!!" Ia berucap frustasi seraya mengelus dada.
"Sorry, sorry. Nggak sngaja. Abisnya lo serius amat mantengen diri sendiri daritadi. Udah cantik kok, Ibu Yusuf Mahardika!" Mitha tergelak. Ia hampir tersedak mendengar sebutan Mitha untuknya barusan.
"Ibu Yusuf Mahardika?. Mitha kok tau banyak soal Bang Yusuf? Hmmm.. dasar miss keppo. Apa-apa kalau soal info terupdate slalu yang terdepan." batinnya seraya menggeleng tak percaya.
"Gue ke masjid dulu, yah. Ibadah skalian carper ama si Abang sholeh pujaan hati. Biar si Abang tau kalau gue pantes jadi calon istri sholehah."
"Ck.. hmm, hmm, ibadah tuh niatnya yang lurus karna Allah. jangan karna mo carper."
"Siaap bu'ustadzah! niatnya tetep tapi bonusnya gue ngarep lah! ok, bye!" Mitha terbahak sebelum akhirnya menghilang di sebalik pintu. Meninggalkan dirinya yang tiba-tiba blushing lagi, melihat penampakan wajah cantiknya dalam balutan mukena mewah itu.
blushhhhh....
****
*Yusuf
Ingat lima perkara sebelum lima perkara
Sihat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati
Bunyi alarm yang menyerukan lagu "Demi masa" dari grup nasyid asal Malaysia itu berdering sedari tadi. Ia yang sejatinya baru tertidur beberapa jam yang lalu, nampak masih bergeming di atas bed stylish nya.
Berkali-kali meraih ponsel hanya untuk menunda alarm tersebut. Hingga di kali yang entah keberapa, Ia sudah merasa cukup terganggu. Membuatnya mau tak mau memaksa diri untuk membuka mata.
Ia mengerjap berkali-kali. Sekuat_kuatnya berusaha mengenyahkan kantuk yang entah kenapa kali ini terasa begitu menyiksa.
"Apaan sih, ini alarm ngapain juga bunyi-bunyi dari tadi." Sungutnya sedikit menggeram.
Meski masih kesal bertabur gerutuan tak jelas tapi Ia tetap memaksa membuka mata selebar-lebarnya. Hingga saat kesadarannya sudah di level paling waras, Ia akhirnya teringat pesan Gery semalam, sesaat sebelum keduanya berpisah.
"Sbelum tidur lo pasang alarm jam empat, biar bisa bangun shalat shubuh. Once more, jangan nunda tobat, Bro!"
"Astaga, iya yah, alarm ini kan buat bangunin gue shalat!" Sesalnya sembari geleng kepala.
Ia pun menyibak bed cover yang menutupi tubuh atletisnya. Berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Melakukan beberapa ritual "wajib" seperti biasa.
Saat hendak berwudhu, mendadak Ia kesulitan mengingat bacaan niat wudhu. Padahal sebelumnya, semua bacaan shalat dari takbiratul ula hingga salam sudah pernah Ia hafal mati. Tapi memang sudah cukup lama Ia tak pernah menunaikan perintah wajib itu. Pantas lah jika Ia lupa, bahkan doa sesingkat bacaan saat hendak berwudhu.
Ia akhirnya berdiri lama. Memejam seraya mencoba memaksa keras otaknya untuk mengingati bacaan tersebut. Tapi benar-benar bebal. Otak lemahnya kali ini benar-benar tak bisa cooperatif sama sekali.
"Damn it!"
"Otak gue kenapa mendadak kacau balau gini, sih?" geramnya lagi-lagi mengutuk diri.
Setelah lama berusaha namun tak kunjung berhasil, Ia pun memutuskan berniat dengan lafaz non arab, versi indo.
"Ya udah lah, yang penting gue niat. Allah pasti ngertilah maksud gue apa. Dia kan Maha Tau!" pasrahnya mencoba ambil jalan aman. Ironis. Begitu Ia fikir.
Setelah pengalaman "buruk" barusan soal niat wudhu, kali ini Ia lebih berhati-hati. Ia fikir tak mau menambah panjang catatan ke_kekiannya di hadapan Tuhan dengan alasan lupa bacaan atau semacamnya.
Dengan gerakan gesit tangannya kini mulai berselancar di tuts ponselnya. Tentu saja meminta bantuan Mbah google. Searching tentang bacaan-bacaan shalat. Sekedar antisipasi agar menguatkan ingatannya kembali.
"Emang harus seribet gini yah kalau mau tobat?" gumamnya saat otaknya sibuk menghafal ulang bacaan-bacaan shalat yang tertera di layar ponselnya.
"Tapi kan Gery pernah ngomong kalau niat beneran mau "balik", Allah pasti ngasi kemudahan asal banyakin do'a!"
"Iya yah, kok gue bisa lupa. Bener, bener, mending gue do'a biar Allah ingetin gue ntar kalau pas gue lupa." Wajahnya seketika berbinar seraya mengangguk berkali-kali.
Ia pun menghampar sejadah di sisi tempat tidur, setelah sebelumnya mengganti pakaian dengan setelan kurtah warna navy plus songkok warna senada, pemberian Gery semalam.
"Tolong bimbing gue, ya Allah!" Sebelah jantungnya berbisik. Ia mendongak seraya memejam.
"Gue? Aku kali, emang Tuhan temen lo apa?" Sebelah jantungnya yang lain berbisik ketus.
"Ok, ok! sorry, sorry! Bimbing aku ya Allah!" Ulangnya sekali lagi.
Ia pun berdiri seraya memaksa diri setenang mungkin, sebab tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat saat hendak mengangkat tangan sembari melafaz takbir. Dadanya mendadak bergemuruh. Sesak. Manik coklatnya seketika memanas.
Ada sesuatu, entah apa yang mendadak membuncah di hatinya saat lisannya mengucap Takbir dengan penuh khidmat.
"Allahu Akbar!"
Sekujur tubuhnya meremang sempurna. Kian bergetar. Dan kubangan yang sebelumnya mengaca di pelupuk mata, kini benar-benar lolos saat tubuhnya tersungkur sujud untuk yang pertama kalinya setelah sekian tahun tenggelam dalam lalai.
Yah, Ia menangis. Menangis dalam sujud pertamanya.
__ADS_1
***
Next>>>