MUJAHADAH CINTAKU

MUJAHADAH CINTAKU
#Episode 32. Segala Sesuatunya Butuh Proses!


__ADS_3

*Fathin


Pagi yang cerah kembali menyapa separuh bumi. Hampir semua penghuni kost telah keluar dengan agenda rutin masing-masing. Tersisa dirinya dan Mitha yang masih bermalas-malasan di atas pembaringan. Jadwal kuliah belum ada untuk hari ini. Perkuliahan akan mulai aktif tiga hari lagi.


Suasana kota mulai ramai, terlebih di sekitaran alun-alun MTQ. Sebentar lagi, sebuah perhelatan akbar tahunan akan di gelar di kota ini. Yaa, Acara Musabaqah Tilawatil Al-Qur'an tingkat Nasional yang ke XXI. Kota Kendari mendapat kesempatan emas menjadi tuan rumah acara itu tahun ini. Puluhan stand perwakilan beberapa kabupaten juga instansi terkait telah mulai berdiri di sepanjang pinggir alun-alun. Acara akbar ini akan di rangkaikan dengan pameran seni dan budaya daerah Sultra.


Ia masih asyik berbalas pesan singkat dengan Akram, apalagi kalau bukan tentang si Abang pujaan hati, Yusuf. Belakangan Ia mulai tertarik umtuk banyak mengorek info terdetil tentang Abang itu pada Akram. Sebab, ternyata sahabatnya itu adalah sumber data ter_valid dan ter-akurat soal si pemaksa itu.


Tiba-tiba ponselnya berdering lembut tanda ada panggilan masuk. Ia menatap bergantian pada layar setengah itu dan wajah kepo Mitha yang menatap curiga. Lagi-lagi manik sendunya menyipit menatap layar di mana tertera deretan angka nomor baru. Ia berpikir sejenak ragu. Namun spekulasi tentang siapa tahu itu Yusuf, membuatnya secepat kilat menerima penggilan tersebut dan suara itu menyerobot langsung tanpa basa-basi.


"Hallo! Fathin, yah?" Sebuah suara yang Ia kenal tapi masih sedikit meragukannya terdengar di seberang. Ia kembali menatap Mitha yang memberi kode agar Ia me-loudspeaker suara ponselnya.


"I_iya, Pak Radit?" Tanya nya hati-hati takut salah orang.


"Iya, benar. Bisa saya bicara sedikit? ini ada info penting!" Sahut suara itu lagi yang ternyata benar, Pak Radit, ketua sanggar seni dan budaya, tempat Ia dan keempat sahabatnya di gembleng dalam dunia seni selama ini. Mitha ikutan mengernyit di sana.


"Ada apa, yah, Pak?" Tanyanya tak sabar.


"Gini, Fhat, tiga hari lalu Saya di hubungi oleh Pemda sama Kadis Pariwisata, suruh nyiapin grup Qasidah sama tari Lulo Alu*, untuk tampil di acara opening acara MTQ Nasional di depan bapak Presiden dan jajarannya nanti. Anak-anak Lulo Alu sama personel qasidah yang lain kemarin udah saya bawa dari Kabaena bersamaan ke Bombana. Tadi malam saya berangkat duluan ke sini bawa anak-anak sebagian. Yang lainnya pagi ini nyusul bersama team gabungan dari beberapa dinas terkait, soalnya stand persiapan pameran budaya untuk kabupaten Bombana belum ada."


"Kita udah di siapin satu rumah khusus untuk tempat latihan. Kalian udah aktif kuliah blum?" Terang Pak Radit dengan nada serius. Ia dan Mitha bersamaan manggut-manggut tanda mengerti.


"Blum, Pak. Kebetulan kuliahnya InsyaAllah tiga hari lagi baru aktif. Oh yah, btw, Bapak tau dari mana kalau saya sama Mitha kuliah? trus nomor saya ambil ma siapa?"


"Alhamdulillah! saya ambil sama Azhar. Kalau gitu, saya jemput kalian sekitar jam 10.00. InsyaAllah siang ini kita mulai latihan kalau nggak ada halangan. Kalian siap kan? Tenang, Fhat, udah ada jatah khusus untuk kalian. Kalau team kita bisa menampilkan penampilan terbaik, maka Semua anak-anak dapat beasiswa dari Pemda."


"Yang benner, Pak?" Tanyanya histeris. Mitha tak ayal lagi lebih histeris darinya. Ia terkikik lucu.


"Benner, dong! Masa' saya, bohong? Ya udah, kalian siap-siap skarang. Jam 10.00 saya jemput!"


"Siaap, Komandan!" Pak Radit sampai terkekeh kecil mendengar celotehannya. Sambungan telepon pun terputus setelah keduanya saling berbalas salam. Ia menatap Mitha bersama senyum lebarnya dan,


Plakkk!


Keduanya berhighfive, ber ces ria penuh semangat.


Ia kembali mengingat wajah tampan dan cool pak Radit, sang ketua sanggar sekaligus guru olahraga dan seni di Sekolah Menengah Pertama dulu. Pria dengan perawakan dan tubuh ideal untuk ukuran pria. Beberapa kali mewakili Sulawesi Tenggara sebagai Putra pariwisata di berbagai kompetisi maupun peragaan busana nasional maupun daerah.


Memiliki jiwa seni yang mumpuni, Ia pun mendirikan sanggar seni di Kabaena untuk mengakomodasi bakat seni anak-anak di daerah yang tak terjangkau pemda. Hal tersebut lalu membuatnya familiar di mana-mana.


Tapi bukan hal itu yang membuatnya mendadak membayangkan wajah tampan Pak Radit, tapi kejadian sebelum Ia memutuskan berangkat ke Kendari di mana Pria itu dengan berani dan tanpa basa-basi mengutarakan perasaannya padanya. Ia yang sedikit shock sebab tak menyangka akan di tembak oleh orang yamg sudah Ia anggap Abang sendiri sebab kedekatan saat latihan selama ini, mendadak tak mampu berucap sepatah katapun. Tanpa sadar Ia menggeleng yang kemudian di salah artikan oleh Pak Radit sebagai penolakan darinya.


Tapi Ia bersyukur sebab pak Radit tak memaksakan perasaannya. Sampai Ia berangkat ke Kota ini, keduanya tak pernah lagi bertemu. Hingga tiba-tiba tadi pria itu menghubunginya bersama info penting itu. Ia tak bisa menolak, selain karena seni adalah hobynya, iming-iming tampil di hadapan pak Presiden menjadi pemicu nomor wahid baginya.


Tanpa mengulur waktu Keduanya langsung bangkit dan bergegas beberes kamar. Bagaimanapun selama beberapa hari kedepan kamar itu akan jarang di huni, jadi mereka harus memastikan kamar tersebut harus dalam keadaan rapi dan bersih selama ditinggal.


Seperti biasa, keduanya berbagi tugas. Ia dapat tugas bagian cleaning service, sementara Mitha sigap dengan urusan cucian.


Kamar sudah rapi jali. Ia pun beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk keduanya. Nasi goreng plus telor ceplok adalah menu andalan mereka hampir tiap sarapan. Makanan siap bersamaan selesainya Mitha dengan cucian. Keduanyapun sarapan bersama.


"Lo ajha yang mandi duluan, Mhit! Gue bersihin dapur sambil nungguin lo." Titahnya pada sahabatnya itu setelah keduanya kelar sarapan.


"Ok! Your wish is my command, honey!" Ia yang sekejap sadar jika Mitha sedang menggodanya, seketika mendelik ke arah sahabatnya itu. Mitha sontak tergelak dan dengan wajah yang dibuat-buat berlagak melampirkan wajah kasian padanya,


"Cup.. cup.. Sabar, Neng! Tunggu Abang kembali! Hihihihi!" Mitha terkikik dengan wajah tanpa dosa.


"Ck, apaan, sih?" Ia pura-pura berdecak padahal sesungguhnya Ia sudah ingin menitikkan air mata. Benar kata Dilan, ternyata rindu itu berat. Mitha si cepat tanggap langsung menyadari atmosfer yang mendadak tercipta, segera meraihnya dalam pelukan.


"Sorry, becanda!" Ucapnya lembut berusaha menguatkannya. Ia pun akhirnya tak mampu manahan kubangan air mata yang sudah mengambang di pelupuk matanya.


"Gue rindu banget sama kak Yusuf, Mhit? menurut lo, kak Yusuf bakal pulang, kan? dia nggak akan pergi ninggalin gue kayak Tasya, kan, Mhit?" Ia mulai terisak kecil. Bayangan dejavu kemarin kembali mengusik ketenngan hatinya. Cemas berlebihan itu datang lagi.


"Husss, ngomong apaan, sih ini? ilangin ilangin, cepet pikiran gitu. Positif thinking. Allah itu tergantung sangkaan kita. Jangan mikir yang jelek-jelek, deh! Ayo! kita siap-siap sekarang!" Tenangkan Mitha hatinya seraya mengusap lembut penggungnya. Perlahan hatinya mulai tenang. Mitha pun melepas pelukannya dan mengusap lengannya lembut dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi setelah meraih handuk yang berada di belakang pintu.


Keduanya kembali sibuk prepare masing-masing. Tepat pukul 10.00 ponselnya kembali berdering.


"Saya udah di depan, nih, Fhat. Kalian udah siap?" Ucap Pak Radit to the point di seberang. Ia sedikit menyangsikan kegesitan gerakan pria itu. Tapi kemudian Ia mafhum jika Azhar pasti sudah memberitahu alamat lengkap kostannya pada pak Radit.


"Iya, Pak. Bentar lagi kita dah mau keluar, kok!" Jawabnya sembari memberi kode pada Mhita agar segera berangkat.


"Ok. Saya tunggu!"


"Baik, Pak! Saya tutup yah?"


"Siip!''


***


"Gimana kabar kalian?" Tanya Pak Radit memulai percakapan sesaat setelah keduanya sudah di posisi ternyamannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, baik, Pak!" Mitha yang menyahut. Sementara Ia memilih diam meski masih melampirkan senyum tipisnya.


"Btw, kalian bawa siapan baju ganti kan? soalnya latihannya bakal total nih coz qt cuma punya waktu enam hari doang!" Pak Radit kembali tersenyum.


"Bawa kok, Pak!" Lagi-lagi Mitha yang menyahuti.


"Ok, Good!"


Percakapanpun akhirnya berlanjut kemana-mana, hingga tanpa terasa mobil yang membawa mereka perlahan memasuki pelataran luas sebuah rumah besar dengan posisi berhadapan dengan sebuah masjid.,


Sejenak keduanya menelisik keluar, dan benar saja dari luar mereka bisa mendengar riuh suara dari dalam. Personil yang lain ternyata telah tiba juga.


"Ayo!" Ajak Pak Radit setelah menutup mobil.


Dengan wajah sumringah keduanya pun mengikuti langkah gagah pria tersebut, tapi baru saja Ia hendak mengayunkan langkahnya riang ponselnya tetiba berdering. Sejenak Ia menatap bergantian pada wajah Mitha dan pak Radit seraya tangannya liar merogoh ke dalam minibagnya mencari keberadaan ponselnya.


"Maaf, Saya terima telfon dulu. Pak Radit sama Mitha duluan aja dulu. Aku nyusul ntar abis ini!" Ucapnya tak enak tapi Ia juga tak bisa mengabaikan panggilan yang sedang berlangsung sebab ini adalah panggilan sang pujaan hati.


"Ya udah! jangan lama, yah? Gue tunggu di dalem!" Mitha mengerling ke arahnya seakan mengerti semuanya. Ouh, Astaga! dasar miss keppo. Dalam hati Ia tersenyum merasa lucu.


Ia pun berjalan menjauh seraya menekan tombol terima panggilan dan,


"Aku tunggu di luar pagar!"


Ia bahkan belum sempat berucap hallo tapi suara berat nan tegas itu sudah lebih dulu berucap datar. Lagi-lagi dengan nadanya yang selalu terdengar mendominasi.


Dengan sedikit tergagap Ia hendak menyahuti Tapi, tunggu, tunggu,


"Pagar? pagar yang ma__,?" Buru-buru Ia mengalihkan pandangannya liar ke depan pintu pagar besi di sana dan seketika maniknya membulat bersama desiran di dadanya yang mendadak membuncah menatap seseorang di sana. Seseorang yang Ia mulai rindukan sejak kemarin.


Ya, Yusuf benar-benar sedang berdiri di depan sana, menatapnya dengan manik elangnya seperti biasa. Ia menelan saliva gugup. Mencoba menetralkan degup di dadanya yang sedari tadi bertalu-talu seraya melangkah pelan menuju gerbang tersebut.


Dag dig dug...


_____


*Yusuf


Pagi ini untuk pertama kalinya Ia duduk dalam majelis ta'lim fadha'il, dimana salah satu dari mereka duduk di depan seraya membacakan sebuah kitab bertuliskan Fadha'il Amal, sementara yang lain duduk terpekur mendengarkan dengan seksama. Sudah satu jam berlalu tapi majelis tersebut belum juga menampakkan tanda-tanda akan usai.


Ia yang notabene tak pernah suka yang namanya menunggu entah sudah kali ke berapa Ia dengan gelisah merubah posisi duduknya. Dari yang model Iftirasy sebagaimana imbauan sang moderator selaku pembuka majelis tadi, bahwa salah satu adab dalam bermajelis selain suci, duduk rapat-rapat dan memakai wahngi-wangian, juga dianjurkan duduk Iftirasy agar lebih mendatangkan ketawajjuhan atau lebih focus.


Ia pun berdehem sembari mengangkat jari telunjuknya sebagai isyarat izin sebentar. Semua peserta majelis itu mengangguk pertanda mengerti. Ia pun beranjak dan sedikit berlari menuju WC.


Seperti biasa Ia pun berwudhu kembali setelah keluar dari WC. Saat kakinya melangkah gagah hendak masuk kembali ke dalam masjid tiba-tiba pandangannya matanya terusik dengan penampakkan sosok yang baru saja keluar dari sebuah mobil avanza warna hitam di halaman sebuah rumah besar di depan sana.


Ia kembali menajamkan manik elangnya dan Ia yakin, Ia tidak salah orang. Perempuan yang keluar dari mobil tersebut dengan senyum manisnya adalah Si Gadis bermanik sendunya, Fathin.


Mendadak hatinya terusik, terlebih di saat yang sama Seorang pria berperawakan cukup gagah mengajak gadisnya masuk ke dalam rumah besar itu bersama senyum hangatnya. Entah kenapa hatinya seketika panas, tidak suka, cemburu. Dalam sekejap Ia lupa Ia sedang dalam program khuruj yang tidak membolehkan interaksi seperti ini terlebih dengan wanita. Tapi kecamuk di dadanya benar-benar membuatnya lupa dengan segala tertib itu.


Ia pun dengan tergesa berjalan keluar dari halaman masjid dan menyeberang jalan menuju rumah besar itu. Beruntung ponselnya masih setia bersamanya di saat genting sepeeti ini. Buru-buru Ia menghidupkan handphone miliknya dan menekan fast dial angka 1.


"Aku tunggu di luar pagar!" Gadis tersebut bahkan belum berucap hallo tapi Ia sudah memberi instruksi tanpa basa-basi, terkesan mengintimidasi dan tentu saja ini perintah, seperti biasa.


Tatapannya tajamnya tak pernah lepas dari wajah cantik Fathin yang berjalan ragu ke arahnya. Senyum manis plus semburat merah tak henti menghiasi wajah ayu itu. Ia berlagak memijit ujung hidungnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Fathin hingga gadis itu benar-benar berdiri di hadapannya.


"Kamu ngapain di sini?ini rumah siapa? dan laki-laki itu tadi siapa?" Ia bertanya tanpa jeda, masih dengan tatapan tajamnya seperti biasa. Gadis di hadapannya itu kini malah tertunduk bersama senyum kakunya.


"A_aku sama Mitha ke sini mau latihan, Kak!" Fathin menyahut tergagap. Seketika Ia menautkan kedua alisnya heran.


"Latihan? latihan apa?" Masih dengan suara datarnya.


"I_itu, ehm, latihan Qasidah. Kita mau tampil di acara opening MTQ minggu depan, Kak. Trus ini rumah yang di sediain buat tempat latihan, gitu!" Manik sendu itu kini sudah beralih menatapnya.


"Trus itu tadi siapa?kenapa kalian kayak akrab banget?" Ia sungguh tidak bisa menyembunyikan rasa kurang sukanya pada pria itu.


"I_itu tadi Pak Radit, instruktur seni di sanggar tempat aku sama Mitha aktif selama ini di kabaena. Dan kali ini beliau yang jadi pelatihnya kami.


"Aku nggak suka liat kamu akrab sama dia. Aku nggak izinin kamu ikut latihan ini kalau dilatih sama dia!" Tegasnya tanpa menghiraukan ekspresi Fathin yang menatapnya dengan mata membelalak.


"Tapi, Kak__,"


"Nggak ada tapi-tapian. Sekarang ikut Aku pulang!" Ucapnya seraya menarik tangan Fathin. Tapi belum sempat mereka melangkah, Gadis tersebut menyentuh lembut tangannya seraya menahan langkahnya.


"Kak, Kakak, please! Jangan gitu dong! Okey, aku janji nggak bakal deket-deket sama Pak Radit tapi tolong izinin Akh ikut latihan yah, please....!" Fathin berseru panik masih dengan tangan yang menyentuhnya lembut.


"Kamu udah tau kan, Aku nggak suka dibantah?" Ia masih belum luluh meski Fathin sudah memohon dengan wajah memelas.


"Kak, Please! Mitha berharap banget kita berdua ikut soalnya kalau kita bisa tampil dengan baik nanti di depan Pak Presiden, kita bakal dapet beasiswa dari pemda. Boleh yah?"

__ADS_1


"Kalian nggak usah pusing dengan beasiswa itu. Isi kartu debit yang aku kasi nggak akan habis kepake selama kalian kuliah!"


"Tapi, Kak, please, kali ini aja, abis ini Aku janji nggak bakal ikut-ikut lagi kegiatan kayak gini. Pokoknya Aku bakal jaga jarak sama Pak Radit. Boleh, yah, Kak, pleaseeeeeeee..........!" Kali ini Ia hampir saja tak bisa menahan gelak tawa menyaksikan ekspresi permohonan Fathin yang sangat memprihatinkan. Wajah memelas dengan mata memejam plus kedua tangan bersedekap di dada.


"Aku janji bakal jadi istri yang baik dan penurut buat Kakak abis ini asal kali ini jangan larang Aku ikut latihan. Gimana, deal?" Fathin lagi-lagi melampirkan wajah puppy eyesnya bersama bibir imutnya yang mengerucut, membuat hatinya benar-benar dibuat gemas dan luluh seketika.


"Ck, ya udah. Tapi kalau sampe Aku liat Kamu deket-deket lagi sama orang itu, kamu tau kan Aku gimana?" Ia akhirnya pasrah. Mengabulkan permintaan gadisnya.


"I_iya, Kak! Aku janji!"


"Pulang jam berapa? biar aku hubungi Erick, nanti dia yang jemput. Aku nggak suka kamu diantar sama orang itu!"


"Ehm, kayaknya Qt nggak pulang selama beberapa hari ke depan, latihannya bakal full time, udah mepet waktunya soalnya!" Fathin lagi-lagi menyahut gugup.


"Ck, ya udah. Jangan terlalu capek. Istrahat benner kalau lagi break. Jangan begadang trus makannya jangan telat lagi!" Ucapnya sekali lagi dengan nada pasrah.


"Kakak nggak marah, kan?"


"Dikit!"


"Jangan gitu dong! jangan marah, yah, yah? Aku nggak bakal macem-macem, Kok! You're the one only!" Maniknya seketika kembali menatap sedikit misterius pada gadis di hadapannya kini.


"Blajar dari mana skill menggoda kayak gini,hum?" Sudut bibirnya tertarik. Tanpa mereka sadari tangan keduanya masih menguntai erat seakan tak rela untuk saling melepas.


"Da_dari __ calon suami Aku!" Fathin berucap seraya mrnunduk malu. Ia bisa melihat kedua pipi gadisnya kini sedang merona.


"Kamu sengaja yah, mancing aku, mentang-mentang di tempat terbuka gini?" Ia terkekeh kecil tak henti menatap wajah yang masih tertunduk malu.


Fathin menggeleng seraya tersenyum simpul.


"Ya udah. Kamu masuk ke dalem skarang! Aku mau balik ke masjid. oh yah, Aku khurujnya di masjid itu. So, aku bakal stay selama tiga hari di situ!"


"Oh yah? kok bisa kebetulan gini?"


"Itu namanya jodoh!"


"Ish, apaan sih!"


Keduanya tergelak bersamaan.


"Masuklah! Aku balik setelah kamu masuk ke dalam."


"Iyah! Aku ke dalam dulu yah, Kak!"


"Ok! bye!"


"Bye! be carefull!"


"Yes, I'll"


Ia pun berbalik kembali menuju masjid di seberang setelah Fathin benar-benar hilang dari pandangannya. Tanpa Ia sadari ternyata sedari tadi Bang Thoriq menyaksikan semuanya, Tapi Pria itu pura-pura bersikap seperti biasa tanpa berniat nenggurui.


Bagaimanapun pria itu tetap dengan sangka baiknya sebab ini adalah yang pertama kali baginya Ia mendekat pada Tuhan. Yang paling penting adalah Ia sudah mau ke masjid, sudah mau di ajak shalat, sudah mau di ajak bersusah-susah dalam setiap program itu sudah lebih dari cukup. Selebihnya Allah yang akan perbaiki sedikit demi sedikit. toh segala sesuatunya


butuh proses termasuk dalam proses hijrah.


***


TBC>>>


#Nb:


Assalaamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh..


Alhamdulillah, bisa menyapa lagi dengan cerita receh ini. Kemaren abis focus di real life. Abis menjanda sementara, janda ditinggal khuruj..😁😁😁


Yang masih berkenan lanjutin saya ucapkan banyak2 trimakasih..syukron kabir.. jazaakillah khairan jazaa..


Semoga kita smua slalu dalam lidungan Allah SWT..Aamiinn..😇😇😇


happy reading kembali...😁😁😍😍🙏🙏


*Tari Lulo Alu adalah tarian yang berasal dari Tokotua, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Tarian ini dilakukan sebagai salah satu ritual hukum budaya Tokotua atas rasa syukur dan terima kasih untuk sang pencipta atas melimpahnya rezki dari hasil panen beras pada masa lalu. Dimana menurut catatan sejarah pada zaman dulu Tokotua atau Kabaena adalah anggota dari Kesultanan Buton yang adalah penghasil beras sebagai pilar penguat Kesultanan Buton pada masa kejayaannya.


Gerakan dan Busana


Tarian ini dibawakan 12 penari yang dibagi atas dua peranan. Delapan penari putra memegang alu (Penumbuk Padi) yang menggambarkan pria yang menumbuk padi dan empat orang penari perempuan memegang nyiru sebagai alat penapis gabah, ditambah sapu tangan yang menggambarkan bagian penapisan gabah. Pakaian yang digunakan dalam tari tersebut adalah ciri khas Kabaena dengan pakaian berwarna dasar hitam ditambah warna kekuning-kuningan dan kemerah-kemerahan.


Pelestarian

__ADS_1


Sampai kini, tarian ini masih sering dilakukan pada upacara hukum budaya penyambutan suku Tokotua terhadap tamu-tamu penting yang pergi didaerah tersebut. Tarian ini juga masih sering ditampilkan dan diperlombakan pada cara peringatan kemerdekaan republik Indonesia, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai umum.


__ADS_2